So Close

2330 Kata
"Hhaacciinn!" sepertinya Jesica dilanda flu "Hhaacciinn." "Mendingan lo ijin pulang aja deh, Jes." tutur Tari yang berjalan disamping Jesica menuju kantin. "Gue nggak apa-apa kok." "Kok bisa sampe kayak gini sih?" "Hhacciinnn!" Mendengar suara bersin itu, Dion yang sudah duduk di meja kantin bersama Mawar dan teman-temannya langsung celingukan mencari sumber suara tersebut. "Hhaacciinn!" Dion melihat Jesica yang baru aja duduk di meja yang tak jauh dari tempatnya. Sebenarnya ingin sekali Dion menghampiri Jesica. Tapi tidak mungkin, karena Mawar bakal marah kalau ditinggal di kantin meski ada teman-temannya. "Apa? elo, lo hujan-hujanan sama Dion?!" suara Tari menekan dengan nada rendah. "Ssstt. Jangan keras-keras. Dion ada disini." tekan Jesica yang ternyata tahu kalau ada Dion dan Mawar di kantin. Lalu Jesica menceritakan semua dengan Tari tentang kejadian kemarin itu. Tari dibuat terkejut setengah mati. "What?! Elo sampai digendong." "Habis mau gimana, p****t gue sakit setengah mati. Untung aja nggak kena tulang ekor gue." tandas Jesica. "Terus ngapain sekarang lo paksain masuk kalau masih sakit?" cemas Tari memeriksa pugung Jesica. "Mana bisa gue ninggalin rapat nanti siang. DN udah hampir deket." sahut Jesica. "Oouuh...kasian banget temen gue." membelai rambut Jesica. ****** Jesica yang baru saja selesai rapat panitia seketika duduk menumburkan badannya yang tak berdaya ke Tari yang sedang asyik dengan makanannya "Ih, Jes. Apaan sih lo? Nyantai aja kali nggak usah pake nubruk-nubruk segala." protesnya meski diacuhkan oleh Jesica. Sruupp. Jesica meminum segelas es teh milik Tari hingga tersisa tinggal satu senti aja "Wah gila nihh anak, elo abis nguli dimana sih? minuman orang dihabisin." sewotnya, dan lagi-lagi diacuhkan oleh Jesica yang malah melipat kedua tangannya didepan meja kemudian ia letakkan kepalanya diatas lipatan tangannya. "Tulang gue rasanya rontok semua, Tar." ucapnya terdengar seperti orang kelelahan. Kepalanya tetap dalam posisi tertunduk diatas lipatan tangannya "lo nggak ngerti betapa capeknya gue...ini capek udah tingkat tinggi." curhatnya, mengangkat sebentar tangan kanannya keatas dengan posisi kepala yang tetap sama dengan sebelumnya. Tetap tertunduk lesu seakan-akan nggak berdaya mengangkat kepalanya lagi. "Kasihan banget siih temen gue...." Tari mengusap-usap rambut Jesica sembari memoncongkan bibirnya. "Rasanya gue udah nggak sanggup lagi jalan..." "Hiper tingkat tinggi elo ini. Masa cuman gini doang udah rontok kayak gini. Apa gunanya julukan Miss Trouble Maker kalau ujung-ujungnya jadi lemper." cerca Tari sembari melahap lagi makanannya. "Aaah, lo ini jangan bawa-bawa Miss Trouble Maker dalam sikon kayak gini. Nggak ada sangkut pautnya, tau." protesnya tetap meletakkan kepalanya diatas lipatan tangannya. Saat Tari mau merespon protesan Jesica, tiba-tiba Dion datang, segera dia memberi isyarat pada Tari supaya nggak kasih tau kalau ada dirinya sekarang. Dia letakkan jari telunjuknya didepan bibirnya sembari diam-diam duduk didepan Jesica. "Coba lo bayangin...tenaga, pikiran, keringat, otak, semuanya terkuras abis. Datang pagi pulang sore, datang pagi pulang sore...padahal biasanya gue datang siang pulang paling awal, datang siang pulang paling awal..." keluhnya tanpa melihat siapa yang ada didepannya sekarang. Raut muka Tari jadi salting alias salah tingkah sendiri. Dia hanya bisa cengar-cengir nggak jelas melihat Dion didepannya. Sementara Dion melipatkan tangannya dimeja sembari sesekali melihat kesaltingan Tari dan mendengarkan keluhan Jesica yang sebenarnya. "Tinggal hitung hari dan ini bakalan berakhir. Dan gue bis..." mata Jesica terbelalak ketika mengangkat kepalanya mendapati Dion sudah ada dihadapannya sekarang. Deg. Mampus gue. Mulut Jesica terkatup nggak tau harus ngomong apa. Dia lirik Tari sembari mengerutkan keningnya berisyarat kenapa tidak kasih tau kalau ada Dion bersamanya sekarang. Tari pun dengan raut muka nggak jelas ikut mengerutkan keningnya sembari membungkam mulutnya, berisyarat bahwa dia nggak dibolehin kasih tau kalau Dion datang dan duduk dihadapan mereka berdua. Jesicapun memutar bola mata hitamnya 180 derajat. Bakal dapet damprat ni gue. batinnya. Sesaat Dion melihat kesaltingan mereka berdua, lalu dia tersenyum tipis. Dengan air muka penuh kesabaran, dia menghela napas. "Gue minta maaf." Hah? Maaf. Jes dibikin tambah nggak enak hati. "Gue minta maaf udah terlalu maksa lo buat gabung sama kita" Suaranya tegas tapi terdengar lembut ditelinga. Kok malah dia yang minta maaf. "Bu, bukan maksud gue kayak gitu." seketika lambai-lambaikan telapak tangannya berulang kali secepat mungkin dihadapan Dion. "Gu, gue kan nggak pernah ikutan event-event ginian, jadi wajar dong gue ngeluh atau apalah,hehehe." Jelasnya jadi nggak enak hati. "Te, tenang aja. Gue bakalan nyelesein ini semua sampai beres dan happy ending pastinya..." Yakin Jesica nggak jelas. Dion tersenyum dengan tatapan lembut. "Elo nggak perlu maksain diri kok." tangan kanannya menggenggam tangan kanan Jesica beberapa detik kemudian dia berlalu meninggalkan mereka berdua. Jesica dan Tari hanya bisa saling menatap dengan sesekali melihat langkah kaki kepergian Dion. b**o banget gue, kenapa harus ngomong nglantur kayak tadi sih. Gue jadi nggak enak banget sama Dion. Sesalnya. ****** Suasana rapat hari ini terasa dingin sekali. Sunyi, tenang, dan tidak banyak berkomentar mengeluarkan pendapat. Nggak seperti biasanya. Jesica yang duduk dibarisan belakang hanya menggigiti ujung bolpoin sembari memperhatikan Dion yang sesekali beragument tentang pokok pembahasaan tentang sistem keamanan DN nantinya. Raut muka Dion juga nggak seperti biasanya, dia terlihat kurang fresh dan nggak bersemangat. Apa gara-gara ucapannya kemarin. Pikir Jesica merasa bersalah. "Ada pendapat atau saran yang lain?" tanya Dion to the point sembari memperhatikan seluruh anggota lainnya, termasuk Jesica. Tapi tidak ada komentar, semua sudah setuju dan akhirnya Dion menutup rapat hari ini. Keluar dari toilet, Jes melihat jam tangannya. 03.44 WIB, hampir jam 4 sore. Dia langkahin kakinya menuju gerbang untuk bergegas pulang sebelum kesorean. "Gue nggak mau!!" suara keras seorang cewek itu terdengar hingga ketelinga Jesica. Seketika ia menghentikan langkah kakinya, dan berkonsentrasi dengan suara yang barusan ia dengar. "Beb, gue minta kita bicarain ini baik-baik." Dion. Mendengar suara ketua OSIS itu membuat rasa penasaran Jesica pun semakin muncul. Ia mengendap-endap mencari sumber suara tersebut. Dari ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri, ia intip lewat