- 63 -

1447 Kata
Riza : Yauda deh, gak gue pesenin apa apa ya. Besok aja gue traktir lo di kantin Riza : Jangan malem malem tidurnya Thel, lanjut besok lagi aja "Duh, pegel nih.” keluh Thella sambil menggeliat. Ia merenggagkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu menggerakannya ke kanan dan kiri. Hal tersebut membuat tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya, meski punggung nya terasa sangat pegal karena menegak sejak tadi, tapi Thella tetap berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya ini agar ia bisa tidur dengan nyenyak dan merebahkan punggungnya di kasur tersebut. Seketika ia merasa haus karena sejak tadi memang ia tidak minum, hal tersebut membuatnya berdiri sejenak untik beranjak ke dapur dan mengambil air minum dari sana. Mungkin ia harus membawa botol air minum juga, agar ia tak perlu bolak balik ke dapur hanya untuk mengisi gelas minumnya. Hal tersebut justru hanya akan memperhambat Thella mengerjakan tugasnya. Namun, saat ia berdiri dan hendak beranjak dari sana, ia tak sengaja menyenggol tas laptop milik Riza hingga menjatuhkan sesuatu dari sana. Thella yang menyadari hal tersebut pun menjongkok untuk mengambil benda tersebut. Sebuah benda kecil dengan gantungan kunci berwarna hitam kini terlihat jelas, Thella mengamati benda tersebut untuk beberapa saat hingga ia menyadari itu benda apa setelah mengotak atiknya. "Apaan nih? flashdisk kan? kok ada 2 sih? wah kalo gini mah gue mau dong satu." gumam Thella ngasal dan ia hanya mengambilnya kemudian meletakan di mejanya. Ia sempat kebingungan dengan flash disk tersebut karena bentuknya yang aneh. Memang makin ke sini bentuk flash disk semakin aneh aneh saja, ia sampai tak mengenali benda tersebut karena bentuknya yang tidak wajar. Tadi itu semacam card yang ternyata malah flash disk, satu lagi sih flash disk normal dan dari jauh pun ia sudah dapat menebaknya. Ada dua flash disk yang terjatuh dari tas Riza, ia heran kenapa Riza harus memiliki banyak banyak flash disk. Padahal Riza tergolong jarang menggunakannya, lelaki itu malah lebih sering menyalin tugasnya di ponsel atau melalui aplikasi penyedia clouds di internet. Mungkin Riza hanya malas untuk mencolok usb tersebut pada komputer, sehingga membuatnya lebih memilih memanfaatkan perkembangan teknologi yang sedang marak itu. Setelah mengambil minum Thella pun kembali ke kamarnya dengan membawa sebuah botol minum berisi air putih penuh. Ia kembali mengerjakan tugasnya hingga larut malam, dan berusaha menyelesaikannya malam itu juga agar keesokan harinya ia dapat menyetorkannya pada Bu Elis. Ia tidak suka menunda nunda pekerjaan, sehingga Thella tidak bisa tidur sebelm tugasnya selesai. Ia memang selalu seperti itu jika mengerjakan sesuatu. "Akhirnya selesai juga.." ucap Thella saat sudah selesai. Ia pun kembali merenggangkan tubuhnya untuk meminimalisir rasa lelah yang tengah menderanya, tapi ia sudah puas karena telah menyelesaikan tugasnya malam ini juga sehingga keesokan hari tidak perlu mengerjakan lagi. Banyak siswa yang tidak suka saat di suruh membantu guru untuk mengerjakan hal ini, tapi Thella justru menyukainya. Sebab, biasanya guru yang meminta mengerjakan hal ini akan baik terhadapnya dan niainya pun bisa di tambahkan. Thella cukup merasa hal tersebut sepadan dengan apa yang di kerjakannya, karena banyak yang tidak mau mengerjakan hal ini. Riza biasanya mau karena mendapatkan beberapa kesepakatan dengan guru tersebut, dalam hal ini Thella tidak tahu apa yang di sepakati Riza dan Bu Elis. Mungkin keringanan jika Riza telat datang ke sekolah. Atau hal hal lainnya yang akan menguntungkan cowok itu. Thella yang teringat akan flash disk Riza yang tadi jatuh, seketika menjadi penasaran dengan isi flash disk tersebut. Ia pun mengambil benda itu untuk ia pasang pada laptop dan melihat folder apa aja yang ada di sana. Tadi ada satu flash disk yang tidak biasa di lihat Thella, kemungkinan hal tersebut di pakai Riza untuk menyimpan yang aneh aneh. Thella tersenyum geli sendiri membayangkan apa saja sekiranya yang di simpan Riza, mungkin ia akan menjadikan hal tersebut sebagai bahan ledekan pada Riza. "Isi nya apaan yah? coba ahh buka.." kata Thella seraya memasukan usb tersebut pada lubang yang ada di laptop, lalu tak lama kemudian sebuah denting notifikasi pertanda bahwa benda tersebut sudah terhubung pada komputer berbunyi. Hingga folder dalam flash disk itu pun otomatis terbaca pada laptop ini. Thella tidak membuka isi flash disk yang sering ia lihat di bawa oleh Riza, karena nyaris sudah hafal dengan isi folder tersebut. Ia juga sering meminjamnya untuk menyalin tugas jika ingin ada yang mau di print, bahkan flash disk tersebut juga banyak berisi folder tugas milik Thella yang memang tidak memiliki media penyimpanan memadai. Thella biasanya mencadangkan tugas tugasnya pada google drive nya. Thella mengamati isi folder flash disk Riza yang sudah tersambung di komputer, lalu memperhatikan setiap detail folder yang ada di sana. Isi flash disk itu sama sekali tak ada data tentang pelajaran. Dugaan Thella benar, bahwa flas disk ini bukan untuk tugas sekolah, entah untuk apa. Namun, di sana banyak sekali folder folder dengan nama yang agak puitis hingga Thella merinding sendiri membacanya, ia bahkan ingin tertawa membayangkan Riza yang membuat nama nama folder ini. Ia tidak menyangka Riza se dramatis ini dalam mengelola folder folder pribadinya. Yaa, Thella merasa ini adala folder folder pribadi milik Riza. Ia yang masih penasaran pun kembali membukanya, membuka folder folder bernama puitis itu. Sekiranya begini lah nama nama folder yang ada pada flash disk Riza yang rasanya seperti menggambarkan curahan hatinya : All about you, secret heart, this feel, falling in love to girlfriend my friend. Itulah nama-nama folder yang ada di flashdisk Riza. Thella mengernyitkan keningnya pertanda bingung, kira kira apa yang ada di dalam folder tersebut, mengapa namanya aneh aneh begini. Apakah ini berisi tentang cewek yang tengah di sukai Riza? Siapa? Thella berusaha menebak nebak tentang cewek yang kemungkinan dekat dengan Riza, tapi ia tak pernah melihat Riza dekat dengan cewek mana pun. Lalu siapa yang menjadi peran utama dalam folder folder ini. Dengan rasa penasaran yang sangat ingin tahu sebenernya apa maksud folder-folder itu Thella pun membukanya. Ia sudah tidak tahan ingin tahu, sosok cewek yang di taksir Riza. Entah mengapa, hatinya justru harap harap cemas, mengharapkan bahwa sosok itu adalah dirinya, sebab jika melihat kombinasi nama nama folder, bukan kah seharusnya itu merujuk pada dirinya? Terlebih di bagian falling in love with my best friend, tidak mungkin sosok yang di maksud di sana adalah Dirgan bukan? Atau satu sosok yang menjadi teman Riza sedari kecil? Leni, yang sering di ceritaka Riza menjadi rese sejak ibunya berusaha keras menjodohkan dengan dirinya? Apa iya? Membayangkan hal tersebut, Thella serasa sudah patah hati duluan. Bagaimana bisa ia tidak rela jika Riza bersama orang lain, padahal di satu sisi ia juga sudah bersama orang lain. Thella tahu ini egois, tapi ia sangat berharap bahwa orang yang di maksud Riza adalah dirinya. Tangan Thella akhirnya bergerak untuk membuka folder tersebut, ia memilih untuk membuka folder all about you terlebih dahulu. Ini rupanya hanyas sekumpulan kata kata dalam bentu ms word, ia pikir akan menemukan foto foto cewek juga di dalam folder tersebut, rupanya tidak ada. Hanya tulisan tulisan Riza tentang perasaannya, ia bahkan tak menyangka Riza bisa menulis seperti ini, dengan kata kata sedalam ini. Thella pun berusaha fokus untuk membacanya dari awal agar ia bisa lebih memahami isi dari folder folder ini dan memecahkan siapa gerangan sosok cewek yang di maskud dalam tulisan ini. All about you.. matamu sangatlah indah ketika menatap mataku kepribadianmu pun membuatku penasaran akan siapa dirimu sebenarnya sikapmu yang ramah dan sangat sopan membuatku ingin slalu denganmu kamu tidak kaya harta namun hatimu sangatlah kaya dan bisa mengerti semua keinginan orang lain rambutmu panjang terurai bibirmu memang sih agak tebel hehe dan entah mengapa, semua itu membuatku menyukaimu, mencintaimu, dan memendam semua perasaan ini. Ingin sebenarnya aku memberitahumu tentang rasaku ini Retha terkekeh pelan membaca tulisan tersebut, Riza pasti sangat mencintai cewek ini, hingga bisa menjelaskan dengan kata kata yang indah dan membuat siapa pun yang membacanya akan tersenyum. Penggambaran tentang aura positif tentang cewek ini terasa menyenangkan, tapi Thella masih belum menemukan jawaban. Memang dirinya sebaik itu, hingga Riza menggambarkannya dengan sangat sempurna. Thella ingin cewek itu adalah dirinya, tapi ia belum mau kepedean terlebih dahulu sebelum mendapatkan bukti yang jelas jelas menunjukan bahwa memang cewek itu benar adalah dirinya. Ia tidak mau sakit hati latararan terlalu berekspektasi tinggi yang pada akhirnya tak sesuai dengan bayangannya. Terjatuh itu sakit, yaa jatuh cinta juga sakit, contohnya seperti saat ini. Ketika ia mencintai Riza tapi justru malah harus bersama Dirgan. ia tahu, ini pasti jahat sekali karena terkesan mempermainkan perasaan Dirgan. Tapi Thella tak sanggup menolaknya, hingga berakhir menerima saja, karena ini kan yang di inginkan Riza. Ia berpikir, Riza memang tidak menyukainya hingga menginginkan Thella bersama Dirgan. Thella kembali melanjutkan untuk membaca folder tersebut lagi, yang masih terbuka di laptop milik Riza. Ia ingin tahu kelanjutannya, dan berharap bisa menemukan jawaban pada paragraf setelahnya yang ada di folder tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN