Bagian 53

1534 Kata

Sebenarnya pikiran Sean memang sedang kacau, dan itu alasannya datang ke tempat ini. Karena Sean ingin menenangkan dirinya. Meski sudah berbaikan dengan ibunya, tapi Sean merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Seperti ada sebuah batu besar di dalam sana dan membuatnya merasa tak nyaman. “Aku iri padamu,” kata Seungha. Sean menatap Seungha yang sekarang mengubah posisinya menjadi duduk. Kedua tangan pemuda itu yang panjang memeluk kedua lututnya. “Kau akhirnya berbaikan dengan ibumu, punya keluarga yang lengkap dan saling peduli,” lanjut Seungha. Pemuda itu menjeda kalimatnya, mengalihkan pandangan pada deretan pepohonan di seberang sungai. “Sebagai anak tunggal aku sering merasa kesepian.” “Kau anak tunggal?” tanya Sean. Pemuda itu mengangguk sebagai jawaban. Satu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN