Varlotta tahu bahwa tawanya yang tak bisa terhenti sejak keluar dari ruangan VIP restoran, dan sudah membuat Alexander menjadi kebingungan. Bahkan, terhitung dari satu menit lalu, tatapan sang saudara berubah kesal memandang dirinya. Alexander juga berkacak pinggang. Entah mengapa, hal tersebut justru dilihatnya sebagai hiburan tambahan. "Varlo, ayolah." Varlotta cepat menanggapi dengan anggukan. Tiga kali dilakukan dalam gerakan yang santai. Masih ia pusatkan pandangan pada sosok Alexander. Tetapi, gelakan belum benar-benar mampu diredamnya. Bukan karena ekspresi sang saudara lagi. Namun, raut keterkejutan Geonado yang berputar kembali di dalam kepala. Sungguh, tidak mampu dihilangkan. Sudah berupaya tak memikirkan pria itu juga, tetapi ia gagal. Bayang Geonado enggan pergi darinya.

