48 - RUMIT

1277 Kata

Banyu memegang sebuah map dari rumah sakit terkenal di kota metropolitan itu. Ia tampak ragu dan hanya memandang sampul mapnya saja. Entahlah, Banyu tak yakin. Jauh di dalam hatinya, ia hanya ingin mempercayai bahwa Bara bukanlah anaknya. Attar yang semenjak tadi memang sudah berada di sofa hanya bisa memandangi sahabat karibnya itu dengan tatapan yang ikut sedih. Teman baiknya itu terlalu baik dan rasanya apa yang saat ini terjadi tidak adil untuk Banyu. “Lo gak pengen buka? Gue penasaran juga,” ucap Attar mencoba menguatkan sahabatnya. Banyu menghela nafas sebelum akhirnya membuka mapnya dengan jantung berdebar tak karuan. beberapa menit kemudian tangannya bergetar dengan cukup kentara. “Dia– anak gue, Tar. Dia anak gue?” tanya Banyu yang sebelumnya membuat pernyataan. Tulisan sembi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN