7. Devan Cemburu

1146 Kata
"Apa itu sakit?" Setelah sekitar lima belas menit mereka berada di mobil, untuk pertama kalinya Devan membuka suara. Mobil Devan melaju di jalanan ibukota di dalam suasana terasa canggung. Senna melirik si penanya dengan bingung. "Apanya?" Dagu Devan menunjuk singkat ke arah tangan Senna yang terlipat di pangkuan. Ke arah plester kecil yang membungkus luka goresan pisau. "Enggak, Om. Udah enggak kerasa apa-apa, lagipula ini hanya luka gores doang," jawab Senna jujur. Yang sakit itu jantung aku, Om, batin Senna. Devan kembali diam, tetapi ekor matanya terus teruju pada jari Senna yang diplester. Ada rasa bersalah di dalam dirinya karena membiarkan Senna berada di dapur. Senna menggigit bibir bawahnya, mencoba bersikap normal. Sayangnya tidak bisa seperti itu, saat dia melirik Devan yang memutar setir, ingatannya tertuju pada insiden tadi pagi, di mana tidak sengaja menyaksikan pemandangan topless di mana sisa air mandi melekat pada tubuh pria itu yang sangat menguji keimanannya—handuk yang terlilit di pinggang. “Fokus, Senna. Jangan mikir yang aneh-aneh,” gumamnya dalam hati sambil menggelengkan kepala. Devan yang melihat itu merasa bingung, kemudian berucap, “Sorry.” Mata Senna membulat segera menatap Devan, “Eh, maaf? Untuk apa?” "Your fingers,” ucapnya sambil melihat ke arah plester di jari telunjuk dan tengah Senna. “Harusnya, saya nggak biarin kamu masak.” “Ah, itu … aku hanya mau belajar aja, lagi pula nggak mungkin selalu repotin orang.” “Kamu nggak ngerepoin siapapun,” tegas Devan membuat Senna terkejut, membuat hatinya sedikit berbunga. Setelahnya hampir setengah jam akhirnya tiba di depan kampus. Devan memarkirkan mobil di tepi jalan, sementara di depan gerbang, Galen sudah berdiri menunggu, melambaikan tangan begitu melihat kedatangan Senna. Senna membuka pintu, melangkah keluar. Dia tersenyum ke arah Devan, berusaha bersikap senormal mungkin. “Makasih ya udah nganterin, Om. Hati-hati di jalan.” pamit Senna sambil melambaikan tangan. Devan hanya mengangguk, memasang wajah datar seperti biasanya. Tapi tanpa sadar mengikuti gerak-gerik Senna. Dan di depan matanya, tanpa aba-aba, Senna menggandeng tangan Galen dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil, terlihat menikmati kebersamaan mereka. Devan menahan napas, dadanya seperti dipukul sesuatu dengan keras. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan ekspresi. Tapi hatinya berantakan, cemburu. “Apa-apaan sih mereka. Kenapa gandengan segala? Kenapa sih saya malah begini?” Devan buru-buru mengalihkan pandangan, menarik napas dalam dan berusaha meredakan emosi yang tiba-tiba datang di dalam d**a. Mobil itu perlahan melaju, meninggalkan Senna dan Galen di belakang. Begitu mobil hilang dari pandangan, Senna langsung melepaskan genggaman tangannya pada Galen. Wajahnya berubah datar, senyumnya menghilang. Galen menatapnya dengan bingung. “Eh, kenape lo? Tadi happy banget, sekarang lo malah bete gini?” Senna tersenyum singkat. “Nggak apa-apa, Len. Makasih udah nunggu. Gue cuma .., ya, gitu lah biar—” Senna bingung bagaimana memberitahu Galen. “Biar om Lo tau punya temen?” “Ya, gitu lah,” jawab Senna tidak jelas. Galen masih tampak heran, tapi memilih untuk tidak banyak tanya. Ia hanya berjalan di samping Senna yang terus menunduk sepanjang jalan masuk ke kampus. Di kantor, Devan meregangkan dasinya dengan kasar, moodnya menjadi jelek saat melihat Senna memiliki teman pria, apalagi dia tahu tatapan yang diberikan anak laki-laki itu. “Siapa anak itu,” geramnya sambil duduk di kursinya. Rahangnya mengeras, kemudian menghubungi seseorang. “Tolong amati pergerakan Senna dan kabari perkembangannya,” titahnya kemudian mematikan panggilan secara sepihak. Seorang pria masuk ke ruangan Devan, tanpa permisi sambil membawa kopi, “apa yang membuat wajahmu kusut seperti itu?” tanyanya, saat dia tengah di pantry, sekilas dia melihat raut wajah sahabatnya, mau tidak mau dia menghampiri Devan ketika melihat perubahan pria yang menjadi sahabatnya itu. Alisnya terangkat tinggi saat melihat wajah Devan yang lebih kelam dari biasanya, “Hmm … apa ini karena Senna?” tanyanya sedikit ragu-ragu. Devan hanya melirik sekilas, sambil menghela napas kasar. “Ah, apa itu sangat kelihatan, Zam?” tanyanya, pada sahabatnya—Azzam Defandra. Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi di ponsel Devan berbunyi, rahangnya semakin mengeras, melihat pesan yang baru diterimanya. “Gue ngerasa kayak orang bego,” makinya pada diri sendiri. Azzam mengernyit. “Lah? Kenapa emang? Tadi lo nganterin Senna ke kampus, ‘kan?” Devan mendengus. “Iya, karena gue nganterin dia ke kampus, terus ngeliat dia gandengan sama cowok di kampusnya.” Azzam tertawa pelan, bersandar santai di sofa. “Apa itu pesan dari orang suruhanmu yang membuntuti mereka?” Pertanyaan Azzam membuat Devan tertohok, dia tidak menjawab hanya memperlihatkan wajahnya yang penuh kekesalan. Untuk sesaat, Azzam dia takut semakin menyulut emosi Devan, “Huh, gue udah bilang ‘kan? Kalau jangan nyembunyiin perasaan itu terus menerus.” Devan mendesah panjang, menatap langit-langit ruangan. Pikirannya kacau karena cemburu pada Senna, dia mengacak rambutnya dengan kasar. “Itu tidak mungkin. Apa yang akan orang-orang katakan nanti. Dia masih muda, gue nggak mau dia akan diejek kalau ketahuan pacaran dengan sahabat ayahnya, apalagi perbedaan umur.” Azzam memutar mata, ekspresi gemas. “Yaelah... dasar lo aja keras kepala. Kalau lo terus tahan perasaan kayak gitu, yaudah... nikmatin aja tuh rasa cemburu tiap hari. Gak ada yang maksa lo bilang. Tapi lo bakal capek sendiri. Lagian apa sih masalahnya? Dia suka Lo, Lo juga kan? Ngapain sih mikirin orang?” Devan memejamkan mata, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Emosi di dalam hatinya benar-benar membuatnya kacau sendiri. “Aneh.” Azzam tersenyum miring. “Aneh apanya? Enggak aneh lah, Lo cuma takut, Van. Lo takut kalau orang lain bilang lo gak pantes sama dia. Tapi lo gak mikir, lo malah bikin Lo sama dia sama-sama sakit.” Kata-kata Azzam seperti jawaban dari kebingungan ada di pikiran dan hati Devan. Ia terdiam diam yang cukup lama. Pikirannya kembali melayang ke arah wajah Senna senyumnya, suaranya, dan bagaimana dia menggenggam tangan dengan teman laki-laki di kampus tadi. “Apa gue beneran takut sama penilaian orang? Atau gue emang pengecut?” Dia bertanya, pelan berdebat dengan pemahamannya sendiri. Azzam menepuk pundak Devan pelan. “Gue cuma bilang, pikirin lagi. Kalau lo tetep mutusin buat jalanin perjodohan, ya udah, konsekuensinya lo harus tahan sama semua cemburu dan marah kayak tadi. Tapi kalau lo mau jujur, sekarang waktunya. Karena kalau lo kelamaan, bisa jadi dia beneran bakal pergi sama cowok lain.” Devan hanya diam, tatapannya menatap ke luar jendela. “Yaudah gue keluar dulu.” Azzam kemudian berjalan keluar ruangan meninggalkan Devan sendiri. Saat pintu tertutup, keheningan semakin mencekik menyesikan Devan dengan banyaknya pikiran yang melayang-melayang. Apa yang dikatakan Azzam ada benarnya. Apalagi membayangkan Senna tertawa dengan pria lain membuat amarahnya semakin membucah. Tertawa dengan pria seumuran, bukankah itu yang dinamakan serasi? Tidak tua seperti dirinya. Hatinya semakin bimbang, haruskah dia menjadi pria egois? Membatalkan perjodohan yang diatur sang nenek demi gadis kecil yang disukainya? Devan membuka kembali pesan yang diterimnya, di sana terlihat Senna tersenyum bersama anak laki-laki yang dilihatnya tadi pagi. Tiba-tiba sindiran Azzam teringiang begitu saja, “Pengecut, ya,” gumamnya pahit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN