Saat makan malam Tay, Gunn dan Off sudah berkumpul dimeja makan. Makanan pun sudah terhidang, semua makananan adalah kesukaan Gunn membuat Gunn yang sejak tadi sudah tiba di meja makan hampir meneteskan air liurnya. Namun Tay melarang Gunn makan lebih dulu, sebelum New datang. Karena New tidak datang juga akhirnya Gunn memutuskan untuk memanggilnya.
Tok.. tok.. tokk..
"Dokter.. ayo makan malam"
Hening..
Tok.. tok.. tokkkk...
"Apa dokter didalam?"
Masih hening juga..
"Kenapa tidak ada sahutan? Setahuku dokter masih ada didalam" lirih Gunn.
Karena New tidak menyahut, Gunn pun membuka pintu kamar tanpa diperintah untuk memastikan New baik-baik saja.
"Dokter?"
"Dokter New?"
"Dokter dimana?"
Ceklek..
"Gunn? Ada apa?"
"Astaga" ucap Gunn terkejut.
New keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih basah, tubuhnya hanya diilitkan handuk yang menutupi pinggangnya.
"Kami akan makan malam, phi Tay melarangku makan sebelum dokter datang. Itu sebabnya aku kesini" Gunn cemberut.
"Baiklah aku akan pakai baju dulu" New berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan. Tay memang sudah menyiapkan beberapa pasang pakaian untuk New gunakan sebelum New datang, karena Tay ingin New tinggal dengannya. Setelah selesai mengenakan pakaian dengan baju santai berwarna hitam dan celana pendek selutut tidak lupa New menyisir rambutnya, terlihat sangat tampan. Gunn yang masih menunggu didalam kamar itu merasa sangat iri dengan ketampanan New, Gunn hanya bisa terbengong sebelum akhirnya New menegurnya membuatnya kembali sadar.
"Kenapa kamu melamun seperti itu?"
"Dokter tampan sekali, tidak heran jika phi Tay menyukaimu"
Ucapan Gunn membuat New merona, New memang selalu suka jika disebut tampan. Walaupun dia selalu menyangkalnya, tapi dalam hatinya New merasa senang.
"Ehem.. Kalian semua juga tampan" jawab New yang disambut senyuman oleh Gunn.
"Ah Gunn, bisa aku minta sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Jangan panggil aku dokter"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa, panggil namaku saja"
"Baiklah phi New"
"Tidak, maksudku panggil aku New saja"
"Tapi itu tidak sopan"
"Tidak apa-apa, aku lebih nyaman seperti itu"
"Oke New"
***
"Kenapa mereka lama sekali? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah lapar" rengekan Off hanya disambut tatapan menusuk oleh Tay, memang sudah cukup lama Gunn memanggil New, mereka bahkan belum terlihat juga. Apa mungkin terjadi sesuatu pada mereka? Fikir Tay. Namun fikiran Tay terhenti saat melihat Gunn dan New turun menuju meja makan.
"Gunn.. apa kamu memanggilnya di Amerika? Kenapa lama sekali? Aku sudah laparrr"
"Berhenti mengeluh, sekarang makanlah" ucapan Tay membuat semuanya terdiam. Mereka fokus dengan makanannya masing-masing. Off dan Gunn yang duduk saling berhadapan itu membuat ribut meja makan karena mereka berebut makanan. Padahal makanan yang lain masih banyak. New yang melihat tingkah mereka itu hanya tersenyum. Namun saat New dan Tay tidak sengaja bertatapan membuat New menjadi canggung. Bahkan sejak tadi pagi New selalu menghindar jika bertemu dengan Tay. Tay sudah berusaha bicara dengan New, tapi New yang selalu menghindar itu membuat Tay bingung harus bagaimana.
"Phi Off ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa menemukanku?" Suara Gunn memecah keheningan.
"Ini semua berkat boss.. ah tidak maksudku berkat Tay yang mempercayakan semuanya padaku" ucap Off dengan bangga.
"Apa maksudnya?" Tanya Gunn menatap Off dan Tay bergantian.
"Habiskan dulu makananmu Gunn. Nanti baru bicara lagi"
Gunn mendengus kesal mendengar perintah Tay membuatnya cemberut dan menghentakkan makanannya. New menatap Tay dengan raut wajah yang tidak bisa Tay tebak. Tay tidak mengerti dimana letak kesalahannya? Mereka sedang makan dan Tay hanya ingin mereka menghabiskan makanannya sebelum mengobrol. Apa Tay salah?
Setelah menyelesaikan makan malam, Tay berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan beristirahat. Tinggal New, Gunn dan Off yang sejak tadi sudah menyelesaikan makannya kini pindah keruang keluarga untuk mendengarkan penjelasan Off. Tentu saja karena Gunn yang memaksa dan juga karena New yang sangat penasaran itu.
"Jadi phi Off, ceritakan pada kami bagaimana bisa menyelamatkanku? Dan siapa yang menyelamatkan New saat itu?"
"New?" Tanya Off dengan bingung, karena yang Off tahu Gunn memanggil New dengan sebutan dokter. Jadi saat Gunn memanggil New dengan namanya saja itu membuat Off heran.
"Ah dokter New menyuruhku memanggilnya nama saja. Walaupun itu tidak sopan tapi dia memaksa"
"Itu urusan nanti, sekarang bisa kamu jelaskan semuanya?" Ucap New memotong pembicaraan Off dan Gunn.
"Oke baiklah.. sebelum itu apa tua bangka itu mengatakan sesuatu tentang Tay?"
"Yaa, dia mengatakan jika phi Tay adalah mafia yang tega membunuh siapapun. Tapi aku tidak percaya kalau phi Tay akan melakukan hal sekejam itu. Bisa saja orang itu berbohong pada kami"
"Bagaimana jika dia benar? Apa kamu akan membenci kakakmu?"
"Hemmm.. aku tidak yakin. Jika phi Tay mengatakan alasannya aku bisa memahaminya"
"Bagaimana denganmu New? Apa kamu akan membencinya?"
"Entahlah, aku juga tidak yakin. Tapi apa hubungannya dengan penyelamatan kami?"
"Tentu saja berhubungan. Karena mungkin yang diceritakan orang itu memang benar"
'Flashback'
Dalam ruangan yang penuh dengan berbagai alat canggih Lee fokus menatap layar komputer dan tangannya yang sibuk mengetik sesuatu. Kode-kode rumit yang tidak Off pahami itu membuatnya seperti anak kecil yang melihat mainan baru.
"Waahhh.. bagaimana kamu bisa menguasai semua alat ini? Setahuku kamu selalu sibuk berlatih bela diri untuk mengalahkanku"
"Heii sadarlah, itu sudah beberapa tahun yang lalu. Dan sejak aku keluar dari tempat itu aku dilatih alat-alat ini. Sepertinya lebih berguna untukku. Walaupun aku tidak bisa mengalahkanmu dalam bela diri, tapi aku bisa mengalahkan dalam teknologi" ucap Lee menatap Off dengan senyum mengejek. Membuat Off hampir meledak, namun dia tahan karena melihat komputer Lee berubah.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Off penasaran.
Dengan tangan masih sibuk mengetik "Aku sedang melacak keberadaan Grey menggunakan nomor teleponnya, mungkin saat ini dia sedang bersama mereka"
"Lalu apa kamu sudah menemukannya?"
"Sabarlah sebentar, kamu fikir melakukan ini mudah?"
"Mana ku tahu itu mudah atau tidak"
"Nahh.. aku sudah menemukan keberadaannya. Cepatlah pergi, kamu membuat ruanganku pengap"
"Sial"
Setelah mendapat alamat tempat Grey berada, Off langsung menuju kesana, tidak lupa Off menghubungi Arm untuk datang ketempat itu juga. Hampir satu jam akhirnya Off tiba ditempat tujuan. Sebuah rumah sakit hewan, tidak terlalu besar tapi cukup ramai. Off heran mengapa Lee memberikan alamat rumah sakit ini? Tidak mungkin jika Gunn dan New dikurung dirumah sakit kan? Apalagi rumah sakit hewan. Beberapa menit kemudian Arm tiba dan mengetuk jendela mobil Off.
"Kenapa kamu lama sekali?" Kesal Off setelah Arm masuk kedalam mobil.
"Aku ada urusan. Untuk apa kamu memanggilku kesini?"
"Entahlah, Lee memberikan alamat ini. Sepertinya mereka ada disini"
"Bagaimana mungkin. Orang itu tidak akan mengambil resiko mengurung orang ditempat ramai seperti ini" ujar Arm menjelaskan membuat Off berfikir sepertinya masuk akal. Tidak mungkin seorang mafia mengurung orang ditempat ini.
Saat Off sedang mengamati, seseorang keluar dari rumah sakit membawa sebuah kandang yang berisi seekor kucing. Dan orang itu berjalan kearah mobil yang sedang terparkir. Kemudian seseorang keluar dari dalam mobil mengambil kandang kucing itu.
"Itu Grey" tunjuk Off pada orang yang keluar dari mobil. Beberapa saat kemudian mobil itu pergi meninggalkan rumah sakit. Arm segera menyuruh Off untuk mengikuti.
"Aku tidak menyangka pria tua itu menyukai seekor kucing. Dia tidak terlihat menyukai binatang" gerutu Off, Arm hanya diam saja mengamati mobil yang sedang mereka kejar.
Mereka pun tiba disebuah rumah yang sangat besar, lebih besar dari rumah Tay sepertinya. Dan juga memiliki banyak sekali penjaga. Membuat mereka tidak bisa mendekat.
"Dia bahkan bukan presiden, kenapa banyak sekali penjaga?"
"Bodoh ! Mungkin saja karena mereka sedang menjaga tawanan"
"Ah kau benar juga"
"Apa kau bisa menghabisi mereka sekaligus?"
"Tentu saja" ujar Off dengan tersenyum licik. Dia memang sudah menduga akan bersenang-senang malam ini. Off mengambil pisau dari tas yang dia bawa, setelah itu keluar dari mobil dengan mengendap-endap mendekati ke arah penjaga yang berjaga didepan gerbang. Tanpa suara satu per satu dari mereka tumbang karena ditikam oleh Off. Off memberikan kode pada Arm yang masih didalam mobil, setelah menyadarinya Arm segera turun dan menghampiri Off.
"Kamu bisa melakukan semuanya, kenapa harus mengajakku?" Tanya Arm sambil berjongkok memeriksa mayat yang kini berserakan di depan mereka.
"Aku ingin pamer. Dan juga Boss sudah menyuruhmu untuk membantu tapi kenapa kamu tidak melakukan apa-apa" ucap Off yang ikut berjongkok disamping Arm dan juga memainkan pisaunya ke salah satu mayat yang tergeletak.
"Hentikan Off, menjijikkan. Lagipula apa yang harus aku lakukan jika kamu sudah melakukan semuanya?"
"Cari saklar listrik rumah ini. Jika sudah ketemu matikan listriknya. Dalam 1 menit baru kamu nyalakan lagi"
Arm menatap Off dengan bingung, untuk apa saklar listrik dimatikan dan dinyalakan lagi dalam waktu 1 menit? Namun melihat Off yang sepertinya sungguh-sungguh itu membuat Arm keliling sekitar luar rumah untuk mencarinya. Setelah ketemu Arm langsung mematikan listrik dan membuat rumah itu sangat gelap.
Saat semua lampu sudah padam, dengan leluasa Off menghampiri satu per satu orang yang dia temui, tanpa perlawanan Off menusuk mereka tepat dileher membuat mereka tewas seketika. Kemudian Off masuk ke dalam rumah dan melakukan hal yang sama dengan apa yang tadi dia lakukan. Satu menit kemudian listrik kembali menyala dan lampu yang sangat terang itu membuatnya dapat melihat semua mayat yang kini tergeletak di lantai. Arm yang sudah masuk ke dalam rumah itu terkejut melihat pemandangan yang kini ada didepannya.
"Sial.. apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa kamu melakukan ini dalam waktu 1 menit? Gila !!!!"
"Sekarang bukan saatnya kagum. Kita harus mencari mereka"
Arm dan Off pun berkeliling di dalam rumah itu untuk mencari keberadaan New dan Gunn. Satu per satu ruangan mereka masuki tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Hingga Off tiba disebuah kamar dan itu adalah kamar Grey. Dia sedang tertidur sangat nyenyak. Mengabaikan suasana rumah yang kini mencekam. Off perlahan menghampiri Grey dengan pisau yang masih ditangannya. Saat sudah berada disampingnya, Off naik ke atas tubuh Grey dan menempelkan pisaunya ke leher. Grey yang sangat terkejut itu mencoba untuk berteriak, namun semakin Grey teriak semakin dalam Off menancapkan pisaunya.
"Katakan dimana kamu menyembunyikan mereka !!"
"Aku tidak akan mengatakannya" keras kepala Grey membuat Off semakin menyayat lehernya hingga darah bercucuran.
"Aarrrgghhhh..."
"Cepat katakan. Atau aku akan membunuhmu sekarang juga"
"Jika kamu membunuhku kamu tidak akan tahu keberadaan mereka"
"Brengksek" kesal Off. ia tidak punya cara lain. melihat kekeras kepalaan Grey membuat emosi Off semakin memuncak.
"Off aku menemukan kucing cantik ini, apa boleh ku bawa pulang?" Arm datang dengan menggendong seekor kucing milik Grey.
"Tidakkk, lepaskan Loli. Jangan bawa dia"
Grey berteriak histeris sambil berusaha menggapai Loli kucing miliknya yang kini digendong oleh Arm. Kesempatan ini membuat Off semakin menekan Grey agar mengatakan dimana keberadaan New dan Gunn.
"Aku akan melepaskannya jika kamu mengatakan dimana mereka sekarang"
"Mereka sudah ku jual. Adik Sun aku jual kepada mantan kekasihnya. Dan kekasih Sun ku jual di pelelangan"
"Dimana alamatnya?"
"Lepaskan Loli dulu. Aku akan mengatakannya"
Dengan enggan Arm melepaskan Loli yang berlari menjauh. Setelah Loli pergi, Grey mengatakan alamatnya. Setelah mendapatkan alamatnya Off dan Arm membawa Grey untuk ikut dengan mereka karena mereka tidak ingin mengambil resiko jika Grey berbohong dan membuat Gunn dan New semakin dalam bahaya. Karena mereka berada di dua tempat yang berbeda, Off memutuskan untuk menuju tempat Gunn berada, kemudian Off memberikan alamat tempat New pada Tay. Setibanya di tempat tujuan, tempat Gunn berada saat ini Off langsung masuk ke dalam sebuah apartemen mewah milik mantan kekasih Gunn. Karena sebelumnya Off memang pernah kesini jadi Off tahu siapa pemilik tempat ini. Off mendengar suara Gunn dari arah kamar.
Braaakkk..
Saat Off masuk, Gunn sudah hampir telanjang bulat dan seseorang sedang menciuminya dengan nafsu. Suara pintu yang didobrak membuat pria itu menghentikan kegiatannya. Saat pria itu berbalik, Off langsung menerjangnya dan menusuk perutnya, pria itu pun kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh ke lantai.
"Siapa kau..." ucap pria yang kini sedang menahan perutnya karena mengeluarkan darah.
"Kau ingin tahu siapa aku? Aku akan memberitahumu nanti, di neraka" Off kembali menusuk pria itu diseluruh tubuhnya hingga tewas mengenaskan, bahkan saat sudah tewas pun Off masih menusuki tubuh itu dengan penuh amarah hingga tersadar saat Gunn menjerit histeris melihat tubuh yang kini sudah tidak berbentuk itu.
"Aaaarrrgghhh.. phi Off apa yang kamu lakukan?" Gunn menatap Off dengan takut karena seluruh tubuh Off penuh dengan darah.
"Maaf aku terlambat. Ayo kita pulang"
**
"Aku sudah mendapatkan alamat New berada saat ini. Sebaiknya kita kesana" ucap Tay dalam telepon yang kini sedang menuju ke alamat yang diberikan oleh Off.
"Tempatnya lebih dekat dari tempatku saat ini. Aku akan langsung kesana" ucap Lee dan memutus sambungan telepon.
Tay mengemudikan mobilnya cukup cepat hingga 1 jam kemudian tiba ditempat tujuan. Sebuah tempat yang memang biasa dijadikan tempat untuk pelelangan. Bahkan sudah berkali kali Tay kesini untuk melelang barangnya.
Lee yang sudah tiba lebih dulu itu mengikuti acara pelelangan dengan tenang. Sambil mengamati sekitar dimana New berada karena sebelumnya Lee sudah tahu wajah New seperti apa. Namun saat orang terakhir yang dilelang membuat Lee terkejut. Karena orang itu adalah New, orang yang mereka cari. Tapi bagaimana bisa New ada disini menjadi barang lelang?
Satu per satu orang mulai melelang New dengan harga yang cukup tinggi. Tanpa kehabisan akal, Lee memberikan harga yang sangat tinggi membuat pelelang yang lain tidak berani memberikan harga lagi.
"Oke 10 miliyar. Terjual"
Lee akhirnya bernafas dengan lega. Namun karena Lee tidak membawa uang sebanyak itu. Lee menunggu Tay datang agar Tay yang membayarnya.
"Dimana kamu sekarang? Aku sudah menemukannya"
"Aku sudah tiba"
"Datanglah ke ruang tunggu"
Tay pun tiba diruang tunggu dan melihat Lee yang sedang duduk, membuatnya langsung menghampiri.
"Dimana dia?"
"Dia ada didalam" tunjuk Lee ke sebuah pintu yang ada didepannya.
Saat Tay ingin masuk, seseorang menghalanginya "maaf tuan anda belum bisa masuk sebelum membayar"
Ucapan pria itu membuat Tay menatap Lee meminta penjelasan. Lee yang ditatap Tay menusuk itu sedikit gugup.
"Sebenarnya tadi dia dilelang, banyak orang yang ingin membelinya dengan harga tinggi. Lalu tanpa pikir panjang aku membeli dengan harga yang lumayan tinggi. Tapi aku belum membayarnya"
"Berapa?"
"10 miliyar"
"Astaga. apa kau bodoh?" Tay menepuk kepalanya dengan frustasi. Bagaimana ada seorang b***k yang dibeli dengan harga 10 miliyar, fikirnya.
"Tuan. Apa anda akan membayar? Jika tidak kami akan menjualnya pada orang lain" ucapan seseorang membuat Tay tersadar. Lalu mengeluarkan sebuah credit card yang memang dikhususkan untuk bertransaksi di bisnis gelap ini sehingga tidak bisa dilacak oleh polisi.
Setelah menerima credit card, orang itu mempersilahkan Tay masuk. Tay melihat New sedang tertidur dengan nyaman diatas kasur. Tay menghampirinya dan duduk disampingnya. Mengelus pipi New yang masih tersisa air mata.
"Maaf aku terlambat" ucapnya sambil mengecup kening New singkat.
'flashback off'
"Jadi kalian semua melakukan itu demi kami? Aku tidak menyangka kalian akan melakukan hal keren seperti ini" ucap Gunn penuh semangat. Namun berbeda dengan New, New malah terlihat murung saat tahu apa yang sebenarnya terjadi.
'jadi dia melakukan semua ini untuk menyelamatkan ku?' pikir New
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tay datang dengan tiba-tiba membuat semuanya terdiam. Namun Gunn malah berlari memeluk Tay.
"Phi Tay hebat sekali bisa melakukan semua ini untuk menyelamatkan kami"
"Apa maksudmu?" Tanya Tay dengan bingung.
"Tadi phi Off sudah menjelaskan semuanya. Bahwa phi membuat rencana untuk menyelamatkan kami"
"Yang menyelamatkanmu bukan aku, tapi Off. Berterima kasihlah padanya"
"Tapi semua berkat phi, aku sangat menyayangimu. Terima kasih sudah menjadi kakakku"
New yang melihat Gunn dan Tay berpelukan itu menjadi bimbang, New yang tadinya marah pada Tay karena merasa dibohongi kini merasa bersalah. Karena sudah menghindari Tay yang telah menyelamatkan nya bahkan mengeluarkan uang sebanyak itu demi membebaskannya.
"Bisa aku bicara padamu?" Pertanyaan New membuat Gunn melepaskan pelukannya dan mempersilahkan New untuk bicara dengan kakaknya. Lalu Gunn menarik Off ketempat lain agar Tay dan New bisa mengobrol berdua saja.
"Ada apa?" Tanya Tay pura-pura tidak tahu. Sebenarnya Tay yakin jika New merasa bersalah, hanya saja sifat egoisnya membuat New menjadi menghindari Tay.
"Aku ingin berterima kasih dan minta maaf padamu. Terima kasih karena sudah menolongku. Dan aku minta maaf karena sudah marah padamu. Aku merasa selama ini dibohongi olehmu, tapi aku berfikir jika semua ini juga salahku karena aku tidak pernah bertanya"
Ucapan jujur New membuat Tay sangat bahagia dan memeluk New dengan erat. Tay sangat menyayangi New dan akan melakukan apapun untuknya, sehingga Tay merasa senang jika akhirnya usahanya bisa membuat New memafkannya.
"Terima kasih karena sudah mempercayaiku"
"Jawaban ku Ya"
"Jawaban apa?" Tanya Tay bingung menatap New dengan wajah sok polosnya. Namun bukannya menjawab New malah melepas pelukan Tay dan pergi meninggalkan nya.
"Heyy kenapa pergi? Kamu belum menjawab pertanyaan ku"
"Ck.. bodoh. Jawabanku Ya untuk pertanyaanmu sebelumnya"
"Pertanyaan ku yang mana? Ahh saat aku memintamu menjadi kekasihku? Kamu mau? Sungguh?"
New berlari untuk mengindari Tay, namun Tay mengejar nya dan kini mereka berlari keliling rumah membuat suasana gaduh. Hingga para pengawal bingung dibuatnya karena tingkah boss nya yang baru pertama kali mereka lihat itu.
"Sepertinya mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih" ucap Gunn yang sejak tadi mengintip dengan Off dengan senyum terpasang diwajahnya membuat Off semakin terpesona.