Tiga hari berlalu setelah Sean dan Seungha pulang dalam keadaan basah kuyup, dan sampai hari ini pemuda itu belum menampakan batang hidungnya. Padahal, hampir setiap hari Seungha muncul di depan Sean. Bukan berarti gadis itu merindukan kehadiran Seungha, tapi Sean hanya merasa aneh, karena rasanya tiba-tiba menjadi sepi di sekitarnya. Biasanya ada Seungha yang selalu berisik dengan segala ucapannya yang tak berguna.
Sore itu Sean yang sedang duduk di teras rumah, tiba-tiba saja dia teringat kembali saat Seungha memakaikan jaket ke kepalanya. Kedua pipi gadis itu tiba-tiba bersemu merah, malu mengingat kejadian itu lagi.
“Ah, jaketnya,” gumam Sean saat ingat harus mengambalikan jaket milik Seungha.
Sean mengambil ponselnya di saku celana, berniat mengirim pesan pada Seungha agar mengambil jaket milik pemuda itu yang ada padanya. Sean jelas tak sudi pergi menemui Seungha hanya untuk mengembalikan jaket itu.
“Kau di sini.”
Sean menoleh ke arah daun pintu dan melihat sang nenek mendekat padanya dengan membawa sebuah bungkusan. “Kau sibuk?”
“Tidak.”
Tiba-tiba saja perasaan Sean jadi tak enak. Ingat lagi saat sang nenek menyuruhnya mengantarkan kimchi ke rumah kakek Seungha beberapa waktu lalu. Neneknya tak akan menyuruhnya ke sana lagi, kan? Semoga saja tidak.
“Kalau begitu, tolong antarkan ini ke rumah kepala desa,” suruh Jae Hwa sambil memberikan bungkusan yang ia bawa pada Sean.
“Tapi nek?”
“Ini teh yuzu, Seungha katanya sedang demam.”
“Demam?” tanya Sean kaget. Pantas saja tiga hari ini pemuda itu tidak berkeliaran di sekitarnya.
“Iya, tiga hari yang lalu dia pulang dalam keadaan basah kuyup,” jawab Jae Hwa.
“Ah, begitu ya.” Mata Sean tiba-tiba bergerak gugup, mengingat bukan hanya Seungha yang hari itu pulang dalam keadaan basah kuyup, tapi juga dirinya. Namun, mungkin Seungha dalam keadaan yang jauh lebih parah karena sampai terkena demam. pemuda itu hanya memakai kaos tipis karena jaketnya ia berikan pada Sean.
“Jadi, nenek minta tolong kau berikan ini pada Seungha. Suruh dia meminumnya supaya cepat sembuh. Nenek masih ada banyak pekerjaan dan harus selesai sore ini. Tolong, ya?” Jae Hwa memohon dengan tatapan melas pada Sean, membuat gadis itu mau tidak mau mengiyakan permintaan neneknya.
“Baik, nek,” kata Sean pasrah. Sekalian saja dia kembalikan jaket milik Seungha, pikir gadis itu.
***
Sean menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu pagar rumah kakek Seungha. Entah, tiba-tiba saja dia menjadi gugup.
“Oke, berikan lalu pulang,” ucap Sean sebelum mengetuk pintu pagar kayu di depannya.
Tok tok tok
Tak lama kemudian pintu pagar itu terbuka. Seorang wanita tua seusia neneknya keluar dari sana. Sean menebak itu adalah neneknya Seungha.
“Oh? Kau cucunya Jae Hwa, kan?” tanya Kang Miran, nenek Seungha sekaligus istri kepala desa.
“Ah, iya,” jawab Sean sambil mengangguk canggung. “Ini, nenek menyuruh saya mem-“
“Kebetulan bisa tolong kau jaga Seungha sebentar?”
“Ya?” tanya Sean kaget. Dia kemari hanya untuk memberikan teh yuzu dari sang nenek dan juga mengembalikan jaket milik Seungha, tapi kenapa tiba-tiba saja disuruh menjaga pemuda itu. Memangnya Seungha itu anak kecil, yang saat sakit harus dijaga?
“Demamnya Seungha memang sudah turun, tapi anak itu sangat manja saat sakit. Dan nenek harus menghadiri sebuah pertemuan sekarang, tolong jaga Seungha selama 1 atau 2 jam ke depan ya?”
Sean menelan ludahnya, mimpi buruk apa yang ia alami semalam sampai membuatnya harus menjaga si muka dua itu.
“Tolong ya, sebentar saja. Jangan khawatir, Seungha sedang tidur jadi dia tak akan merepotkanmu.”
“Ah, baik nek.” Sean akhirnya dengan pasrah menerima permintaan nenek Seungha untuk menjaga pemuda itu. Sebenarnya Sean ingin menolaknya, tapi lihat wajah nenek Miran yang memohon tadi membuatnya tak tega.
***
Setelah meletakkan teh yuzu dari neneknya di meja makan, Sean berjalan menuju kamar Seungha. Nenek Miran sudah pergi beberapa menit yang lalu, dan dia menyuruh Sean menunggu di kamar Seungha. Awalnya gadis itu menolak, karena pasti rasanya tak nyaman, tapi Miran terus memaksa. Katanya mungkin saja Seungha bangun dan butuh sesuatu, jadi Sean bisa dengan cepat membantunya.
Kriet...
Sean membuka pintu kamar Seungha pelan-pelan. Gadis itu agak terkejut melihat penampakan kamar pemuda itu. Kamar itu cukup rapi untuk ukuran kamar seorang laki-laki.
Sean lantas menatap Seungha yang sedang terbaring di atas ranjang. Ada rasa iri melihat pemuda itu bisa tidur di atas ranjang yang empuk, sedangkan dirinya harus tidur beralaskan kasur lantai. Dan lagi penampakan kamar Seungha itu sangat berbeda dengan kamarnya. Bagaimana ya? Kamar milik Seungha ini terlihat jauh lebih modern. Irinya.
Sean meletakkan paper bag berisi jaket milik Seungha ke atas meja di dekat jendela. Ia menarik kursi di dekat meja itu lalu duduk di sana. Sean memperhatikan sekitar kamar Seungha. Di dinding kamar, tertempel rapi poster atlet sepak bola dan bisbol yang Sean tidak tahu siapa. Sekilas kamar Seungha memang mirip kamar laki-laki pada umumnya.
Sean lalu beralih menatap sebuah foto di atas meja. Itu adalah foto Seungha dengan latar belakang sebuah gedung yang tampak tak asing bagi Sean. Gadis itu lantas menyipitkan mata, mengamati jaket yang Seungha kenakan dalam foto itu. Dari jaket itu Sean tahu, jika Seungha adalah mahasiswa di Universitas Yonsei.
“Pintar juga dia,” gumam Sean sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Universitas Yonsei adalah salah satu dari universitas terbaik di Korea Selatan. Sean juga tahu bahwa hanya siswa-siswa cerdas yang bisa masuk ke sana.
“Eungh...”
Sean mengalihkan fokusnya dari foto dan sekarang menatap Seungha setelah mendengar pemuda itu melenguh. Dari tertelentang, Seungha merubah posisi tidurnya jadi menghadap ke samping, menghadap Sean. Bisa gadis itu lihat Seungha benar-benar sakit dari wajahnya yang tampak kemerahan.
Terbesit rasa berslah dalam diri Sean melihat keadaan Seungha sekarang. Mereka sama-sama pulang dengan keadaan basah kuyup, tapi hanya Seungha yang jatuh sakit, sedangkan dirinya tidak.
Sean menggeleng cepat, membuang jauh-jauh rasa bersalah dalam dirinya. Toh, salah Seungha sendiri kenapa memberikan jaketnya padanya waktu itu.
Namun, hanya sebentar raut wajah Sean kembali berubah khawatir. Seungha tiba-tiba saja mengigau.
"Dae Won-ah, maafkan aku."
Dahi Sean berkerut saat menatap Seungha yang tengah mengigau, memanggil nama seseorang. Gadis itu lantas mendekat ke tempat tidur Seungha. Berjongkok di samping ranjang, untuk melihat Seungha dari dekat. Dari dekat Sean bisa melihat dengan jelas tubuh pemuda itu mengeluarkan keringat dingin. Sebelah tangan Sean lalu terulur untuk memegang dahi pemuda itu.
“Sudah tidak terlalu panas,” gumam Sean membandingkan suhu tubuh Seungha dengan dirinya.
Bruk...
Sean jatuh terduduk saat hendak menyetuh dahi Seungha lagi, karena tiba-tiba pemuda itu membuka matanya. Sial.
“Sean?”
***
Sean duduk manis di kursi dekat meja tadi, sementara Seungha duduk di atas tempat tidurnya. Dari posisinya, Sean terlihat seperti anak kecil yang baru saja ketahuan berbuat nakal.
“Jadi nenekku memintamu untuk menjagaku sebentar?”
Sean menganggukkan kepalanya. Memang benar nenek Seungha yang memintanya untuk menjaga pemuda itu sebentar.
“Lalu yang kau lakukan tadi-“
“Aku hanya memeriksa suhu tubuhmu. Itu saja,” sela Sean cepat, membuat Seungha yang mendengarnya tersenyum geli.
“Mau melakukan hal lain juga tidak apa-apa,” goda Seungha yang langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh Sean.
“Kau gila ya!” teriak Sean kesal. Memangnya apa yang akan dia lakukan pada pemuda itu. Menyebalkan.
Seungha tertawa puas melihat Sean yang kesal. Menggoda gadis itu ternyata selalu menyenangkan, yah walau harus mendengarkan kata-k********r keluar dari mulut Sean karena membuat gadis itu kesal.
“Lalu yang di atas meja itu?” Seungha menunjuk paper bag berwarna cokelat di atas meja.
“Jaketmu, yang kau pinjamkan padaku.”
“Oh....”
Setelahnya, hanya ada keheningan antara keduanya. Mereka hanya sesekali saling melirik, dan saat pandangan keduanya bertemu, mereka sama-sama membuang muka ke arah lain. Tentu saja karena merasa canggung, hanya berdua di dalam kamar Seungha.
Sean sempat berniat memberitahu Seungha, bahwa pemuda itu mengigau tadi, tapi Sean mengurungkan niatnya. Untuk apa dia peduli, entah tadi Seungha mengigau atau meracau itu bukan urusannya.
“Katanya kau bawa teh yuzu dari nenek Jae Hwa?” tanya Seungha memecah keheningan yang sejak tadi tercipta.
“Iya. Aku letakkan di meja makan,” jawab Sean sambil menunjuk arah luar kamar.
“Bisa buatkan aku secangkir teh yuzu?”
“Kau punya dua tangan dan dua kaki! Kau membuatnya sendiri, kenapa menyuruhku?” Sean menolak permintaan Seungha dengan ketus.
“Aku sedang sakit,” kata Seungha lalu terbatuk.
Sean menarik napas jengah. Ia tahu pemuda itu sedang memanfaatkan kondisinya yang sakit untuk menyuruh-nyuruhnya. Jika saja Sean tak ingat permintaan nenek Miran tadi, pasti sekarang dia sudah pulang meninggalkan Seungha sendirian.
Sean akhirnya dengan kesal menyeret kakinya menuju dapur. Dengan bersungut-sungut, gadis itu meletakkan teko yang sudah ia isi air ke atas kompor, lalu menyalakannya.
“Dasar menyebalkan!!!”
***
“Ini.” Sean meletakkan secangkir teh yang baru dibuatnya ke atas nakas samping tempat tidur Seungha. “Karena kau sudah bangun, aku pulang sekarang.”
“Tunggu.” Seungha meraih tangan Sean yang hendak pergi.
Sean sedikit tersentak saat tiba-tiba Seungha memegang lengannya.
“Jangan pergi,” ucap Seungha dengan suara paraunya.
Mata Sean bergerak gugup saat Seungha menatapnya memelas, tapi dengan cepat gadis itu menarik kembali tangannya.
“Memangnya kau anak kecil yang takut sendirian?” cibir Sean sambil membuang muka.
Tapi, meski baru saja mencibir Sean tak jadi pergi. Gadis itu kembali duduk di kursi dekat meja.
“Aku akan tetap di sini hanya sampai nenekmu pulang.”
Seungha tersenyum kecil menatap Sean yang duduk manis di kursi. Tidak menyangka gadis dingin dan kasar itu mau menuruti permintaannya untuk tetap ada di sana.
“Jangan tersenyum!” kata Sean kesal. Dia tak suka melihat senyum kapitalis Seungha itu. “Cepat sana minum tehnya!”
“Iya, terima kasih sudah membuatkan teh untukku.”
Seungha meraih secangkir teh di atas nakas, meniupnya pelan sebelum menyesapnya. Sementara Sean mengamati Seungha dari tempat duduknya. Pemuda itu jadi lebih pendiam saat sakit, padahal biasanya sangat berisik. Yah, begini jauh lebih baik. Sean memang suka ketenangan seperti ini.