Aku telah melangkah menjauh darinya sedikit demi sedikit, terus saja berharap bahwa kedua kakiku bisa cukup kuat menunjang kepergianku tanpa harus merasa perlu menyerah setiap saat. Gerakanku terasa kaku layaknya robot yang canggung, seolah-olah seluruh tubuhku ini bukan milikku. Semuanya begitu nyata, dan memang betulan terjadi. Hilir mudik orang-orang disekitarnya, suara dari mesin deru kendaraan bermotor dijalanan. Semua hal yang ramai tersebut terlepas dari kehidupannya, Aku merasa sudah tidak berada disini, atau barangkali tidak pantas menjejaki kaki ditempat ini. Meskipun aku berhasil melakukannya dengan sangat lancar, meskipun aku berhasil putus dengan Elvern. Perpisahan yang menyisakan luka. “Kau akan baik-baik saja, Elvern. Seperti apa yang akan aku lakukan.” Tanpa sadar aku

