TJOL 6

1111 Kata
Darren sibuk berkutat di dapur, ia sudah terbangun sebelum alarm berbunyi. Pikirannya tertuju pada hari pertamanya kerja, ia memang selalu susah tidur jika akan melakukan tahapan baru dalam hidupnya. Seperti pagi ini, ia sudah menyiapkan keperluannya. Mulai dari seragam sampai kaos kaki dan juga sepatu pun sudah ia siapkan, tinggal membuat sarapan saja. Ia harus terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, tidak seperti di rumahnya yang semua ia inginkan serba telah sedia. Malam tadi, Darren sudah memasukkan beras di rice cooker. Namun begitu bangun tidur, ia ternganga melihat nasinya menjadi bubur. Kemudian ia menelpon Syla, menanyakan kenapa bisa seperti ini. Ibu satu anak itupun menjawab jika Darren terlalu banyak memberi air saat beras akan dimasak, pasalnya Darren memberi air hampir satu liter di berasnya. Lebih parah pada saat dia menanak nasi waktu pertama datang ke sini, saat itu nasi terlalu keras. Sekarang, malah nasi itu menjadi bubur. Darren berpikir keras agar ia bisa sarapan pagi ini, untung saja masih ada sisa opor ayam pemberian Syla yang tinggal tiga potong. Darren mengeluarkannya dari freezer, mencium baunya apakah masih layak makan atau tidak. Setelah memastikan itu masih bisa dikonsumsi, Darren memanaskannya di atas teflon seperti biasanya. Nasi yang telah menjadi bubur itu pun tak terbuang sia-sia, Darren mengakalinya menjadi bubur ayam. "Lumayanlah," gumam Darren, ia memakan bubur buatannya itu. Cukup untuk mengisi perutnya, untuk makan siang dan malam itu nanti Darren akan memikirkan lagi. Darren mandi setelah menyelesaikan sarapannya, ia bersiap untuk bekerja. Ia tak ingin terlambat dihari pertamanya. Kemeja pendek warna putih, juga celana hitam panjang telah membalut tubuh Darren. Tak ketinggalan Darren juga mengenakan ikat pinggang. Rambutnya yang pendek, tak merepotkan Darren untuk menyisirnya karena sudah tertata dengan sendirinya. Agak aneh memang, karena biasanya poni akan selalu menutupi kening Darren. Darren tertawa sendiri jika ia melihat pantulan wajahnya di kaca. Dirasa semua sudah siap, Darren memasang jam tangan sebagai pelengkap penampilannya. Darren berpenampilan sesederhana mungkin, agar tak mencolok. Semua barang yang ia kenakan, ia pilih harga yang termurah saja. Agar setara dengan karyawan lain. Meskipun aura anak sultan itu tak bisa pudar sama sekali darinya, setidaknya itu tampilan paling cocok agar semua tak curiga. "Siap," gumam Darren. Ia mengeluarkan sepedanya, Darren berangkat dengan semangat karena mendapat ucapan dari sang bundanya. Hanya itu yang bisa membuat hari Darren berwarna, meskipun sebenarnya ia setengah hati berada di sini. Jauh dengan bundanya, jauh dengan sanak saudara. Darren melewati jalan yang pernah ia lalui, jadi tak perlu repot harus berputar jauh melewati jalan raya. Ia melihat banyak karyawan yang juga akan berangkat ke pabrik seperti dirinya. "Pak, parkir sepeda di sebelah mana?" tanya Darren sembari menuntun sepeda miliknya saat ia sampai di depan gerbang utama. "Cari tempat sendiri, sana!" jawab satpam yang kurang ramah, beliau sibuk mengatur parkir dijam-jam berangkat kerja, banyak sekali para karyawan yang parkir sembarangan membuatnya harus bekerja ekstra setiap pagi. Darren mengikuti instruksi satpam itu, ia memilih tempat kosong di bawah pohon yang ia rasa teduh sampai siang. "Minggir!" Suara itu menyentak telinga Darren. Darren menoleh, tepat di belakangnya terdapat seorang pemuda menaiki motor. Motor matik besar yang sedang hits masih terlihat sangat kinclong, bahkan belum terpasang plat nomor. Dapat dipastikan jika itu motor baru. "Itu tempat biasa aku parkir! Singkirkan sepeda bututmu!" sentak pemuda itu lagi. Pemuda tersebut tidak tahu saja jika sepeda gunung yang ia anggap butut itu bahkan bisa membeli cash dua motor matik seperti miliknya. Darren yang tidak ingin mencari ribut dihari pertamanya kerja, memilih menggeser posisinya ke samping. Banyak di belakang mereka berjejer para karyawan yang hendak memarkirkan motor mereka, Darren mengangguk tak enak. "Kenapa? Pagi-pagi sudah uring-uringan?" tanya pemuda lain. Pemuda yang bernama Satria itu mendengus kesal, sembari menunjuk sepeda Darren yang terparkir tepat di sebelah motornya. "Anak baru itu, mau ambil tempat parkirku. Enak saja, aku sudah biasa di sini. Aku takut sepeda itu ambruk ke motor baruku, sepeda butut juga!" "Waah, ini sih keren." Pemuda tadi mengamati sepeda Darren, sepeda yang sangat mahal bagi yang hobi bersepeda. "Keren apanya! Tetap saja itu sepeda butut!" "Kau tidak tahu berapa harganya?" Satria mengibaskan tangannya, "Tidak penting." "Bahkan itu bisa beli dua motor seperti milikmu, loh!" "Jangan mengada-ada, ayo masuk!" "Yah, tidak percaya dia!" "Sama sekali tidak." ***** Masih ada waktu sekitar setengah jam, dihari pertamanya kerja ini, Darren memilih mencari spot untuk menyendiri. Dia sama sekali belum mempunyai teman, bahkan ia cenderung malas mencari. Tidak ingin seperti kehidupannya di Jakarta, semua berteman karena hanya ada maunya saja. Di Semarang, ia ingin menjalani semua senatural mungkin. Dia bahkan bersyukur Denis mengganti namanya. Jadi, di sini ia bebas menjadi siapapun. Darren mengeluarkan sekotak s**u dari tas, ia sempatkan membelinya tadi di kantin. Darren duduk di sebuah bangku, dari sana ia bisa merasakan sapaan langsung dari matahari pagi. Hangat, itu yang Darren rasakan ketika sinar mentari itu terkena kulitnya. Tak lupa, smartphone juga menemaninya. Bertukar pesan dengan Syla adalah rutinitasnya selama di kota ini. Darren terpaksa mengakhiri aktivitasnya setelah bel berdentang begitu keras, Darren juga melihat seluruh karyawan bergegas menuju tempat kerjanya. Tak terkecuali Darren, ia menuju ruang training sesuai instruksi dari pesan yang ia terima. Ada beberapa wajah yang masih Darren ingat, orang-orang yang juga melamar dihari yang sama dengan Darren. Para karyawan yang baru diterima itu, dengan seksama mendengarkan interuksi dari bagian trainer. Memahami tentang pekerjaan apa saja yang akan mereka dapatkan di pabrik ini. Darren dan dua orang pemuda lainnya, mengikuti salah satu trainer yang mengajak mereka ke ruangan workshop dimana nanti mereka akan diajarkan bagaimana proses kerja menjadi mekanik. Tentu saja Darren begitu bersemangat, ia sudah terbiasa dengan beberapa peralatan yang ada di sana ketika ia masih sekolah. Darren sama sekali tidak asing dengan kunci-kunci yang tergeletak tak bertuan di lantai karena baru beberapa menit lalu pergantian shift dari shift malam. Darren dengan seksama memperhatikan ketika trainer itu menjelaskan apa saja yang nanti akan menjadi bagiannya. Tak sulit bagi Darren untuk memahami. Selanjutnya, mereka diajak berkeliling pabrik. Trainer mengenalkan bagian mana saja nanti yang harus dipegang Darren dan dua karyawan baru itu. Darren takjub ketika masuk ke area produksi, semua bekerja dengan cepat. Tak terbayang betapa lelahnya mereka seperti itu seharian. Pekerja pabrik didominasi perempuan, mereka bekerja dengan sangat cekatan. Darren tak luput menjadi perhatian para wanita yang tak sengaja melihat ke arahnya, banyak dari mereka yang berbisik-bisik. "Wah, lihat. Ada anggota baru," ucap pemuda yang tadi pagi bersama Satria, ia menyambut heboh kedatangan trainer beserta Darren di belakangnya. Nanti, Darren akan bekerja satu tim bersama mereka. Di sana juga ada Satria, pemuda itu masih ingat wajah Darren saat mereka bertemu lagi tadi. Satria tersenyum sinis, malas sekali berurusan dengan bocah yang menurut Satri tengil itu. "Selamat bergabung, kenalkan. Namaku, Indra." "Darr .... Ah, Rizal." "Senang berkenalan denganmu." "Sama-sama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN