Tay terbangun di dalam sebuah kamar yang tidak ia kenal, ia bahkan tidak tahu dimana ia berada saat ini. Yang Tay ingat hanya saat ia dikejar-kejar oleh polisi, setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Tay tersadar saat ini tidak mengenakan baju hanya mengenakan celana pendek dan perban yang melilit ditubuhnya. Saat Tay mencoba untuk keluar dari kamar, seorang pria tiba-tiba masuk membawa nampan berisi makanan.
"Ahh.. kamu sudah bangun rupanya. bagaimana keadaan mu? Apa masih sakit?" Tanya pria itu yang berjalan mendekati Tay.
"Siapa kamu?" Tanya Tay dengan nada dingin mengabaikan pertanyaan pria tersebut. bukannya tersinggung dengan nada dingin Tay pria itu malah tersenyum.
"Namaku New, semalam aku tidak sengaja menabrakmu. Karena rumah sakit sangat jauh aku memutuskan untuk membawamu kerumahku" ucap New yang kini duduk dipinggir kasur yang ditempati Tay.
Tay mengabaikan New, tidak ingin berurusan dengan orang asing lalu memutuskan untuk pulang. saat ini pasti keadaan dirumahnya sangat kacau dan menyebabkan Tay rugi besar.
"aargghh" Tay meringis kesakitan saat ia bangun dengan tiba-tiba, pundaknya terasa sangat sakit ia kembali berbaring perlahan.
"lukamu belum sembuh, tunggulah beberapa saat lagi hingga kondisimu pulih. semalam kulihat di pundakmu ada peluru tapi tenang saja sudah ku keluarkan karena aku seorang dokter. kamu tidak perlu cemas"
"Aku tidak peduli. Dimana pakaian dan ponselku?" Ucap Tay sedikit membentak membuat New merasa sedikit bersalah.
"Maaf pakaianmu kotor jadi sedang ku cuci, sedangkan ponselmu aku tidak tahu karena semalam aku tidak melihat mu membawa ponsel. Tapi aku bisa meminjamkan ponsel ku" kemudian New menyodorkan ponselnya dan langsung diambil oleh Tay untuk menghubungi seseorang.
"Halo Off dimana kamu sekarang? Cepat jemput aku" ucap Tay pada Off saat sambungan sudah terhubung.
"Akan ku kirim alamatnya. Dan juga bawakan pakaian untukku" ucapnya lagi kemudian memutuskan sambungan telepon.
"Apa alamat rumah ini?" Tanya Tay pada New saat New hanya diam saja memperhatikan Tay. New mengambil ponsel yang dipegang Tay mengetik alamat rumahnya dan mengembalikannya lagi pada Tay untuk dikirim pada Off.
"Makanlah dulu sebelum pulang, aku sudah membuatkan bubur untukmu" New memecah keheningan kemudian menyodorkan sendok berisi bubur ke arah Tay. Tay memandang New dengan curiga.
"Apa kamu memasukkan racun kedalam bubur ini?"
"A-PA? Teganya kamu bertanya seperti itu setelah aku menolongmu" kata New yang terkejut dan hampir menjatuhkan sendok yang dipegangnya. New tidak habis fikir dengan orang yang sudah ia tolong ini. bagaimana bisa ada orang yang tetap mencurigainya setelah ditolong seperti ini? New sedikit menyesal sudah menolongnya.
"Aku hanya bertanya, kenapa kamu terkejut seperti itu" Tay mengambil mangkok bubur yang dipegang oleh New lalu memakannya hingga habis dan menaruh mangkok kosong itu ke meja disamping kasur mengabaikan New yang terlihat kesal dengan ucapan Tay sebelumnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa bisa ada peluru di pundakmu?" Tanya New yang sejak semalam penasaran dan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa kamu ingin tahu?" Tay mendekatkan wajahnya ke wajah New membuat New tersentak dan mundur hingga akhirnya New hampir terjatuh ke lantai jika saja Tay tidak menarik tangan New dan kini malah New yang terjatuh menimpa tubuh Tay. Selama beberapa detik New masih berada diatas tubuh Tay hingga suara bel rumah berbunyi dan New pun bangkit untuk membuka pintu.
"Ada yang bisa ku bantu?" Tanya New saat sudah membuka pintu dan melihat ada seorang pria tinggi berkulit putih dan mata yang sipit.
"Apa boss ku ada disini?" Pertanyaannya membuat New mengerjapkan matanya bingung. Kemudian pria itu meralat pertanyaannya.
"Maksudku seorang pria berkulit gelap tubuhnya lebih pendek dariku tapi cukup tampan"
"Ohh dia ada didalam. Silahkan masuk" New membawa pria itu menuju kamarnya tempat Tay berada sekarang.
"Bosss.. apa yang terjadi? Kenapa bisa berada disini?" Tanya Off saat melihat Tay berbaring dikasur.
"Bagaimana keadaan barang-barangku apa mereka terselamatkan?" Tanya Tay tanpa menjawab pertanyaan Off.
"Emm.. sebaiknya kita bicarakan dirumah. Adikmu mengamuk sejak semalam saat tahu kamu hilang. Keadaan dirumah sangat kacau. Ini ku bawakan baju untukmu" ucap Off yang menyadari keberadaan New. Tay pun menerima bungkusan baju yang dibawa oleh Off dan berganti pakaian ditempat itu juga, mengabaikan Off dan New. Setelah berganti pakaian dengan menahan sakit dipundaknya Tay berjalan lebih dulu untuk segera keluar dari rumah New dan menuju mobil Off yang terparkir didepan. Saat Off akan menyusul Tay, New menghadang Off membuat Off berhenti.
"Aku ingin bertanya sesuatu?" Tanya New membuat Off terdiam dan akhirnya mengangguk agar New bisa melanjutkan pertanyaannya.
"Siapa dia sebenarnya?" New yang masih penasaran karena Tay tidak menjawabnya membuat New tidak bisa menahan rasa penasarannya dan akhirnya bertanya pada Off.
Off tersenyum sinis saat mendengar pertanyaan New, dan mendekatkan tubuhnya pada New membuat New mundur hingga menabrak tembok dibelakangnya.
"Dia .... Matahari" ucap Off meninggalkan New begitu saja yang masih terdiam mencerna ucapan Off.
**
"Cepat cari kakak ku sampai ketemu. Jika sampai malam ini kalian tidak menemukan kakak ku, aku yang akan membunuh kalian !!!" Suara teriakan Gunn menggema diseluruh rumah, membuat semua anak buah Tay merinding dan tidak berani membantah.
Sejak mendengar bahwa acara yang Tay buat gagal karena didatangi polisi, Gunn sudah berusaha untuk menghubungi Tay namun tidak bisa dihubungi. Gunn juga sudah menyuruh semua anak buah Tay untuk mencarinya namun sampai sekarang tidak ada hasil. Membuat Gunn geram dan menendangi apa saja yang ada didekatnya. Tadi pagi saat Off pulang untuk melihat keadaan Gunn, Off dibuat tercengang. Bagaimana tidak, rumah yang selalu rapi karena Tay tidak suka berantakan kini menjadi seperti kapal pecah. Piring-piring bahkan guci mahal milik Tay hancur berantakan. Salah satu anak buah Tay pun tak luput dari amukan Gunn karena dipukuli dan ditendangi oleh Gunn tanpa berani melawan. Off yang melihat keadaan Gunn seperti itu berusaha untuk menenangkannya. Namun bukannya tenang, Off malah menjadi sasaran amukan Gunn, karena Off tidak bisa menjaga Tay dengan benar dan membuat Tay menghilang.
"Kenapa phi Off tidak menjaga phi Tay? Kenapa phi Tay menghilang? Kemana dia sekarang phi?" Ucap Gunn sambil memukuli Off kemudian jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu.
Off tidak merasakan sakit walau dipukuli oleh Gunn, namun hati Off sakit melihat Gunn yang menangis seperti itu. Kemudian Off duduk di depan Gunn dan memeluknya mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
"Tenanglah Gunn, aku janji akan menemukan boss. Asalkan kamu tidak menangis lagi. Sekarang ayo kekamarmu kamu harus istirahat" Off membantu Gunn berjalan untuk menuju kamarnya. Setelah membaringkan Gunn dikasurnya Off keluar. Saat Off akan keluar untuk mencari Tay lagi tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan membuat Off berlari menuju mobilnya menuju ke suatu tempat.
Gunn terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gaduh dari luar kamarnya.
"Kerja kalian tidak becus, mengurus hal seperti ini saja tidak bisa" . Samar-samar Gunn mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali, membuat Gunn terbangun dan berlali keluar kamar untuk menemuinya..
"Phi Tay kemana saja? Kenapa menghilang? Apa phi ingin meninggalkanku lagi?" Suara serak Gunn yang menahan tangis seraya memeluk Tay membuat Tay berhenti memarahi anak buahnya. Off yang sadar situasi pun menyuruh semua anak buahnya pergi, meninggalkan Tay dan Gunn berdua saja.
"Maafkan aku. aku tidak bermaksud membuatmu khawatir" ucap Tay dan mengusap kepala Gunn perlahan.
"Aku takut sendirian lagi" air mata Gunn turun perlahan karena tidak mampu di bendung lagi.
"Kan masih ada mama dan papa. Kamu tidak sendirian. Dan kamu juga mempunyai kekasih"
"Phi tahu sendiri, mama dan papa tidak pernah mempedulikanku hanya phi Tay yang peduli padaku. Ku mohon jangan tinggalkan aku lagiiii" ucap Gunn melepaskan pelukannya lalu menggenggam kedua tangan Tay dan mengayunkannya seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan.
"Iyaa adikku, phi janji. Apa umurmu tidak bertambah? Aku seperti memiliki adik kecil berumur 5 tahun" Tay mencubit pipi Gunn membuat Gunn cemberut.
"Phi Tay itu umurku 20 tahun yang laluuu" Tay tertawa sangat kencang melihat tingkah adik kecilnya yang tidak pernah berubah. iya menjadi sangat menyesal tidak melihat pertumbuhan Gunn selama ini. para bawahannya yang saat ini sedang mengintip dari balik pintu terkagum dengan Gunn karena mampu membuat boss nya yang sangat garang itu tertawa bahagia. Off yang berdiri tidak jauh dari sana pun ikut tersenyum melihat tingkah Gunn yang menurutnya sangat menggemaskan.
***
"Kenapa kamu datang terlambat? Biasanya kamu jadi orang pertama yang datang" ucap Jane yang sedang duduk di samping Oab dan didepan New yang saat ini berada dikantin untuk makan siang.
"Aku semalam menabrak seseorang, dan kubawa kerumahku karena dia terluka. Jadi aku harus merawatnya dulu sebelum berangkat" jawab New membuat Jane yang sedang makan menghentikan kegiatannya.
"New... bagaimana bisa kamu menabrak orang? Apa dia terluka parah? Kenapa tidak kamu bawa ke rumah sakit?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Jane, New hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.
"Hah.. entahlah aku bingung. Dia terluka bukan karena aku menabraknya. Tapi karena peluru dipundaknya. Dan kamu tahu sendiri rumahku sangat jauh dari rumah sakit"
"Dia terluka karena peluru? Apa dia seorang pencuri yang dikejar-kejar polisi?"
Pertanyaan Jane dihiraukan oleh New, karena saat ini New menatap Oab yang sejak tadi diam saja membuat New heran.
"Apa yang terjadi Oab? Apa masih sakit?" Tanya New membuat Jane berhenti bertanya dan kini menatap Oab yang ada disampingnya.
"Demam mu sudah turun, dan luka-lukanya juga sudah kering. Apa ada masalah lain?" Tanya Jane yang memeriksa keadaan Oab.
"Aku belum melihat Gunn sejak tiba dirumah sakit. Dan aku juga tidak bisa menghubunginya" ucap Oab dengan raut sedih, Jane dan New saling pandang khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Apa mungkin kakaknya melarang Gunn menemuimu?"
"Janee..."
"Apa New? Aku kan hanya bertanya"
"Diamlah, apa kamu ingin sahabatmu semakin sedih?"
"Maafkan aku Oab aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Sebenarnya hari ini Gunn cuti, aku tidak tahu alasannya"
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia menghindari ku seperti ini?"
"Kami akan mencari tahu, sebaiknya kamu kembali ke kamar. Akan ku antar" New bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati Oab dan mendorong kursi roda Oab untuk mengantarnya ke kamar. New tidak ingin sahabatnya ini semakin parah hanya karena mencemaskan keadaan kekasihnya tanpa peduli dengan keadaannya sendiri.
***
Tay sedang mengamati berkas berisi daftar barang-barang dagangan yang ada di acara pelelangan kemarin. Banyak barang yang disita polisi membuat Tay rugi miliyaran. Bahkan semua b***k yang akan dijual kabur membuat Tay semakin frustasi. Off yang sejak tadi duduk dihadapan Tay hanya terdiam melihat keadaan Tay, Off merasa bersalah karena kelalaiannya membuat acara yang sudah disiapkan oleh boss nya selama berhari-hari gagal lagi.
"Apa yang harus kita lakukan boss? Barang-barang itu harus segera kita kirim ke Jepang dalam 2 hari lagi. Dimana kita harus mencarinya dalam waktu sebentar itu?" Off yang sejak tadi diam mulai bicara karena Tay tidak mengatakan apapun sejak Off masuk keruang kerjanya.
"Apa kamu sudah menghubungi pihak Rusia untuk mengirim barang-barang ini?" Tanya Tay yang masih mengamati berkas didepannya.
"Sudah boss tapi mereka membutuhkan waktu satu minggu untuk mengirim kesini. Sedangkan waktu kita tinggal dua hari lagi. Apa sebaiknya kita lakukan seperti waktu itu boss?" Pertanyaan Off membuat Tay tersenyum. Sepertinya tidak ada salahnya melakukan hal itu lagi.
"Berikan padaku daftarnya. Aku yang akan menentukan target. Ini akan menarik" ucap Tay dengan senyuman yang masih tercetak diwajahnya. Off yang diberikan perintah oleh boss itu pun ikut tersenyum dan akhirnya pergi keluar dari ruang kerja Tay.
"Semuanya sudah siap boss, gudang milik target sedang tidak dijaga dengan ketat. Kita bisa menyerang mereka tanpa kendala" ucap Off menghampiri Tay yang kini sedang duduk menikmati makan malamnya kemudian Off duduk dan ikut makan.
"Oiya boss kenapa sejak tadi aku tidak melihat Gunn?" Tanya Off yang sedang menyuap makanannya.
"Entahlah, sejak kepulanganku dia selalu pergi. Mungkin menemui kekasihnya" ucap Tay tanpa melihat perubahan raut wajah Off. Padahal Off berharap agar Gunn putus dengan kekasihnya itu tapi mereka malah semakin dekat. Membuat Off kesal.
"Setelah ini kamu berangkat lah lebih dulu, ajak semua anak buah untuk ikut. Aku akan menyusul"
"Siap boss"
"Kalian semua tahu kan kita akan menyerang Grey Land. Geng mereka terkenal sangat kolot, jadi kita akan mudah menyerang mereka, dan ingat ambil semua barang yang ada di sana. Karena barang-barang itu harus segera kita kirim ke jepang" ucap Off memberi arahan kepada semua anak buahnya sebelum berangkat. Dengan menggunakan lima mobil mereka semua berangkat menuju tempat tujuan.
Setibanya ditempat tujuan yaitu gudang penyimpanan barang milik Grey Land, mereka semua turun dari mobil dan melakukan sesuai dengan rencana yang sudah disiapkan. Beberapa orang mulai menyebar mengelilingi gudang, beberapa orang lagi masuk melalui pintu utama gudang dengan Off yang berada didepan.
Duuaarrr...
Suara bom dari belakang gudang membuat heboh semua orang yang menjaga gudang didalam, setelah dirasa gudang sudah cukup sepi Off dan para bawahannya itu masuk dan menghabisi semua orang yang masih tersisa didalam gudang. Sedangkan orang-orang yang tadi pergi ke belakang untuk menuju asal suara sudah dibekukan oleh bawahan Off yang melempar bom tadi. p*********n didalam gudang ini berlangsung dengan cepat karena penjaga yang sangat sedikit dan mudah habisi. Sehingga kini Off dan para bawahannya mengambil semua barang yang ada didalam gudang itu untuk dibawa kerumah dan dipacking untuk dikirim ke jepang.