- 17 -

1744 Kata
Setelah berdiam diri untuk beberapa saat, Riza mulai menoleh pada Dirgan. Ditatapnya cowok itu dengan padangan yang mulai serius, tidak lagi bercanda seperti sebulmnya, berusaha menelisik sejauh apa keseriusan yang tengah dirasakan Dirgan untuk bersama Thella, yang benar benar harus dipastikannya karena tidak ingin membiarkan Thella terluka. "Lo serius sama Thella Gan?" Tanya Riza dengan mata yang menyelidik, untuk benar benar memastikan perasaan Dirgan yang memang begitu terpancar dari tatapannya, betapa cowok itu mengagumi dan menginginkan Thella. Yang mungkin saja telah ditunjukkannya secara terang terangan pada Thella, tapi cewek itu tidak menyadarinya dan menganggap Dirgan adalah sahabatnya, sama seperti Riza yang hanya berstatus sebagai temannya sepanjang masa, meski cowok itu juga memendam rasa pada Thella. "Kapan si gue maen-maen tentang urusan hati, lo bantuin gue dong. Lo kan kenal Thella dari SMP..." Pinta Dirgan dengan mata penuh harap, meminta bantuan pada Riza yang sudah berteman dengan Thella sejak masa putih biru, serta masih juga berteman hingga sekarang. Bahkan rasanya, jika ditanya siapa teman Thella yang paling akrab, sudah jelas itu adalah Riza. Tidak ada lagi teman lain yang melebihi kedekatan Thella dan Riza. Keduanya seolah tak terpisahkan sejak SMP, karena obrolan yang nyambung dan hal hal lainnya yang juga selaras. Dirgan sudah menyukai Thella sejak berada di kelas yang sama dengan cewek itu, tepatnya saat kenaikan kelas dua SMA ini. Sebelumnya, Dirgan tidak sekelas dengan Thella dan Riza, apalagi mengenal Thella. Dirgan memang mengenal Riza karena terkadang sering nongkrong bareng anak anak cowok, tapi ia jarang melihat Thella yang memang lebih sering menghabiskan waktu di dalam kelas. Sehingga selama setahun satu atap sekolah dengan Thella, cowok itu baru pertama kali melihatnya di kelas sebelas. Cewek manis dengan rambut berponi depan, yang memebuat cewek itu terlihat menggemaskan. Dengan kerpibadian yang hangat dan menebarkan aura positif bagi sekelilingnya, memiliki selera yang oke, serta tidak ikut ikutan membicarakan orang seperti cewek cewek yang ada di kelasnya ini. Dirgan sungguh mengagumi Thella, perlu perjuangan untuknya mengatur perasaannya selagi bersama Thella, agar ia tidak begitu kentara dan membuat Thella malah menjauh. Ia ingin segalanya berjalan dengan normal dan natural, begitu juga perasaannya yang nantinya atau mungkin juga sudah dirasakan Thella selama ini. Tidak pernah ada yang tau sebelum keduanya sama sama mengaku. Untuk itu lah Dirgan ingin sekali menyatakan perasaannya pada Thella. Agar ia bisa mengetahui, apakah perasaannya ini bertepuk sebelah tangan atau tidak. Namun, bagaimana pun nanti keputusan Thella, ia akan tetap menghargainya. Memang benar ia berharap agar Thella menerima perasaannya, tapi jika nyatanya Thella tidak menyukainya atau tidak menginginkan hubungan seperti itu, Dirgan juga tidak akan protes dan menghargai keputusan Thella. Riza kembali terdiam, berpikir untuk beberapa saat, mungkin kah ini sudah saatnya? Ia mengikhlaskan Dirgan untuk bisa melangkah lebih lanjut dan tidak hanya diam di tempat seperti dirinya? Menghalangi atau mengulur waktu Dirgan juga percuma, sebab dirinya yang enggan bergerak untuk menghampiri Thella, dan sudah terlalu nyaman dengan hanya menjadi sebatas sahabat. Riza terlalu takut menghancurkan segala yang pernah ada, dan menjadikan dirinya dan Thella hanya sebatas mantan yang tidak berinteraksi sama sekali. Membayangkan hal hal itu saja membuat Riza merasa ketakutan. Namun, karena dirinya yang tidak bergerak, bukan berarti Dirgan tidak boleh bergerak, bukan? Dirgan berbeda dengan dirinya, cowok itu siap mengambil risiko apa pun yang menanti di depan sana, tidak seperti Riza yang hanya dilanda ketakutan dan kekhawatiran. Dirgan tidak berhak menanggung ketidak beraniannya itu. Maka dari itu, Riza tidak bisa menahannya lagi terus menerus. Ia akan mencoba untuk menguatkan hatinya, dan membanti Dirgan untuk menjalankan rencananya untuk menyatakan perasaannya pada Thella. Di mana Riza menjadi bagian dalam rencana tersebut untuk menyatukan dua manusia itu. "Kalo lo serius pulang sekolah lo ke taman deket rumah gue aja, gue bakal bantu lo ko bro.." Ucap Riza sambil menepuk pundak Dirgan, berusaha meyakinkan cowok itu bahwa kali ini ia akan benar benar membantunya dalam melancarkan aksinya itu. Untuk pertama kalinya, Dirgan mendapatkan lampu hijau dari Riza yang merupakan sahabat Thella, juga sahabat dirinya tentunya. Akhirnya Riza mau membantunya, ia pikir selama ini Riza tidak niat untuk membantunya mendapatkan Thella. Tapi kali ini, dilihatnya kesungguhan dari sosok Riza yang ingin membantunya dengan tulus dan prosesi sakral tersebut. Dirgan akan menyatakan perasaannya pada Thella, setelah sekian lama, dengan bantuan Riza. "Beneran Za? Lo emang bener-bener best friend gue dah." Kata Dirgan seraya menepuk pundak Riza yang duduk di sebelahnya itu. Wajahnya begitu sumringah saat mendengar akhirnya Riza mau membantunya setelah sekian lama. Ia dapat melihat, betapa Riza mengkhawatirkan Thella dan sulit percaya dengan beberapa orang yang ingin mendekati cewek itu. Dirgan tidak masuk ke dalam pengecualian, tapi sekian lama cowok itu menunggu dan berusaha menunjukan pada Riza, akhirnya Riza mau juga membantunya untuk melancarkan upaya pernyataan cintanya pada Thella. Riza hanya membalasnya sambil tersenyum pelan ke arah Dirgan, tapi di dalam hatinya, cowok itu tengah berkecamuk. Wajah Dirgan yang begitu sumringah pasti sedang bahagia, karena membayangkan akan menyatakan perasaannya pada sang pujaan hati. Yang mana cewek tersebut juga pujaan hatinya, tapi Riza tidak seberani Dirgan yang mampu menyatakan perasaannya tanpa banyak pertimbangan. Sedangkan Riza, ingin melangkah pun harus memikirkan ini dan itu, dan masih banyak pertimbangan lainnya yang sangat sulit untuknya menggerakkan kaki dan berlari ke arah Thella. Riza hanya mampu diam di tempat, menyaksikan Dirgan yang lebih berani terhadap perasaannya sendiri. Kalo perasaan ini bisa membuat hancur persahabat gue sama Dirgan, gue bakal buang jauh-jauh perasaan gue ke lo Thel. Batin Riza saat melihat wajah Dirgan yang terus terusan berseri sepanjang sisa waktu bel masuk kelas ini. Sementara Thella masih juga belum datang, Riza melirik jam di dalam ponselnya, serta mengecek pesan masuk, siapa tahu Thella menghubunginya. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Tak lama kemudian, cewek yang sejak tadi mereka bicarakan tampak melintas dari jendela di samping kelas, yang selalu bisa menunjukan siapa pun yang melintas. Thella terlihat berjalan terburu buru karena merasa sudah cukup terlambat dari jam biasanya cewek itu berangkat ke sekolah, meski menurut Riza, Thella masih belum terlambat karena bel masuk belum berbunyi. Tapi untuk ukuran Thella yang memang sangat rajin, jam segini tentu saja masuk ke dalam kategori sangat terlambat sehingga cewek itu tampak panik dan buru buru berjalan menuju pintu kelas untuk memasuki kelas. "Asalamu ' alaikum." Teriak Thella dari pintu kelas, sambil tersenyum manis lalu berjalan menghampiri Dirgan dan Riza. Tepatnya ke tempat duduknya sendiri yang memang berada di depan tempat duduk Dirgan dan Riza. Cewek itu segera meletakkan tas gembloknya ke bangku, lalu menoleh ke arah dua temannya yang tampak sedang akur lantaran habis menyalin pekerjaan rumah bersama sama. Thella tersenyum lebar melihat keduanya yang sudah datang, tentu saja bukan karena mereka yang datang kepagian, tapi karena memang Thella yang terlambat datang karena terjadi beberapa insiden di jalanan tadi. Angkot yang ditumpanginya tiba-tiba mogok, katanya hanya mati mesin biasa, sehingga para penumpang tidak di perbolehkan berpindah ke angkot lain. Namun, sekitar sepuluh menit para penumpang menunggu, angkot tersebut tak kunjung bisa nyala kembali mesinnya, membuat para penumpang yang ada di dalam – yang di d******i oleh pelajar dan karyawan yang mengejar jam masuk kerja atau pun sekolah – seketika memprotes keras dan memaksa untuk turun dan berpindah ke angkot lain. Thella pun mengikuti banyak penumpang yang memilih turun lantaran tidak mau telat masuk sekolah. Namun, naasnya angkot dengan tujuan yang sama, melintas dengan sangat lama. Sehingga Thella perlu menunggu sekitar sepuluh menit lagi untuk bisa naik ke angkot jurusan sekolahnya. Alhasil, waktu tiba Thella di sekolah menjadi lebih lama dari biasanya. Biasanya Thella datang ke sekolah setengah jam sebelum bel berbunyi, kali ini hanya tersisa beberapa menit sebelum bel berbunyi, saat Thella tadi melirik jam dinding di kelasnya. "Wa ' alaikumsalam teteh Thella." Jawab Dirgan dan Riza kompak, menjawab salam Thella sebelumnya yang hanya di jawab oleh mereka berdua. Anak anak kelas yang lainnya tampak tidak terlalu peduli dan memilih untuk menyalin pekerjaan rumah mereka yang masih belum selesai, atau sibuk dengan aktivitas lainnya sehingga tidak memedulikan adanya siswa lain yang baru datang ke kelas. Mungkin satu satunya yang nanti mereka pedulikan hanyalah suara bel masuk yang akan berbunyi beberapa saat lagi, yang akan membuat mereka berlarian ke bangku masing masing dan terduduk rapi, tidak seperti saat ini yang tersebar ke mana mana karena perlu menyalin PR. "Hahaha, teteh Thella? ada-ada aja lo berdua!" Thella merespon ucapan Dirgan dan Riza barusan, yang memanggilnya dengan sebutan teteh Thella. Sebutan yang kerap kali mereka ucapkan untuk meledek Thella. Padahal, meski memiliki keturunan sunda, Thella sendiri tidak pernah dipanggil Teteh oleh Firda atau siapa pun. Tapi biarkanlah dua orang temannya itu berkreasi semau mereka, dengan membuat panggilan yang mereka inginkan saat menyebut nama Thella. "Biarin, gak dosa ini kan?" ucap Riza tanpa menatap Thella, cowok itu kini tampak sibuk memainkan ponselnya, entah apa yang tengah di tampilkan layar ponsel tersebut sehingga Riza tampak begitu fokus dan terlarut dan dunianya sendiri, hingga enggan untuk menatap Thella yang kini sudah menduduki bangku yang berada tepat di depan Riza. Thella sendiri kini sudah menoleh ke belakang, untuk melihat pada Dirgan dan Riza yang tadi sendang mengobrol. Mendapati jawaban Riza tadi, maka Thella pun menjawab. "Ya serah lah." Kata Thella dengan malas, tapi masih tetap menghadap ke belakang, melihat kegiatan dua temannya itu yang bisa ia tebak baru saja selesai menyalin PR. Terlihat dari buku tugas mereka berdua yang masih berada di atas meja, karena biasanya mereka berdua baru akan mengeluarkan buku tugas jika sudah di suruh guru. Namun untuk poin poin tertentu seperti ada tugas seperti pagi ini, buka tugas tersebut sudah rajin dan hadir di atas meja mereka. “Udah kelar ngerjain pr nya?” tanya Thella untuk memastikan, sebab jika tidak, tentu saja Thella akan memberikan buku tugasnya kepada mereka agar mereka bisa menyalin tugas milik Thella. Thella tidak terlalu perhitungan tentang tugas yang sudah ia kerjakan, untuk bisa dibagi dengan kedua temannya itu. Toh mereka berdua tidak meminta tugas Thella dengan memaksa, atau mendekati Thella hanya untuk menyalin tugas,. Mereka berdua benar benar teman yang bermain dengan Thella, untuk itu lah Thella tidak merasa dirugikan apabila memberikan hasil tugasnya pada mereka. Sebab, di luar tugas, mereka juga amat sangat baik pada Thella dan adiknya, yaitu Firda. Oleh karena itu Thella tidak perhitungan dengan mereka berdua. “Udah dong, lo kelamaan datengnya, Thel.” Dirgan menyahut dengan nada santai, sambil memamerkan buku tugasnya yang sudah ia lengkapi dengan jawaban yang ia lihat dari temannya yang berada di belakang bangku mereka. Thella hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu beralih pada Riza. “Lo juga udah kelar, Za?” tanya Thella pada Riza, yang masih begitu fokus dengan ponselnya hingga tidak terlalu mengikuti obrolan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN