- 36 -

2253 Kata
Riza berdecak, astagaa, Riza beneran sakit. Emang Bu Elis tahu dokter patah hati di mana? Jika tahu, Riza ingin sekali berobat ke sana agar sakitnya tidak semakin parah. Jika ada obat untuk menangani kesakitan ini, meski pahit pun Riza rela meminumnya, asal perasaan gerah, panas, marah, kesal, cemburu, dan masih banyak lagi, bisa mengobati lukanya saat ini. Apa ia harus ke UKS? Siapa tahu PMR di sana bisa mengobatinya. Baiklah, bayangan Riza semakin tidak terarah dan lebih mirip seperti orang gila. "Nyari bu Elis mah di kantor guru atuh Za, masa di kantin." Sindir Thella yang merasa bahwa Riza itu salah alamat, karena mencari wali kelasnya itu malah di kantin, bukan di kantor guru yang merupakan tempat guru berkumpul sebelum pelajaran di mulai. "Gue kan aus Thel." Sahut Riza yang kini malah mengambil gorengan milik Dirgan yang ada di kertas bungkus, lalu melahapnya dengan santai karena memang gorengan tersebut tampak di anggurin dan tidak ada yang berniat untuk memakannya. Alhasil, mending Riza yang makan dong, apa lagi ia juga tidak sarapan tadi pagi. Lumayan juga perutnya jadi terisi, sehingga jam pelajaran nanti ia tidak akan kelaparan atau pun menyelinap ke luar kelas untuk membeli roti, dan memakannya dengan sembunyi sembunyi di dalam kelas saat guru yang mengajar tengah menengok ke arah lain. "Parah lo Za, tinggal beli doang malah ngambilin punya orang." Ucap Dirgan yang melihat kelakuan Riza tak ada habisnya itu, ia menggelengkan kepalanya melihat sikap Riza pagi ini. Cowok itu tampak lahap memakan bakwan jagung yang tadi dibelinya dari salah satu warung yang berada di kantin ini. Hingga kemudian, saat tenggorokannya mulai kehausan, ia mengambil lagi minuman milik Thella agar tenggorokannya tidak merasa seret, Riza benar benar malas untuk berjalan ke salah satu warung dengan membeli makanan atau minuman yang diinginkannya, kepalang tanggung bergabung ke meja Dirgan dan Thella, mending meminta makanan mereka saja kan sehingga dirinya tidak perlu susah payah merogoh uangnya dan menunggu kembalian yang biasanya pagi pagi masih belum ada kembalian. "Yaelahh.. Pada pelit amat sih sama gue, nih dah gue ganti." Riza pun mengambil beberapa uang lima puluh ribuan dari saku seragamnya, seraya ingin menyerahkan uang jajannya itu pada Dirgan dan Thella yang sejak tadi memprotes makanannya di comot comot oleh Riza. Cowok itu tampak bergaya seperti hendak membagikan uangnya pada ke dua temannya yang kini tengah tersenyum geli itu melihat tingkah Riza. "Asik dah, Riza jajan banyak nihh." Kata Thella meledek Riza, lalu bergerak seperti siap menerima uang yang akan di berika Riza tersebut, yang sudah sangat bergaya seperti orang yang sedang menyawer biduan saat ada penyanyi dangdut yang tampil di daerahnya. Terlebih wajah sombong Riza yang terlihat menggelikan sekali, tapi terlihat seperti orang serius. "Ehh tapi gue buru-buru nih, gue duluan dulu yah." Riza langsung pergi sambil nyegir tanpa memberikan uang yang tadi di pamerkannya. Dimasukannya kembali uang tersebut ke saku seragamnya, lalu cowok itu bergerak untuk beranjak dari bangku kantin yang tadi di dudukinya. Kemudian, Riza bergerak untuk meninggalkan meja tersebut, bertujuan untuk ke ruang guru sesuai arahan Thella tadi yang mengatakan untuk mencari Bu Elis di ruang guru, bukan di kantin yang tentu saja tidak mungkin ada Bu Elis. Yang ada malah ibu kantin dan dagangan dagangan lainnya yang menggugah selera, yang bak pahlawan bagi para siswa yang tidak sempat sarapan di rumah karena takut berangkat ke sekolah telat, yang mana nanti malah terkena hukuman atau pun di suruh bayar denda karena telat. Untuk itu lah suasana kantin sekolah ini tampak ramai dengan para siswa yang sarapan di pagi hari. "Heh dasar si Riza k*****t! Sok banget ngeluarin duit, gak taunya Cuma pamer doang, malah langsung kabur!" Kata Thella yang tidak habis dengan sikap Riza yang tengil itu, tampak ekspresif seperti biasanya. Cowok itu masih tetap iseng seperti hari hari lainnya, tidak ada yang berubah sama sekali meski kini cowok itu mengetahui bahwa Thella sudah berpacaran dengan Dirgan. Riza tampak tidak keberatan sama sekali dan menganggap hal tersebut bukan masalah besar dan sangat wajar. Memangnya apa yang di harapkan Thella? Riza akan cemburu? Tentu saja tidak. Jika Riza juga memiliki perasaan terhadapnya, Riza tidak akan membantu Dirgan untuk menyatakan perasaannya kan. Itu karena Riza memang tidak pernah memiliki perasaan apa pun terhadapnya, selain sebatas. "Haha, si Riza bisa aja yaa ngelesnya. Malah kabur coba.." kata Dirgan yang ikut tidak habis pikir dengan sikap Riza yang selalu ada saja kejutannya. Cowok itu tampak aktif jika bersama dirinya dan Thella, tapi sesungguhnya, jika bersama orang lain Riza tidak terlalu akrab sehingga cenderung terlihat pendiam. Sangat berbeda sekali seperti Riza bersama dengan Dirgan dan Thella yang bisa tertawa lepas atau bersikap aneh yang membuat mereka sampai tak habis pikir dengan kelakuan Riza itu. Riza memang tipe orang yang tidak gampang akrab dengan orang lain, dan meski pun akrab, ia tidak langsung bisa nyaman untuk bersikap semaunya seperti tadi. Namun, meski pun begitu Dirgan sangat bersyukur memiliki teman seperti Dirgan yang selalu mendukungnya dalam segala macam hal. Seperti saat ini, saat Dirgan berpacaran dengan Thella, itu kan karena hasil bantuan Riza yang menyusun konsep pernyataan cintanya sesuai dengan impian Thella sejak SMP. Ia dapat melihat dengan jelas, betapa hari itu – saat Dirgan menyatakan perasaannya pada Thella – cewek itu tampak terharu karena ada yang mewujudkan impian masa remajanya saat masih menggunakan seragam putih biru. Hal tersebut menandakan betapa Riza memang berjuang sekuat tenaga agar Dirgan dan Thella bisa berhasil. Dirgan hanya tersenyum simpul, padahal awalnya Dirgan pikir, Riza juga menyukai Thella. Mengingat umur persahabatan mereka yang sudah lumayan lama, dan masih bertahan bahkan awet hingga detik ini. Ia pikir, tidak akan bisa persahabatan antara cewek dan cowok, begitu juga yang terjadi dengan Riza dan Thella. Namun melihat kejadian tempo hari, ia mulai meyakini bahwa persahabatan antara Riza dan Thella memang berjalan dengan tulus adanya tanpa ada embel embel perasaan yang tidak terbalas atau pun tercapai. Buktintya Riza mau membantunya sampai mengorbankan waktu dan tenaga, demi Dirgan bisa menyatakan perasaan pada Thella hingga kini berkahir dengan cewek itu yang resmi menjadi kekasihnya. Semua ini jelas berkat campur tangan Riza di dalam rencananya yang luar biasa itu. Thella melirik jam yang ada di ponselnya, yang mana menunjukan sudah pukul setengah tujuh pagi, pertanda akan dimulainya pelajaran. Bel masuk sebentar lagi berbunyi, Thella pun bergegas untuk beranjak dari bangkunya dan kembali ke kelas. Ia melirik sebentar ke arah Dirgan yang masih menikmati s**u hangatnya, yang tadi sempat di pesannya di salah satu warung yang ada di kantin ini. Dirgan tampak tidak terlalu sadar bahwa sudah akan memasuki jam masuk pelajaran sehingga cowok itu tampak masih santai menikmati minumannya dengan tidak terburu buru karena tidak tahu waktu. Thella pun menyenggol pelan lengan Dirgan untuk memanggil cowok itu. “Udah mau bel masuk, ke kelas yuk?” ajak Thella pada Dirgan, seraya tersenyum pelan agar terlihat lembut. Ia masih berusaha membiasakan diri untuk bersikap kepada Dirgan yang kini sudah berstatus sebagai pacarnya. Ia harus terlihat seperti yang juga mencintai Dirgan, menatap cowok itu dengan mata berbinar, yang setelahnya kembali meredup saat Dirgan tidak menoleh ke arahnya. Tidak apa apa. Thella bisa melakukannya. Tidak sulit kan untuk menyukai Dirgan, pasti lambat laun ia akan terbiasa dan mulai menaruh hati pada Dirgan, dan menjalani perannya sembari menikmati perasaannya yang meletup bahagia karena bisa bersama Dirgan. Meski entah kapan waktunya tiba, yang pasti Thella akan terus menjalaninya seperti ini. Demi memenuhi keinginan Riza yang tidak menginginkannya. “Oh, ayuk.” Dirgan pun turut bergerak untuk berdiri dari bangkunya, sambil membawa gelas plastik berisi s**u hangat yang masih belum habis, untuk ia habiskan di dalam kelas dan membuang sampahnya ke tempat sampah. Cowok itu pun memberikan gestur untuk menggandeng Thella, yang segera di sambut oleh Thella gandengan tersebut, sehingga mereka kini semakin tampak seperti sepasang kekasih di masa SMA yang tengah bersemi. Terlebih saat melihat binar mata Dirgan yang tampak mencintai Thella dengan sepenuh hatinya, yang menatap cewek itu seperti memuja, seolah Thella gadis tercantik yang pernah ada. Thella hanya menanggapinya dengan tenang, berusaha untuk membiasakan diri dengan sikap Dirgan, serta ia juga harus bersikap seperti pacar Dirgan. Thella menyambut gandengan tangan Dirgan dan berjalan di samping cowok itu untuk sampai ke kelas mereka yang berada di lantai dua. Meski bel masuk belum berbunyi, tampak beberapa siswa yang sudah mulai beranjak dari kursi kantin untuk memasuki kelasnya masing masing. Ada juga beberapa siswa yang masih berada di kantin, dan menunggu sampai bel masuk berbunyi baru beranjak untuk pergi ke kelasnya. Biasanya yang seperti itu masuk ke dalam golongan kakak kelas yang sudah kelas dua belas, dan tidak lagi memusingkan tentang pelanggaran peraturan karena merasa sudah mau lulus. Namun, sepertinya meski sudah kelas dua belas nanti, Thella juga tidak akan bersikap seperti itu. Ia tetap akan menjadi siswa yang mengikuti peraturan sekolah dengan taat karena tidak mau mencari masalah atau pun gara gara, Thella sejak dahulu selalu menghindari hal hal tersebut. Ia hanya ingin menjadi siswa yang aman aman saja, sehingga tidak terkena masalah apa pun yang akan menimpanya hingga membuat orang tuanya dipanggil. Thella tidak mau menyusahkan ayahnya yang sudah lelah bekerja siang dan malam demi memenuhi kebutuhannya dan juga Firda, jadi sebisa mungkin ia akan menjadi anak yang baik. *** Masa remaja berawal dari seorang anak yang sudah mengalami masa masa pubertas, biasanya hal tersebut terjadi di penghujung masa sekolah dasar, atau pun memasuki masa SMP. Sebagian besar, yang kerap kali identik dengan masa masa baru bertumbuh remaja adalah anak SMP. Hormon yang masih labil, emosi yang tidak stabil, semangat yang terkadang datang menggebu gebu, atau rasa gelisah yang tiba tiba melada. Segalanya seolah menjadi rumit, sebab mereka tengah menjajaki fase baru yang mereka sendiri terkadang kesulitan menghadapinya. Kawan bisa menjadi lawan, pun dengan sebaliknya. Emosi yang tidak stabil membuat mereka kerap kali terlibat perselisihan dan salah paham yang tidak terhitung jumlahnya. Segala hal bisa menjadi masalah, hanya karena emosi yang terus bersinggungan. Dari perkara perebutan teman, perebutan cowok, persaingan nilai di sekolah, dan banyak hal lagi yang membuat konflik antar remaja semakin terus bertambah. Membuat pertemanan yang terjalin di antara mereka kerap kali mengalami keretakan. Salah bicara sedikit bisa jadi ada yang tersinggung, lalu kemudian pihak yang tidak suka akan mengomel, hingga terjadilah keributan besar antar kubu yang biasanya mengungkit segala macam hal berisi keburukan satu sama lain. Entah sadar atau tidak, biasanya yang seperti itu, padahal mereka pernah berteman sedekat nadi. Hal tersebut lah yang juga terjadi pada Nida dan Firda yang memang satu sekolah. Satu sekolah itu sangat tahu bahwa Nida sangat membenci Firda. Dulunya memang mereka temenan, tapi cuma gara-gara Rocky, cowok yang di taksir Nida menyukai Firda, Nida jadi marah dengan Firda karna ia merasa di khianati oleh sahabatnya yang jelas-jelas tahu bahwa Nida itu menyukai Rocky. Nida enggan mendengar penjelasan apa pun dari Firda, yang ia ketahui Firda itu pengkhianat. Yang Nida kini lakukan adalah, ia tidak mau lagi terlibat apa pun dengan Firda yang di anggapnya licik karena berpura pura baik padahal menusuk dari belakang. Terbukti saat ini, meski Nida sudah marah karena masalah Rocky, sehingga Firda tidak memiliki teman sama sekali di sekolah dan hanya Rocky yang mau menemaninya. Lalu, Firda sama sekali tidak menolak untuk berteman dengan Rocky. Sudah terang terangan Nida tidak menyukai saja, Firda masih tetap bisa berteman dengan damai bersama Rocky seolah dunia milik berdua, tanpa memikirkan perasaan Nida sama sekali. Nida jadi tidak percaya jika selama ini ia berteman dengan ular berbisa yang siap mematoknya kapan saja. Firda sama sekali tidak merasa tidak enak atau apa lah. Segitunya Firda ingin mengkhianatinya, padahal kedekatan mereka dulu bisa dibilang cukup akrab, tapi hal tersebut seolah tidak ada lagi pertimbangan bagi Firda untuk tetap mengkhianatinya dengan bersikap seperti ini. Jadi, jika nanti Nida berbuat jahat pada Firda, itu bukan karena dirinya yang jahat. Tapi karena Firda yang memang minta dijahatin karena kelakuannya yang tidak tahu diri itu. Di SMP tempat mereka bersekolah, hari ini di adakan upacara dadadakn dalam menyambut sang kepala sekolah baru. Banyak siswa yang mengeluh perihal upacara dadakan ini, sebab pasal ini merupakan hari selasa, dan hari senin kemarin mereka baru saja melakukan upacara. Upacara merupakan hal yang paling malas mereka jalani karena harus berbaris di lapangan di temani teriknya sinar matahari pagi yang meski pun sehat tetap saja mereka tidak suka panas panasan seperti ini. Desas desus para siswa terdengar, tampak memprotes dan membicarakan soal upacara dadakan ini. Mereka mengeluh, kenapa hanya karena ada kepala sekolah baru saja pakai di adakan upacara. Padahal kan ada cara yang lebih baik seperti sang kepsek yang bekeliling ke kelas kelas untuk memperkenalkan diri contohnya, atau setidaknya kepala sekolah itu masuk di hari senin saja biar sekalian. Emangnya gak bisa di jadwalnya ulang apa, agar semua pihak merasa aman damai tentram dan sentosa. Tidak seperti pagi ini yang pada mengeluh dan misuh misuh lantaran tidak mempersiapkan untuk upacara dan panas panasan. Firda yang jarang mengikuti upacara, pagi itu ingin ikut upacara. Karena merasa ini kan bukan upacara hari senin, hanya sekadar upacara perkenalan kepala sekolah baru. Pasti upacaran tidak berlangsung lama dan Firda yakin masih kuat dengan kondisinya saat ini. Ia baik baik saja kok, berdiri sekitar sepuluh sampai dua puluh menit masih bisa lah. Maka dari itu Firda berada di sana, di dalam barisan para siswa yang tengah berbaris di lapangan. Yang mana mereka semua mengeluh karena kepanasan, Firda justru kegirangan karena bisa mengikuti upacara yang jarang sekali diikutinya. Ia senang melakukan aktivitas yang tidak bisa dilakukannya sehari hari, seperti saat ini, Firda begitu menikmati saat para guru mengatur barisan mereka. “Ngapain lo ikut upacara? Nanti mati lagi.” Sebuah suara muncul dari sampingnya, membuat Firda seketika menoleh ke arah Nida yang sudah berbaris di sampingnya, menatapnya dengan tatapan sinis dan kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN