37 | Kartu Pengampunan

1695 Kata

Pandu benar-benar memberi aku waktu, atau  lebih tepatnya, tidak berusaha menghubungiku. Aku menunggu-nunggu telepon malam hari seperti biasanya, tapi hingga hari berganti, telepon itu tidak ada. Aku sendiri sesekali berinisiatif mengirim chat dan ya, hanya sebatas itu saja komunikasi kami hampir beberapa hari ini. Sekadar saling mengabarkan ‘oh hi, aku maish hidup’. Walaupun hanya kurang seminggu lagi dari tanggal pernikahan temanku, Melly. Aku tetap ingin memenuhi janjiku ke Pandu bahwa aku sudah akan di rumah Bali saat dia pulang dari Jogja nanti. Dia tahu tentang kepulanganku karena aku memberitahunya, berharap dengan begitu dia akan mengusahakan cepat-cepat pulang. Ibu mengantar kepergianku dengan tangis yang kentara sekali ditahan-tahan. Di satu sisi, aku lega karena Ibu sekarang s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN