“Kau tahu, jika kau terus memperhatikanku seperti itu bisa membuatku salah paham padamu,” aku berujar ketika tatap Idril tidak juga mau pergi dari wajahku. “As if,” dia mendengus kemudian duduk dikursi. Sementara aku masih berkutat dengan pekerjaanku membereskan tempat tinggalnya. “Jadi katakana padaku apa yang baru-baru ini terjadi?” “Selain sepupuku memanggilku di waktu subuh untuk membersihkan kamarnya ? tidak begitu banyak,” ujarku menyindirnya. Bukannya berpikir Idril justru malah tertawa. “Mau bagaimana lagi kan? Tempat ini mulai menyerupai kendang babi,” dia mengangkat tangannya. “Dan lagi ini semua terjadi tidak sepenuhnya salahku. Lagipula kau tidak pernah menginjak rumahku lagi. Sudah lama sekali,” Aku merapikan beberapa potong pakaian yang terbengkalai di beberapa tempat.

