CHAPTER 9
"Lebih cepat dari dugaan, huh?" Ayah Indira tersenyum kecil menemukan ekspresi terkejut menantunya itu.
Melihat, kedua orang tuanya berdiri di hadapannya setelah menemukan kenakalan yang ia buat, Brendon benar-benar tak percaya. Tatapan kedua orangnya kelihatan sangat rumit digambarkan, walau siratan kecewalah yang tampak jelas di sana.
"Mamah, Papah." Brendon tersenyum kikuk.
"Nah, Tuan dan Nyonya Aryaputra. Mari kita bicarakan ini saat jamuan makan malam keluarga Yudayana." Ayah Indira mempersilakan.
"Kalian duluan saja!" Ayah Brendon menatap kilas ke mereka dan menatap datar putranya.
"Baiklah, kami tunggu!" Ia dan ibunda Brendon pun mulai berjalan menjauh.
Brendon membuang wajah ke sana ke mari menghindari tatapan mengintimidasi pria tua di hadapannya.
"Harusnya kami lebih menjaga kamu. Semakin bertambah umur bukannya semakin dewasa tingkah kamu malah semakin menjadi-jadi," ungkapnya dengan penuh nada kekecewaan. "Kamu sadar apa yang kamu lakukan menghancurkan impian seorang gadis belia?"
"Ya enggak sengaja, Pah. Lagian, belom tes DNA juga, belum tentu anak aku, Pah! Aku paling dijebak—"
"Rekamannya ada Brendon." Mata Brendon melingkar sempurna, sampai ia teringat di waktu ia dalam keadaan termakan nafsu dan alkohol.
Ia memasang kamera yang mengarah tepat ke ranjang, di mana ada Indira yang terbaring tak sadarkan diri karena pengaruh obat peransang yang ia berikan padanya.
"Benar-benar memalukan!" ujar sang ayah.
"Pah, itu seriusan gak sengaja!" Brendon memekik membela diri. Ayahnya menggeleng. "Lagian, itu juga salah Papah Mamah!" Kali ini, wajah Brendon menatap sengit sosok yang merupakan ayah kandungnya tersebut. "Harusnya Papah Mamah jaga aku 'kan? Huh? Kalian ngerasa, kan, akan kepribadian aku yang kebentuk sebenernya adalah kesalahan kalian sendiri? Papah sama Mamah menyesali itu 'kan? Salah sendiri! Salah sendiri dari kecil aku bukannya dianggap anak! Pekerjaan tuh kalian anggap anak sendiri!"
"Elakan yang bagus." Pria dewasa itu memanggut dengan mata memicing. "Semua aset kamu—"
"Gak peduli!" Brendon menatap dengan tatapan menantang, ia berbalik masuk ke kamar dan pria itu menatapnya yang duduk di tepian kasur sambil membelakangi.
"Kita ketemu lagi di ruang makan, Brendon." Pria itu melangkah pergi.
"Bodo, gak laper!" Indira keluar dari kamar mandi, buru-buru ia mengambil pakaian dan masuk lagi ke kamar mandi menghindari tatapan mata Brendon padanya. "Lo juga, kita udah nikah, lagian keknya gue pernah liat lo telanjang bulat!" pekik Brendon tanpa ada niat memperhatikan. Indira tak menghiraukannya dan terus memakai pakaian di dalam kamar mandi. Tak lama setelah itu ia keluar.
"Non Indira, Den Brendon, dipanggil Pak Yudayana, disuruh ke ruang makan!" kata seorang nani, wanita lumayan tua, yang datang.
Indira mengerutkan kening. "Oh, mm … kenapa gak dibawa—"
"Bonyok gue dateng, mereka makan malam besan plus mantu!" ungkap Brendon dengan judes.
Indira menatap canggung dan lesu. "Um …." Ia melangkah mengekori sang nani yang menunggunya, tetapi berhenti di ambang pintu melihat suaminya tetap setia duduk membelakanginya. "Mm … a-anu—"
"Lo sana aja sendiri, gue gak la—" Belum menyelesaikan kalimatnya, suara perut Brendon menggelegar terdengar. Indira mengulum bibir menahan tawa sementara Brendon memegangi perutnya yang keroncongan.
"Pokoknya, lu pergi sono! Gue gak mau makan, apalagi bareng mereka!" Gadis itu tahu ia tak bisa menahan Brendon, terlebih ia masih agak trauma dengannya, jadi pun Indira tinggalkan saja pemuda itu mengekori nani yang menuntunnya ke ruang makan.
Lagi, perut Brendon bergerak, layaknya meneriakan keinginan untuk diisi sesuatu. Ia meremas perutnya sendiri. "Tahan, tahan. Lo lagi ngam—" Gerakan itu semakin cepat dan mengacak-acak isi perutnya. Brendon tak yakin bisa menahan teriakan cacing-cacing di dalam sana untuk tetap diam.
Buru-buru ia bangkit dan keluar, namun langkahnya terhenti melihat suasana lorong kiri dan kanannya yang sepi. Tersenyum lebar penuh kemenangan, rasa lapar itu seketika menghilang dari diri pemuda tersebut.
Kesempatan untuk kabur.
CHAPTER 10
Indira yang telah sampai di meja makan menunduk, tersenyum ke arah tiga orang tua yang ada di sana. Gadis itu agak malu-malu terutama pada dua orang asing yang sekarang adalah orang tuanya juga—mertuanya.
"Indira, bukan?" Wanita itu berdiri dari duduknya, gayanya sederhana meski masih berkesan modern. Dipegangnya kedua bahu gadis mungil itu. "Ah, kamu benar-benar sangat cantik dan … muda."
Indira tahu persis akan makna terdalam apa dari jedaan sesaatnya tersebut.
Ditariknya lembut Indira masuk ke pelukannya, dielusnya lembut puncak kepalanya hingga ke ujung rambut. Aroma lavender dari tubuhnya menyejukkan sekaligus menenangkan gadis itu. Ia merasa aman dan nyaman.
"Mamah …." Tanpa sengaja, ia mengatakannya.
Pelukan itu ia lepas, Indira keluar dari pelukan dan menatap dengan mata melingkar sempurna.
"Ma-maaf."
"Saya memang ibu kamu sekarang, panggil saja Mamah!" Dielusnya kening dan rambut Indira, kemudian menangkup pipinya yang berisi. "Ah, kamu manis sekali."
"Ehem." Ayah Brendon berdeham, bermaksud menghentikan aktivitas sang istri mengagumi betapa indahnya sosok menantu mungilnya.
"Ayo, duduk, Sayang!"
Dituntunnya Indira untuk duduk di sampingnya, ayah sang putri semata wayangnya itu tersenyum ke arah keakraban tersebut.
"Kamu makan yang banyak ya, Cantik!"
Indira entah mengapa merasa bahagia, seperti ia dan ibunya. Meski sebagian dirinya berduka atas apa yang menimpanya, ia tak menyangka ada kesenangan seperti ini.
"Pa-Pak!" Seorang pria berbadan tegap yang ngos-ngosan serta wajah babak belur datang secara tiba-tiba.
Keempatnya menatap bingung, terutama ayah Indira dan ayah Brendon yang sadar apa yang pasti terjadi.
"Tuan Muda Brendon kabur!"
"Kita harus pergi." Ayah Indira angkat suara menatap ayah Brendon. Kedua pria itu berdiri dari duduknya.
"Aku di sini saja, Indira mungkin perlu seseorang untuk mendengarnya." Ibunda Brendon angkat suara, suaminya hanya menggumam tanda setuju sebelum akhirnya pergi.
Kini, hanya tersisa dua wanita di ruang makan itu.
"Ah, enggak jadi, deh, makan sama-sama," ujar ibu Brendon bernada kecewa yang dibuat-buat, ia tersenyum ke arah Indira dan Indira membalasnya dengan kikuk. "Tapi tetap kamu harus makan, ya?"
Kembali, ia menyiapkan makanan untuk Indira, disikapkannya rambut gadis itu ke belakang telinga.
"Makan, Sayang!"
"Tan—"
"Mamah!" ralatnya sebelum ungkapan Indira selesai, keduanya tertawa pelan.
"Mamah sendiri enggak makan?" tanya Indira.
"Mamah udah makan tadi, yah, makan malam ini cuman itikad baik ayah kamu aja." Kembali, ia mengelus rambut Indira. "Atau kamu mau Mamah suapin, huh? Ngode mau disuapin, ya?"
Mengambil piring yang berisi makanan serta sendok, Indira mencoba mengelak tetapi ia tak bisa menahan. Sesuap nasi masuk ke mulutnya dengan lembut, membungkamkannya dan bayang-bayang ibundanya terlihat.
Sambil mengunyah, Indira menatap haru. Matanya berkaca-kaca.
Melihat itu, ibu Brendon tersenyum kecut. "Kamu sangat muda, Sayang." Ia mengusap-usap kepala Indira. "Masa depan kamu sangat panjang, tapi karena anak Mamah … maafin Mamah ya, Sayang!" Dielusnya pipinya dengan lembut.
Indira mengambil tangan wanita tua itu di pipinya, menggenggamnya lembut dan menutup mata. Beberapa tetes air mata jatuh dari kelopaknya.
Meletakkan piring dari tangannya ke atas meja, ibu Brendon menarik Indira ke dalam pelukannya. Gadis itu menangis di sana, tersedu-sedu, sementara wanita itu mengelus punggungnya agar ia tenang. Tak lupa, dengan air mata yang juga jatuh.
"Nangis, Sayang! Nangis sampai kamu puas."
Indira keluar dari pelukan, ia menyeka air matanya. "Maaf, Mah."
"Jangan minta maaf." Dipegangnya kedua bahu Indira, mata keduanya yang sembab bertatapan penuh arti satu sama lain. "Mamah harap kamu menjadi gadis yang kuat menghadapi ini. Menghadapi segalanya. Masa depan kamu …, Mamah yakin masih bisa terselamatkan kalau kamu tegar."
Indira mengangguk, ia menyunggingkan senyum dan wanita tua di hadapannya balik melempar senyuman juga.
"Nah, lanjut makan lagi, ya! Biar Dek Bayi sama Mamahnya sehat. Terus, kita cerita-cerita, oke?"
Indira mengangguk lagi. Ia sungguh bahagia menemukan sosok ibu kembali.