Bab 4. Dianterin

1102 Kata
“Bunda setuju?” tanya Abang, pandangannya tetap lurus ke depan. Fokus ke jalan raya. Bunda menarik napas. “Tadinya setuju, tapi lihat tingkah dia kayak gitu, Bunda jadi mikir lagi.” “Jangan pake mikir lagi, Bun. Main jodoh-jodohin aja. Udah bukan zaman Siti Nurbaya.” Bicara Abang mulai ketus. Gak biasanya Abang gak ngeselin. “Dendi, kok kamunya yang sewot?" Sepertinya Bunda mulai curiga. Kulihat Abang salah tingkah. Lama-lama aku yakin, Bunda akan curiga kalau Abang punya rasa lebih padaku. Duh, bagaimana kalau Bunda tahu yang sebenarnya? “Sewot? Enggak kok. Biasa aja, Bun. Eh, Ayu, emang lu mau dinikahin ama banci itu?” tanya Abang menatapku dari kaca spion depan. Aku pura-pura berpikir. “Hmm ... mau gak mau sih. Tapi menurut Ayu ya Bun, Kak Firman gak banci kok. Orang badannya kekar gitu.” “Ya elah, tadi kan lu lihat sendiri dia nangis-nangis.” Kan, ketus lagi ngomongnya. Biarin, sengaja aku memancing kemarahan Abang. Kayaknya lucu kalau Abang cemburu. “Wajar, dia nangis. Orang dikatain banci,” sahutku menatap luar jendela. Padahal dalam hati amit-amit punya suami kayak si Firman. “Geser otak si Ayu. Udah gak bisa bedain laki-laki sejati ama laki-laki banci.” Abang masih gak mau kalah. “Emang laki-laki sejati kayak siapa?” tanyaku membalas tatapan Abang di kaca spion depan. “Kayak Abang-lah!” “Pedeeee ....” Aku dan Bunda menyorakinya. Bibir Abang mengerucut. “Beraninya maen keroyokan.” Aku tertawa melihat ekspresi Abang. Dasar gengsian! *** Aku terbangun, tenggorokan haus. Kulihat jam dinding pukul 00.35. Bangkit dari tempat tidur, melangkahkan kaki ke dapur. Saat melewati kamar Bunda, samar-samar kudengar orang yang sedang ngobrol. Pintu kamar Bunda setengah terbuka. Aku menempelkan tubuh pada dinding yang dekat pintu kamar Bunda. Melongokkan kepala sedikit ke dalam kamar. Terlihat Abang duduk berlutut di bawah kaki Bunda. Sementara Bunda duduk di tepian tempat tidur. “Bun, tolong ngertiin perasaan, Dendi.” Suara Abang terdengar setengah memelas. “Apa kata orang-orang kalau kamu nikahin Ayu?” Kedua mataku membeliak saat Bunda menyebut namaku. Aku menutup mulut mendengar pertanyaan Bunda dengan nada ditekan. “Gak peduli. Dendi gak peduli omongan orang-orang. Selama ini, Dendi gak pernah dekat sama cewek karena hati Dendi udah ada Ayu. Ayu cinta pertama dan terakhir Dendi. Tolong, Bunda, jangan pernah biarin Ayu nikah sama cowok lain. Dendi benar-benar sayang Ayu. Dendi, mohon.” Ya Tuhan, Abang. Seketika mataku berembun. Tak menyangka Abang memiliki perasaan yang begitu besar. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kalau memang Abang punya niat ingin menikahiku, cepat atau lambat Abang pasti mengungkapkan perasaannya. “Bagaimana kalau Ayu gak punya perasaan yang sama? Ayu gak cinta sama kamu, Den? Apa kamu tetap maksa dia buat nikah dengan kamu?” Pertanyaan Bunda sangat menohok. Spontan kupegang d**a ini. Meraba hati. Apa aku sebenarnya punya perasaan yang sama dengan Abang? Aku memang sayang Abang, tapi sejauh ini hanya rasa sayang kepada kakak. “Jawab, Nak! Apa akan memaksa Ayu untuk mencintai kamu?” desakkan Bunda membuatku memejamkan kedua mata. Astaghfirullah. “Enggak. Dendi gak akan maksa. Kalau emang ada laki-laki yang menurut Dendi baik, bisa lindungi Ayu, Dendi rela Ayu dinikahi laki-laki itu.” Jawaban Abang membuat air mataku menitik. Aku tak sanggup mendengarnya lagi. Setengah berlari masuk kamarku. Mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya. Rasa haus yang sempat menyerang kini basah oleh isak tangis. Abang, kenapa begini? Kenapa, Bang? Ya Allah, hanya Engkau yang tahu siapa jodohku. Aku mohon, berikan laki-laki yang terbaik untuk imamku kelak. *** Pagi hari, aku masih bersikap biasa. Berbeda dengan Bunda dan Abang. Mereka terlihat lebih pendiam dari biasanya. “Ehm, Bang. Sebelum ke kampus, anterin Ayu ke toko buku langganan, ya?” ucapku memecah keheningan. Bunda menghentikkan suapan nasi goreng, menoleh ke Abang. Kemudian menatapku dan berdehem. “Ayu, naik gojek aja, ya? Abang mau anter Bunda belanja.” Kulirik Abang tampak tak peduli. Abang menyantap sarapannya tanpa menoleh padaku. “Iya, Bun,” sahutku tersenyum tipis. Kenapa Bunda seolah melarang? Apa Bunda tidak suka, kalau aku dekat sama Abang? “Ayu berangkat, Bun.” Aku mencium punggung tangan Bunda. “Ojeknya udah dateng?” tanya Abang. Entah kenapa, kali ini mendengar suara Abang aku senang. “Udah. Ayu berangkat sekarang. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Selama perjalanan ke kampus, aku teringat ucapan Abang semalam. Dia kelihatan sangat tulus mencintaiku. Tapi sikap bunda, seolah tak menyukai perasaannya. Mungkinkah aku bukan calon mantu idaman Bunda? Apa mungkin karena asal usulku yang tidak jelas. Bunda seorang wanita sosialita. Abang juga punya perusahaan sendiri. Perusahaan yang didirikan oleh Almarhum Ayah. Bagaimana jadinya kalau Bunda punya menantu yang asal usulnya gak jelas? Aku hanya anak angkat. Bayi diletakkan di depan gerbang rumah Bunda di dalam kardus. Tidak! Aku harus tahu diri. Bunda dan keluarga sudah sangat baik merawat dan menyekolahkanku. Mumpung perasaanku belum bisa ditebak, aku harus mengubur harapan ini. Meski Abang sayang padaku, kalau Bunda tidak merestui, lebih baik aku mengalah. Bimbingan skripsiku alhamdulillah sudah kelar. Kemungkinan seminggu lagi sidang. Semoga dilancarkan. Aku ingin segera lulus, supaya cepat dapat kerja dan tinggal di rumah kontrakan. “Yu, Abang kamu gak jemput?” tanya Dira salah satu sahabatku. “Kayaknya enggak.” Mengingat kejadian tadi malam dan waktu sarapan, sepertinya Bunda akan melarang Abang menjemputku. “Aku anterin, ya?” Sejenak, aku berpikir. Selama ini aku gak pernah diantar pulang sama cowok. Selalu saja Abang. Kalau Abang gak bisa, biasanya naik angkutan umum. "Yu, Ayu?" "Eh, iya? Apa?" Dira tersenyum simpul. Menggelengkan kepala. "Mau gak aku anterin pulang? Mau, ya?" “Iya deh." *** Dira mematikan mesin mobil ketika sudah sampai di depan gerbang rumah. “Makasih, Dir.” Aku langsung turun dari mobil. Ketika tanganku hendak mendorong pintu gerbang, Dira memanggil. “Yu, Ayu!” Aku menoleh. “Ada apa?” Dira berdiri di hadapanku. “Nanti malam nonton yuk! Filmnya bagus lho.” “Emang film apaan?” “Film drama Korea. Ceritanya romantis. Bisa ya?” Aku menghela napas panjang. Bingung. “Gak bisa!” Tiba-tiba Abang menjawab dari belakang punggungku. Aku mendongak menatapnya. “Si Ayu gak suka film begituan.” Dahi Dira berkerut. “Emang Ayu sukanya film apa?” “Film India,” jawab Abang ketus. “Abang, ih!” Aku nyeletuk. Asal jawab amat. “Udah pulang sana!” Abang mendorong bahu Dira. “Beneran, kamu suka film India, Yu?” Jelaslah Dira gak percaya. Lagian Abang, asal jawab amat. Baru saja mulutku mau jawab, Abang menyela lagi. “Iya bener. Gak percayaan amat. Udah pulang sana! Ayu masuk ke dalam!” “Iya, Bang.” Aku tersenyum melihat tingkah Abang yang masih bersikap protektif. Semoga selamanya Abang seperti ini. Aamiin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN