MAV~~

1307 Kata
Aiko memgosok gosok rambutnya yang basah dan melihat pesan di hp yang ternyata Riko menyuruh Aiko segera bersiap malam ini dan tak lupa memakai pakaian yang telah dikirim. Aiko segera kedepan pintu rumahnya dan ternyata memang ada paket yang datang ia bergegas naik ke atas dan membuka apa isi model pakaian yang di kirim Riko. Aiko menatap pantulan dirinya di cermin. Kain sari berwarna biru safir dengan bordiran emas melilit tubuhnya dengan anggun. Rambut pink-nya yang biasanya terlihat edgy, entah bagaimana justru memberikan kesan unik yang modern namun tetap serasi dengan perhiasan maang tikka di dahi. ​"Sumpah, Riko benar-benar cari mati," gerutunya sambil membenarkan letak kain di bahunya. "Kenapa juga harus pakai tema India begini?" gerutu Aiko sudah misah misuh tak jelas yang Aiko yakin kini ia akan memakai Riko saat datang. ​ Bunyi suara kelakson Riko terdengar Aiko segera turun kebawa untunglah kedua orang tuanya tidak di rumah jika tidak habis ia jadi bahan ketawaan. Riko sudah berdiri di luar mobil untuk sesaat Riko hampir sesak nafas karena melihat beda dari Aiko yang memakai kain sari. Aiko di depan mata sangat cantik dan gemas dengan cara Aiko agak susah berjalan dengan mengenakan kain sari. ​ ​"Ai... lo... lo cantik banget," bisik Riko jujur. ​"Berisik! Buruan masuk sebelum gue berubah pikiran dan lari pulang pakai sandal jepit," balas Aiko galak, meski pipinya sedikit merona. Dengan terbirit b***t Riko membuka pintu mobil Aiko masuk dengan kesal dan Riko segera bergegas pergi sebelum Aiko benar benar berubah pikiran. Tak lama kemudia mobil Riko telah masuk di pintu masuk pesta dan mereka segera masuk ke dalam. ​Begitu mereka melangkah masuk, suasana pesta langsung sunyi sejenak sebelum pecah menjadi riuh. Mama Riko, yang mengenakan sari merah menyala, langsung berlari kecil (seperti adegan drama) menghampiri mereka. ​"YA AMPUN RIKOOO! Ini siapa? Ini calon mantu Mama yang selama ini kamu sembunyikan?!" seru Mama Riko histeris sambil memutar-mutar tubuh Aiko. "Lihat deh Pa, cantik sekali! Rambutnya lucu, kayak kembang gula, tapi cocok banget pakai sari!" ​Riko meringis, memberikan kode 'maaf' melalui tatapan matanya kepada Aiko yang sudah mulai mengeluarkan aura 'ingin memukul orang'. "Halo Tante Om saya Aiko," Aiko salim ke mamanya Riko membuat sepasang paruh patuh tajub dan menyambut hangat Aiko."Eh panggil aja kita Mama dan Papa ya kan Pa?" meminta pendapat sang suami dan di anguki oleh suaminya. "Ya Ma.. Pa," ucap Aiko terbata bata. "Sudah sudah kalian berdua nikmati pestanya ya," ​Riko harus terus menggandeng tangan Aiko, sementara Aiko harus memasang senyum paling manis (dan paling palsu) yang pernah ia miliki. Mama Riko membisikan ke suami sebuah rencana sang suami menganjulkan jempol. Lalu"Hadirin sekalian kita sambut penampilan dari anak saya dan pacarnya ini dia mereka." lampu tiba tiba menyoroti Aiko dan Riko kedua sama sama tegang dan terkejut. Aiko tak punya pilihan. Di bawah tatapan penuh harap Mama Riko dan sorak-sorai tamu, ia membiarkan Riko membimbingnya ke tengah lantai dansa. Lagu berganti menjadi "Yeh Ladki Hai Allah". Iramanya ceria, tapi suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi intens. Riko mulai bergerak, kali ini tidak kaku seperti sebelumnya. Ia seolah benar-benar meresapi peran sebagai pemuda yang sedang jatuh cinta. Riko mendekat, lalu menjauh, menggoda Aiko dengan gerakan tangan yang luwes. Aiko, meski awalnya ragu, mulai mengikuti irama. Kain sari kuningnya berkibar indah saat ia berputar. Tiba-tiba, musik melambat. Riko menarik tangan Aiko hingga gadis itu berputar dan berakhir tepat di pelukannya. Wajah mereka begitu dekat. Aiko bisa merasakan napas Riko yang memburu. ​"Rik, ini bagian dari tarian kan?" bisik Aiko, suaranya sedikit bergetar. ​Riko tidak menjawab. Ia justru menatap mata Aiko dengan sangat dalam, seolah sedang menyampaikan semua kata-kata yang tadi gagal ia ucapkan di depan rumah. Tangan Riko perlahan menyentuh ujung selendang Aiko, melilitkannya sedikit ke tangannya sendiri—sebuah gerakan yang begitu romantis dan penuh makna. Di sekitar mereka, orang-orang masih bersorak, tapi bagi Aiko dan Riko, suasana mendadak sunyi. Riko mendekatkan wajahnya, membisikkan lirik lagu tepat di telinga Aiko, "Yeh ladki hai Allah, hai hai re Allah..." Sentuhan lembut tangan Riko di pipi Aiko membuat gadis berambut pink itu tertegun. Ia melihat sisi lain dari Riko—bukan pria menyebalkan yang suka mengganggunya, melainkan seseorang yang benar-benar peduli dan menjaganya. ​Reaksi yang Tak Terduga ​Melihat momen itu, Mama Riko hampir pingsan karena kegirangan. "Tuh kan Pa! Lihat tatapan mereka! Itu bukan pura-pura, itu cinta!" seru Mamanya sambil sibuk mengelap air mata bahagia dengan ujung sarinya. ​Aiko tersadar dari lamunannya saat musik berakhir. Ia segera melepaskan diri dari dekapan Riko, wajahnya sudah semerah tomat. ​"Rik... gue... gue mau ke toilet bentar!" pamit Aiko buru-buru, mencoba menyelamatkan jantungnya yang hampir meledak. ​Riko hanya berdiri terpaku di tengah lantai dansa, menyentuh dadanya sendiri sambil tersenyum tipis. "Sial, kali ini gue beneran jatuh cinta," gumamnya pelan. ​Sedangkan di dalam toilet Aiko menatap cermin di depan dan mengigit bibir karena salting saat menari dengan Riko. "Gak ...gak ah aaaaakkkh masak gue jadi salting parah sih karena dia, dia bukan tipe gue ya betul itu oke Aiko lo tenang diri lo ingat itu ok saat kita keluar." Aiko merapikan tampilan dan bersikap biasa biasa aja. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Dimana rumahmu? biar lado yang mengantarkan?" Mora menatap Maher lalu melihat Lado yang di depan. "Turun kan saya di persimpangan rumah saya dekat situ biar ke dalamnya jalan kaki saja," jawab Mora. "kenapa gak sampai dalam?" Mora lagi lagi menyengitkan dahinya. "Ya gak papa aja pak biar gak ngerepoti bapak aja," ujar Mora. Maheer beedehem pelan ia jadi seperti banyak tanya."Lado antarkan sampai depan rumah tak ada bantahan." mau Mora membantah tapi sudah kecepatan di buat maheer mau gak mau ia harus nurut jadinya. Lalu mobil sudah sampai di persimpangan," nona ini harus kemana ya?" Mora melihat susah dekat rumahnya." Belok kiri pak lalu lurus aja ada gedung tinggi nah situ apartemen saya pak." Lalu sampai lah di apartemen Mora, sebelum turun Mora mengucapkan terima kasih. "Terima kasih Pak Maheer, Lado atas tumpanganya," Maher mengangguk. Tapi belum Mora turun rambut Mora tersangkut di kancing jas milik Maher sehingga Mora mengadu kesakitan. Saking panjangnya rambut Mora saat dikibaskan ke belakang jadi tersangkut. "Aaakh aduuuuh rambutku," ringis Mora menahan rambutnya. "Tunggu," Maheer mencoba melepas rambut Mora dari jasnya tapi bukanya terlepas justru Mora makin merasa kesakitan hingga tanpa sadar Mora maju kedepan hingga jarak mereka semakin dekan, lado hanya menonton kedua orang itu saja tanpa niat membantu apalagi lado melihat keduanya jadi gemas sendiri. Maheer terpaku lagi lagi dirinya berdetak kencang aroma khas rambut Mora tercium di hidungnya tanpa sadar Maher dibuat mabuk aroma itu. "Pak sudah lepas belum?" tanya Mora merasa pergerakan Maher berhenti lalu Maher tersadar dan tak sengaja melepaskan kuat kuat rambut Mora hingga Mora metingis. "Aduhhh Pak pelan dong..." Deg Deg Deg Deg Deg Jantung keduanya berdetak kencang sama sama mata mereka berdebruk saling tatapan. Maher dengan berani semakin dekat dengan wajah Mora. Mora makin tegang di buat hingga matanya tak berani berkedip. "Oh Mahe mahe tera di sajalah," bunyi nada hp Lado mengejutkan kedua hingga wajah keduanya memerah saking salah tingkah nya. Mora lekas pergi dari sana dan membanting pintu kuat kuat hingga maher dan lado sama sama terkejut. Maher menatap horor Lado, lado pun jadi takut dan mengangkat kedua jarinya berbentuk v. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ​Di perjalanan pulang seusai acara pesta, suasana mobil menjadi sunyi, tapi bukan sunyi yang canggung. ​"Makasih ya, Ai. Gue serius, lo tadi penyelamat hidup gue banget," ucap Riko tulus. ​Aiko menatap keluar jendela, menyembunyikan senyumnya. "Satu syarat, Rik." ​"Apa?" ​"Jangan pernah suruh gue pakai sari lagi kalau gak ada acara lamaran... eh, maksud gue, kalau gak ada alasan darurat!" Aiko langsung menutup mulutnya, salah tingkah. ​Riko tertawa lebar. "Lamaran ya? Dicatat, Ai!" Makin padam saja muka Aiko dibuat Riko malam ini. Hay bunda2 raders baca dong karya author agar bisa di kontrak di tunggu ya komentarnya juga oke seee you 😘😘😘😘
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN