15 Tahun kemudia
Matahari bersinar menengarangi langit di pagi yang ceria dan indah. Kicauan burung saling bertautan di dalam pohon. "Moraaaaaaa bangun...! "
"Hemmmm ya bun entar lagi" sahut gadis yang masih asik dengan mimpi indahnya. Sang Bunda hanya gelang kepala melihat anak gadis sematang wayangnya. "Ya ampun Mora usah jam berapa nih hah punya anak gadis kok kebo banget. Gak ada sekarang bangun cepat mandi bukan nya kamu mau ambil berkas untuk ke nepal ya," ujar Bunda mencoba membangunkan anak gadisnya.
Seketika mata gadis yang di panggil sena langsung melotot terkejut ia segara melompat dari tempat tidur sehingga membuat si Bunda terkejut bukan main." Allah kabar ya Allah Ra benar benar nih anak satu!" gerutu Bunda gelem gelang gelang kepala melihat kelakuan anak gadisnya yang sangat bar bar.
"Loh bun mana Mora kok gak turun?" tanya Ayah sambil meminum kopi miliknya.
"Tuh masih mandi kalau gak di bangunin ampun bisa bisa sampai siang baru bangun," jawab Bunda sambil ngomel ngomel ke arah suaminya.
"Anak kamu juga bun macam tak tahu saja sifat anak kita biarkan saja apa lagi entar lagi dia bakal jauh dari kita Bunda puas puasin ajalah," ucapnya Ayah melanjutkan membaca koran.
"Pagi Yah. Pagi Bunda," sapa Mora mengecip pipi kedua orang tuanya. Mora duduk dan mengoleskan roti dan makan dengan buru buru.
"Pelan pelan saja sena makannya," ucap sang ayah melihat anak gadisnya makan dengan buru buru takut tersedak. "Aku lagi buru buru yah mau ambil berkas untuk ke nepal apa lagi juga mau sekalian ambil paspor yang udah di urus," ucapnya sena makan dengan belepotan dan langsung menghabiskan susunya. "Makanya kalau di bangunin ya bangun bukan malah kebo, lihat nih jadinya buru buru," omel Bunda membersihkan mulut sena yang belepotan.
"Ya ya iya Bunda nanti Mora bakal ingat ok ya udah Yah, Bun sena berangkat dulu assalamualaikum," pamit Mora segera berlari keluar.
"Waalaikum salam!" serempak keduanya.
Di kampus ternama di Indonesia banyak mahasiswa siswi yang menuntut ilmu disini bahkan mereka bisa sampai ke luar negri. "Oraaaaaa sayang kuuuu," ucapnya gadis berambut pink ala ala anime gitu.
"Hemmm eh si wibu tumben loh samperin gue pake nunggu di pakiran lagi," ucap Mora dengan nada datar seakan tahu sifat sahabat kecilnya ini.
"Ah Ora masak lo tega ninggalin gue di kampus ini jahat banget si lo Ora, nih ya dari zaman sd sampai usia sekarang kita sama sama lah nih lo masak mau ke nepal ninggalin gue lagi disini gak asik banget lo jadi teman," merajuk dianya.
"Oh Aiko sayangku kan ada gebetan lo disini jadi lo gak sendiri lagian gak usah lebay deh gue hanya 2 tahun di sana gak sampai seabad setelah itu gue balik lagi ke Indonesia dah ah jum ke kelas entar cowok lo ngomel lagi ke gue."
"Eh Ora tunggu gue." Aiko pun menyusul Mora.
"Eh si kutu kampret ini jangan ngadi gadi deh sejak kapan gue sama dia pacaran lagian lo tahu sendiri teman gue itu hanya lo aja tapi janji ya sering sering lo kasih kabar ke gue kalau gue bakal marah huh," Aiko pura pura ngambek.
"Ya iya sayangku tenang saja sahabat mu ini bakal lapor 24 jam puasa. Nih si ayang beb udah nungguin di pintu dah ah gue je ruangan dosen dulu." Mora meninggalkan sepasang kekasih yang lagi mabuk asmara.
"Eh Aiko sayang kok tumben lama ke kelasnya?" tanya cowok tadi yang berdiri di pintu kelas.
"Astaga Riko sampai kapan lo gangguan gue hah gue capek tahu gak ontah gak bisa apa cari cewek lain heran deh gue," ucap sinis Aiko malas menatap Riko. Yah sepasang kasih itu hanya Riko saja yang bucin akut sama Aiko dari zaman sma sampai sekarang bahkan sudah ribuan kali penolakan dari Aiko tetap si Riko patang menyerah bahkan dirinya sekampus bareng Aiko padahal kedua orang tuanya sudah punya rencana agar Riko kuliah di luar negri.
"Sebelum jalur kuning melekung masih bisa dapat di tikung seperti itu lah dek perasaan Abang ke adek patang menyerah," ucap Riko menatap lembut ke Aiko. Aiko mendengarnya pura pura muntah dan bergedik ngeri dan Aiko pura pura menulis di buku entah apa yang dia tulis yang penting dirinya tak melihat Riko.
Sedangkan Mora di ruangan dosen mengambil berkas berkas keberangkatan menuju nepal. "Ini Mora berkasnya Bapak harap kamu sukses disana sesuai harapan kampus ini," ucap sang dosen setelah mendatangi dokumen. Mora dengan girang menerima berkas tersebut.
"Terima kasih Pak saya tak akan mengecewakan Bapak kalau gitu saya pamit undur diri karena besok jadwal penerbangan saya ke nepal," ucap Mora setelah berpamitan dengan sang dosen yang telah banyak membantunya.
Malam hari pun tiba di kamar Mora lagi menyiapkan segala keperluan dirinya saat di nepal. Dari pakaian sampai sekecil apapun.
"Hufff akhirnya selesai juga peking pekingnya, gak sabar banget deh ke nepal pasti indah apalagi di saat sangat indah pemandangannya."
Klek
"Loh Bun belum tidur," tanya Mora terheran melihat sang Bunda datang membawa segelas s**u.
"Mana bisa bunda tidur kalau anak sematang wayang bunda mau pergi ke nepal," ujar Bunda memberikan segelas s**u ke Mora.
"Kan hanya 2 tahun bunda lagian di nepal cuma 2 bulan setelah itu ke india nya bun lebih tepatnya di kota Agra bunda jadi gak jauh jauh amat dah gitu cuma sebentar kok." Mora meminum s**u sampai kandas.
"Ya ya iya tapi tetap aja kan jauh juga lagian kenapa harus di india sih Ra? kenapa gak di tempat lain di Malaysia kek di Jepang atau di korea atau di Kalimantan kebih dekatnya kenapa harus di india nak!" lirih bunda duduk di samping sang putrinya.
"Entahlah bun mungkin karena ayah dari india maka Mora ingin kesana lagian bukanya bunda jatuh cinta sama ayah di india ya jadi apa salah nya. Main tumse pyaar karta hoon," Goda Mora menaikkan kedua alisnya.
Sang Bunda langsung salting mengingat pertemuan keduanya saat itu. Yah bisa di bilang ala ala india juga saat itu jalan cerita cinta mereka.
Bug
"Dah sana tidur besok pagi pasti ke bandara pagi pagi jadi jangan kebo lagi entar ketinggalan pesawat." Mora meringis pelan saat sang Bunda melempar guling ke arahnya.
"Ya ya bunda ku sayang muah nihg bobok bun," Mora memberikan kecukupan di pipi bundanya.
"Hemmm nihg bobok juga sayang bunda ke kamar dulu jangan kebo lagi besok."
"Siap bunda," Hormat Mora membenahi selimutnya.
Keesokan harinya di bandara Aiko menangis sesegukan di pelukan Mora."Huaaaaaa babykuuu jangan pergi entah siapa yang jagain akuuuuu!" dengan heboh Aiko menangis sampai mengundang tahapan dari pengunjung yang lainnya.
Mora menatap datar sang sahabat sedangkan Riko juga hampir ikut mewek, emang pasangan bucin satu ini tak ada tandingannya. Kedua orang tua Mora meringis antara kasian dan malu jadi tahapan orang orang.
"Riko!" ucap Mora dengan nada peringatan dari matanya. Riko pun paham dengan arti tahapan sang Mora dari pada kena amuk Mora mending dirinya yang kena amuk Aiko dengan satu terikan dan Riko mengendong Mora ala karung beras membuat sang empu memikik terkejut. "Hehhhh huaaaah apa apa ini Rikooooo! turunin gue kepala gue pusing tahu." Aiko memberontaka seketika.
PLAK
Riko memukul patat Aiko sehingga keempat orang tersebut terutama Aiko terdiam dan terkejut. "b*****t lo Rikooo! berani banget lo pukul patat gueee!" teriak Aiko tak terima.
Sedangkan Riko masa bodo amat dan tak peduli dirinya melangkah pergi sebelum iru dia berpamitan dengan kedua orang tua Mora dan juga Moranya."Om tante Riko balik dulu ya mau antar kucing ke rumah oh ya Mo semoga lo sukses.Ok." Riko mengajukan jempol ke arah Mora.
"Jangan lo apa apain sahabat gue! tunggu gue pulang baru lo nyicil!" teriak Mora di balas acuan jempol Mora pun terkekeh.
(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)(*^^*)
BERSAMBUNG
Hay bunda2 sayangnya akoh# aduh udah lama aurhor gak nulis jumpa lagi nih dengan cerita baru akoh yang pastinya ada unsur acah acah nehi nehi yuk patangi terus cerita akoh ya bunda2. salam see you dari author 😘😘😘😘😘