Bagian 14

1308 Kata
“Aku berbeda dengan mereka.” “Aku tahu, makanya aku tertarik padamu.” Mata Sean berkedip-kedip, terkejut mendengar ucapan Seungha. “Dasar gila,” umpat Sean lalu membuang muka. Jujur, agak berdebar karena ucapan pemuda itu, tapi Sean segera menyadarkan dirinya. “Kau tidak berpikir aku menyukaimu, kan?” tebak Seungha yang langsung direspon dengan u*****n oleh Sean. “Kau gila? Untuk apa aku punya pikiran seperti itu.” “Ya, mungkin saja kau berpikir seperti itu.” Sean mendesah pelan, Seungha mulai membuatnya kesal. Setelah menolak ajakannya, pemuda itu bukannya pergi dari hadapannya, tapi malah mengganggunya dengan ucapannya yang tak masuk akal. “Pikirkan baik-baik, kalau kau di rumah saja tak ada hal bisa kau lakukan. Tidak ada wifi di sini,” ucap Seungha sembari naik ke sepeda lalu duduk di atas sadel. Sebelah tangannya kemudian terulur untuk menarik tangan Sean. Sean terkejut ketika Seungha menarik tangannya, membuatnya mendekat pada pemuda itu. Namun, yang dilakukan Seungha selanjutnya jauh lebih mengejutkan. Pemuda itu mengangkat tubuh Sean lalu mendudukkannya pada frame sepeda. “Kalau ikut denganku kau bisa bersenang-senang menikmati pemandangan sambil naik sepeda.” Sean otomatis merapatkan kedua lengannya sembari berpegangan pada stang sepeda saat kedua tangan Seungha memegang setir dan mengapit tubuhnya dari belakang. “Pegangan, kita berangkat sekarang.” Tanpa persetujuan Sean, Seungha mengayuh sepedanya, membuat gadis itu tak punya kesempatan untuk protes atas perbuatannya barusan. *** Sean berpegangan erat pada stang sepeda. Sejujurnya, gadis itu ingin marah dan protes pada Seungha. Dia sudah menolak ajakan pemuda itu, tapi Seungha dengan kurang ajar malah mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya ke frame sepeda. Jika saja pemuda itu tidak segera mengayuh sepedanya, Sean pasti sudah turun dari sana dan memukul Seungha. Sean masih sayang pada tubuhnya. Dia tidak mau jatuh dengan konyol hanya karena ingin protes dan memukul Seungha. Dia akan menunggu sampai pemuda itu berhenti, lalu memberi Seungha pelajaran yang pantas atas perbuatannya tadi. Sean awalnya merasa terganggu karena posisinya yang tepat berada di depan d**a Seungha dengan kedua tangan pemuda itu mengapit tubuhnya dari belakang. Rasanya seperti dipeluk pemuda itu dari belakang secara tidak langsung. Sangat amat tidak nyaman. Semakin jauh sepeda Seungha melaju, rasa kesal Sean perlahan menghilang. Gadis itu tak menampik rasa senang ketika dirinya diterpa angin sepanjang jalan. Ucapan Seungha benar, bahwa dirinya bisa bersenang-senang sambil menikmati pemandangan dengan ikut bersepeda bersama pemuda itu. Sean menarik napas dalam-dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, menikmati udara di desa itu yang masih segar karena tak ada polusi di sana. Gadis itu menarik napas lagi ketika tadi bukan hanya mencium aroma dari angin musim panas yang berhembus, tapi juga parfum dari tubuh Seungha. Pemuda itu selalu berada di dekatnya, tapi baru kali ini Sean bisa mencium aroma parfum dari tubuhnya. Sean bisa mencium antara wangi citrus dan manis buah anggur dari parfum yang Seungha pakai. Entah kenapa Sean merasa, parfum beraroma citrus seperti ini sangat cocok dengan Seungha. Pemuda itu ternyata pintar dalam memilih parfum, siapa saja pasti akan terngiang dengan aroma parfum ini setelah menciumnya. Begitu juga dengan dirinya. Sean segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Menghilangkan segala pikiran konyol tentang Seungha yang baru saja terlintas di kepalanya. Bagaimana bisa hanya karena aroma sebuah parfum membuat dirinya tertarik pada pemuda bermuka dua itu? Gadis itu lalu menarik napas dalam dan mengingatkan dirinya bahwa Seungha adalah pemuda bermuka dua. “Ada apa?” tanya Seungha ketika melihat Sean tiba-tiba menggelengkan kepalanya. “Diam, menyetir saja dengan benar. Jika sampai membuatku jatuh, aku akan menuntutmu.” Seungha terkekeh pelan mendengar jawaban Sean. “Bukan aku yang harus menyetir dengan benar, tapi kau yang harus duduk diam dan tenang. Bergerak sedikit, kau bisa membuat kita masuk ke dalam selokan.” Sean menoleh ke samping, melihat pada selokan di sepanjang jalan. Gadis itu bergidik ngeri membayangkan tubuhnya jatuh ke dalam selokan yang kotor itu. Ingat, Sean itu cinta kebersihan, jadi jatuh ke dalam selokan adalah sebuah mimpi buruk baginya. Sean mengeratkan pegangannya pada stang sepeda ketika Seungha tiba-tiba mempercepat kayuhannya, membuat sepeda gunung itu melaju lebih cepat. “Pelan-pelan,” protes Sean yang tak digubris oleh Seungha. Pemuda itu justru semakin mempercepat kayuhannya. “Pegangan!” seru Seungha saat mereka tiba pada sebuah turunan. Pemuda itu lantas mengangkat kakinya dari pedal sepeda lalu merentangkan kedua kakinya. “Wooooo!!!” pemuda itu berseru saat sepedanya melaju cepat melewati sebuah turunan. Sedangkan Sean memejamkan matanya rapat-rapat sambil mempererat pegangannya pada stang sepeda. Bisa Sean rasakan jantungnya berdebar gila sekarang. Bukan karena Seungha mengapit tubuhnya, tapi karena takut melewati jalan menurun ini. Lebih takut lagi karena Seungha tak mengerem sepedanya, membuat sepeda itu melaju semakin cepat saat melewati turunan *** “Sudah sampai,” kata Seungha setelah menghentikan sepedanya. Sean membuka matanya perlahan. Mereka sampai dengan selamat, kan? “Ini di mana?” tanya Sean saat matanya terbuka dan melihat dirinya berada di tempat yang asing. Ada sebuah gazebo di depan mereka. “Bisa di bilang ini adalah pusat dari desa ini,” jawab Seungha sambil mengangkat tubuh Sean, menurunkan gadis itu dari sepedanya. Sean tersentak saat kedua tangan Seungha menyentuh pinggangnya lalu mengangkat tubuhnya. “Aku bisa turun sendiri,” ketus Sean. Gadis itu tak suka dengan perlakuan Seungha yang seenak jidat menyentuh tubuhnya. “Oh? Aku pikir kau ingin berlama-lama duduk di sini karena suka aku peluk dari belakang.” Sean jelas terkejut dengan kata-kata yang baru keluar dari mulut pemuda itu. Sepertinya Seungha memang gila. “Aku ingin lama-lama duduk di sana? Kau gila!” Melihat raut wajah kesal Sean itu membuat Seungha tersenyum puas. Ternyata menyenangkan juga menggoda gadis dingin dan kasar itu. “Kau duduk saja di sana, aku akan membeli minuman dulu.” Belum sampai Sean merespons ucapannya, Seungha kembali mengayuh sepedanya dan meninggalkan Sean sendiri di sana. Gadis itu menatap gazebo di depannya lalu melangkah mendekat pada gazebo itu. Sean lantas duduk di sana. Sebenarnya, dia agak terkejut melihat ada tempat seperti ini di desa. Yang Sean tahu desa ini hanya dikelilingi sawah dan gunung. Sean menatap ke sekitar gazebo, dia melihat ada beberapa gedung di sekitar tempat ini. Dua di antara gedung-gedung itu bertuliskan kantor balai desa dan aula desa. Sean ingat Seungha bilang, tempat ini adalah pusat dari desa, wajar jika ada gedung-gedung itu di sekitar gazebo ini. “Hah....” Sean menarik napas lalu berbaring di dalam gazebo itu. Menikmati semilir angin musim panas yang berembus sepoi-sepoi menerpa permukaan kulitnya. Tiba-tiba saja ia jadi mengantuk, padahal ia tidur sangat lama tadi di rumah. *** Sean tidak tahu sudah berapa lama ia memejamkan mata lalu terlelap, tapi gadis itu terbangun saat merasa sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. “Eungh?” Sean mengerutkan dahi melihat Seungha sudah kembali ke sana dengan membawa dua kaleng minuman bersoda. “Apa kau itu putri tidur? Kenapa mudah sekali tidur di mana pun?” Sean bangun lantas mendengus kesal. Tidak mengerti kenapa Seungha hobi sekali mebuatnya kesal. “Ini.” Seungha memberikan sekaleng minuman bersoda yang dia bawa pada Sean. Sean mengambil minuman itu tanpa mengatakan apa-apa. “Tak bisakah kau bilang terima kasih?” Sean melirik Seungha. Wah, dia benar-benar menyebalkan. Tak menggubris perkataan Seungha, Sean membuka minuman besoda itu lalu meneguknya. Seungha yang melihat tingkah Sean hanya bisa mendesah pelan, memang apa yang bisa diharapkan dari gadis dingin dan kasar seperti Sean? Seungha lalu duduk di samping gadis itu. “Tempat ini lumayan, kan?” Tak menggubris perkataan Seungha, Sean memilih mengalihkan pandangannya menatap langit yang tiba-tiba berubah mendung padahal tadi sangat cerah. “Sepertinya kita harus kembali,” kata Sean. Jika tidak pulang sekarang mungkin mereka akan terjebak hujan di sana. “Sepertinya kembali sekarang juga percuma.” “Ha?” “Lihat!” Seungha menunjuk jalanan di depan mereka. Jalanan itu mulai basah karena rintik hujan yang turun. Sean mendesah kesal. Ide yang buruk saat dirinya dengan pasrah dibawa Seungha kemari. Sekarang dia harus terjebak di gazebo ini bersama pria bermuka dua itu sambil menunggu hujan reda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN