Bab 6. Kambing

1222 Kata
Sesampainya di kedai bakso, aku langsung melepaskan helm. Abang mengajak duduk di bangku paling pojok. Suasana kedai ini lumayan ramai. Ditambah letaknya dekat sebuah taman. Tempatnya juga rapi, bikin nyaman. Beberapa pasang muda mudi terlihat menikmati salah satu makanan favorit orang indonesia itu. “Mang!” panggil Abang pada laki-laki berumur sekitar 30 tahunan. Yang dipanggil langsung menghampiri. “Wah tumben Mas Dendi bareng cewek. Pacarnya ya Mas?” Aduh, pertanyaannya rada-rada …. “Halah si Amang kepo." Pasti Abang mengelak. Orang modelan dia, mana ada ngaku! “Biasanya kan sendiri.” “Bakso dua, satu mie putih doang jangan pake kecap. Satunya biasa, campur,” seru Abang diiringi anggukan si Amang. “Siap!” Laki-laki yang dipanggil Amang langsung membuatkan bakso. “Abang sering ke sini?” tanyaku menatapnya. “Napa emang?” “Idih, ditanya balik tanya.” “Siapa suruh nanya.” Ck, menyebalkan amat jadi orang. Tak berlangsung lama, bakso pesanan Abang sudah datang. “Ini bakso Mas Dendi, ini buat Mbaknya.” Aku tersenyum menarik mangkuk bakso ke hadapan. “Makasih ya, Bang,” ucapku pada penjual bakso. “Amang, bukan Abang,” tukas Abang. “Iya. Makasih ya, Mang.” Aku mengulang ucapan. Si Amang malah senyam-senyum. “Iya sama-sama. Minumannya apa, Mas, Mbak?” tanya penjual bakso ramah. “Es jeruk peras dua,” sahut Abang tanpa bertanya dahulu padaku. Penjual bakso bergegas ke tempat bagian minuman. Tangan Abang mengambil botol saus, sambal dan cuka. “Abang kenapa gak tanya aku dulu sih mau pesan apa-apanya?” Tentu saja aku protes. Bisa saja kan aku pesan yang lainnya? “Lah kebiasaan lu kan emang gitu. Bakso mie putih doang jangan pake kecap, minuman favorit lu es jeruk peras.” “Ya kan nanya aku dulu ke.” “Halah sama aja. Kalo lu yang pesan, nanti si Amang malah natap lu. Kalo gue yang pesenin kan, mau gak mau fokus lihat gue.” Dih, apaan coba? Aku mengerutkan dahi, benar-benar gak ngerti omongannya. “Maksudnya apa sih? Emang kenapa si Amang kalau natap aku?” Aku protes. Pemikiran Abang aneh. Abang menghentikkan suapan baksonya lalu menatapku intens. “Si Amang duda. Mau lu ditaksir laki-laki duda?” cetus Abang, matanya melotot seperti menakuti. “Idih, ya gak maulah. Enak aja!” Dasar bewok! Kalau ngomong sekata-kata. “Ya makanya. Jangan bawel. Makan tuh baksonya!” “Iya.” Aku mengambil satu sendok sambel tanpa saos. Rasa baksonya enak juga. Apalagi butiran bakso yang ukurannya paling besar, isi dalamnya penuh sama irisan daging. Terlihat Abang memakan bakso dengan lahap. Kayaknya dia benar-benar kelaparan. “Abang.” “Hm?” “Makannya pelan-pelan napa. Ntar kesedak.” Abang mendongak. Menatapku cukup lama, bikin aku salah tingkah. Aduh, bakal dikatain bawel nih. “Iya.” Hah? Iya doang? Tumben gak ngatain bawel, gak ngomel-ngomel. Aku tersenyum melihat cara makan Abang yang berubah pelan-pelan. “Es jeruknya, Mas, Mbak.” “Makasih, Mang,” seru Abang mendahuluiku. Aku menyeruput es jerus peras hingga habis. Es jeruk peras memang minuman favoritku “Mau bungkus gak?” tawar Abang saat kami sudah menghabiskan satu mangkuk bakso. Aku menggeleng. “Enggak, ah. Kenyang.” “Jangan kemana-mana. Abang mau bayar dulu.” Aku mengangguk. Abang bangkit menghampiri penjual bakso. Selesai membayar, Abang mendekatiku. “Ayok!” Eh! Kenapa Abang pegang telapak tanganku? Aku berusaha melepaskan, tapi genggaman Abang justru semakin erat. “Mang, nitip motor, ya?” seru Abang saat kami keluar kedai. “Siap, Mas,” sahut penjual bakso. “Abang mau kemana? Ini tangan aku lepasin dulu.” “Lo diem deh. Ntar kalau hilang, repo.!” Nih orang ngasal banget sih? Masa iya aku hilang? Akhirnya mau tak mau aku mengikuti langkah Abang. Kami berjalan menuju arah barat. Hampir lima belas menit berjalan, Abang mengajakku naik ke atas sebuah bukit kecil. Letaknya lumayan jauh dari jalan raya. “Mau ngapain ke sini?” Sejujurnya, saat ini aku merasa takut. Kulirik laki-laki yang rambutnya yang di atas pundak dibiarkan tergerai itu. Aku menatap sekeliling. Sepi, tidak ada siapa-siapa. “Abang.” Aku menarik tangan dengan kuat dari genggaman tangannya hingga terlepas. Abang menatapku heran. “Napa?” “Mau ngapain di sini?” tanyaku dengan intonasi tinggi. “Enggak di sini. Di atas sana. Ayok naik dulu!” “Gak mau.” “Astaghfirullah.” Abang mengacak rambutnya. Bukan aku gak percaya sama dia. Sejujurnya saat ini aku takut. “Lu takut gue apa-apain? Di sini emang sepi. Tapi di atas sana banyak orang. Kalau sampe gue apa-apain, lu bisa dorong gue ke jurang.” Abang berusaha meyakinkan. Bibirku mengerucut, sesaat berpikir dan Akhirnya aku mau mendaki bukit lagi. Memakan waktu sekitar sepuluh menit, kami tiba di puncak. Ternyata benar, di atas banyak orang. Rata-rata pasangan muda-mudi. Ada juga beberapa pedagang jagung bakar, warung kopi dan rumah makan kecil. Pasangan muda mudi tersebut duduk beralaskan tikar. “Kita duduk di sana.” Tunjuk Abang di sudut bukit yang mengarah selatan. Aku mengikuti. Semilir angin menembus kemeja tunik yang aku kenakan. Menyilangkan tangan ke depan d**a untuk menghalau rasa dingin. Mataku membulat, saat melihat kerlap kerlip lampu dari atas bukit. Ditambah dengan keadaan langit yang bertaburan bintang. Sangat indah. “Masya Allah ….” Aku menutup mulut dengan kedua tangan. Merasa takjub dengan pemandangan di depan mata. “Lu suka?” Aku menoleh. Mengangguk. “Makanya jangan suuzhon dulu,” sindir Abang duduk di atas tikar yang sudah tersedia. “Ya maaf,” ucapku menyesal. Tepatnya malu sih. “Mau kapan berdiri? Sini duduk!” Abang menepuk samping kiri. Aku pun mengikuti titahnya. “Abang sering ke sini?” “Emang kenapa?” Kupukul bahunya. Sebal. Ditanya selalu balik tanya. Abang meringis. “Berani pukul ya sekarang? Potong duit jajan.” Ancamnya. Bibirku maju beberapa centi. Apa-apa ngancem. "Enak aja." “Lu mau jagung bakar?” Aku menggeleng. “Enggak. Masih kenyang. Bang, tempat ini indah banget. Apalagi kalau ditemanin pacar,” ujarku sumringah. “Pacar-pacar. Pikiran lu pacaran mulu. Heran,” cerocos Abang macam emak-emak. “Yey biarin. Kalau gak pacar, sama suami juga boleh," selorohku sambil tersenyum lebar. Abang menoleh. “Lu udah kepikiran buat nikah?” “Iyalah. Ayu kan kuliah bentar lagi beres. Habis itu kerja. Habis itu nikah.” “Kalau udah nikah, lu masih kerja?” “Tergantung. Kalau suaminya udah mampu nyukupin keuangan rumah tangga, di rumah aja. Masak, ngurus suami, ngurus anak. Kayak Bunda,” jawabku melirik Abang yang ternyata masih memandangku. Abang memposisikan tubuh menghadapku. Aku pun mengikutinya. Kini kami saling berhadapan. “Lu pengen punya suami yang kayak gimana?” Kedua mata Abang menatapku serius. Mataku menerawang ke atas langit. “Yang pasti dia sayang aku, hargai aku sebagai istrinya, tanggung jawab, hmmm rajin sholat. Hehehe.” Abang manggut-manggut. “Gak harus ganteng ‘kan?” “Harus sih, tapi ganteng juga percuma kalau playboy,” tukasku memutar badan menghadap selatan. “Kalau suaminya Abang, mau?” Aku menoleh kembali. “Suaminya siapa?” tanyaku pura-pura tak mendengar. Raut wajah Abang nampak kesal. Dia menghela napas. “Bang, suaminya siapa?” Aku menggoyang-goyangkan lengannya. Tapi, dia tetap diam. Kini menghadap ke depan. "Abang!" "Apa?" "Suaminya siapa?" “Kambing.” "Abang suaminya Kambing?" tanyaku memperjelas. Muka Abang udah kayak kepiting rebus, merah. "Iya, Abang suaminya Kambing.” Tawaku seketika pecah, mendengar jawaban ngasal darinya. Elah, Bang ... Abang ... Gengsian amaaattt ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN