Bagian 46

1424 Kata
Sean dan ibunya duduk berhadapan di ruang makan. 10 menit berlalu sejak keduanya duduk di sana dan belum ada satu kata yang keluar untuk memecah keheningan di antara mereka. Hanya terdengar suara jangkrik yang berderik dari halaman, menambah kesan kesunyian malam itu. Lalu terdengar suara helaan napas dari Sean. Gadis itu kemudian menyeruput teh hangat yang dibuat ibunya tadi. Duduk berhadapan dengan ibunya seperti ini terasa sangat canggung. Apalagi salah satu dari mereka tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Mereka hanya saling melirik lalu fokus lagi pada secangkir teh di hadapan masing-masing. Jika orang lain melihat Sean dan ibunya sekarang, mereka pasti berpikir dua orang itu adalah orang asing yang baru bertemu karena terlihat canggung satu sama lain. Mereka pasti tidak mengira jika keduanya adalah ibu dan anak. Bicaralah dengan ibumu. Sean mendesah ketika ucapan ayahnya kembali terlintas di kepalnya. Padahal pembicaraan ini akan cepat selesai jika kata maaf keluar dari mulutnya, tapi rasanya kata itu tersangkut di tenggorokannya dan tidak mau keluar. “Ibu minta maaf,” ucap ibunya yang akhirnya memecah keheningan. Sean menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku yang harusnya minta maaf. Aku sangat egois sampai berpikir ibu tidak pernah peduli padaku.” Gadis itu lalu menunduk, menyesap teh hangat di depannya untuk menenangkan dirinya. “Apa ayah tadi mengomelimu?” tanya ibunya yang dijawab Sean dengan menggelengkan kepala. “Ayah tidak mengomeliku, dia hanya bercerita tentang banyak hal.” “Cerita apa?” Sean mengusap tengkuknya. Dia ragu mengatakan pada ibunya tentang apa yang ayahnya ceritakan. “Ayah cerita tentang betapa pedulinya ibu padaku.” Sean menjeda kalimatnya, menarik napas, kemudian mengangkat kepala untuk menatap ibunya. “Ayah juga cerita jika ibu selalu mengikutiku saat aku diam-diam pergi ke tempat latihan.” Sean bisa melihat ibunya agak tersentak setelah mendengar ucapannya. Wanita paruh baya itu kemudian menyesap teh di depannya. “Dia cerita itu padamu? Padahal ibu sudah bilang untuk merahasiakannya.” “Kenapa?” “Hem?” “Kenapa ibu tidak pernah bilang jika selalu mengikutiku pergi ke tempat latihan? Jika ibu tahu aku pergi ke sana, kenapa ibu tidak mencegahku? Padahal ibu pasti juga tahu kalau aku bisa menari lagi itu adalah hal yang mustahil terjadi.” Sejujurnya, Sean ingin tahu kenapa ibunya tidak pernah memberitahu hal itu padanya. Bahkan saat ia kembali dirawat di rumah sakit karena pembengkakan pada luka jahitan pasca operasi saat itu, ibunya terlihat sangat terkejut. Padahal sebenarnya ibunya sudah tahu penyebabnya. “Karena ibu tidak mau mematahkan harapanmu, seperti takdir yang membuatmu patah hati karena kehilangan impianmu yang berharga,” kata ibu Sean lirih. Sean bisa melihat gurat kesedihan menghiasi raut wajah ibunya. Sejujurnya, ini pertama kali Sean melihat ibunya seperti ini, atau mungkin Sean pernah melihatnya sebelum ini. Benar, Sean pasti pernah melihatnya. Hanya saja karena merasa dirinya yang paling terluka dan menderita, Sean tidak pernah memperhatikan raut wajah orang lain, termasuk ibunya. Sampai Sean tidak tahu jika ibunya juga merasa terluka, sama seperti dirinya. “Ibu tahu kau sangat menyukai balet lebih dari apa pun. Jadi saat kau diam-diam pergi tempat latihan, ibu membiarkannya. Jauh di dalam hati, ibu juga berharap kau bisa menari lagi. Karena ibu tahu kau akan sangat terluka jika tidak bisa menari lagi, tapi seperti yang kau tahu. Terkadang harapan dan kenyataan itu sangat jauh berbeda.” Sean menundukkan kepalanya. Mengusap air mata yang jatuh ke pipinya dengan punggung tangan. Ia tidak menyangka akan mendengar hal seperti ini dari ibunya. Ternyata yang dikatakan ayahnya benar. Ibunya sangat peduli padanya, lebih dari yang Sean tahu. Selama ini Sean pikir ibunya sama sekali tak memahami perasaannya. Ibunya hanya sibuk mencari cara untuk membuatnya kembali seperti dulu. Sean pikir selama ini ibunya yang egois, menyuruhnya untuk bangkit dan kembali menjadi seperti dulu. Namun, ternyata selama ini dialah yang egois. “Sean-ah,” panggil ibunya sambil meraih kedua tangan Sean lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut. Sean mengedipkan matanya beberapa kali untuk menahan cairan bening yang ingin menerobos keluar dari sana. Gadis itu kemudian mengangkat kepala, menatap ibunya. “Selama ini kau pasti sangat menyusahkan ibu,” kata Sean dengan suara tercekat. Ibunya menggeleng, lalu mengusap air mata yang jatuh di pipi Sean. “Tidak. Ibu tahu kau bersikap seperti itu karena merasa sangat kehilangan. Ibu saja yang tidak memahamimu, malah sering mengomelimu dan minta kau untuk berubah. Maafkan ibu, ya?” Kedua bahu Sean naik turun saat ia semakin terisak. Kata-kata yang paling ingin di dengar akhirnya dikatakan oleh ibunya. “Aku yang harusnya minta maaf.” Suara Sean terdengar bergetar. “Aku yang terlalu egois dan berpikir bahwa ibu tidak peduli padaku, tapi ternyata aku salah. Ibu sangat peduli padaku.” Sean merasakan puncak kepalanya diusap dengan lembut, lalu usapan itu beralih ke pipinya. Ibunya mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. Sean mendongak menatap wajah ibunya yang ternyata juga berurai air mata. Sebelah tangan Sean terulur untuk mengusap pipi ibunya yang basah. “Jadi sekarang kita sudah berbaikan?” Sean menganggukkan kepalanya. “Kau tidak akan mengabaikan ibu lagi?” Sean kembali menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Iya.” Sean bisa melihat seulas senyum di wajah ibunya. Sean ikut tersenyum. Selama ini Sean berpikir, karena keluarga adalah orang-orang yang terikat dengan pertalian darah, harusnya mereka jadi orang-orang yang paling mengerti dirinya. Tapi, dalam kenyataannya Sean merasa keluarga adalah orang yang paling tidak mengerti dirinya. Namun, pikiran Sean itu salah. Ternyata keluarga memang orang yang paling mengerti tentang dirinya. Hanya saja, ia yang terlalu tenggelam dalam luka hingga Sean tidak sadar akan hal itu. Malam ini, setelah bicara dengan ayah dan ibunya Sean akhirnya sadar. Keluarganya ternyata sangat peduli padanya. Dan apa yang terjadi malam ini telah meluruskan kesalahpahamannya pada orang tuanya. Malam ini, hubungan Sean dan kedua orang tuanya kembali membaik. Tidak ada lagi salah paham, tidak ada amarah karena merasa tidak dipedulikan. Akhirnya malam ini semua kembali seperti semula. Sekarang Sean hanya perlu berdamai dengan dirinya dan juga takdir. *** Sean bersama kakek dan neneknya serta Soo Jin, Seo Jun berdiri di luar rumah. Pagi ini setelah sarapan, ayah dan ibunya akan kembali ke Seoul. Meski kemarin Sean sudah berbaikan dengan ibunya, dia tidak ikut kembali ke Seoul. Kesepakatan awal tentang Sean yang harus tinggal di desa selama musim panas masih berlaku dan itu masih tersisa sekitar 2 bulan lagi. Lalu soal ancaman ayahnya akan mengambil semua fasilitas Sean juga masih berlaku. “Baik-baik di sini dengan kakek dan nenek, ya,” ucap Yeon Woo sambil mengusap puncak kepala Sean. Dan ketika sang ayah akan melakukan hal yang sama dengan cepat Sean menghindar. Melihat ayahnya yang kaku bersikap manis itu sangat aneh menurut Sean. Sean menatap ayah dan ibunya bergantian lalu beralih menatap si kembar. Dia sudah bisa menerima jika harus tinggal di desa selama musim panas, tapi harus bersama Seo Jun dan Soo Jin selama 7 hari ke depan Sean tidak yakin. “Kalian yakin membiarkan mereka berdua tinggal di sini?” tanya Sean sambil melirik Soo Jin dan Seo Jun. “Iya, katanya mereka bosan dengan suasana kota, jadi ingin menghabiskan waktu liburannya di sini,” jawab ayahnya membuat Sean menghela napas, tapi helaan napas itu hanya sebentar. Ayahnya mengeluarkan lembaran uang yang cukup banyak dari dompetnya dan membuat mata Sean berbinar. “Ini uang saku untukmu dan si kembar. Pastikan mereka tidak membuat kekacauan dan menyusahkan kakek dan nenek,” kata ayah Sean sambil memberikan uang yang cukup banyak pada Sean. Ayahnya kemudian beralih menatap Soo Jin dan Seo Jun. “Jangan membuat kekacauan. Kalian harus menurut pada kakek, nenek dan kakak kalian, mengerti?” Si kembar menganggukkan kepalanya bersamaan, lalu melirik Sean. Gadis itu menatap kedua adik kembarnya sambil menyeringai. Si kembar menelan ludah perlahan, Sean menatap mereka seolah berkata ‘nasib perut kalian tergantung padaku. Jadi bersikap baiklah’. Mereka memang ingin Sean kembali seperti dulu, tapi jika dulu yang dimaksud adalah Sean si pengadu, mereka lebih suka Sean yang sekarang. Meski pemurung, tapi Sean tak lagi pernah mengadukan kekacauan yang mereka lakukan pada orang tua mereka. Lalu saat mobil kedua orang tua mereka menjauh dari sana, si kembar mulai menyesali keputusan mereka yang ingin menghabiskan waktu liburan di desa. Lebih baik mereka tinggal di rumah dan diomeli ibunya daripada harus tinggal bersama Sean. Kakaknya itu jauh lebih menyeramkan dari ibunya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Soo Jin dan Seo Jun tak mungkin mengejar mobil orang tua mereka dan merengek minta diajak pulang. “Ayo masuk,” ajak Bum Tae pada ketiga cucunya. Sean dan si kembar hendak berbalik untuk masuk ke dalam rumah menyusul kakek dan neneknya. Namun, seseorang yang memanggil Sean menghentikan langkah gadis itu dan kedua adiknya. “Eonni!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN