“Dimatiin?” Pertanyaan Silvi mengalihkan kekesalanku. “Iya.” Aku menghempaskan tubuh di atas kasur lipat. Memandang langit-langit kamar. Senyumku tersungging, mengingat omongan Abang “Abang juga kangen.” “Gelo nih anak! Eh! Tadi ngomel-ngomel, sekarang senyam-senyum? Lo kenapa? Kerasukan?!” Omelan Silvi tak aku gubris. Bangkit, duduk bersila dan menghadap cewek berkacamata tebal itu. “Gue lagi bingung nih ....” ucapku mengawali curhat-mencurhat. “Bingung napa?” Silvi mencomot cemilan, menyuapnya. Mataku melirik cewek berpipi tembam yang duduk di sebelahku. “Tapi lo janji ya? Jangan bilang siapa-siapa!” Kuacungkan jari kelingking di depan mukanya. Silvi menjilat jari. “Idih jorok ah!” Aku menyembunyikan jari ke belakang punggung. “Gue kan abis ngemil, kalau gak gue jilat,