jendela. Ternyata Dion dan Mawar lagi berantem. Entah apa yang terjadi diantara mereka sampai-sampai Mawar bersikap begitu garangnya pada Dion. Padahalkan cowok itu tidak s***s-s***s banget sama orang. Kenapa malah Mawar yang s***s ya... Pikir Jesica yang masih mengintip lewat jendela. Hehehe, seru juga nonton orang pacaran lagi berantem. Batinnya kecikikan. Dapet tontonan gratis. Jarang-jarang liat beginian yang live. Bearti, bukan gara-gara gue dong suasana rapat dingin kayak tadi itu. Tapi gara-gara masalah percintaannya sama si Mawar. "Kita break!!" tekan Mawar dengan suara lantang. Dion terkejut dengan keputusan Mawar, sementara Jesica yang mengintip dari luar jendela terbelalak nggak percaya. Bakalan seru nih. batinnya. "Break?? tapi apa nggak sebaiknya kita omongin masalah ini ba..." belum selesai bicara, Mawar membalikkan badan, dan melangkahkan kakinya berniat untuk pergi. Dengan sergap Dion meraih lengan kanan Mawar untuk menahannya. Mata Jesica lagi-lagi dibuatnya terbelalak. Gue kayak nonton drama romantis jadinya, hihihi. Mawar buang tangan Dion yang menahan lengannya dan berkata "Kita break" Suaranya terdengar lebih ditekan dan diperjelas sembari menatap tajam mata Dion kemudian melangkah pergi berlalu begitu saja tanpa menoleh kebelakang. Melihat Mawar keluar ruangan, Jesica lansung kelagapan mencari tempat sembunyi sebelum mereka berdua menyadari dirinya telah menguping pertengkaran mereka. Bersembunyi dibalik pilar besar yang tak jauh dari tempatnya mengintip. Setelah mendapati Mawar berjalan jauh hingga nggak terlihat lagi batang hidungnya, barulah Jesica berlari jinjit-jinjit menuju jendela lagi nggak sabar apa yang bakalan terjadi setelah kepergian Mawar. Saat sedang asyik memperhatikan tingkah Dion, tiba-tiba handphone-nya berbunyi mengejutkan dirinya sendiri. Cepat-cepat jongkok sembari mengambil handphone di sakunya. Mama. Segera tekan tombol terima. "Kamu lupa jalan pulang ke rumah? Jam segini belum pulang??" sambar mama dari telpon tanpa bilang 'halo' terlebih dahulu "masa rapat jam segini belum selesai? Emang bahas apa aja?" omel beliau. Rasanya Jesica ingin sekali protes karena mamanya tiba-tiba ngomel kayak gini. Tapi apa boleh buat, dengan sikon yang nggak mendukung begini, ia nggak bisa berkata banyak-banyak. Ia berbalik menghadap ke dinding sembari menutup bibir dengan telapak tangan kirinya lalu melekatkan handphone-nya pada bibir dan berkata dengan nada yang sangat amat pelan "Iya mah...bentar lagi Jes pulang..." ucapnya kemudian menutup telpon. Ketika memasukkan handphone-nya kedalam saku sembari berbalik badan, ia mendapati sepasang kaki cowok berdiri tegak dihadapannya. Dirinya yang masih dalam keadaan jongkok menongak keatas pelan-pelan. Dion. Mampus gue. Jesica benar-benar kaget sendiri, serasa jantungnya berhenti berdetak melihat Dion sudah menangkap basah dirinya. Cowok itu hanya berdiri tegak tanpa suara, kedua tangannya berada didalam masing-masing saku celananya. "Hei..." cengir Jesica salting. Sikap Dion yang dingin tambah memperparah ketidak enakannya. Namun sesuatu yang nggak disangka-sangka Dion malah mengulurkan tangan kanannya berniat untuk membantu Jesica berdiri. Baru ini Jesica bener-bener dibuat mati kutu sama orang lain. Dengan senyum canggungnya menerima uluran tangan dari Dion dan kemudian bangkit dari jongkoknya. "Thanks." ucapnya setelah bangkit dan berdiri tepat dihadapan Dion. "Gue antar lo pulang." sahut cowok itu begitu dingin sambil berlalu. Matanya terbelalak mendengar tawaran itu, segera ia buntut Dion mengikuti irama langkahnya. Sesampai didepan rumah, Jesica turun dari motor, helm yang dikenakan Dion tidak dilepas dari kepalanya. Bikin nggak enak hati. Akhirnya, Jesica ambil napas dalam-dalam lalu memberanikan diri untuk bertanya "Lo nggak apa-apa,kan?" Dion tidak menjawab tapi malah menatap mata Jesica. Aduh, tatapannya sampai segitunya. Bikin tambah nggak enak hati. "Emmh, sori ya gue tadi nguping pembicaraan elo sama Mawar..." Karena tatapan Dion yang menyudutkan dirinya, terpaksa ia harus mengakui kesalahannya mengenai dirinya memergoki Dion dan Mawar berantem. Seketika sorotan mata Dion malah seakan-akan menusuk matanya. b**o banget sih gue. Kenapa juga dalam keadaan kayak gini malah ngomong nggak jelas gini sih?!. Kesalnya dalam hati. Diapun hanya bisa menggigit bibir bawahnya supaya nggak banyak ngomong lagi. "Mulai besok, lo nggak perlu kok mikirin DN lagi." ucap Dion akhirnya mengeluarkan suara lembutnya sembari mematikan mesin motor. Ia malah tidak merespon pengakuan Jesica tapi malah mengalihkan pembicaraan ke topik DN. Kok jadi bahas DN. lagi-lagi mata Jesica dibuat terbelalak. "Sekali lagi gue minta maaf udah maksain lo buat gabung sama kita. Gue jadi nggak e..." "Nggak, nggak, nggak. Bukan gitu.!" Potong Jesica protes melambai-lambaikan kedua telapak tangannya dengan kilat kekiri kanan "gue berani sumpah deh kalau gue bener-bener pengen nyelesein DN ini sampe kelar. Serius." tekannya sangat meyakinkan dengan tatapan semangat. Rasanya Jesica ingin sekali kasih tau kalau setelah DN berakhir, maka dirinya juga akan berakhir di sekolah ini. Tapi tenggorokannya seperti kesedak isi salak jika ingin mengatakan hal tersebut, bibirnya pun seakan-akan lengket nggak bisa dibuka. "Nggak apa-apa, lo nggak perlu mungkiri diri lo sendiri kok." Dion tersenyum lalu menyalakan motornya. Greeengg!! Entah apa yang merasuk dalam tubuh Jesica, mendengar suara motor dinyalakan tiba-tiba resplek ia katakan kalau dirinya akan keluar dari sekolah. "Gue bakal pindah sekolah habis DN ini!" serunya tanpa sadar tangan kanannya menahan lengan cowok itu seakan-akan tidak memperbolehkan Dion untuk pergi. Kepala Dion langsung menengok kearah Jesica dengan raut muka cukup kaget. Melihat mimik Dion seperti itu, ia tersadar tangannya sedang menahan lengan Dion segera ia lepas sebelum dia menyadarinya. "Apa lo bilang?" kejutnya sembari melepas helm dan menggantungnya diatas kaca spion. Jesica menggigit bibir bawahnya dan bola matanya berlarian kemana-mana, ia nggak sanggup melihat tatapan mata Dion yang begitu tajam memandangnya. "Jes?!" Nada suara Dion terdengar cukup tinggi dan tegas. Terpaksa dirinya harus jujur pada Dion. "Habis DN ini selesai, gue pindah ke rumah kakek gue..." Jes menatap mata Dion "termasuk sekolah gue. Gue bakalan pindah sekolah." tambahnya. Mimik Dion bener-bener shok dibuatnya, bahkan dia nggak bisa berbicara apapun. Ia hanya membalas tatapan mata Miss Trouble Maker itu. "Semua berkas udah di urus nyokab gue. Dan hanya elo sama Tari yang tahu..." Keadaan menjadi hening mendengar penjelasan Jesica. ****** Ditengah cengkrama Jes dan Tari di kantin, tiba-tiba Dion datang dan langsung duduk begitu saja diantara mereka. Jes dan Tari seketika kebingungan sembari memberi ruang untuk ketua OSIS-nya. Mereka saling memandang bingung, Jes mengangkat alis kepada Tari yang geleng-geleng kepala. Dion yang duduk ditengah menengok kekanan, Tari. Menengok kekiri, Jesica. Ia tersenyum lebar melihat kedua cewek itu. Lalu dia angkat kedua tangannya lebar-lebar kemudian mengarahkan kebelakang dan meletakkannya ke masing-masing salah satu bahu Jes dan Tari. "Gue baru nyadar, ternyata gue punya temen kayak kalian ini." ucapnya membuat Tari dan Jes saling memandang bingung. Apalagi mereka berdua dirangkul seperti ini. "Elo sakit?" cemas Tari sesekali melirik bingung Jesica. Dion nggak malah menjawab tapi hanya tersenyum melihat Tari dan Jesica. "Gini, sebelum Jes pindah sekolah kita bakalan jadi sahabatan." blak-blakan Dion membuat Tari mendelik pada Jes. "Wait, wait." Tangan Tari melepas tangan Dion yang merangkul bahunya. "Jes, lo udah..." tudingnya pada Jes kemudian melihat Dion. Jesica memanggukkan kepalanya sekali, dirinya terlihat nggak enak banget dengan Tari. "tanpa beri tahu gue??" tandas Tari memojokkan Jesica yang merasa bersalah. Bola mata Tari berputar seratus delapan puluh derajat melihat jawaban temannya ini. "Soriii, gue nggak maksud sembunyian gini. Cuman gue lagi kepepet jadi...ya gue..." jelasnya melepas rangkulan Dion kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk meraih lengan Tari. "Hay, girls. Its ok." Dion kembali merangkul cewek-cewek yang ada dikanan kiri. Mata Tari mendelik kearah Dion kemudian membuang tangan ketua OSIS itu yang sok akrab banget. Dion pun hanya tersenyum jail. Kemudian Jesica menceritakan ke Tari kalau Dion sudah tahu dirinya akan pindah sekolah dan menceriatakan tentang hubungan Dion dan Mawar yang sedang break. Mendengar kabar itu Tari pun cekikikan sendiri "Terus aja ketawain temen sendiri." sahut Dion yang masih kesal. "Iihhhsss, siapa juga yang mau temenan sama lo?!" dercak Tari menjauhkan bahunya beberapa senti dengan mimik yang dilipat-lipat. Dion ketawa kemudian meraih bahu Tari lalu merangkulnya. "Kalau lo nggak mau, gue maksain diri buat temenan sama kalian berdua." tandasnya lagi "Memperingati hari pertama kita temenan, gue traktir lo makan sepuasnya di kantin." Serunya sembari mengeratkan rangkulannya dan menengok Jes dan Tari. "Lo yakin mau temenan sama kita?" sidik Tari ingin tahu, tanpa ragu Dion menganggukkan kepalanya. Tari dan Jesica saling melirik. Dengan kompak mereka berdua saling menyangga kepala menghadap kearah ketua OSIS itu dengan penuh rasa penasaran. "Lo yakin? Secara....seluruh sekolah tahu gue ini Miss Trouble Maker." sorotan pandang Jes serasa merasuk mata Dion. "Masa seorang ketua OSIS temenan sama pembuat onar, Miss Trouble Maker." tandas Tari berdelik. Mereka berdua seolah-olah memberi serangan batin pada Dion dan mematahkan semangat cowok itu. Dion yang membalas tatapan tajam dua cewek itu sejenak diam. Dan sesaat kemudian kedua telapak tangannya melayang kemasing-masing muka mereka berdua sembari berkata "Ya iyalah. Emang kenapa?" mereka berdua pun kelagapan mukanya ditempelin telapak tangan cowok itu, segera mereka singkirkan. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN