“Sialan,” umpat Devan seketika sambil meletakan Kembali dokumen yang baru saja dibukanya. Kata-kata Senna tadi pagi menggema dipikirannya membuatnya tidak focus untuk bekerja. “Sepertinya aku tidur saja di apartement. Daripada makin kacau,” tambahnya. Dia mengacak rambutnya dengan kasar karena pikirannya benar-benar kacau. “Sebenarnya kalian kapan pulang dari perjalanan bisnis sih. Putri kalian membuatku frustasi,” lirihnya. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu membuatnya kembali ke posisi awalnya. Memeriksa dokumen. “Siapa?” serunya. Pintu terbuka menampilkan wajah yang sangat familiar. Itu Stella. “Saya, Mas,” jawab wanita itu sambil tersenyum. Stella berharap kedatangannya sedikit disambut, tetapi raut wajah yang dilihat dari Devan membuat hatinya berdenyut sakit. Namun, dia telah berniat

