- 23 -

1406 Kata
“Kalo lo gak maju, berarti lo ya harus ikhlas, Kak. Yaudah, semangat deh! Semoga bisa ketemu jalan terbiak ya sama kak crush itu.” Nida berdiri untuk beranjak dari posisinya, lalu menepuk pelan bahu Riza seolah memberikan semangat pada kakaknya itu, memeberikan bentuk dukungan agar Riza tidak merasa merana seorang diri. Setidaknya Nida berusaha untuk memberikan masukan dan saran meski pada akhirnya membuat Riza semakin bingung akan pilihan yang ia ambil kelak. Benar kata Nida, yang bisa dilakukannya hanya salah satu dari dua hal tersebutl. Maju atau ikhlas. Memikirkan hal itu membuat Riza kembali tersenyum masam, hal yang paling mungkin ia pilih tentu saja hanya ikhlas. Riza terlalu tidak siap untuk maju dan kehilangan segala yang ia miliki saat ini. Persahabatannya dengan Thella, atau juga persahabatannya dengan Dirgan. Semuanya akan hancur, serta belum tentu juga Thella menyukainya kembali kan? Apalagi, jika dibandingkan Dirgan, cowok itu jelas lebih baik secara fisik di bandingkan Riza. Banyak cewek yang menyukai Dirgan sebelumnya, bahkan saat MOS saja, Dirgan mendapatkan banyak coklat dari anak baru di kelas sepuluh karena terkenal ganteng dan ramah. Sayangnya, Dirgan justru malah menyukai Thella alih alih dengan segudang wantia yang menyukainya itu. Memang pilihan yang tersisa adalah Riza harus ikhlas. Karena maju di rasa terlalu tidak mungkin untuk Riza jalani karena ia terlalu takut dengan segala resiko yang ada, tapi rasanya ikhlas tidak mungkin semudah itu, pasti Riza akan terus nelangsa hingga beberapa bulan ke depan jika Dirgan dan Thella benar benar jadian lalu dirinya hanya akan menonton mereka memadu kasih yang akan membuat matanya terasa begitu panas menyaksikan hal tersebut. Mungkin sejak saat ini, Riza harus bersiap untuk mengisi amunisi kesabaran dalam menghadapi segala macam yang akan terjadi nantinya, perihal hubungan Dirgan dengan Thella kelak. Merasa bosan menonton acara televisi yang tidak begitu dipahaminya karena dirinya tidak fokus, akhirnya Riza bergerak untuk berdiri lalu berjalan menuju kamarnya. Mungkin sisa seharian ini akan ia gunakan untuk mengurung diri di kamarnya, bersembunyi di balik selimut tebalnya, lalu meratapi nasibnya yang menyedihkan serta jalannya yang berujung pada kebuntuan karena tidak dapat melakukan apa pun. Atau lebih tepatnya, Riza yang tidak bernai untuk mengambil langkah yang lebih pasti, dan memilih untuk berada di jalan yang menurutnya aman tapi malah membuat perasaannya menjadi resah dan serba salah seperti saat ini. Riza hanya bisa merasa kesal dengan serangkaian hal yang dilakukan oleh orang lain, karena dirinya yang tidak mampu melakukan hal tersebut. Terdengar suara ponselnya yang berdering berkali kali, menandakan ada pesan atau panggilan masuk ke dalam ponselnya. Namun, Riza tidak memedulikan hal tersebut sama sekali, dan membiarkan benda itu terus terusan menjeritkan ringtone tanpa merasa lelah, entah siapa yang menelpon Riza juga tidak terlalu peduli. Tidak ada panggilan yang penting di usianya seperti ini, toh Riza tidak akan kehilangan apa pun karena memang belum memiliki apa apa. Jadi, sepenting apa pun panggilan tersebut, tidak akan mempengaruhi banyak kehidupannya. Maka, untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih baik, Riza memutuskan untuk sejenak tidak peduli terhadap kegiatan apa pun yang ada di ponselnya itu. *** Hari yang di tunggu tunggu Thella selama seminggu ini akhirnya tiba, yaitu hari sabtu yang merupakan hari janjiannya denga Riza untuk pergi ke taman sewaktu mereka SMP itu. Sepanjang sisa hari di minggu ini, seolah tidak ada yang Thella pedulikan selain menanti hari sabtu tiba, yang begitu ia tunggu tunggu sambil berharap cemas dengan apa yang akan terjadi hari ini, tentang seseorang yang dikatakan Riza ingin mengatakan sesuatu. Siapa lagi memangnya yang ingin mengatakan sesuatu di taman ini selain Riza yang mengetahui perihal tempat ini? Jelas tidak ada lagi, tentu saja. Sudah pasti kan Riza ingin menyatakan perasaan terhadapnya. Thella sudah rapi dengan pakaian santainya di akhir pekan, menggunakan pakaian kasual, yaitu kaos putih polos dengan celana jins berwarna abu abu belel, yang terlihat cocok di tubuhnya yang tampak ideal. Ia mengucir rambutnya, membuat wajahnya terlihat tampak segar karena tidak tertutup oleh rambut. Lalu tak lupa Thella menggunaka sepatu ketsnya, membuat penampilannya tampak menarik tapi tetap terkesan santai. Untuk tas, cewek itu membawa sling bag yang kerap kali dibawanya saat bermain di akhir pekan atau bepergian, karena cukup untuk membawa ponsel dan uang secukupnya, yang merupakan benda penting yang harus di bawa Thella ke mana mana. Saat ini, Thella tengah menunggu Riza untuk menjemputnya. Cewek itu berdiri di depan rumahnya agar saat Riza datang, bisa langsung pergi dan Riza tidak perlu untuk menunggunya lagi berlama lama. Sesuai dengan ucapan Riza, cowok itu akan menjemputnya pukul tiga sore, sedangkan saat ini masih pukul setengah tiga, tapi Thella tampak sudah menunggu dengan semangat di depan rumahnya. Sambil sesekali menyapa beberapa warga yang melintas, yang tengah melakukan aktivitas sehari hari, dari yang mengurus anak anaknya, atau menjaga warung, atau habis membeli sesuatu dari depan jalan hingga melintasi tempat ini, serta berbagai aktivitas lainnya yang di lakukan oleh para warga di sekitar sini. “Kak Riza belum dateng, Kak?” tanya Firda yang kini berjalan ke luar rumah dan menemukan kakaknya masih menunggu jemputan, yaitu Riza yang akan menjemputnya hari itu. Thella menggeleng. “Lagi di jalan katanya, paling bentar lagi. Riza juga bilangnya jam tiga sih, kayaknya kakak aja deh yang kecepetan.” Jawab Thella berusaha menghibur dirinya yang mulai bosan menunggu kedatangan Riza, tapi memang bukan salah Riza juga sih, kan sekarang belum jam tiga, tapi Thella sudah menunggu sejak tadi karena terlalu bersemangat. Riza sama sekali belum telat, malah cowok itu sudah berada di jalan yang berarti Riza akan sampai ke tempatnya tepat waktu. “Duh, yang gak sabaran yaa. Masih lama udah semangat aja nunggu, biasanya nunggu malah marah marah.” Firda masih berusaha untuk menggoda Thella yang memang sudah keluar rumah sejak tadi, meski waktu janjian yang telah ditetapkan masih lumayan lama, tapi Thella merasa tidak apa apa menunggu di luar karena tidak mau membuang waktu apa bila Riza sudah sampai di rumahnya. Maka dari itu, Thella lebih memilih untuk menunggu di depan saja, toh tidak ada ruginya juga kan menunggu lebih dahulu, dari pada Thella nanti malah membuat telat karena belum bersiap siap. “Kapan sih kakak marah marah, kakak kan anaknya sabar banget.” Thella nyengir untuk membalas godaan Firda barusan, dengan balasan yang juga turut meladeni godaan adiknya itu. Di lihatnya Firda yang tampak akan berjalan ke luar, untuk membeli sesuatu karena membawa uang yang terlihat jelas di tangannya. Pasalnya, Firda memang jarang keluar jika tidak untuk memenuhi kebutuhannya. “Kamu mau ke mana, Dek?” tanya Thella untuk mengetahui tujuan Firda tersebut. “Beli cilok di depan, tadi ada suara tukang cilok lewat. Kakak denger gak?” tanya Firda yang fokusnya teralihkan karena suara dari gerobak cilok yang melintas, yang membuatnya menggugah selera hingga ingin untuk membeli jajanan tersebut. Thella tersenyum geli mendengar Firda yang mudah sekali tergoda hanya karena mendengar music dari pengeras suara khas dari tukang cilok yang sering melintas di kawasannya. Bahkan tukang tahu bulat pun yang suaranya sangat iconic, membuat Firda langsung berlari keluar untuk mencari keberadaan tukang tahu bulat tersebut. “Di depan, sana gih nanti keburu pergi.” Thella menunjuk ke depan jalan yang tadi ia lihat ada tukang cilok yang dicari Firda itu melintasi Kawasan mereka, yang segera digandrungi masyarakat yang seperti Firda, menginginkan makanan ringan tersebut karena suaranya yang nyaring, membuat mereka semua mengetahui setiap kali ada gerobak cilok yang melintas. “Oke, Kak. Makasih. Semangat nunggu Kak Riza ya!” kata Firda seraya melambaikan tangannya, lalu berjalan menjauh untuk mencari tukang cilok yang tadi dikatakan Thella berada di depan jalan. Dalam kondisi sehat, Firda memang anak yang ceria. Thella senang akhir akhir ini Firda bisa beraktivitas seperti biasa, meski tetap tidak boleh terlalu kelelahan. Alhasil, Firda memang hanya berangkat dan pulang ke sekolah saja, Thella tidak mengijinkan Firda untuk mengikuti aktivitas apa pun di sekolahnya, atau sekadar main saat jam pulang sekolah bersama teman temannya. Thella hanya mengkhawatirkan kondisi Firda yang bisa saja melemah karena terlalu kelelahan, bahkan rasanya jika keluarganya memiliki ekonomi yang lebih stabil, ingin sekali Thella membuat Firda home schooling saja agar tidak perlu berangkat ke sekolah. Sayangnya biaya home schooling cukup mahal, penghasilan ayahnya jelas saja tidak akan mencukupi untuk membiaya Firda menempuh Pendidikan dari rumah itu. Alhasil, dirinya harus lebih pandai mengatur kesehatan Firda agar tidak mudah melemah, dengan mengatur jadwal gadis itu agar tidak terlalu padat dan bisa lebih banyak istirahat. Sesekali keluar untuk beli jajan seperti saat ini bukanlah masalah besar, karena tidak terlalu menguras energi. Firda juga pasti butuh sesuatu yang diinginkan, tidak melulu berbaring di tempat tidur dengan apa apa yang sudah di sediakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN