Sagara memainkan ponselnya di balkon saat Alice sudah tertidur lelap. Dia tidak bisa memejamkan matanya, kepalanya sangat berat, hanya untuk memikirkan satu hal yang benar-benar memenuhi seisi otaknya. Angin yang berembus kencang, harusnya membuat Sagara merasa sedikit kedinginan dan memutuskan untuk kembali ke ranjang menyelimuti dirinya. Namun, dia tetap di sana. Bahkan, sepertinya tidak peduli dengan sedingin apa kulitnya saat ini. Napasnya dikeluarkan dengan berat, laki-laki itu menunduk, kenapa nama Naura terus saja mengacaukan pikiran juga hatinya? Setelah pulang dari Indonesia, tidak ada yang Sagara prioritaskan selain Naura, Naura dan Naura. Bahkan, sering kali di kantor, dia salah menyebut stafnya dengan nama perempuan itu saking terganggunya. Kenapa harus Naura yang dinikahi ol

