14 - Tak Terduga

1009 Kata
"Dan, aku tidak akan pernah main-main dengan apa yang aku katakan. Aku serius, Mr. Vilano." Ya, pembuktian atas apa diucapkannya segera dilakukan. Varlotta segera mengambil handphone di dalam tas. Setelah ditemukan dan layar dihidupkan, maka kontak sang kakak menjadi sasaran utama. Ibu jari kedua tangannya pun cekatan mengetikan kata demi kata dalam pesan yang akan dikirimkan pada kakak sulungnya. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari dua menit saja untuk menyelesaikan beberapa rangkaian kalimat. Varlotta tak lupa menyelipkan sedikit ancaman. “Kau serius akan bertanya kepada Darmo? Rasanya tidak mungkin dia akan mengatakan semua kepadamu, Little Princess. Ini urusan kami berdua. Privasi sebagai pria dewasa. Mengertilah." “Bukan masalah bagiku jika kau tidak mau memberitahuku,” jawab Varlotta dingin dan datar. Disengaja untuk menunjukkan kekesalan secara nyata. “Ada informan lain bisa aku tanyakan.” "Jika kau berpikir kakakku akan merahasiakannya dariku, kau salah besar, Mr. Gorgeous. Dia senang hati memberitahuku, kemana kalian akan pergi. Kau boleh menyimpannya sendiri," jawab Varlotta ketus. "Aku sudah dewasa juga, kau harus ingat. Tidak ada aturan dimana aku tidak boleh tahu apa yang kalian ingin lakukan. Tidak akan bisa dicegah oleh siapa pun. Termasuk kau juga," tegas Varlotta. "Apa tujuanmu melakukan semua, Little Princess? Harusnya kau tahu tentang privasi orang lain. Kau jangan memaksakan apa yang ingin kau tahu saja." Dada Varlotta memanas karena balasan Geonado. Namun, ia enggan meluapkan emosi. Ucapan pria itu memang ada benarnya. Membantah bukanlah cara yang baik perbedaan persepsi mereka. "Trims sudah mengingatkanku, Mr. Vilano. Aku akan memberikan batasan sampai mana aku boleh tahu privasi kalian. Dan juga, akan aku hormati. Tidak akan aku batalkan rencana kalian untuk pergi." Setelah menyelesaikan ucapannya, Varlotta memperbaiki posisi duduk, lebih tegap. Masih tak dipindahkan atensi dari Geonado. Ada hal lain yang akan dibahas dengan pria itu. Berkaitan akan pengakuan perasaan dilakukannya kemarin dan berakhir dengan ciuman di antara mereka. Ya, Varlotta masih memiliki keinginan kuat meminta maaf. Harus diutarakan, walaupun tidak tahu bagaimana reaksi dari Geonado. Belum terpikirkan sama sekali respons yang akan ditunjukkan pria itu. Namun, Varlotta tetap berharap bahwa hubungan mereka tak perlu memburuk nanti. “Mr. Vilano…,” panggilnya dengan formal. Nama keluarga pria itu disebutkan sopan.  Ketika Geonado menolehkan kepala ke arahnya, segera diembuskan napas guna menetralisir ketegangan yang tiba-tiba saja muncul. “Aku ingin mengatakan sesuatu soal kemarin pagi di rumahmu saat kita sarapan. Kau masih ingat bukan?" "Aku rasa kita harus membicarakan supaya semua jelas dan tidak terjadi kesalahpahaman. Aku tida--" “Soal ciuman dariku atau pernyataan perasaanmu, Little Princess? Mana yang harus kita berdua untuk bahas dulu? Kau boleh memilih yang mana." Varlotta mengangguk segera, tanda setuju. “Semua memang harus kita berdua bahas sekarang." "Baik ciuman darimu kemarin. Dan menyangkut juga soal perasaan cintaku yang sudah aku katakan kepadamu,” jawab Varlotta dengan lebih tegas. "Kau tadi memperbolehkanku memilih yang mana bukan? Okay, akan aku lakukan sesuai maumu." “Tolong biarkan aku mengajukan sejumlah pertanyaan. Kau hanya bertugas menjawab jujur. Kau bisa melakukannya, Mr. Gorgeous? Aku tidak peduli jika jawabanmu menyakitkan,” pintanya. “Baiklah. Katakan apa saja yang ingin kau tanyakan. Aku pasti akan berusaha menjawab jujur. Dan, bagaimana nanti pendapatku. Kau berjanjilah untuk menerima. Jangan marah ataupun kesal kepadaku. Kau pasti bisa bersikap dewasa, Little Princess. Kau tidak akan membuat aku kecewa." Varlotta menutup rapat mulutnya. Menunda sejenak melontarkan pertanyaan yang sudah disiapkannya. Ia semakin lekat memandang sosok Geonado. Dan, harus diakui tatapan mata pria itu kian tidak dapat bersahabat. Keteduhan perlahan lenyap, terganti oleh sorot yang lebih menajam tepat kepadanya. Benar-benar berbeda hari ini sikap dari Geonado. Logika bisa menerima perubahan ditunjukkan pria itu. Siapa pun pasti akan bereaksi seperti Geonado setelah mendapatkan pernyataan cinta dari seorang wanita yang sudah dianggap sebagai saudara. Nyatanya perasaan dan hati menolak. Ia tak suka melihat bagaimana Geonado mulai ingin menjauh, perlahan-lahan. Rasanya kian sakit. Terlebih, pria itu masih sangat dicintainya. Sekecil apa pun usaha dari Geonado menghindar, ia akan menyadarinya. Walau, mungkin pria itu tidak bermaksud dengan sengaja menyakitinya. Hanya demi kenyamanan semata. Meski berat, harus coba untuk dimengerti. "Little Princess…," Varlotta langsung memalingkan wajah. Diputusnya kontak mata mereka, saat rasa sesak pada bagian d**a yang bertambah. Membuat napasnya mulai tidak beraturan. Namun, enggan menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya. Varlotta pun berupaya tak sampai mengeluarkan air mata. Sebuah kelemahan yang tidak perlu untuknya perlihatkan hanya demi menarik perhatian Geonado dan berakhir juga dengan mendapat belas kasihan pria itu. Sungguh akan memalukan dirinya saja. "Varlo…," Kali ini, Varlotta sudah meluruskan pandangannya ke depan. Kemudian, ia dilanda keterkejutan ketika Geonado mempersempit jarak mereka. Ia sendiri tak menyadari sudah sejak kapan tepatnya pria itu berjalan mendekat. Sama sekali tidak dilihatnya pergerakan Geonado karena kegundahan hati. "Little Princess…,"  Varlotta semakin mengangkat kepala agar dapat lebih jelas wajah Geonado. Tatapan pria itu masih saja sarat akan kecemasan. Dan, membuatnya tak suka. Rasa kasihan yang paling enggan diperoleh dari pria dicintainya. Hati bertambah luka saja. Kemudian sebagai balasan, kepala digelengkan. Sebanyak tiga kali. "Aku tidak apa-apa. Trims kau sudah mengkhawatirkan selalu keadaanku, ya." "Tapi, tolong jangan yang berlebihan lagi. Kau tahu jika hal seperti itu hanya akan membuatku semakin tidak bisa berpikiran yang rasional. Selalu muncul di dalam hatiku harapan lebih tentang sikapmu." Varlotta memperlebar senyuman, walau gemuruh dalam d**a semakin menimbulkan sesak yang tak menyenangkan bagi pertahanan dirinya juga. Dua pelupuk mata sudah berair sehingga pandangan mulai mengabur. Namun, masih bisa dilihat secara jelas sosok dari Geonado yang berdiri di depannya. "Perhatian kau terus berikan kepadaku akan bisa menyebabkan aku berpikir kau juga menyukaiku. Padahal tidak bukan? Jadi, jangan terlalu masih kau berikan perhatian apa pun kepadaku, Mr. Vilano." "Demi kebaikan bersama juga. Ya, antara kau dan aku agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lebih banyak lagi yang hanya akan menyakitiku. Pastinya kau juga bisa paham dengan apa aku maksud." Varlotta membuang napas panjang. "Dosamu akan berkurang jika kau melakukannya, Mr. Vilano. Tidak baik juga bukan memberi harapan pada wanita tapi kau pada akhirnya tidak akan bisa mempertan--" Ucapan terhenti begitu saja karena kekagetan yang melanda selepas menerima ciuman dari Geonado. Tepat di bagian bibir dengan lumatan yang cukup ganas. Bahkan menyesakan d**a, mengingat pasokan dari udara mengisi paru-paru semakin menipis. Tak dapat dilakukan apa-apa selain hanya diam saja. Memungkinkan untuk menikmati lebih bagus daripada harus menunjukkan pemberontakan. Ciuman Geonado selalu saja sukses membuatnya menjadi terlena. Bak candu yang tidak bisa dihindari. Bodoh juga jika sampai menolak cumbuan diberi pria itu. Karena, sejak dulu sebatas fantasi saja yang mustahil direalisasikan nyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN