Prolog

481 Kata
“Rere ...! kamu masih belum bangun juga?” mama kembali berteriak dari arah dapur. Gadis yang dipanggil itu merentangkan kedua tangannya lalu menggeliat dengan wajah mengerut. Dia menendang selimutnya, menggaruk-garuk leher sejenak, lalu matanya kembali sayu dan tertutup rapat. Rambut keritingnya kini mengembang 10 kali lipat. Air liur yang mengering di pipinya menyisakan noda putih dengan pola menyerupai sebuah pulau di peta dunia. “Rereeee ...! Mama nggak mau kalau harus ke sekolah kamu lagi untuk masalah yang sama.” sang mama memekik lebih keras. Mata Rere terbuka lebar. Ancaman itu berhasil membuatnya bangun. Dia menjangkau handphonenya dan mulai memeriksa notice di hpnya dengan mata menyipit. Seketika matanya terbelalak melihat ada foto memalukan miliknya yang diunggah Adit ke grup chatting. Foto itu menampilkan potret Rere sewaktu kecil yang tengah mandi dan disensor oleh Adit dengan sebuah emoticon berbentuk hati. “Awas lo ntar!” dengkus Rere. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.45 dan bagi Rere itu terlalu pagi. Harusnya dia masih bisa bermimpi satu episode lagi. Rere menghela napas yang terdengar berat, lalu duduk di tepi ranjang menunggu sebagian jiwanya yang masih melayang. Kali ini hidungnya kembang-kempis mencium sebuah aroma yang membuatnya menelan ludah. Sedetik kemudian hentakan kakinya terdengar keras menuruni anak tangga yang meliuk kelantai bawah. “Wah, ada gulai ikan patin featuring jengkol nih?” Rere cengengesan. “Nih bocah kebiasaan main nyelonong aja ... mandi dulu sana!” Revan langsung menepis tangan Rere yang hendak menyendok nasi ke piring. “Mau mandi atau nggak ... gue itu bakalan tetap terlihat cantik, kok.” Rere mengibaskan rambutnya yang terlihat seperti bulu singa. “Please Re, lo ngaca! iler lo itu bikin nafsu makan gue hilang.” Revan mengibaskan tangannya mengusir Rere. “Rere ... kamu mandi dulu sana! kebiasaan deh.” mama yang baru datang ikut berkomentar. “Emangnya ada ya, hadist nabi yang bilang mandi dulu baru boleh makan?” Rere mulai nyinyir. “Emang nggak ada, tapi sebagai manusia lo harus tau yang namanya etika dan sopan santun. Terlebih lo itu perempuan, emang rada konslet nih anak otaknya.” Revan berkata ketus. “Jangan ngomong gitu! Bagaimana pun juga dia itu adik kamu, Van,” tegur mama. “Dengerin Mama, tuh,” cibir Rere. Revan menarik napas kemudian meletakkan sendok di tangannya. “Berapa kali Revan harus bilang sama mama, kalau Revan sama Rere itu cuma orang asing yang kebetulan lahir di keluarga yang sama,” jawab Revan. “Apa lo bilang barusan?” Rere langsung menyinsing lengan bajunya. “Eits ... jangan main kekerasan dong!” Revan langsung mengelak dari ayunan tinju Rere. “Udah ah! kalian berdua selalu aja ribut. Kamu lanjutin makannya Revan. Dan kamu Rere ... ayo cepetan mandi sana!” mama langsung melerai pertengkaran itu dan mendorong Rere untuk pergi. Setelah berjalan beberapa langkah, Rere kembali balik badan dan menggertak Revan dengan mengangkat tinjunya. Sang kakak pun membalas dengan ekspresi wajah menyebalkan. Rere lalu melanjutkan langkahnya sambil asyik menggaruk b****g. Pemandangan itu sukses membuat mama dan Revan membeku untuk sesaat. Keduanya saling pandang, lalu suara tawa mereka terdengar pecah beriringan. _  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN