BOGI : Kesialan itu Berwujud Wanita Cantik Bernama Amanda

1650 Kata
“Aku sudah kenal.” Dengusku berusaha tidak peduli. Andro tersenyum lebar. “Oya?” tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk. Dialihkan pandangannya pada Amanda yang sejak tadi hanya diam, “sayang, kamu sudah kenal Bogi?” tanya Andro. “Teman SMA.” Jawab Amanda tak acuh. Andro mengangguk pada jawaban yang diberikan Amanda. Dia mengusap kepala Amanda lalu membisikkan sesuatu pada wanita itu. Kenapa masih ada rasa tidak suka dalam hatiku? Apa aku masih mencintai Amanda? Bukankah masih ada wanita lain yang cantik? Amanda hanya satu dari sejuta wanita yang pernah singgah sebentar di hatiku. Aku mendesah, kualihkan pandangan ke lain tempat. Tadi penari masih meliuk di sana, kini para penari itu sudah turun dari sana dan pergi entah ke mana. Aku berdecak sebal pada Pahlawan yang terus mengikutiku. Kalau dia tidak mengikutiku, aku bisa pergi ke tempat lain tanpa harus bertemu Amanda. Dengan kesal, aku menjitak kepala Pahlawan yang masih setia duduk di sampingku dengan sepenuh hati. Dia mengaduh seraya menggerutu pada ulahku. “Kamu bodoh!” gerutuku, “buat apa jadi buntut? gara-gara kamu, aku enggak bisa nari.” Pahlawan memelototiku. Diteguknya segelas orange juice yang dipesan dengan sekali teguk. “Kalau enggak begitu, kamu kalap! Aku enggak mau kamu hamili anak orang!” Aku hanya mendengus pada ucapan Pahlawan. Berpura-pura tidak mendengar apa yang dia gerutukan selanjutnya. “Kamu enggak berubah ya,” Suara Amanda terdengar dekat di sampingku. Aku hampir lupa, Amanda masih ada di sini. Aku menoleh lalu tersenyum setipis mungkin. Berusaha untuk tidak berminat berbicara dengannya. Berusaha untuk lupa tentang rasa yang pernah ada untuknya mungkin sampai saat ini? Andro menepuk bahuku kemudian tersenyum. “Aku tinggal sebentar, ya. Ada tamu yang mau ketemu.” Aku hanya mengangguk pada ucapan Andro. Kulihat dia pergi entah ke mana. Dan Pahlawan sedang menerima telepon. Dia memberi isyarat padaku agar aku tidak ke mana-mana. Aku hanya memutar mataku pada Pahlawan. Pahlawan juga menjauh. Mungkin mencari tempat yang aman dari jangkauan pendengaran orang-orang. “Kamu masih suka bercanda seperti dulu. Masih genit?” Amanda kembali bersuara. Aku tertawa lirih pada ucapannya. Ayolah Bogi, yang lalu biarlah berlalu jangan dipikirkan Amanda yang sudah bukan milikku lagi. Dia hanya wanita yang dulu pernah kamu kejar dengan gigih ketika masa SMA. Dia adalah satu dari sekian wanita yang menemanimu. “Memangnya kamu peduli?” kataku setengah bergurau, “kamu mau aku yang bagaimana memangnya?” cibirku. Tidak ada jawaban darinya. Kembali, aku menenggak wine yang ada di tanganku. Kuputar-putar gelas wine dengan tidak berselera. Arah pandangku sedikit berputar. Tidak mungkin aku mabuk. Baru gelas ketujuh. Tangan Amanda terulur menarik gelas wine dari tanganku. “Sudah, Gi! Kamu sudah mabuk.” Aku menoleh dan menyipitkan mata kepadanya. Hari ini sudah menjadi hari buruk bagiku. Banyak sekali larangan untukku. Tidak adakah sedikit saja aku mendapat kesenangan? Pahlawan dengan segala ceramahnya mengenai kemurkaan Tuhan yang nyatanya tidak ada efeknya padaku. Bagiku Tuhan tidak ada setelah apa yang terjadi padaku dahulu. Tuhan tidak pernah sudi menolongku. “Kamu masih peduli aku?” aku tertawa mengejek, “waktu kamu pergi ke Boston, kamu enggak pernah bilang apa-apa. Kamu pikir aku apa? Digantung begitu saja!” kataku bertubi-tubi, “kamu pikir aku pakaian basah yang dijemur? Kamu itu perempuan keterlaluan yang pernah ada dalam hidup aku!” sambungku lagi, berapi-api. Wanita di mana-mana sama. Sama-sama sial! “Bogi,” “Aku belum selesai bicara!” kataku memperingatkannya saat dia hendak berbicara lagi, “aku punya hati, Manda. Aku manusia. Sebrengseknya aku, aku nggak pernah mau menyakiti hati perempuan. Sebejatnya aku, aku masih mau jaga mereka. Tapi kamu membuat aku rendah. Membuat aku malu! Kamu perempuan keterlaluan, Manda!” tudingku. Pandanganku semakin berputar. Apa aku mabuk? Tidak mungkin! “Kamu seharusnya tau kalau aku itu cinta kamu.” Uh, sial. Aku mulai mengaku. Kulihat mata Amanda berkaca-kaca. Kuulurkan tanganku mengusap airmatanya. “Maaf, Manda. Aku buat kamu menangis.” Kataku seraya memperhatikan airmatanya yang kini berada di ibu jariku. Ini airmata Amanda? Beningnya. Sebening embun pagi hari. Bagaimana airmata wanita-wanita lainnya? Pasti sama seperti airmata Amanda. Bening. “Maaf, Gi, kalau aku sudah buat kamu merasa begitu.” Aku mendongak dari objek menarikku dan menatap Amanda yang masih duduk di sampingku. Aku tersenyum lebar pada permintaan maafnya. Dia hanya seorang Amanda yang kamu kira akan jadi pelabuhan terakhirmu. Sudahlah, Gi. “Bagus. Kamu harus merasa bersalah.” Anggukku. “Maafkan aku, Gi, kalau aku ternyata menyakiti hati dan perasaan kamu.” Aku hanya bisa diam. Gelas wine yang ada di tanganku tampak menarik sekali. Bentuknya kecil. Kutuang lagi wine ke dalam gelas dan menenggaknya. Gelasnya tampak cantik sekali diisi wine. “Aku nggak tahu kalau kamu ternyata bisa sakit hati juga.” Ucap Amanda lagi, “aku minta maaf karena aku dekati kamu akibat dari taruhan teman-teman kelas dua. Aku didesak. Katanya biar kamu jera. Nggak pernah memainkan hati perempuan lagi.” Ucapan Amanda itu sontak membuatku menoleh ke arahnya. Apa katanya tadi? Aku untuk taruhan? Aku menggeleng tidak percaya pada ucapannya. Aku sadar bahwa ketika masih di SMA, aku sudah mengencani sebagian besar perempuan cantik di sekolah. Tetapi aku tidak pernah menyakiti. “Keterlaluan kamu, Manda. Kamu kira aku barang! Kamu kira aku ini bisa seenaknya diperlakukan seperti itu? Kamu enggak pernah tahu jadi aku, Manda! Kamu enggak pernah tahu bagaimana aku! Kamu enggak tahu bagaimana aku yang jatuh cinta sama kamu. Kalian perempuan sialan! Aku ini punya hati, Manda!” Aku mencak-mencak tidak terima. Aku benar-benar sakit hati pada ucapannya. “Kalian memang pantas aku permainkan.” Kataku lagi saat Amanda hendak membuka mulutnya, “oya, selamat atas pertunanganmu. Dan selamat juga sudah membuat perasaan aku hancur seperti ditimpa bom atom! Perasaan cinta aku untuk kamu sekarang enggak ada apa-apanya!” Setelah mengatakan itu, aku tertawa lebar. Kuteriakkan nama Pahlawan. Mengajaknya untuk pulang. Tetapi orang itu tidak muncul juga. Entah pergi ke mana. Kenapa jalan tampak berputar-putar? “Oy, Pahlawan! Ke mana sih?! Aku mau pulang nih!” teriakku lagi. Anak itu tadi seperti buntut, dan sekarang sudah lenyap seperti ditelan bumi. Aku menghela napas dan turun dari kursi yang kududuki. Tidak ada gunanya aku menunggui Pahlawan yang aku yakin sudah pulang. Mungkin dia mendapat telepon penting dari orangtuanya. “Gi, mau ke mana?” Aku berdecak. Untuk apa Amanda masih menanyaiku? “Mau cari perem-puan cantik.” Kataku asal lalu meninggalkannya yang masih bercuap-cuap entah apa. Perempuan menyebalkan! Amanda adalah bentuk kesialanku yang masih cantik sejak dahulu namun kini, dia sudah melabuhkan hatinya. *** Sepertinya Pahlawan memang sudah pulang. Aku tidak melihatnya di manapun. Aku berdecak, di mana tadi aku parkir mobil? Dengan sempoyongan, aku melangkahkan kakiku. Bumi yang kupijak seperti bergoyang-goyang. Apakah ada gempa bumi? Akibat bertemu dua orang yang tidak ingin kutemui, aku jadi pelupa. Mengingat kembali dua wanita itu membuatku merasa sebal. “Dasar perempuan sialan!” teriakku. Dasar perempuan-perempuan tidak tahu diri. Patut mereka kupermainkan. Karena mereka saja mempermainkan hatiku. Tiba-tiba aku terjengkang jatuh dengan b****g menyentuh tanah terlebih dahulu. Seseorang menabrakku. “Uh,” gerutuku mengusap kepalaku yang semakin berputar. Mabukkah aku? Ah tidak mungkin! Aku masih sadar. Nyatanya aku bisa melihat wajah wanita cantik di depanku. “Hai ….” Sapaku melambaikan tangan pada wanita yang memandangku heran. “Enggak perlu lihat saya begitu. Saya memang ganteng.” Kataku terkekeh percaya diri. “Pak Bogi ‘kan?” Aku menggerutu pada sapaannya. “Pak? Memangnya saya sudah berjenggot! Saya bukan Bapak kamu!” Eh, kenapa wajahnya begitu sangat familiar di mataku? Siapa dia? Ah, apakah salah satu dari wanita yang pernah kukencani? Lalu wajah wanita cantik itu berganti dengan wajah Pahlawan. “Heh, kenapa kamu duduk di sini?” tanyanya. “Duduk?” tanyaku kembali. Dia salah! “Aku jatuh! Bukan duduk! Perempuan cantik itu yang buat aku jatuh!” kataku lagi menunjuk wanita cantik yang berdiri di belakangnya. Dia memakai pakaian seperti pelayan bar berwarna hitam. Mungkin dia bekerja di bar. Eh, apakah aku pernah punya teman kencan pelayan bar? Sepertinya tidak. Atau aku lupa? “Kamu dicari-cari ternyata ada di sini.” Decaknya. Lagi, dia menyalahkanku. “Mabuk ya? ‘Kan sudah kubilang jangan habisi minuman itu. Gila kamu, Gi! Sebotol lebih setengah tadi!” “Heh, Pahlawan Putra Arimansyah!” bentakku padanya, “Cuma sebotol tadi. Sebotol lebih kamu bilang? Lagipula aku masih sadar. Buktinya aku masih bisa lihat yang cantik. Buktinya, aku masih ingat kalau aku dijadikan taruhan Amanda.” Mengingat Amanda, aku jadi sedih. Aku ingin menangis. “Aku antar pulang. Kakakmu sudah cari kamu ke mana-mana.” Apa? Pulang? Tidak! “Eh, jangan bawa aku pulang. Nanti kakakku ngamuk. Aku enggak mau mata birunya itu copot dari tempatnya lihat aku seperti ini. Atau Mom jantungan lihat aku sedih.” Cerocosku. “Ah, kamu itu. Justru kamu harus pulang!” ucapnya lagi lalu memapahku. Aku tidak memedulikan ucapan Pahlawan. Aku menoleh ke belakang dan tersenyum lebar pada wanita cantik yang ternyata sudah entah menghilang ke mana. “Eh, ke mana tadi kamu? Aku sedih. Amanda jahat.” Kataku memberitahukannya. Terus, aku mengatakan semua pada Pahlawan. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk. Pahlawan memacu mobilku pergi dari klub. “Kamu temanku yang baik. Paling mengerti. Kalau perempuan, sudah kupacari. Sudah aku perjuangkan sekuat tenagaku dan enggak akan kulepas begitu saja,” kataku menepuk dadaku semangat, “sayangnya kamu laki-laki.” Kataku menepuk bahunya. Pahlawan tidak menjawab. Dia hanya diam saja seraya berpikir. “Beruntung perempuan yang bisa mendapatkan hatimu nanti, Pahlawan. Perempuan itu pasti benar-benar menjagamu, kurasa. Kalau ada perempuan sepertimu, aku mau satu. Aku mau perempuan yang betul-betul berjuang bersamaku. Aku mau perempuan yang sifatnya baik. Tidak pernah menuntut. Aku mau perempuan yang seperti itu.” kataku. Pahlawan masih diam.“Apa yang kamu pikir, Pahlawan?” Pahlawan menggeleng. “Toh, kalaupun aku cerita ke kamu, kamu enggak akan ingat nanti. Kamu bakalan lupa. Jadi, aku enggak apa-apa. Aku baik.” Aku mengangguk. “Aku ngerti. Sangat ngerti.” Pahlawan menggeleng. “Kamu enggak akan mengerti, Gi.” Ya, terserah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN