episode 20

2435 Kata
"Jangan pergi.. jangan tinggalkan aku.. kumohon jangan pergi.." "Kak Nay" Hoshh.. hoshh.. hoshhh.. New terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu dan keringat yang bercucuran. Entah kenapa akhir-akhir ini mimpi itu selalu menghantuinya, saat New hampir melupakannya, mimpi itu kembali lagi. Seakan-akan New tidak boleh melupakannya. New sangat tahu jika orang yang selalu datang dimimpinya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi New berharap jika orang itu masih ada dan kembali membawa janji yang telah dia janjikan. Memikirkannya saja membuat New menjadi sedih, New sungguh tidak rela saat melihat dengan mata kepalanya sendiri mobil yang ditumpangi orang itu terjatuh ke dalam sungai. Bahkan sampai sekarang pun New masih tidak rela. Saat New sedang memikirkan mimpi buruk yang baru saja dia alami, tiba-tiba New kepikiran Tay. Bagaimana jika nasib Tay sama dengan kak Nay? Bagaimana jika Tay juga meninggalkan nya? Meninggalkan New seorang diri dan kembali membuat New terpuruk? Tidak, itu tidak mungkin. Tay sudah berjanji akan kembali padanya. Tay tidak akan meninggalkannya. New sangat yakin itu. New melihat jam yang ada di ponselnya, membuat New sadar jika seharusnya Tay dan Off sudah tiba di korea. New pun menghubungi Tay untuk menanyakan keadaannya. Namun Tay tidak menjawab. Mungkin mereka sedang beristirahat fikir New. Karena sudah pagi, New memutuskan untuk mandi dan bersiap berangkat bekerja. Setelah mandi dan mengenakan pakaian dengan rapi New berjalan menuju ruang makan. Ruang makan sepi tidak ada seorang pun, sepertinya Gunn belum bangun. New berjalan ke arah kamar Gunn untuk membangunkannya. Tok.. Tok.. Tok... "Gunn? Ayo sarapan" Tidak ada tanggapan. New mencoba untuk mengetuk kembali tapi tidak ada tanggapan juga. Dengan terpaksa New membuka pintu kamar Gunn yang tidak terkunci untuk memastikan keadaannya. New melihat Gunn masih tidur dengan nyaman diatas kasur, bahkan Gunn tidak merasa terusik saat New membangunkannya. "Gunn bangun, ayo sarapan" ucap New sambil menepuk pipi Gunn pelan. "Eemm.. aku masih mengantuk" jawab Gunn tanpa membuka matanya. New menyerah " kalau begitu aku siapkan sarapanmu didapur oke" "Eemmm..." Mendengar jawaban seadanya dari Gunn membuat New keluar dari kamar dan pergi menuju ruang makan. Rasanya aneh makan seorang diri disaat biasanya makan bersama orang lain. Dengan cepat New menghabiskan sarapannya dan menuju mobil yang sudah siap didepan rumah. Seperti kata Tay dia memberikan pengawal lebih banyak dari biasanya. Karena biasanya New akan berangkat bersama pengawal yang juga menjadi sopir, tapi kini 1 mobil lagi sudah bersiap dibelakang New. "Apa kalian akan mengawalku juga?" Tanya New pada beberapa orang yang bersiap memasuki mobil. "Tentu saja tuan, tuan Tay menyuruh kami untuk mengawal anda" ujar salah satu pengawal. Namun New menolak "tidak perlu aku akan berangkat bersama dengannya seperti biasa. Kalian dirumah saja menjaga Gunn, dia lebih membutuhkan kalian" "Tapi tuan..." "Tidak ada tapi-tapian" potong New kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil pun berjalan menjauh dari rumah, saat sudah cukup jauh New tersadar jika dia tidak membawa ponsel. Pengawalnya menawarkan kembali ke rumah untuk mengambil ponsel namun New menolaknya. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Setibanya dirumah sakit, seperti biasa New menyapa semua orang yang ditemuinya namun hanya beberapa yang membalasnya. Bahkan ada yang terang-terangan menghindari New dengan tatapan kebencian. New melihat seluruh tubuhnya untuk memastikan apakah ada yang salah, tapi tubuhnya tidak ada apa-apa hanya pakaian seperti biasa. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka menatap New seperti itu? Saat New menghampiri salah satu suster yang ada didekatnya , suster itu pura-pura tidak melihat New dan malah pergi begitu saja. Dengan perasaan bingung New berjalan menuju ruang kerjanya. New masuk kedalam ruangannya dengan perasaan campur aduk, hari ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Saat New sedang memikirkan kejadian pagi ini, seseorang masuk dengan membanting pintu. Brakkk.. "Oab tenanglah, jangan seperti ini" ucap Jane dibelakang yang berusaha untuk menarik Oab namun Oab malah mendorong Jane. New yang sedang bingung dibuat tambah bingung dengan kehadiran Jane dan Oab yang tiba-tiba masuk. Oab terlihat sangat marah, tapi New tidak tahu apa penyebabnya. "Ada apa Oab Jane? Apa yang terjadi?" Tanya New sambil menatap Oab dan Jane bergantian. "Jangan pura-pura bodoh New, aku sudah tahu semuanya. Jadi ini alasanmu merahasiakan siapa kekasihmu yang sebenarnya hah?" "Apa maksudmu Oab? Aku tidak mengerti" Jane memberikan ponselnya pada New dan disana terdapat foto-foto New yang sedang bersama dengan Tay. Saat Tay mengantarnya ke rumah sakit, saat mereka ada dibandara dan saat Tay mencium New semuanya ada didalam foto itu. New sangat terkejut dengan apa yang dia lihat, membuatnya tidak berani menatap Oab dan Jane "Dari mana kalian dapat foto ini?" "Tidak penting kami dapat dari mana, yang pasti apa kamu benar berkencan dengannya?" Tanya Jane sambil menyentuh pundah New, namun New diam. Masih tidak berani menatap mereka hingga membuat Oab geram. "Jawab New jangan diam saja. Apa kamu benar berkencan dengannya hah?" Bentak Oab hingga New dan Jane terkejut. "Oab tenanglah, biarkan New menjelaskan" "Ya aku berkencan dengannya. Dia kekasihku" jawab New jujur. "Apa kamu tahu dia siapa? Apa kamu tahu apa yang sudah dia lakukan padaku?" Tanya Oab lagi dan New hanya bisa mengangguk tanda dia tahu siapa Tay sebenarnya, dan apa yang sudah Tay lakukan pada Oab. Oab semakin marah dibuatnya, hingga Oab mencengkram leher New dan mendorongnya ke tembok. "Apa kamu bodoh? Kamu sudah tahu apa yang dia lakukan padaku dan kamu masih mau berkencan dengannya? Dimana otakmu New?" Jane histeris melihat apa yang Oab lakukan, Jane pun berusaha untuk melerai mereka "Oab lepaskan New, dia bisa kehabisan nafas" "Diam Jane kamu tidak perlu ikut campur" ucapan dingin Oab membuat Jane terdiam, matanya berkaca-kaca karena tidak pernah melihat Oab yang seperti ini. Dengan sekuat tenaga New berusaha untuk melepas cengkraman Oab "Kamu yang tidak perlu ikut campur Oab, aku berkencan dengannya itu tidak ada hubungannya denganmu" "Apa?" Oab terkejut dengan ucapan New. "Ini urusanku kamu tidak perlu ikut campur. Dan aku tidak pernah mengatakan pada kalian karena aku yakin kalian akan memperlakukanku seperti ini" "New.. aku tidak masalah kamu berkencan dengan siapapun, bahkan pria sekalipun. Tapi kenapa harus dia? Dia tidak pantas denganmu, aku tidak ingin kamu terluka seperti ku. Kamu sahabatku, seharusnya kamu mengerti" "Kamu yang seharusnya mengerti, aku menyukainya. Dan hanya aku yang bisa menilai dia pantas untuk ku atau tidak" Oab terdiam mendengar ucapan New, tidak mengerti dengan jalan fikiran New. Dengan kecewa dan tanpa mengucapkan apa-apa lagi Oab pergi meninggalkan ruangan New begitu saja. Jane pun hanya bisa menatap New dengan iba dan juga pergi meninggalkannya seorang diri. Beberapa saat kemudian seorang suster datang memberitahu jika direktur memanggil New tanpa mendengar jawaban dari New suster itu segera pergi. New berjalan dengan gontai menuju ruangan direktur, setiap orang yang ditemuinya seperti menghindar. Bahkan wanita-wanita yang dekat dengan New menatapnya menghina. "Aku tidak menyangka jika dokter New menyukai pria, pantas saja aku mendekatinya tapi dia tidak tertarik padaku" "Kamu benar, aku pernah mencoba mengajaknya berkencan tapi dia menolakku" "Aku bahkan pernah hampir memeluknya, tapi dia menghindar dan menyuruhku pergi" "Menjijikan sekali.." "Bagiamana ada orang seperti itu" Berbagai cemoohan menusuk indera pendengarannya. New merasa sangat muak dengan mereka, apa salahnya berkencan dengan pria? Bahkan mereka yang menghina New adalah orang yang dulu dekat dengannya. Walaupun mereka yang mendekati New lebih dulu. Tapi sekarang mereka menjadi orang pertama yang menghinanya. Dengan perasaan kesal akhirnya New tiba diruangan direktur. New masuk setelah direktur mempersilahkannya dan duduk didepan direktur. "Apa anda memanggil saya?" Tanya New dengan sopan walaupun sedang emosi. "Dokter New, apa benar yang dibicarakan orang-orang tentangmu?" Tanya direktur to the point. "Apa ini tentang foto itu?" "Sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya. Tapi masalahnya..." "Karena dia putra anda?" Potong New sebelum direktur melanjutkan. "Ya kamu benar. Karena dia putraku aku tahu seperti apa perilakunya. Aku hanya tidak ingin kamu mendapatkan orang yang salah. Aku sudah mengenalmu sejak lama. Kamu orang yang baik. Tidak sepantasnya kamu dengannya" Kalimat panjang lebar direktur membuat New mengerutkan keningnya. Ucapannya tidak sesuai dengan apa yang New fikirkan. New berfikir jika direktur akan marah padanya karena sudah berkencan dengan putranya. Tapi nyatanya direktur malah melarangnya berkencan dengan Tay karena putra nya itu tidak pantas untuk New? Apa maksudnya? "Jadi anda tidak marah pada saya karena saya berkencan dengan putra anda?" "Tidak, aku tidak marah karena itu. Aku hanya ingin kamu hati-hati dengannya dia tidak sebaik yang kamu kira" "Apa maksud anda? Kenapa anda bicara seperti itu pada putra anda sendiri?" "jika kamu memang berkencan dengannya kamu pasti tahu bagaimana dia yang sebenarnya. mungkin sudah lama aku tidak melihatnya lagi, tapi aku tahu sifat dasarnya seperti apa. kamu juga tahu dia kabur dari rumah dan bersembunyi dari kami dan mungkin dia menceritakan alasannya kabur. tapi satu hal yang harus kau tahu, dia bohong. dia kabur dari rumah karena sudah membunuh ibu kandungnya dan hampir melukai adiknya" "Apa?" New sangat tercengang mendengar penuturan direktur. New tidak menyangka jika Tay orang yang sangat kejam hingga membunuh ibunya sendiri. Bahkan dengan Gunn. Tapi New tidak langsung percaya dengan ucapan direktur sebelum New mendengar dari mulut Tay sendiri. "Ingat ucapan ku baik-baik, karena aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri jadi aku tidak ingin kamu terluka" "Terima kasih atas sarannya, tapi saya akan percaya jika Tay yang mengatakannya sendiri. Kalau begitu saya permisi dulu" *** "Off apa kamu melihat ponselku?" Tanya Tay yang sedang mengobrak-abrik isi tas nya hingga semua isinya tergeletak dilantai. Tapi ponselnya tidak ketemu juga. "Bukankah tadi kamu menyimpannya didalam tas?" Tanya Off balik yang melongok dari kamar mandi dengan rambut penuh busa dan tubuhnya tanpa ditutupi apapun. "Aku sudah mencarinya tapi tidak ada" "Mungkin tertinggal didalam mobil" Dari apartemen lantai 2 miliknya, Tay turun untuk menyuruh pengawal mencari ponselnya yang tertinggal didalam mobil. Hingga beberapa saat pengawal itu kembali membawa ponsel Tay. Namun ternyata ponselnya mati, dan Tay buru-buru kedalam kamar untuk mencharger nya. Karena Tay yakin jika New menghubunginya dan menanyakan keadaannya. Saat ponselnya sudah menyala, Tay langsung menghubungi New. Tapi berkali-bali menghubunginya tidak ada tanggapan. Dia pun mencoba untuk menghubungi Gunn, dan syukurlah Gunn mengangkat teleponnya. "Hallo phi Tay.. apa sudah sampai? Kalian sampai dengan selamat kan?" Rentetan pertanyaan Gunn langsung menghampiri indera pendengarannya. "Yaa kami sampai dengan selamat. Kamu sedang dirumah kan? Apa New sudah berangkat ke rumah sakit?" "Sudah Phi. Ada apa?" "Ah tidak apa-apa, aku menghubunginya tapi tidak ada jawaban" "Mungkin saja dia sedang sibuk" "Ya kamu benar. Kalau begitu kamu jangan pergi kemana-kemana dan tetaplah dirumah mengerti?" "Aku mengerti phi Tay. Aku masih mengantuk aku ingin tidur lagi" sambungan telepon pun terputus. "Dasar anak ini" ucap Tay dengan gemas pada ponselnya. "Apa yang sedang kamu lakukan boss?" Tanya Off heran melihat Tay yang berbica dengan ponselnya. Seperti tidak terjadi apa-apa Tay berjalan begitu saja menuju kamar mandi. Selesai mandi Tay mengenakan pakaian rapi karena akan bertemu salah satu koleganya untuk membahas masalah yang terjadi pada gudangnya. Karena sebelumnya Tay sudah meminta untuk bekerja sama dengan polisi setempat. Entah apakah akan berhasil atau tidak Tay tidak yakin. Setelah berpakaian rapi Tay menuju lantai 1 dan melihat Off sedang sarapan sambil menonton tv. Bahkan Off tertawa seperti orang gila dan membuat makanannya berserakan kemana-mana. "Bagaimana bisa aku merelakan adik ku pada orang bodoh sepertimu" sindir Tay tanpa melihat ke arah Off dan berjalan menuju dapur. "Tapi orang bodoh ini yang selalu membereskan semua masalah. Benar begitu kan boss?" Balas Off membuat Tay merasa tertohok hingga tidak mampu membalasnya lagi. "Ah iya boss tadi tuan Kim memberitahu jika jadwal pertemuannya diundur jadi nanti malam karena ada masalah dikepolisian" ucap Off dengan santai. "Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang Off" Tay yang sedang memegang pisau untuk membelah buah itu menodong Off dengan pisaunya. Namun Off tidak menghiraukan dan tetap memakan makanannya. "Sorry boss, aku baru melihat ponselku" ucapnya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tay menggerutu "Sial aku sudah rapi seperti ini" *** Malam harinya Tay dan Off sudah tiba ditempat pertemuan, tapi orang yang mereka tunggu belum datang juga. Hingga beberapa saat akhirnya orang yang mereka tunggu datang. Mereka duduk di meja bundar, namun ternyata terdapat 5 kursi. Setahu Tay pertemuan kali ini hanya 4 orang, tapi kenapa ada kursi lebih? Saat Tay bertanya-tanya untuk siapa kursi itu seorang wanita cantik masuk dengan tergesa-gesa. "Maaf sepertinya aku terlambat" ucap wanita itu. Tay sungguh terkejut melihat wanita yang kini duduk disampingnya, tidak menyangka jika dia akan datang. Tapi untuk apa dia datang dipertemuan yang membahas tentang bisnisnya? "Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Tay dengan dingin. Namun sebelum wanita itu menjawab, seseorang menginterupsi pembicaraan Tay. "Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri saya berlebih dahulu. Nama saya Kim Jong In, saya yang bertugas untuk menjaga keamanan gudang disini. Tapi karena kelalaian saya yang membuat masalah seperti ini saya meminta tolong kepada kapten Park Chanyeol untuk bekerja sama. Sebenarnya tuan Leo yang merekomendasikan kapten Park Chanyeol tapi karena dia tidak bisa hadir jadi digantikan oleh nona Namtan" ucap pria bernama Kim Jong In itu sambil memperkenalkan Park Chanyeol dan Namtan bergantian. "Benar, sebelumnya aku tahu dari kakakku jika bisnismu yang ada disini mengalami, masalah. Dan kakakku merekomendasikan tuan Park Chanyeol untuk bekerja sama karena kami juga bekerja sama dengannya. Dan bisnis kami yang ada disini selalu aman" ucap Namtan menjelaskan. Akhirnya setelah 2 jam berbincang membahas rencana kerja sama dengan keuntungan yang menjanjikan, mereka pun sepakat dan menandatangani kontrak yang sudah disediakan. Walaupun Tay tidak sepenuhnya percaya pada Namtan tapi Off berhasil membuat Tay menyetujuinya. Dan Park Chanyeol juga berjanji akan mengembalikan semua barang yang sudah disita oleh kepolisian. Setelah pertemuan itu berakhir Tay dan Off akan kembali ke apartemennya tiba-tiba Namtan mencegahnya, dan ingin bicara dengan Tay berdua saja. Tay awalnya menolak dengan alasan capek dan ingin beristirahat namun karena Namtam memaksa dan mengancam jika Tay harus membalas budi akhirnya Tay menyerah. Tay pun menyuruh Off untuk pulang terlebih dahulu dan kini mengikuti Namtan yang membawa mobilnya. "Bagaimana kamu ada disini?" Tanya Tay memecah keheningan. Namtan menyetir mobilnya sambil tersenyum. "Apa sekarang kamu mau bicara denganku?" Tanya Namtan tanpa membalas pertanyaan Tay membuat Tay menghela nafas berat dan mengalihkan pandangannya keluar mobil. "Katakan apa maumu yang sebenarnya? Aku muak melihatmu ada disini" Namtan tidak menjawab namun kini mobilnya berhenti disebuah apartemen mewah yang Tay yakin jika ini milik Namtan. Namtan keluar dari mobilnya dan juga menyuruh Tay keluar, tapi Tay menolak. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ayo masuk" Tanpa curiga Tay berdiri diruang tamu sedangkan Namtan masuk kedalam sebuah kamar. Namtan memunggunginya dan mengobrak-abrik mencari sesuatu, entah apa yang dia cari Tay juga tidak tahu. Namun Tay merasakan seseorang berada dibelakangnya, saat Tay menoleh ke arah belakang untuk memastikan tiba-tiba sebuah balok besi menghantam kepala Tay membuatnya terjatuh tidak sadarkan diri. " Jangan terlalu kasar padanya, dia milikku" ucap Namtan menghampiri tubuh Tay yang tergeletak tidak berdaya. "Bukankah aku juga milikmu?" Tanya seorang pria yang membuat Tay pingsan namun Namtan tersenyum dan menghampiri pria itu. "Tentu saja kamu juga milikku Krist" ucap Namtan dan mencium bibir krist singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN