Shame

1154 Kata
Setelah kejadian memalukan itu, Shadira tak berani lagi datang ke rumah bu Maya. Dia tak mau bertemu dengan lelaki itu lagi. rasanya dia sudah tak memiliki muka lagi untuk pergi kesana. Shadira lebih memilih untuk mengurung diri di kamarnya saja. Dia tak keluar ketika ibunya memintanya untuk ikut bersama mereka makan malam di rumah bu Maya. “nak, ayolah, nanti bu Maya mengira kamu gak suka loh sama beliau. Tadi bu maya sudah berpesan untuk mengajakmu juga.” Bujuknya pantang menyerah. “bilang aja kalo aku lagi ada kerjaan bu atau bilang aja alasan apapun itu. Pokoknya aku tetap gak mau kesana dengan alasan apapun.” Tegasnya seakan tak bisa diganggu gugat lagi. Bu nadia terdengar menghela napasnya panjang. Dia akhirnya menyerah. Shadira sudah tak mendengar suara ibunya lagi. Dia mengintip kearah pintu dan memastikan bahwa ibunya memang sudah keluar. Ternyata memang benar, ayah dan ibunya sudah pergi ke rumah bu maya. Dia pun bisa bernapas lega sekarang. Shadira tersenyum senang. Akhirnya dia berhasil untuk tidak berangkat ke rumah bu maya itu. Walaupun dia juga merasa tak enak telak menolak ajakan makan malam bersama itu, tapi apa boleh buat. Dia juga sudah kepalang malu dibuatnya. Shadira membuat kopi dan mengambil beberapa cemilan di dapur sebelum dia menyibukkan diri di kamarnya. Bukan karena dia ada pekerjaan. Tapi ada belasan episode drama korea yang harus dia rampungkan. Kopi sudah ditangan kanan dira dan cemilan juga sudah diapitnya. Dia sudah bersiap untuk masuk ke kamarnya. Tapi baru saja dia ingin melangkah masuk, sebuah ketukan pintu terdengar. Shadira berdecih pelan. Dia tak ada alasan lagi untuk menghindar jika ada tamu. Biasanya dia akan membiarkan kedua orangtuaya yang membuka pintu. Tapi sekarang hanya dirinya yang ada disana, jadi mau tak mau dia yang harus membuka pintu. “iya sebentar.” Jawabnya sembari berlari mencari kerudung dan cardigannya. Shadira dengan terburu-buru membuka pintu itu karena takut tamunya menunggu terlalu lama. Dira pun juga tak tau siapakah gerangan tamunya itu. Tapi biasanya itu adalah teman bapaknya yang memang suka berkunjung. “iya silah....kan.” dira tertegun melihat siapaa yang ada di hadapannya itu. Jika kemarin dia tak melihatnya dengan jelas, sekarang dia bisa melihat lelaki itu dengan sangat jelas dan jarak yang dekat. Matanya terkunci sepersekian detik ketika menatap lelaki itu. Tapi kemudian tersadar ketika lelaki itu berdehem sembali menyodorkan piring berisi makanan. “ibu tadi menyuruhku memberimu ini.” Ujarnya dengan nada santainya. “ah yeah. Terimakasih.” Ucap gadis itu gugup. Lelaki itu hanya mengangguk pelan menjawab ucapan dira. “kalau begitu, aku pulang dulu.” Pamitnya karena tak tahu harus bagaimana lagi. Ibunya hanya menyuruh dia untuk mengirim makanan dan itu saja. Oh tidak, sebenarnya ada satu hal lagi yang ibu maya pesankan padanya tapi jovan seakan ragu untuk melakukannya. “mmm.. masalah waktu itu, aku meminta maaf. Aku tidak sengaja.” Lelaki itu berbalik kearah dira membuat gadis itu ikut terkejut. Dira mengangguk pelan menjawabnya. Dia yang awalnya sudah mulai melupakan kejadian itupun kembali merasa malu ketika mengingatnya. Sebetulnya dia sadar itu bukan salah jovan, tapi bagaimana lagi. Dia juga tidak tahu bagaimana harus bersikap. Lelaki itu kembali berbalik dan melangkah kearah rumahnya. Begitupun dengan dira. Dia masuk dan menutup kembali pintu rumahnya. Dia merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia serasa sedang berada di adrenalin. Entah apa yang membuatnya seperti itu. “uncle jo. Kenapa dia tak terlihat menua? Apakah dia titisan vampire?” gumamnya ketika melihat wajah lelaki itu. Walaupun kata ibunya dia sudah berumur tetapi wajahnya benar-benar tak terlihat menua. Bahkan kalau orang yang tidak tahu pasti mengira bahwa dia masih dua puluhan. Mungkin sekitar dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahunan. Dira langsung menggelengkan kepalanya. “ih, kenapa sih otakku malah mikirin dia.” Dia geli sendiri ketika dia menyadari bahwa sedari tadi pikirannya terus berputar pada lelaki itu. Perempuan itu melanjutkan rencanannya untuk marathon melihat drama korea kesukaannya. Dia sudah duduk bersila di depan laptopnya sembari memangku toples berisi cemilan itu. Bukannya fokus melihat adegan yang ada di layar laptopnya, pikiran dira kembali berlari ke masa kecilnya dulu. Masa kecil dimana dia sering bermain bersama lelaki yang jauh lebih tua darinya itu, yang seringkali ia panggil dengan sebutan ‘Uncle Jo’. Dulu Dira selalu berlari kearah jovan setelah lelaki itu pulang sekolah. Dira selalu setia menunggu jovan di depan rumah sembari mewarnai atau masak-masakan di depan rumahnya. Ketika dia melihat jo, pasti dia langsung menunjukkan hasil gambarannya atau sekedar mengajaknya bermain. Beruntungnya dia, karena jo tak pernah menolak ajakanya bermain. Walaupun ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengganggu jo ketika pulang sekolah karena pastinya lelaki itu masih lelah. “Uncle Jo, lihat ini. Aku menggambarnya sendiri.” Ujar Dira kecil yang waktu itu masih berumur enam tahun. “panggil aku kakak saja Ra, sudah berapa kali aku ingatkan.” Lelaki itu memperingatkan Dira dengan nada lembutnya. Walaupun sudah berulangkali diingatkan tapi tetap saja, Dira enggan memanggilnya dengan sebutan kakak. Karena dia sudah terbiasa memanggil orang-orang yang lebih tua darinya dengan sebutan uncle atau om. “No..no. pokoknya maunya uncle Jo aja.” Ucap gadis kecil itu tak terbantahkan. Jovan pun hanya tersenyum simpul mendengarnya. Perhatiannya kembali terfokus pada gambar yang Dira berikan kearahnya itu. “wihh keren sekali gambaranmu. Ini apa Ra?” tanya lelaki itu sembari melihat kearah gambaran yang diberikan gadis kecil itu. “gadis kecil itu aku, dan ini Uncle Jo. Disini aku dan Uncle Jo sedang berdiri meliha pemandagan yang indah. Ada banyak bunga-bunga terhampar di hadapan kita. Bagus kan?” tanya gadis kecil itu meminta validasi. “bagus sekali Ra. Nih, aku kasih coklat karena kamu sudah menggambar yang keren hari ini.” Dira pun melonjak senang menerima coklat batangan dari Jovan. “thanks yaa uncle Jo. Ini gambarannya Uncle Jo simpan aja ya. Besok aku gambarkan lagi.” Ujarnya bersemangat. Jovan hanya tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan tetangganya itu. “aku pulang dulu ya, nanti kita main lagi. Bye uncle Jo.” Pamit Dira setelah puas mendapatkan makanan kesukaannya itu. Dia berlari dengan langkah bahagia ke rumahnya. Tapi tetap saja, dia harus menyembunyikan coklat itu dari ibunya. Karena ibunya pasti akan marah jika tahu dia makan coklat. Shadira juga tak tahu ternyata ingatan itu masih ada disana. Kenangan masa kecilnya yang sudah lama ia tutup rapat. Kini dia mencoba mengingat semuanya kembali setelah sekian purnama. “ih Dira, kamu nih mikir apa sih.” Perempuan itu menepuk kepalanya sendiri seakan dia ingin menggugurkan ingatan-ingatan itu. Perempuan itu bergegas menutup laptopnya. Dia tak sadar kalau dia sudah melamun satu jam lamanya. Satu episode drama korea yang dia tonton pun sampai sudah habis. Dia ke kamar mandi sejenak untuk sikat gigi dan cuci muka lalu memutuskan untuk tidur saja. Dia tak mau membiarkan pikirannya mengembara ke masa kecilnya lagi. Dia akan melupakannya saja. Lagipula, dia dan lelaki itu tak akan ada hubungan apa-apa lagi. Tak akan sedekat dulu lagi karena memang keadaannya sudah berbeda. Sekarang mereka sudah tumbuh menjadi dewasa jadi mereka merasa sungkan meski hanya bertegur sapa saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN