Tepat pukul tujuh malam, ruang perawatan Mama kembali hening. Koper-koper sudah tertata rapi di sudut ruangan. Perawat lalu-lalang memastikan semua persiapan kepulangan Mama ke Jakarta berjalan lancar. Jet pribadi sudah siap menunggu—semua orang bergerak dengan harapan, seolah Mama Sekar hanya akan berpindah tempat, bukan berpamitan. Aku duduk di sisi ranjang Mama Sekar. Wajahnya tampak tenang saat tertidur. Tanganku meraih jemarinya yang dingin. “Ma, kita mau pulang,” bisikku lembut. “Sebentar lagi ya. Ke Jakarta. Ke rumah.” Tak ada respons. Aku tersenyum, mengira beliau hanya tertidur lelap. “Ma,” panggilku lagi, sedikit lebih keras. “Aku di sini.” Tetap tak ada jawaban. Dadaku mendadak terasa tak enak. Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Mama?” suaraku mulai bergetar. “Ma, bang

