Part 2 : Perkenalan.

1198 Kata
Mahaprana Adhyasta Parikesit. Biasa dipanggil Adhi, Mas Adhi, atau Pak Asta. Pria matang berusia pertengahan tigapuluh itu tengah memijit pelipisnya yang terasa sakit karena terlalu memikirkan urusan pernikahan yang selalu saja ditanyakan oleh ibunya. Adhi sebenarnya sudah enggan untuk kembali berumah tangga karena sebelumnya ia pernah mengalaminya dan gagal diusia pernikahan yang masih terbilang muda. Lima tahun. Rasanya sudah malas untuk menceritakan apa penyebab ia dan mantan istrinya itu bercerai. Sekarang, 2 tahun sudah ia menduda. Tidak ada yang salah, justru ia menikmati hidup sendiri. Tapi jika dipikir-pikir, apakah akan seperti ini terus? Ia butuh seseorang yang akan mendampinginya hingga akhir hayat, ia juga ingin memiliki anak secepatnya karena usianya yang tidak lagi muda. Tapi mencari istri tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ia tidak ingin gagal untuk kedua kalinya. Pria itu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 pagi. Ya Tuhan, ia terlalu lama melamun di dalam mobil sampai ia lupa jika kini sudah berada di parkiran sebuah perusahaan. Dengan cepat ia membuka pintu mobil, tidak lupa menguncinya. Lalu mengambil sebuah tablet dan ponselnya. Saat ia berjalan, beberapa pasang mata memperhatikannya. Terutama kaum hawa. Bagaimana tidak, Adhi begitu mempesona dimata mereka dengan kemeja slimfit dan juga celana bahan semata kaki, tidak lupa sepatu hitam mengkilap. Tangannya menggenggam sebuah tablet dan ponsel, pria itu tetap santai berjalan cepat menuju meja respsionis. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" ucap resepsionis itu dengan ramah. "Saya sudah ada janji dengan Pak Rega, atas nama Adhyasta Parikesit," ujarnya. "Oh Pak Asta, sudah ditunggu oleh Pak Rega di ruangannya, di lantai 28, Pak." "Baik, terima kasih." Langkah lebar Adhi memasuki lift, akhirnya berhasil membawanya sampai di lantai dua puluh delapan, ia pun langsung tahu dimana ruangan Pak Rega itu, karena sudah ada tulisannya di depan pintu. Ruang Direktur. Tanpa menunggu lama Adhi pun masuk ke dalam ruangan itu. "Selamat pagi, Pak," ucapnya ramah. "Selamat pagi, akhirnya datang juga." Seorang pria paruh baya mendekati Adhi, lalu menjabat tangannya dengan begitu kuat. "Mohon maaf jika Pak Rega lama menunggu saya," ucap Adhi penuh penyesalan. "Tidak, masih pagi, kita memang sudah menjadwalkan pukul 9, jika kau datangnya pukul 5 sore, itu baru tidak bisa ditoleransi," balasnya dengan kekehan diakhir. Adhi pun ikut terkekeh. Ternyata Pak Rega yang ia pikir arogan dan sombong, bisa membuat lelucon yang garing seperti tadi. Adhi akui bahwa diusianya yang sudah tua, pria itu masih terlihat gagah. "Silahkan duduk, Pak Asta," ujarnya yang langsung diangguki oleh Adhi. "Jadi bisa langsung kita mulai saja..." Dan mereka pun membahas tentang masalah pekerjaan. ••••• Akhirnya, makan siang pun tiba. Tadinya, Adhi ingin kembali ke kantornya, namun tiba-tiba saja Ibunya menelepon dan menyuruhnya untuk makan siang di rumah. Alhasil, Adhi tidak bisa menolah keinginan Ibu tercintanya itu. Kini, ia tengah mengendarai mobilnya membelah jalanan Ibukota Jakarta, yang mungkin nanti tidak akan menjadi Ibukota Negara lagi. Sedang asik-asiknya ia mengendarai mobil tiba-tiba saja ada sebuah sepeda motor yang belok dari tikungan dan tidak menyadari adanya mobil dihadapannya langsung menabrak dengan kerasnya depan mobil pria itu. Dengan kencang Adhi menginjak remnya. "Astaghfirullahaladzim, Ya Allah.." ucapnya sambil melihat sepeda motor itu sudah terjatuh beberapa meter dari mobilnya. Dan ia melihat seorang wanita berhijab yang tengah merintih kesakitan karena tergencet sepeda motornya. Beberapa warga sekitar mengerubungi mobilnya dan membantu pengemudi motor itu. Adhi pun segera turun dari mobilnya dan mendekati wanita itu. "Pak! Tolong segera bawa ke rumah sakit, sepertinya kaki Mbak ini patah tulang." Adhi yang panik ketika seorang warga berbicara seperti itu langsung meminta beberapa orang untuk mengangkat wanita itu ke dalam mobilnya. Dan ia pun segera mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan penuh. Diliriknya wanita itu yang tengah merintih kesakitan dengan darah yang sudah merembes dari jeans yang ia gunakan. "Aduh, Mbak, tahan sebentar ya, ini sudah mau sampai," ucap Adhi jantung yang berdetak kencang. Ia pun dapat melihat bagian lengan wanita itu yang robek—mungkin tergesek aspal—mengeluarkan darah. Adhi meringis kecil melihatnya.  Ketika melihat plang rumah sakit yang sudah didepan mata, Adhi pun membelokkan mobilnya menuju rumah sakit itu. Ketika sudah sampai, Adhi segera keluar dari mobilnya. Kemudian membuka pintu penumpang dan langsung terlihat jelas wajah pucat wanita itu. Ia pun memanggil perawat yang langsung membawakan sebuah kursi roda. "Mbak, maaf saya lancang," ucapnya sebelum ia menggendong tubuh wanita itu dan mendudukkannya ke kursi roda tersebut. "Terima kasih, Pak," ucap wanita itu lirih. Dengan segera perawat membawa masuk wanita itu. Adhi pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah sakit untuk melihat keadaan wanita itu. Sungguh ia tidak tega untuk meninggalkannya. Ia merasa bersalah. Menunggu di ruang tunggu, tiba-tiba saja ada seorang perawat yang menghampirinya sambil memerikan ia sebuah ponsel. "Ini Pak, ponsel Mbaknya, sekarang sedang ditangani oleh dokter." Adhi mengangguk. Memandang sejenak ponsel itu sebelum ia memutuskan untuk menyalakan ponsel yang berasal dari Korea Selatan tersebut. Dan tiba-tiba saja ada panggilang masuk.  Yaya sheyeng is calling.. Tanpa menunggu lama Adhi pun mengangkatnya. "Halo, assalamualaikum! Rina lo ada dimana? Daritadi gue telepon kok gak diangkat! Please Rin, lo harus cepet kirim filenya sekarang, gue takut nanti dosen marah ke gue!" Terdengar suara wanita yang sedikit berdecak kesal. "Waalaikumsalam, maaf Mbak, tapi pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang berada di rumah sakit," ucapnya. "Apa?! Astaghfirullahaladzim, serius? Ini bukan penipuan kan?" "Ya Allah, Mbak. Untuk apa saya menipu, sekarang mending Mbak langsung ke rumah sakit Harapan Bangsa." "Oh jadi beneran? Ya Allah, iya deh, 10 menit lagi saya sampai, tungguin teman saya ya Pak." Tut tut.. Adhi menggeleng pelan ketika ingin membalas perkataan wanita itu namun langsung dimatikan teleponnya. Sekarang Adhi pun hanya bisa menunggu kedatangan teman Rina itu. •••••• Lima belas menit berlalu, tiba-tiba saja ponsel wanita itu bergetar kembali dan menampilkan panggilang dari temannya lagi. Adhi pun segera mengangkatnya. Sambil berjalan keluar kantin rumah sakit, Adhi bersiap-siap untuk mendengarkan suara wanita bermulut cempreng itu. "Halo Pak? Saya sudah di depan rumah sakit ini, teman saya dimana Pak?" "Saya sedang berjalan menuju lobby, kamu masuk saja ke dalam." "Iya, ini saya mau masuk." Dan ketika Adhi menatap pintu rumah sakit dari lobby, ia terperangah melihat seorang wanita yang begitu stylish dengan celana kulot bergaris dan kemeja polos longgar berwarna hitam tidak lupa hijab berwarna merah masuk ke dalam rumah sakit sambil memegang teleponnya di telinga. Adhi sedikit menebak bahwa itu adalah teman dari wanita yang sudah menabrak mobilnya. "Anda memakai kemeja hitam dan jilbab merah?" ucap Adhi sambil terus menatap wanita itu yang tampak kebingungan di depan lobby. Ia pun berjalan pelan mendekatinya. "Nah iya betul. Sekarang Anda dimana? Saya sudah di sini," jawabnya. "Saya dibelakang Anda." Dan ketika itu pula Adhi dapat melihat wajah terkejut wanita itu sambil menoleh ke arah dirinya. Pria itu pun tersenyum ramah. "Anda temannya wanita yang sudah saya tabrakkan?" tebak Adhi. "Kan Anda sudah tau lewat telepon Pak, bagaimana sih?" balas wanita itu. Adhi terkekeh pelan. "Kenalkan, saya Adhyasta Parikesit, Anda siapa?" ucap Adhi sambil mengulurkan tangannya "Aduh Pak, maaf ini, bukannya saya sombong, tapi ini bukan waktu yang tepat buat kenalan, sekarang saya mau lihat teman saya!" Adhi tercengang begitu melihat raut wajah dingin nan jutek dari wajah cantik khas arab itu. Saat itu pula ia menarik tangannya dari hadapan wanita itu. Dan ia merasa bodoh, untuk apa ia memperkenalkan diri? Ada-ada saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN