TJOL 2

1462 Kata
 "Assalamualaikum Bunda." Sapa Darren lewat sambungan telpon. "Wa'alaikumsalam, bagaimana keadaanmu?" tanya Syla, ia nampak sangat cemas. "Baik Bunda, Bunda jangan khawatir. Di sini, aku akan selalu baik-baik saja." Ucap Darren menenangkan hati Syla. "Bunda kangen, Nak." "Baru sehari, nanti kalau senggang aku pulang." "Rumah terasa sepi, Ayahmu kenapa tega sekali mengirimmu ke sana." Sungut Syla. "Tidak apa Bunda, mungkin supaya aku mandiri di sini." "Kamu sudah makan?" "Sudah tadi sore, lontong opor sama sayur lodeh. Enak sekali." Ucap Darren berbunga-bunga. "Nanti kamu lupa masakan Bunda." Ucap Syla sedih. "Tidak. Masakan Bunda, akan menjadi masakan spesial yang tak akan terlupakan sepanjang masa." "Kamu jago berkata-kata, seperti ayahmu." Sungut Syla, Darren terkekeh. "Bunda, aku mengantuk. Besok aku telepon lagi ya." "Baiklah, jaga diri. Jangan berbuat macam-macam." Titah Syla. Darren reflek mengacungkan jempolnya meskipun Syla tak dapat melihatnya, ia memberi kiss bye untuk sang bunda. Panggilan terputus, Darren mencari posisi tidur yang nyaman. Merasa gerah, ia melepas kaos yang ia kenakan. Menyalakan kipas angin yang menggantung pada dinding, mengatur kekencangan angin yang paling tinggi. "Di rumah, aku tidak pernah merasa segerah ini." Gumam Darren, tetapi ia ingat tidak lagi berbicara buruk di rumah ini. "Sudahlah, aku tidur saja." ***** "DARREN DELFANO PRAMUDYA!!!" Suara itu begitu nyaring di telinga Darren, pemuda itu tergeragap bangun. Bagi Darren, suara itu adalah sebuah peringatan. "Iya Ayah." Ucap Darren, ia secepatnya bangun dari tempat tidur. Darren tersadar ketika sudah keluar dari kamar, ia kembali ke dalam kamar untuk mencari sumber suara tadi. "Astaghfirullah, aku sudah jantungan. Ternyata alarm." Keluh Darren, ia duduk di pinggiran ranjang. Mengusap d**a, menstabilkan jantungnya yang berdetak kencang. "Ayah iseng sekali, ini baru jam empat subuh. Masang alarm beginian, astaghfirullah. Sangat bar-bar." Kantuk masih terasa, Darren membaringkan kembali tubuhnya mencoba untuk kembali memejamkan mata. Belum ada kegiatan yang bisa ia lakukan sepagi ini. Sebuah panggilan masuk dari Denis, mengingatkan Darren untuk mulai terbiasa bangun subuh karena ia hanya sendiri di Semarang. Darren menurut saja, tidak ada perintah dari Denis yang bisa ia bantah. Mandi pagi menjadi pilihan Darren, untuk mengusir rasa kantuknya pagi ini. Meskipun tanpa shower otomatis, pagi ini air dari kran sudah terasa hangat. Seusai membersihkan diri, Darren menyapu kamar sebelah. Membersihkan lantai dari debu. Digelar sajadah yang dibawakan Syla, dipakai sarung. Dengan khusyuk, Darren menjalankan kewajibannya di pagi hari. Suara sapu beradu dengan paving mencuri perhatian Darren, dilipat sajadah dan sarung setelah ia pakai. Dia menuju ke ruang tamu, dibuka gorden jendela. Pak Sanusi sedang membersihkan halaman rumah yang ditempati Darren, Darren hanya terpaku melihatnya. Ini masih terlalu pagi untuk bekerja. "Pagi Paman." Pak Sanusi tersentak karena sapaan Darren, beliau kira pemuda itu masih tidur. "Iya Den, banyak kerjaan yang harus saya kerjakan hari ini." "Paman tidak merasa kedinginan?" tanya Darren, matahari belum menampakkan cahaya dengan sempurna hanya awan bersemu merah di ufuk timur. "Saya sudah terbiasa, Den." Ucap Pak Sanusi, masih melanjutkan kegiatan menyapu halaman rumah. Setelahnya, beliau mencabuti rumput-rumput liar disekitarnya. Darren mendekati beliau, ia duduk di lantai teras. Mengamati Pak Sanusi yang semangat bekerja, tak kenal waktu. Bagi Darren, ia baru pertama kali melihat orang bekerja dengan giat seperti beliau. "Sudah lama Paman bekerja di sini?" "Sudah Den, semenjak komplek perumahan ini dibangun." "Memang jam kerjanya sepagi ini?" "Ndak, ya supaya semua kelar lebih cepat. Saya mulai dari jam tiga tadi, kerjaan saya banyak Den." Darren hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir bagaimana bekerja mulai sepagi itu. "Paman sudah sarapan?" "Belum, nanti saja. Biasanya istri saya yang ngantar." Ucap Pak Sanusi, tangannya masih sibuk mencabut rumput. "Oh begitu, sebentar ya Paman." Darren masuk ke dalam rumah, mengambil teko listrik di dapur. Teko yang sengaja dibawakan Syla dari rumah. Mengisi teko itu dengan air, mencolokkannya ke sumber listrik. Menunggu sebentar, hingga air mendidih. Diambil cangkir, Darren mengambil gula dan teh sekaligus beberapa bungkus camilan. Semua dibawanya dari Jakarta, pantas saja kopernya terasa berat. Darren menyiapkan dua cangkir, satu untuk Pak Sanusi, satu lagi untuk dirinya sendiri. "Istirahat dulu Paman." Ucap Darren, diletakkan dua cangkir teh beserta camilan tadi di meja yang ada di teras. "Belum selesai ini, Den." "Dilanjutkan nanti saja Paman." Pak Sanusi merasa haru, baru kali ini mendapati penghuni kompleks yang ramah. Biasanya mereka selalu cuek, mengabaikan Pak Sanusi yang bekerja membersihkan rumah mereka. Lelaki paruh baya tersebut mencuci tangan di kran yang tak jauh darinya, lalu mendekati Darren. Darren tersenyum ramah kepada Pak Sanusi, menyilakan duduk di kursi sebelahnya. "Tidak baik beraktivitas saat perut kosong Paman." "Terimakasih Den," "Panggil Rizal saja Paman, biar lebih akrab." Pinta Darren menyebutkan nama yang diberikan Denis selama ia di Semarang. "Oh iya Mas Rizal." Sembari minum teh, mereka mengobrol tentang banyak hal. Pak Sanusi yang ramah, dan Darren yang supel membuat mereka cepat akrab. Dua cangkir teh itu sudah kosong, beserta camilan pun telah habis. Pak Sanusi tersenyum tak enak, tanpa terasa menghabiskan setengah jam dari waktu bekerjanya dengan mengobrol bersama Darren. "Waduh, jadi ndak enak Saya, Mas." "Tidak apa-apa Paman, biar Saya bantu ya." Ucap Darren. "Ndak usah Mas, nanti merepotkan." "Tidak, ayo Paman." Darren mengambil alat untuk memotong rumput yang tergeletak di paving, perlahan ia mulai memotong rumput-rumput liar di halaman rumah. "Selesai." Ucap Darren, diusap peluh yang menetes di dahinya. Pak Sanusi membersihkan rumput yang telah dipotong, setelah bersih beliau pamit kepada Darren. Masih banyak yang harus dikerjakan, berulangkali beliau berterima kasih kepada Darren. Sebelumnya, Darren meminta ditunjukkan rumah ketua RT untuk lapor jika dirinya akan tinggal di sini. Rumah pak RT terletak tiga rumah dari rumah yang ditempati Darren, ia menyiapkan berkas identitas yang diperlukan. "Assalamualaikum." Darren mengetuk pintu rumah ketua RT, tak lama seorang pria bertubuh gempal muncul bersamaan dengan pintu yang terbuka. "Wa'alaikumsalam, siapa ya?" "Saya Rizal, Pak. Penghuni baru rumah nomor 10." "Oh, mari-mari silakan masuk." Darren duduk, pak RT duduk di depannya memeriksa berkas yang dibawa Darren. "Semoga betah ya, Dek." "Iya, Pak." "Dari Jakarta ya? Kenapa jauh-jauh sampai sini?" "Mau cari pengalaman di sini, Pak." "Iya mumpung masih muda, ngomong-ngomong wajahnya sangat mirip dengan Denis. Putranya Bu Felicia, pemilik rumah." "Mungkin kebetulan saja, Pak." Ucap Darren, tak ingin berbohong. "Iya lho, bagaimana ya kabar keluarga mereka. Sudah lama tidak ada kabar, semoga baik-baik saja." Kata Pak RT, sembari memasukkan berkas dari Darren. Digabungkan dengan berkas warga lain. Darren hanya meng'aamiinkan saja doa baik dari Pak RT. "Kalau begitu, saya pamit. Assalamualaikum." Tak lupa Darren mencium punggung tangan pria yang lebih tua darinya itu. "Wa'alaikumsalam." Pak RT mengantar Darren sampai pelataran rumah, memandangi punggung Darren menjauh. Sambil mengingat-ingat wajah Denis, terakhir kali bertemu dengan Denis saat Denis seusia Darren. Pak RT merasa ada kemiripan diantara keduanya. "Lapor Pak RT sudah, aku mau apa lagi ya?" kata Darren kepada dirinya sendiri. Sepulang dari rumah pak RT, Darren duduk di teras. Diketuk-ketuk dahinya, berusaha mengingat apa saja kegiatannya dihari keduanya di Semarang. "Ke Mall kali ya? Beli seragam." Darren masuk ke dalam rumah, mengambil waist bag beserta dompet dan ponsel. Memasukkan keperluannya ke dalam waist bag miliknya, diambil ponsel pintarnya untuk memesan ojek online supaya mempermudah Darren ke tempat tujuan. "Lumayan jauh juga Mall dari sini, kalau di Jakarta sih dekat semua." Ojek pesanan Darren telah sampai, membawanya menuju tempat tujuan. "Terimakasih." Ucap Darren saat sampai di pelataran Mall. Darren turun dari ojek, lalu mencari pintu masuk ke dalam Mall. Semua terasa asing, Darren harus bolak-balik mencari tempat barang yang ingin ia cari. "Dilantai dua mungkin ya." Darren mengedarkan pandangannya, mencari eskalator. "Astaghfirullah, kalau jalan lihat-lihat!" teriak Darren gusar. Dari arah belakang, ada yang menubruk Darren dengan begitu kencang. Darren yang tak siap hampir saja jatuh tersungkur, ia mendengus kesal. Menatap seorang gadis kecil yang tak sengaja menabrakkan diri ke arah Darren, gadis itu tersenyum kecil. Mengacungkan dua jarinya, sebagai tanda permintaan maafnya. "Maaf, tidak sengaja Mas." Cicit gadis itu, takut orang di depannya yang menatap garang ke arahnya. "Lain kali, kalau ...." "Hey, aku belum selesai bicara!" Teriak Darren tambah kesal, gadis itu sudah berlari mengejar teman-temannya. "Gadis tidak tahu sopan santun!" gerutu Darren, ia melanjutkan langkahnya ke arah eskalator. Pertama Darren menuju stand khusus celana formal, celana warna hitam sesuai ketentuan pabrik. Dicari ukuran yang biasa ia pakai, selanjutnya mencari kemeja berlengan pendek. Ia membeli beberapa stel. Semua sudah di tangan Darren, ia mencoba di kamar pas. Semua sudah sesuai ukuran badan Darren. Lalu Darren menuju ke toko sepatu, membeli dua pasang sepatu kets. Darren mampir ke sebuah restoran cepat saji yang masih berada di area mall, mengisi perutnya yang sudah kosong. Dirasa semua keperluan sudah terbeli, Darren memutuskan untuk pulang. "Beli apa lagi ya?" Sebelum benar-benar pulang, Darren mengingat-ingat apalagi yang harus ia beli. Ia ingat harus membeli keperluan rumah, dan juga bahan makanan yang bisa ia masak. Darren membuka ponselnya, mencari supermarket terdekat. Ia kembali memesan ojek online, tinggal di kota yang sama sekali tidak Darren ketahui seluk beluknya membuat Darren sedikit bingung. Untungnya jaman sekarang sudah maju. "Perlengkapan rumah tangga di sebelah mana ya?" tanya Darren kepada seorang pramuniaga, ia sudah berada di supermarket. Dititipkan barang-barang yang ia beli tadi di tempat penitipan barang. "Sebelah sini, Mas." Kata pramuniaga itu, menunjukan tempat yang dimaksud Darren. Meski bingung, Darren membeli yang sekiranya ia butuhkan. Lalu ia berpindah ke rak makanan ringan, serta mie instan. Semua sudah didapat, dua kantong besar ada ditangan kanan kiri Darren. Ia cukup kesusahan membawanya, ia membeli cukup banyak. Ia memilih naik taksi saja, karena tangannya tak bisa membuka ponsel. Pulang kembali ke rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN