Frustasi

1065 Kata
Satu minggu kemudian Sudah seminggu berlalu sejak kepergian Vania,Satya seperti orang frustasi ia sudah menyuruh Dika untuk mencari Vania namun orang suruhan Dika pun tak menemukan Vania.Setiap hari pekerjaan Satya marah marah hampir semua staff di kantor terkena imbasnya melakukan kesalahan sedikit saja akan panjang urusannya. "Dika kamu bisa kerja nggak sih sudah seminggu tapi Vania belum juga ditemukan". "Tenang bro kamu harus tenang aku sudah suruh anak buahku untuk terus mencari ke seluruh kota bahkan seluruh kos kosan tapi belum ada yang menemukan". "Tapi ini sudah seminggu Dik tapi belum ada hasil gimana aku nggak bingung kamu tahu kan Vania segalanya buatku",Satya mengusap wajahnya frustasi. Tiap malam Satya jadi sering pergi ke klub tentunya Dika selalu mengawasi dari jauh karena Dika khawatir jika terjadi sesuatu dengan Satya apalagi Satya selama ini tidak pernah mengenal dunia malam tapi sejak Vania meninggalkannya dia malah seperti orang yang tak tahu arah. Dirumah Satya pun jadi tak peduli dengan keluarganya tiba dirumah menjelang dini hari dan bau alkohol dan Dika selalu yang menjaga Satya dan mengantarkannya pulang. Vivi pun tak tinggal diam ia melaporkan tingkah laku Satya kepada sang mertua alhasil pak Cakra papa Satya. Pak Cakra menyuruh orang suruhannya untuk mengawasi Satya dari mulai Satya keluar rumah sampai pulang kembali ke rumah. Pagi ini pak Cakra datang ke kantor Satya. "Semalat pagi om",Dika menyapa pak Cakra sambil menundukkan kepalanya. "Pagi Dik,Satya ada diruangan"? "Iya om ada silahkan mari saya antar",Dika berjalan di depan pak Cakra dan segera membuka pintu ruangan Satya. "Bro.."Dika memanggil Satya yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. "Hmmm..."tanpa melihat Dika Satya tetap fokus pada laptopnya. "Satya..."panggil pak Cakra. Merasa bukan suara milik Dika yang memanggil dengan nada meninggi Satya melihat kearah suara itu dan terkejut saat tahu pak Cakra ada dibelakang Dika . "Papa...tumben papa kesini ada apa"?tanya Satya. "Saya permisi dulu om",Dika undur diri. "Iya makasih ya Dika". "Iya om sama sama" dengan menundukkan kepalanya. Pak Cakra duduk di sofa di dalam ruangan Satya. Dengan tangan bersedekap di d**a pak Cakra mulai menginterogasi Satya. "Satya langsung saja papa nggak mau basa basi,Vivi menghubungi papa sudah hampir seminggu ini katanya kamu selalu pulang larut kadang sampai menjelang pagi dan selalu bau alkohol bahkan kadang sampai kamu mabuk dan juga kamu jadi jarang perhatian sama keluarga apalagi sama Kevin anak kamu.Sebenarnya kamu ada masalah apa?lihat penampilan kamu rambut kamu juga tidak rapi seperti biasa bahkan sampai kamu seperti tak pernah bercukur sudah seperti preman saja penampilanmu sekarang". Satya menutup laptopnya dan berjalan ke sofa duduk di depan pak Cakra. "Nggak ada apa apa pa, dikantor lagi banyak kerjaan aja jadi aku sedikit stress dan tidak memperhatikan semuanya"jawab Satya. "Jangan bohongi papa Satya tiap hari kamu pulang larut karena kamu pergi ke club tiap malam pulang dalam keadaan mabuk,papa sudah suruh orang ngawasin kamu.Papa tahu kamu kemana aja kamu nglakuin apa aja sebenarnya kamu ada masalah apa coba ceritakan sama papa". "Beneran nggak ada pa aku lagi pingin ganti penampilan aja,aku juga lagi banyak kerjaan aja di kantor jadi aku mencari hiburan ke club". "Sejak kapan kamu sering datang ke tempat seperti itu setahu papa dari dulu kamu sangat menghindari tempat seperti itu kenapa kamu jadi seperti orang yang frustasi sampai tak memperdulikan keluargamu,ingat Satya kamu sudah punya anak dan istri yang cantik kurang apalagi". "Sudahlah pa dari awal aku kan sudah bilang aku sama sekali tidak mencintai Vivi sampai saat ini pun aku nggak bisa mencintai dia pa meskipun ada Kevin diantara kami.Sampai sekarang aku tetep nggak bisa cinta sama Vivi gimanapun caranya papa maksa aku. Selama ini Satya sudah menuruti apa yang papa minta menikah dengan wanita pilihan papa dan sudah memberikan cucu seperti yang papa inginkan Satya juga ingin bahagia dengan jalan Satya pa .Tolong kali ini biarkan Satya memilih jalan Satya". "Apa ini semua karena wanita itu Satya?",pak Cakra bertanya dengan nada meninggi. "Papa tahu darimana"? "Vivi sudah cerita semuanya ke papa,tapi dengan sikap kamu yang masih menghargai Vivi papa biarkan sambil menunggu perubahan kamu ternyata wanita itu bisa merubah kamu sampai seperti ini,papa memang belum pernah melihat wanita itu tapi papa pastikan jika kamu terus bersama wanita itu jangan harap kamu bisa mendapat warisan dari papa sepeser pun papa tidak akan pernah memberikannya sama kamu,ingat itu Satya"pak Cakra memperingatkan Satya kemudian berdiri dan meningglkan Satya di ruangannya. Satya hanya diam tanpa membalas dan hanya melihat pak Cakra keluar dari ruangannya. Satya tak pernah peduli dengan harta papanya toh dia juga sudah punya cukup tabungan dan usaha sendiri belum lagi anak cabang perusahaannya yang ia bangun bersama Dika itu pun tanpa sepengetahuan orang tuanya yang ada di luar kota. Keluar dari ruangan Satya pak Cakra menghubungi seseorang. "Pastikan kalian menemukan wanita itu secepatnya jangan sampai Satya tahu tentang ini",pak Cakra mengakhiri pembicaraan dan kembali berjalan meninggalkan kantor Satya. ******************* Jogjakarta Sudah seminggu berlalu sejak kepergiannya Vania memulai semuanya dari awal dia bekerja di salah satu hotel milik pak Hadi,semua karyawan baik padanya meskipun ia orang baru dan hotel pak Hadi selalu ramai pengunjung dari mulai wisatawan dalam negeri maupun asing. Hari ini Vania libur ia manfaatkan liburannya hanya untuk beristirahat di kosan.Dari mulai bangun hingga sekarang hanya bermalas malasan di atas kasur sambil mengotak atik ponsel nya. Sebenarnya dalam hati ia sangat merindukan Satya ia lihat foto2 Satya di galery ponsel. "Mas maafin aku ya,bukan maksud buat ninggalin kamu tapi aku merasa nggak sanggup liat kamu dengan wanita lain meskipun itu istri kamu",Vania menangis memandangi foto Satya di layar ponselnya. "Aku kangen banget sama kamu mas,hiks...hiks...". Jarak tak membuat Vania bisa melupakan Satya rasa rindu malah semakin besar. Satya pov Kamu kemana sayang kenapa tinggalin aku,kenapa kamu pergi tanpa kabar kayak gini Van. Aku seperti tak punya semangat lagi hari hariku terasa hampa tanpa Vania.Aku sampai tidak pedulikan anak ku Kevin yang biasanya tiap minggu aku ajak keluar jalan jalan sekarang rasanya tidak bersemangat seperti sekarang terpaksa aku mengiyakan ajakan Kevin untuk pergi ke wahana bermain.Dia bersama Vivi dan keponakannya sedang berkeliling mencoba berbagai wahana permainan sedangkan aku duduk di taman merenung sendiri. Hari hariku banyak ku habiskan di apartemen sambil mengenang saat aku bersama Vania.Penampilanku sekarang jangan ditanyakan lagi sangat berantakan kumis dan jambangku kubiarkan panjang sampai rambutku pun juga sudah lumayan panjang tapi aku tak perdulikan semua itu. Yang aku inginkan hanya Vania aku berjanji apapun yang terjadi jika aku bertemu dengan Vania tak akan kubiarkan dia pergi lagi aku akan menikahinya aku nggak peduli Vivi setuju atau tidak. ***********************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN