- 40 -

2665 Kata
Pukul tiga sore, yang mana sudah waktu pulang sekolah. Para siswa siswi berhamburan keluar dari kelasnya untuk menuju keluar gerbang, yang mana bermacam macam angkutan sudah menjadi alternatif mereka untuk pulang ke rumah. Dari mulai kendaraan pribadi yang di parkir di parkiran sekolah, jemputan dari orang tua atau pacar atau gebetan atau tukang ojek langganan, angkot yang sudah berjajar rapi di depan sekolah, atau pun mode transportasi umum masal seperti trans jakarta yang ada di depan jalan. Bermacam macam transportasi tersebut membuat area gerbang di SMA tersebut tampak selalu ramai oleh kepadatan siswa dan kendaraan kendaraan lainnya. Thella keluar dari toilet wanita di lantai satu, lalu merapikan roknya sebentar. Ia memperhatikan kanan kirinya yang sudah ramai oleh para siswa berjalan ke satu arah – tentu saja ke gerbang sekolah – untuk pulang. Hari ini ia pulang bersama Dirgan, tadi ia meminta izin terlebih dahulu pada Dirgan untuk ke toilet sebentar. Dirgan mengatakan akan menunggu di parkiran. Thella yang menyetujuinya membuat cowok itu segera pergi ke parkiran hingga dirinya kini menjadi sendirian. Hal tersebut membuat Thella melangkah menyusuri koridor seorang diri. Thella berjalan menuju parkiran motor, yang berada di dekat gerbang. Sambil berjalan, ia beberapa kali berpapasan dengan siswa lain yang mengenalnya, membuat Thella turut tersenyum sebagai bentuk sapaan terhadap mereka. Meski tidak terlalu akrab dengan siswa lainnya, setidaknya Thella tetap menjalin relasi dengan mereka semua, demi menjaga hubungan baiknya di masa SMA ini. Terlebih Thella juga tidak memiliki masalah apa pun dengan siswa lainnya, ia tidak terlalu akrab dengan mereka ya hanya karena kepribadiannya saja yang agak sulit untuk berbaur dengan teman teman lainnya itu. Untuk masaah Dirgan pun, karena Riza yang awalnya akrab dengan Dirgan membuatnya ikut bermain dengan Dirgan, yang malah kini membuatnya menjadi kekasih Dirgan. Sesampainya di lobby sekolahnya, yang mana sudah dekat menuju parkiran, ponsel Thella bergetar menandakan ada pesan masuk. Gadis itu segera merogoh saku seragam sekolahnya untuk melihat pesan masuk tersebut, lalu membuka ponselnya dan mengecek notifikasi yang berbunyi tadi. Ada satu pesan dari kontak yang ia beri nama Rocky (Temen Firda) yang mana merupakan teman dari adiknya yang kerap kali bermain ke rumah, malah Thella berpikir teman Firda sepertinya hanya itu saja, sebab ia tak pernah melihat yang lainnya. Baiklah, Thella berkata seperti ini seolah temannya banyak saja, teman Thella kan juga tergolong itu itu saja, Thella berdecak sendiri saat mengingatnya. Ia memang agak tidak sadar diri untuk perkara ini. Thella membaca pesan masuk tersebut, hingga membuat matanya membola untuk beberapa saat saking terkejutnya dengan isi pesan tersebut, yang mengatakan bahwa penyakit Firda kembali kambuh. Seketika Thella menjadi panik, karena khawatir dengan kondisi adiknya yang memang belum pulih itu. Ia kembali merutuki keadaan keluarganya, jika saja ia terlahir dari keluarga dengan ekonomi yang mumpuni, mungkin Firda tidak akan sakit sampai selama ini. Atau setidaknya Firda bisa melakukan belajar home schoolling sehingga bisa belajar di rumah dan tidak perlu kelelahan belajar di sekolah, tapi sayangnya ekonomi keluarganya tidak sebaik itu sehingga Firda harus kelelahan terus menerus karena harus berangkat dan pulang sekolah serta mengikuti serentetan aktivitas di sana. From: Rocky (Temen Firda) Kak Thella, Firda sakit lagi nihh, dari jam pelajaran pertama gak ikut masuk kelas. Tapi sekarang udah ada di rumah, tadi aku ijin buat anter Firda pulang. Jadi sekarang Firda udah ada di rumah dan istirahat Keadaan Firda sekarang udah baik baik aja, Ka Thella gak perlu khawatir. Aku masih di rumah Firda buat jagain Firda ya. Thella mengembuskan napas lega saat membaca pesan dari Rocky yang mengatakan bahwa kondisi Firda sudah lebih baik. Ternyata Firda sudah pulang ke rumah untuk beristirahat, tidak memaksakan diri untuk tetap melanjutkan kegiatan di sekolahnya yang sampai siang hari. Sebab terkadang adiknya juga suka badung karena merasa kuat, dan tidak ingin terlihat lemah. Thella sampai suka mengomeli Firda terkait hal itu, jika Firda badung terus seperti itu kondisinya malah bisa semakin memburuk. Ia juga ingin Firda bisa segera membaik, bukan semata karena Thella tidak mau di repotkan, tapi karena Thella juga ingin Firda bisa menikmati masa masa remaja seperti anak lainnya yang bisa berlarian ke sana ke mari, atau bermain saat jam pulang sekolah, jalan jalan ke mall, nongkrong di kafe, mengerjakan tugas kelompok, dan masih banyak lagi kegiatan yang biasanya dinikmati oleh remaja seusia Firda yang sedang dalam proses pertumbuhan. Setidaknya ia juga bisa tenang ada Rocky di rumahnya, membuat Firda tidak sendirian karena Rocky bisa membantu adiknya itu dalam memenuhi kebutuhannya di rumah. Ia menjadi tidak terlalu buru buru untuk segera pulang ke rumah, tadi ia nyaris berlari saat mendengar kondisi Firda yang memburuk, dan menerjang apa pun untuk melihat keadaan adiknya. Tapi saat ini perasaannya sudah sedikit lega, mungkin Firda hanya kelelahan sehingga kondisi imunnya menurun dan menyebabkan Firda sampai kambuh lagi penyakitnya. Padahal Firda pasti hanya ingin seperti siswa pada umumnya yang bisa menikmati masa masa remajanya, ingin sekali rasanya Thella bertukar posisi dengan Firda meski hanya sehari, agar Firda bisa menikmati hidupnya. "Syukur deh kalo Firda gak kenapa napa. Semoga baik baik aja ya,” gumam Thella seraya kembali melanjutkan jalannya menuju parkiran, untuk menghampiri Dirgan yang sudah menunggunya sejak tadi di sana. Cewek itu bergegas kembali, memasukan ponselnya ke dalam saku seragamnya, lalu berjalan buru buru menuju parkiran yang tepat berada di sebelah lobby ini. Namun, baru juga beberapa langkah Thella kembali berjalan, terdengar suara seseorang yang memanggilnya. “Thella!” panggil suara tersebut, membuat Thella seketika menoleh ke asal suara, lalu mendapati seorang lelaki paruh baya yang merupakan gurunya, tampak berjalan dengan tergesa menghampirinya. Thella yang merasa di panggil pun, buru buru menghampiri guru tersebut karena tidak enak melihat guru tersebut berjalan terburu buru hanya untuk mengejarnya. Maka Thella pun berjalan menghampiri guru tersebut, sebelu guru itu berhasil mencapai tempatnya. “Kenapa, Pak?” tanya Thella yang kini sudah berdiri di hadapan guru tersebut, dengan suara yang ramah dan penuh sopan santun, serta menunduk untuk menghormati guru yang lebih tua darinya itu. Guru yang berusia sekitar di atas lima puluh tahun itu tampak membenarkan kaca matanya sejenak, lalu ia merapikan buku buku yang sedang di pegangnya. Thella berusaha ingin membantu, tapi guru tersebut seolah memberikan gestur agar tidak perlu, sebab ia bisa mengatasinya sendiri. Setelah beberapa saat guru tersebut sibuk berkutat dengan buku tugas dan kertas kertas yang Thella perkirakan merupakan kertas ulangan dari salah satu kelas, akhirnya sang guru pun kembali memfokuskan dirinya pada Thella yang tampak menunggu instruksi sang guru. "Thella, bisa kamu ikut bapak?" tanya guru tersebut, setelah aktivitasnya selesai dan buku buku yang di pegangnya sudah rapi. Thella benar benar tak nyaman melihatnya, ia ingin membantu tapi guru itu menolaknya. Alhasil ia hanya dapat melihat kerepotan guru itu seorang diri. Mendengar ucapan guru tersebut, Thella pun terkesiap dan segera mengangkat kepalanya untuk memperhatikan guru tersebut yang sedang berbicara dengannya itu. "Kemana, Pak? Ada yang perlu saya bantu?" tanya Thella sopan, diiringi senyuman tipisnya seraya menunjukan wajahnya yang ramah dan sama sekali tidak terbebani dengan permintaan gurunya. Cewek itu minggir sejenak saat ada siswa lain yang hendak melintas, membuatnya tersadar bahwa posisi berdirinya ini menghalangi jalan siswa lain yang melintas. Untuk itu Thella berpindah ke pinggir koridor, membuat guru yang tengah berbicara dengannya itu mengikuti posisinya. "Saya mau minta bantuan kamu, tadi kan Riza di suruh bu Elis untuk mengetik data tapi Riza nya lagi bapak pinjem dulu buat latihan basket, kan Riza jago basket jadi saya suruh buat contoh anak kelas 1." jelas guru itu, yang merupakan penanggung jawab senior untuk ekstra kulilkuler basket, meski sudah tua dan tidak bisa melatih lagi, tapi guru itu tetap mengorganisir ekskul tersebut karena sudah terbiasa dan senang dengan olahraga basket. Padahal guru itu sendiri mengajar mata pelajaran matematika, tapi tetap saja ia menyukai dalam membimbing ekskul basket itu karena sudah menyukainya sejak dahulu. Dan guru itu memang cukup akrab dengan Riza sehingga meminta Riza untuk memberikan contoh bermain basket pada anak anak baru yang memasuki ekskul tersbut, yang biasanya masih belum bisa bermain basket dengan baik dan benar. Thella jelas tidak mungkin menolaknya, karena itu lah cewek itu mengangguk sopan, lalu mengikuti guru tersebut yang sudah berjalan untuk menuntunnya menuju meja Bu Elis yang ada di ruang guru. Thella mengikuti langkah guru tersebut yang berjalan dengan pelan, berusaha untuk mengikuti langkahnya dan tidak mendahuluinya. Sambil berjalan mengikuti gurunya itu, Thella kembali mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya, untuk mengetikkan pesan pada Dirgan yang sudah menunggunya terlalu lama, agar pulang duluan saja dan tidak usah menunggunya karena ia akan pulang terlambar untuk keperluan ini. Thella juga menjelaskan bahwa dirinya di suruh membantu Bu Elis, serta tidak tahu akan memakan waktu berapa lama. Ia khawatir jika Dirgan menunggunya terlalu lama, sehingga Thella meminta cowok itu untuk pulang duluan saja dan dirinya nanti bisa pulang naik kendaraan umum. To : Dirgan Gan, kamu pulang duluan aja ya. Maaf lama, ini Pak Wawan minta aku buat gantiin Riza bantuin Bu Elis, tadi pas aku lagi mau jalan ke parkiran dia manggil aku. Sekarang aku mau ke meja Bu Elis. Maaf Ya, Gan Ps : Gak usah nungguin, ini gak tau kelar kapan. Aku gak papa kok nanti pulang sendiri. Hati hati ya. Begitu lah isi pesan yang di kirimkan Thella pada Dirgam selagi cewek itu berjalan menuju ruang guru untuk menghampiri meja Bu Elis, tak lama setelahnya muncul balasan pesan dari Dirgan, yang segera di buka cewek itu karena ia masih belum sampai ke ruang guru. Ruang guru berada di lantai tiga, sedang dirinya saat ini baru sampai di lantai dua, sehingga ia masih terus melangkah mengikuti guru tadi untuk sampai ke ruang guru dan menemui Bu Elis. Maka Thella pun kembali membuka ponselnya lagi untuk melihat balasan pesan dari Dirgan yang baru masuk itu, sambil matanya berusaha untuk tetap fokus memperhatikan jalan agar tidak menabrak atau pun terjatuh dari tangga. Hingga membuat fokusnya terbagi menjadi dua, ke jalan serta ke ponselnya, bergantian secara terus menerus demi bisa melakukan dua aktivitas sekaligus. From Dirgan : Oke Sayang. Aku pulang duluan ya. Nanti pulangnya hati hati, kalo mau di jemput info aja Thella tidak tersenyum sama sekali, bahkan ketika Dirgan menyapanya sayang. Mengapa rasanya menjadi seperti ini sih. Ini kan keputusannya, harusnya ia menikmati hubungannya dengan Dirgan ini. Padahal ia sudah mencoba menikmatinya, tapi rasanya aneh sekali. Untuk itu Thella hanya menjalani kewajiban atau hal hal yang biasanya dilakukan orang pacaran saja, seperti pulang bareng, jalan bareng, ke kantin bareng, memasang senyum sampai bibirnya kering. Atau apa pun lah agar setidaknya Dirgan tidak merasa aneh dengan sikapnya yang datar atau masih memperlakukannya seperti temannya sendiri sebab status mereka kini sudah sepasang kekasih, bukan lagi berteman seperti sebelumnya. Thella pun memasuki ruangan bu Elis, bu Elis menyuruh Thella menggantikan tugas nya Riza. Cewek itu melangkah untuk mendekat ke meja tempat Bu Elis duduk, yang mana terdapat banyak buku buku tugas dari para murid yang sedang di kumpulkan untuk di nilai. Pak Wawan masih berjalan di depannya, dengan Thella yang terus mengekori guru itu. Hingga akhirnya mereka sampai di samping meja Bu Elis, Pak Wawan tampak terlebih dahulu angkat suara untuk menjelaskan kepada Bu Elis perihal Riza yang seharusnya mengerjakan tugas ini, tapi malah menukarnya dengan Thella. “Selamat siang Bu Elis.” Sapa Pak Wawan dengan sopan pada guru wanita yang memakai kaca mata itu, suaranya terdengar rendah tapi menggelegar, khas suara Pak Wawan memang. Mendengar namanya di sebut, Bu Elis yang tengah meneliti tugas dari buku tugas muridnya pun mengangkat kepalanya untuk melihat ke asal suara yang tadi memanggil namanya. Guru wanita itu membenarkan sedikit kaca matanya untuk memperjelas penglihtannya at sudah buram. Lalu tersenyum pelan untuk menanggapi sapaan dari Pak Wawan itu. “Iya, Pak? Ada apa?” Tanya Bu Elis ramah, seraya meninggalkan pekerjaannya untuk memeriksa buku tugas dari muridnya untuk memfokuskan perhatiannya pada Pak Wawan yang sudah berdiri di sebelah mejanya. “Ini, Bu. Saya pinjam Riza dulu buat ngasih contoh permainan basket ke anak anak baru, tadi Riza bilang dia dikasih tugas sama Bu Elis buat ngerjain sesuatu. Jadi saya bawa Thella buat menggantikan tugas Riza, maaf yaa Bu. Soalnya anak anak lain udah pada pulang, tinggal ada Riza doang.” Jelas Pak Wawan pada Bu Elis seraya menjelaskan kronologi kejadiannya terkait Riza yang harus dipinjam itu, tapi dengan inisiatif tinggi Pak Wawan segera mencarikan pengganti untuk mengerjakan tugas Riza dari Bu Elis dengan membawa Thella. Bu Elis mengamati Thella untuk beberapa saat, berusaha mengingat sosok murid yang dibawa Pak Wawan itu. Bu Elis cukup mengenal murid muridnya, hanya saja karena terlalu banyak terkadang ia lupa, jadi ia perlu mengingat untuk beberapa saat terlebih dahulu sebelum akhirnya Bu Elis mengingat sosok Thella. “Oh Thella!” Kata Bu Elis yang baru mengingat sosok yang di bawa oleh Pak Wawan itu. Mendengar namanya di sebut, Thella tersenyum pada Bu Elis. “Iya, Bu.” Kata Thella seraya menyambut ucapan Bu Elis sambil mengangguk pelan. “Oke, Pak. Makasih ya.” Kata Bu Elis yang mulai mengalihkan perhatiannya pada Pak Wawan lagi untuk mengucapakan terima kasih karena telah mencari pengganti Riza untuk mengerjakan tugas yang diberikannya pada cowok itu. Pak Wawan pun mengangguk, lalu segera pamit undur diri dari sana, seraya melangkah meninggalkan area meja Bu Elis untuk ke mejanya sendiri, dan menaruh buku buku yang tadi di bawanya. Guru tersebut pun berjalan menjauh dan meninggalkan Thella untuk bersama Bu Elis sesuai dengan tujuan awalnya. “Sebentar ya, Thella.” Kata Bu Elis seraya mencari berkas yang perlu diberikannya pada Thella agar dikerjakan cewek itu. Guru tersebut tampak berusaha mencari cari file yang seingatnya ia letakan di meja itu. Dengan mengangkat beberapa buku yang ada di sana, Bu Elis tampak sibuk untuk terus mencari file nya. Thella yang memperhatikan hal tersebut menjadi tidak enak, melihat gurunya kerepotan sementara dirinya hanya berdiri saja di tempat. Tapi ingin membantu pun Thella tidak tahu harus membantu apa karena bingung juga apa yang akan di tugaskan pada dirinya. “Iya Bu.” Akhirnya Thella hanya menyahuti ucapan Bu Elis yang tadi mengatakan sebentar padanya, seraya tetap berdiri di samping meja guru tersebut sampai Bu Elis menemukan apa yang di carinya untuk diberikan kepada Thella. Beberapa menit kemudian, akhirnya Bu Elis menemukan apa yang ia cari. Tampak beberapa lembar kertas di pegangnya, lalu ia periksa terlebih dahulu sebelum memberikannya pada Thella untuk di kerjakan. Kertas kertas berisikan angket dari penelitian yang sedang di kerjakan Bu Elis, yang mana ia meminta bantuan awalnya pada Riza untuk mengolah data tersebut ke dalam lembar kerja di komputer. “Ini sisanya, tapi masih ada lagi yang udah ada di Riza, nanti kamu minta aja dan ambil semuanya.” Jelas Bu Elis pada Thella sambil menunjukan tentang kertas kertas yang tadi di terima Thella, yang mana merupakan berkas yang tersisa setelah sebelumnya ia berikan pada Riza yang juga belum selesai di kerjakan. “Oke, Bu.” Thella mengangguk seraya menunjukan bahwa ia memahami ucapan Bu Elis. Ia pun meneliti terlebih dahulu perihal berkas berkas yang tadi di berikan Bu Elis. Lalu guru tersebut pun menjelaskan pada Thella perihal tata cara pengisian yang harus di lakukan Thella pada lembar kerja yang sudah ia berikan pada Riza untuk Thella lanjutkan. Di jelaskannya secara menyeluruh terkait transkip data tersebut sampai Thella benar benar memahaminya. Bu Elis memang terkenal begitu detail dalam menjelaskan setiap hal dengan harapan sang murid yang di jelaskan itu sudah memahami seluruhnya tentang apa yang ia jelaskan, untuk itu lah Bu Elis pun melakukan hal yang sama pada Thella untuk menjelaskan pekerjaan yang di berikannya pada gadis itu. Setelah menjelaskan seluruhnya dan Thella mengangguk paham, sampai Bu Elis memastikannya dengan mengetes Thella untuk memastikan bawa gadis itu sudah sepenuhnya paham dengan apa yang di ucapkannya, akhirnya Bu Elis merasa tenang untuk memberikan berkas berkas tersebut pada Thella tanpa harus khawatir Thella melakukan kesalahan fatal untuk penelitiannya. "Thella, mending kamu minjem flashdisk Riza, karna tadi Riza sudah separo deh ngerjainnya." Kata Bu elis akhirnya saat teringat bahwa Riza sudah melakukan pengisian terlebih dahulu dan Thella hanya perlu melanjutkannya. Sebab akan membuang waktu sekali jika Thella mengulangnya dari awal, sementara Sudah ada yang di kerjakan separuh oleh Riza mengingat tugas ini awalnya di berikan Bu Elis untuk Riza beberapa hari yang lalu saat cowok itu di panggil untuk menemuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN