Surabaya masih sepanas terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini, tidak ada yang membuatku atusias selain aku bisa menjauh sejenak dari Pandu. Mbak Ririn sudah ada di bandara saat kami tiba. Dia langsung menyambutku dengan pelukan tanpa tanya-tanya kabar atau berusaha memberiku nasehat menguatkan. Lalu, jika ditanya bagaimana rasanya menjalani hari-hari tanpa Pandu, maka aku jawab dengan satu kata, aneh. Seperti … ini bukan diriku. Bangun tidur pertama di Surabaya aku terlentang bingung di tengah ranjang, sebab biasanya sederet rutinitas sudah menanti. Aku harus menyiapkan sarapan untuk Pandu, memastikan ada kemeja-kemeja rapi dan wangi di lemari serta sepatu bersih untuk dipakai hari ini. Namun, sekarang rutinitas itu tidak ada lagi. Dua minggu sudah aku di sini, dan ya seminggu p

