Bab 10. Curhat

1035 Kata

“Dimatiin?” Pertanyaan Silvi mengalihkan kekesalanku. “Iya.” Aku menghempaskan tubuh di atas kasur lipat. Memandang langit-langit kamar. Senyumku tersungging, mengingat omongan Abang “Abang juga kangen.” “Gelo nih anak! Eh! Tadi ngomel-ngomel, sekarang senyam-senyum? Lo kenapa? Kerasukan?!” Omelan Silvi tak aku gubris. Bangkit, duduk bersila dan menghadap cewek berkacamata tebal itu. “Gue lagi bingung nih ....” ucapku mengawali curhat-mencurhat. “Bingung napa?” Silvi mencomot cemilan, menyuapnya. Mataku melirik cewek berpipi tembam yang duduk di sebelahku. “Tapi lo janji ya? Jangan bilang siapa-siapa!” Kuacungkan jari kelingking di depan mukanya. Silvi menjilat jari. “Idih jorok ah!” Aku menyembunyikan jari ke belakang punggung. “Gue kan abis ngemil, kalau gak gue jilat,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN