51 | Harapan Tidak Pernah Terlambat Dipanjatkan

2443 Kata

Tak puas dengan hanya mendengar suara Pandu, aku minta Pandu supaya menganti jadi panggilan video. Panggilan sempat terjeda sekitar 3 menit—benar, aku menghitungnya, sebelum akhirnya wajah Pandu memenuhi layar ponselku. Pundakku seketika melemas, apa yang dia lakukan di sana dengan wajah sepucat itu? Pandu tampak duduk bersandar di kepala tempat tidur yang sempit, matanya tampak begitu kuyu dan menyedihkan saat tersenyum padaku. “Kamu beneran ada di rumah kita?” tanyanya. Kita. Bahkan setelah aku meninggalkan rumah ini, Pandu masih menyertakan diriku atas rumah ini. Aku mengarahkan kamera menyorot sekitar sebelum kembali aku luruskan ke depan wajahku. “Kamu ngapain di sana?” Pandu tertawa kecil. “Nggak tahu, nih, padahal cuma kena flu.” “Kalau flu kamu biasanya langsung sembuh minum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN