Lila duduk dibangku panjang ditemani pria bernama Fandy Hermawan. Pria tua yang jika ditelisik lebih jauh, memiliki kemiripan bentuk hidung dan garis senyum yang sama dengan Lila. Keheningan yang panjang menyeruak diantara keduanya. Fandy tentu tidak pandai merangkai katanya, sedangkan Lila memilih cukup tahu saja siapa yang ada disampingnya. Setelah berpikir lama dengan pergulatan batin yang tidak mudah, wanita itu akhirnya membuka suaranya. "Jadi gimana kabar Bapak sekarang?" Pria itu ragu-ragu memandang Lila. "Ya kayak gini. Kamu sudah tau soal penyakitku?" Lila mengangguk saja tanpa mengatakan apapun. "Penyakit seperti ini gak bisa sembuh Lila. Setiap hari aku selalu melihat ibumu. Bahkan sekarang Ibu kamu lagi memandang aku dengan tersenyum. Dia seperti bahagia aku bertemu sama k

