Nida sudah melakukan segala hal demi menarik perhatian orang orang di sekitarnya, dari mulai pada Riza, pada orang tuanya, hingga pada para siswa siswa di sekolahnya. Namun, perhatian yang ia dapatkan seolah tak pernah cukup, sebab alih alih perhatian yang di dapatkan, justru tatapan risih atau terpaksa yang kerap kali di tunjukan lawan bicaranya. Nida ingin marah dan kesal, tapi ia cukup mengapresiasi dirinya sendiri atas usahanya yang sukses menarik perhatian banyak orang. Dengan membuat huru hara, atau pun bertindak semuanya. Nida yang terkenal egois dan keras kepala, Nida yang berisik, Nida yang pemarah, dan masih banyak lagi reputasi dirinya yang di kenal banyak orang.
Tidak apa apa kan, mungkin begini caranya mendapatkan perhatian yang sejak kecil tidak ia dapatkan. Lantara semua orang seolah memiliki kesibukan masing masing, seolah hanya Nida satu satunya orang yang ditinggalkan, tanpa tahu harus melakukan apa. Nida tidak di beri tahu untuk melakukan hal hal yang benar, juga tidak di omeli saat melakukan kesalahan. Nida di biarkan begitu saja karena kesibukan sang orang tua, hingga Nida tumbuh menjadi pribadi seperti saat ini. Dengan dampak banyak yang tidak menyukainya, karena upayanya yang mencari perhatian di anggap mengganggu dan membuat orang lain tidak suka. Tapi, sudah terlanjur, Nida pun hanya meneruskan kebiasaannya.
Ia ingin melihat, siapa yang tetap tinggal karena ketulusan hatinya, dan siapa yang melenggang pergi karena tidak sanggup dengan tingkahnya. Dulu sekali, Nida merasa bersyukur dengan kehadiran Firda. Firda yang mau menemaninya dan memahami dirinya, tanpa mengeluh atau pun bersikap ketakutan karena kuasa yang dimiliki Nida. Firda berteman dengan tulus, menemani hari harinya, mengisi waktunya, berbagi cerita, canda, dan tawa. Banyak hal yang mereka lakukan bersama, seolah Nida tak membutuhkan teman lain selagi ada Firda. Nida tak banyak bertingkah aneh jika Firda terus menemaninya. Sayangnya, Firda turut meninggalkannya. Salah, Firda justru mengkhianatinya.