Patah Hati

1256 Kata
            Ayas kembali bekerja dengan giat, dirinya kini memiliki tujuan yang jelas untuk apa dirinya bekerja keras, tak lain adalah untuk segera menikahi Raya. Selain bekerja di kedai kopi Sakko, Ayas juga membuka usaha membuat design logo, agar dirinya memiliki pemasukan yang lebih. Setiap hari Ayas bangun sebelum shubuh dan tidur diatas pukul sebelas malam, dirinya bekerja dengan sangat giat dan semangat karena kini dia memiliki tujuan hidup yang ingin segera terealisasikan dalam waktu dekat yaitu menikahi Raya, wanita yang dicintainya.             Orangtua Ayas merasa lega melihat putranya lebih bahagia dari sebelumnya, terkadang ayah Ayas mewanti-wanti Ayas untuk melamar Raya terlebih dahulu, ayahnya khawatir Raya keburu dilamar oleh orang lain, masalah pernikahan, itu bisa dibicarakan kembali, karena jika Raya keburu dilamar orang lain, tentunya Ayas tidak boleh mengharapkan Raya lagi, karena dalam agama mereka, haram hukumnya melamar diatas lamaran saudaranya sendiri. Ayas juga sedikit terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut, namun dirinya kembali dihadapkan dengan ketidakberdayaannya dalam hal finasial.             Perkataan ayahnya membuat Ayas merenungkan kembali niatnya, semangatnya kembali melempem, dirinya masih merasa takut untuk membuat keputusan terbesar dalam hidupnya, apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar, beruntung jika Raya belum dilamar orang sebelum dirinya mengumpulkan uang, namun malang jika ternyata Raya sudah dilamar, melihat Raya adalah tipe wanita idaman laki-laki, sangat mudah bagi Raya untuk mendapatkan laki-laki yang lebih dari dirinya. TIba-tiba perut Ayas mendadak mulas dan dadanya bergemuruh dengan hebatnya, sudah setahun Ayas tidak pernah berkomunikasi bahkan bertatap muka dengan Raya, mungkin sekarang hidup Raya sudah berubah atau apakah Raya masih menunggunya? Kepala Ayas tiba-tiba pening, padahal apa susahnya melamar? Hanya sekedar berbicara kepada orangtua Raya sajakan? Tekad Ayas sudah bulat, malam ini dirinya akan melamar Raya.                                                                                                 **             Ba’da Isya Ayas meminta doa restu orangtuanya karena akan melamar anak gadis orang, ayah Ayas tentu sangat bangga melihat keberanian putranya tersebut, sedangkan ibunya hanya bisa menangis terharu serta tak hentinya berdzikir, ketiga adik Ayas juga menyemangati Ayas dan tak lupa mendoakan kakak terkasih mereka. Ayas sendiri gugup namun dirinya mencoba melawan semua kegugupan dan keragu-raguan dalam dirinya, jika nanti lamarannya diterima, Ayas segera akan membawa keluarganya untuk melamar resmi, sekaligus menentukan tanggal pernikahan, Ayas ingin menikah dengan Raya secepatnya, karena sesuatu yang baik memang harus disegerakan. Entah kenapa Ayas merasa hatinya bahagia, sebentar lagi dirinya akan bersanding dengan wanita yang amat dicintai dan mencintainya itu, tentu rumah tangganya nanti akan bahagia. Pikiran Ayas sudah melanglangbuana kemana-mana. Sambil mengucap bismillah, Ayas pergi menggunakan motor bebek kesayangannya menuju rumah wanita idamannya.             Sebuah rumah sederhana bercat biru dengan halaman yang agak luas terlihat, Ayas masuk ke area halaman yang tidak berpagar itu untuk menyimpan motornya. Dirinya mencoba untuk mengetuk pintu dan mengucap assalamualaikum, Hawa dingin menyelusup di tengkuk Ayas, kegugupan menjalari kisi-kisi tubuh Ayas, dari kejauhan terdengar suara seorang wanita membalas salam Ayas dengan lembut, saat membuka pintu, terlihat Raya dengan kerudung yang diselendangkan di kepalanya, sehingga terlihat sebagian anak-anak rambutnya yang berwarna hitam. Raya terlihat kaget saat bersitatap dengan Ayas, dirinya segera menutup jilbab selendangnya sehingga tak lagi nampak rambutnya.             “Apa kabar Ray, ayah ada?” tanya Ayas mencoba untuk bersikap tenang meskipun dadanya bergemuruh tak karuan.             “Beliau belum pulang dari masjid, mungkin sebentar lagi, silakan masuk,” jawab Raya sambil mempersilakan masuk, Raya lantas memanggil ibunya dan segera ke dapur untuk mengambil air. Ayas lantas mencium tangan ibu Raya sambil memperkenalkan diri, tidak lama kemudian ibunya pun kembali ke belakang, Raya datang sambil mengantar air dan beberapa kue, terlihat dari raut wajah Raya yang kebingungan dan hendak bertanya namun ragu. Ayas ingin mencairkan suasana yang terlihat kaku tersebut dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan basa basi. Tidak beberapa lama kemudian, ayah Raya pulang dari masjid bersama seorang laki-laki seusia Ayas. Kemudian mereka duduk bertiga di ruang tamu, sedangkan Raya kembali ke belakang menyusul ibunya.             “Ada tamu toh rupanya, ini siapa ya?” tanya ayah Raya.             “Saya Ayas Pak, teman sekolah Raya,” jawab Ayas, Ayas melirik laki-laki yang duduk di sampingnya yang Ayas pikir mungkin sepupu Raya.             “Saya Adrian,” ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya pada Ayas.             “Nak Ayas ini sahabat Raya atau gimana?” tanya ayah Raya lagi, Sebenarnya Ayas agak risih karena laki-laki bernama Adrian ini tidak beranjak dari kursi, dirinya yang hendak berbicara serius dengan ayah Raya jadi merasa gugup.             “Saya dan Raya hanya teman biasa Pak, dan kedatangan saya kesini…” Kata Ayas terputus, Raya keburu datang seraya memberikan air untuk Adrian dan ayahnya yang baru pulang dari mesjid.             “Terimakasih calon istriku,” ucap Adrian pada Raya, Raya hanya tersenyum sambil menunduk malu. Ayas sontak kaget dengan perkataan Adrian, dirinya tanpa sengaja menatap cincin yang melingkar di jari manis Raya dan Adrian, apakah mereka…             Pikiran Ayas tiba-tiba buntu, keringat dingin menjalari tangan dan kaki Ayas, stuteringnya kembali datang, dirinya mencoba untuk bersikap tenang.             “Kedatangan sa saya ke kemari un untuk me me memberikan un undangan per per pernikahan te teman kami,” kata Ayas terbata-bata, dirinya langsung merogoh tas cangklongnya dan memberikan selembar undangan pernikahan Aji dan Diva pada Raya. Terlihat Raya kebingungan karena merasa tidak mengenal Aji maupun Diva, namun Raya tetap mengambil undangan pernikahan tersebut dan mengucapkan terimakasih.             “Ka ka kalau begitu, sa sa saya permisi dulu, Assalamualaikum.” Ucap Ayas, dirinya segera pergi dari rumah Raya sebelum air matanya jatuh. Di perjalanan, Ayas berhenti di sisi jalan, dirinya menepuk-nepuk dadanya sembari menguatkan diri. Perasaan sakit yang teramat sangat menjalari dadanya, tanpa sadar dirinya muntah karena tak kuat menahan beban.                                                                                             **             Ayas kembali demam, orangtua Ayas terutama ibunya menangis melihat kondisi putranya tersebut, ayah Ayas hanya menghela nafas sambil menenangkan istrinya. Ayna merasa kasihan melihat kakaknya setelah tadi malam dirinya mendapati kakaknya yang baru pulang tiba-tiba pingsan. Ayna sudah menduga meskipun Ayas belum berbicara sepatah katapun bahwa lamarannya gagal, kakaknya harus menelan kekecewaan yang teramat sangat karena harapan untuk bersanding dengan wanita pujaannya itu tidak bisa tersampaikan.             Ayas merasa malu pada keluarganya yang sudah berharap banyak padanya, dirinya juga ingin menyudahi segala bentuk rasa sakit yang ada padanya saat ini. Ayas mencoba untuk tersenyum pada orangtuanya dan ketiga adiknya yang tentunya penasaran dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Ayas tahu bahwa dirinya sebagai seorang anak tertua seharusnya memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya. Dirinya harus kuat walaupun sebenarnya hatinya sangat sakit, mungkin ini yang Raya rasakan dulu ketika Ayas mencampakkannya, ternyata apa yang terjadi di dunia ini tentunya karena dampak dari ulah kita sendiri. Ayas mencoba untuk beristigfar agar dirinya diberikan kekuatan untuk menghadapi rasa sakitnya ini.             Ketika Ayas sudah agak baikan, dirinya mencoba untuk membicarakan kenyataan yang terjadi tadi malam, bahwa dirinya terlambat, Raya sudah dilamar oleh orang lain. Saat Ayas menagtakan hal itu, tak terasa air matanya jatuh, ketiga adiknya langsung memeluk kakak mereka yang tengah patah hati, ibu Ayas masih menangis.             “Nak, ayah tentu ikut bersedih dengan apa yang terjadi, namun ayah bangga padamu, karena kamu seorang pemberani, suatu saat nanti kamu pasti mendapatkan jodoh yang terbaik, ayah selau mendoakan yang terbaik untukmu, untuk kalian anak-anak ayah.” Ucap ayah seraya dirinya menahan tangis, Ayna dan Ainun pun ikut menangis, sedang Attar hanya menunduk sedih. Ayas bersyukur mmeiliki keluarga yang sangat respect seperti keluarganya, ketika dirinya tengah menghadapi kesulitan seperti ini, mereka selalu ada untuknya, sehingga Ayas merasa kuat. Tidak adahal yang Ayas katakan selain ucapan terimakasih untuk keluarganya.             Ayas mencoba untuk bangkit dari kesedihan, karena hidup tentunya akan tetap berjalan, meskipun dirinya tengah dirundung rasa sakit akibat patah hati, apalagi dirinya tidak ingin mengecewakan keluarganya yang sudah mendukungnya sedemikian rupa. Ayas mencoba menata kembali hidupnya dan mencoba untuk hidup lebih baik lagi.                                                                                         ***             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN