Menghindar

2008 Kata
“Jes??!!!” menoleh, ternyata Jonathan yang memanggil. Ia pun langsung buang muka dan mempercepat langkah kakinya. Jonathan berlari nyusul berniat hentiin Jesica namun cewek trouble maker itu malah tambah lari. Petang hariia mutusin buat datang ke rumah Jesica lagi, namun sesampai dari sana ternyata dia tidak ada. “Aduh maaf den, non Jes keluar sama teman-temannya.” Ujar bibi. Menghela napas sambil tertunduk lemas, ia berpikir sejenak kemudian tersenyum lalu pamit pergi. “Ya udah bi kalau begitu.” Ujarnya manis, ia melangkah pergi menuju mobil. Mendongak kearah jendela kamar Jesica siapa tau bohong. Gelap. Bearti benar kalau cewek trouble maker enggak dirumah. Dengan rasa kecewa ia masuk kedalam mobil, lalu kepalanya ia sandarin diatas setir. Gue nggak bisa kayak gini terus. Gue nggak bisa tenang. Perang batinnya. Berjam-jam kemudian Jonathan ketiduran didalam mobil, sontak terbangun ketika ia mendengar suara mobil. Dalam keadaan yang masih setengah sadar ia perhatiin siapa yang keluar dari mobil itu. Jesicakeluar dari mobil dan say good bye pada teman-temannya yang didalam mobil. “Dag…!!”lambai-lambaiin tangan. Kemudian setelah mobil temannya hilang diujung jalan barulah ia berniat masuk kedalam rumah. Berbalik badan menuju pintu rumah. Namun masih beberapa jangkah tiba-tiba tangannya ditarik seseorang. Sontak ia kaget setengah mati sembari menengok siapa orang ini. "Jon??!" mata terbelalak-lalak “Lo apa-apaan sih? Lepasin gue!!” berontakya berusaha lepasin cengkraman cowok trouble maker ini di pergelangan tangannya. “Lo harus ikut gue!!” Suara dingin mengelandangnya masuk kedalam mobil. “Jon??!! Lo apa-apaan!!?? Leppassin gue!!” nada tinggi menekan namun Jonathan terus berjalan sembari membawanya masuk mobil. "Jon!!?" bentaknya namun cowok ini hanya melirik tajam begitu aja padanya lalu kembali berjalan "Gue bakal teriak kalau lo kayak gini!" Jonathan enggak menggubris ancamannya. Dia malah bukain pintu untuknya. Entah apa yang terjadi pada dirinya hingga ia harus patuh masuk kedalam mobil cowok ini. Setelah menutup pintu, segera Jonathan masuk kepintu sebelahnya. Nggak banyak bicara, dinyalakan mesin mobil lalu menancap gas. “Jon, lo gila apa!!? Stop sekarang juga!!” bentak Jesica. Namun ia malah melajukan mobilnya semakin kencang. “Jon!!?” seru Jesica mulai kawatir. “Kalau lo nggak mau hentiin mobilnya, gue bakal loncat sekarang!!” mengancam, tapi Jonathan malah menambah kecepatan melebihi aturan. “Jon???!!” teriak Jesica seketika mendadak ia banting setir ke kiri lalu menancap rem dalam-dalam. Tubuh mereka berdua sama-sama terpental meski menggunakan sabuk pengaman.Untung saja jalanan sepi. Ia matiin mesin mobil, melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil menuju pintu sebelah kemudian bukain pintu buat Jesica "Gue nggak mau keluar!" nada suara menekan. Tanpa basa-basi ia masukin setengah badannya untuk melepas sabuk pengaman Jesica lalu mencengkram dan membawanya keluar dari mobil kemudian masuk ke taman. Karena sudah malam, taman terlihat sepi. Hanya ditemani lampu-lampu hias serta hembusan angin dingin “Jon??!!” berontak Jesica. “Jon tangan gue sakittt.” Rintihnya tapi Jonathan belum juga melepasnya "sakiitt Jon..." suara gemetar, mendengar itu barulah dia melepas genggamannya dibawah pohon besar yang menjadi saksi bisu diantara mereka. Jesica mengelus-elus pergelangan tangan. “Sebenarnya lo kenapa??!” to the point. “Apa maksud lo?!" sesaat mereka saling menatap sayang, namun saat Jesica tersadar "Gue mau pergi!” serunya jangkahin kaki beranjak pergi, dengan sergap Jonathan menarik tubuhnya lalu disandarin ke batang pohon dan kedua tangan kanan kiri menghalangi Jesica yang ada ditengah-tengah berdiri tepat sangat dekat dengan Jonathan. “Kenapa lo selalu menghindari gue??!” “Apa urusan lo!” sahut Jesica jutek. “Sekarang, cuma adague sama lo disini. Gue mau lo jelasin semua sikap lo yang aneh ini??!” “Aneh?? Apanya yang aneh???" menepis kedua tangan Jonathan yang berada disamping kanan kirinya dengan terus menatap mata cowok didepannya"Buat gue itu wajar!!” tambahnya “Apanya yang wajar dan apanya yang harus diwajari Jes??!” kejar Jonathan terus. “Asal lo tau, yang wajar itu" menunjuk jari telunjuk didepan muka Jonathan "lo Master Trouble Maker yang berusaha dekati gue buat taruhan!!" Sontak Jonathan kaget dan nggak ngerti maksudnya "Dan yang harus diwajari itu" menunjuk-nunjuk d**a Jonathan sampai tubuhnya terdorong kebelakang "lo menang taruhan karena lo berhasil deketin gue, ngrayu gue, dan sok peduli sama gue!! Padahal lo sendiri udah punya pacar yang lo ajak taruhan juga!!” jelas Jesica tanpa henti dalam satu napas sampai ngos-ngosan. Sedangkan Jonathan tidak mengerti dengan ucapannya. Dia hanya terdiam melongo dengerin penjelasan Jesica yang sama sekali nggak dimengerti. “Ap, apa maksud lo??!” pegang pundak Jesica penuh tanda tanya. Menepis tangan Jonathan “Oh, lo manis banget, berlagak sok nggak ngerti segala!" suara Jonathan seakan hilang entah kemana, bibirnya buka mulut tak tau harus bicara apa sedangkan dirinya juga shock denger semua ini "Sorry banget, gue bukan cewek perebut pacar orang, inget itu!! Emang segede apa taruhan kalian, hah!!! Sampai mainin perasaan cewek!!??” nada Jesica meninggi dengan mata melotot melampiaskan kekesalannya. “Jes, gue bener-bener nggak ngerti sama yang lo omongin!!? Taruhan? Pacar? Atau apalah? Gue nggak ngerti???” Jonathan menyangkal. “Oh, ternyata ada yang sok ilang ingatan, ya disini?!" melipat kedua tangannya "Ok, karena gue nggak mau campurin urusan lo, gue akan paparin semua perilaku lo!! Terutama sama gue!!" kecamnya "Pantaslah, lo seorang Master Trouble Maker berbuat kayak gini, yang nggak main fisik orang lain doang tapi juga main perasaan orang lain!Dan gue sama sekali nggak kaget!! Tapi satu yang sangat gue kecewain…PENGHIANATAN LO!!! Lo taruhan buat deketin gue!! Lo anggap gue apa,hah!?? Barang!!?? Iya!! Lo bener-bener nggak punya perasaan!!" tak sadar air mata jatuh basahi pipi "Dan sekarang, lo menang!! Kemarin-kemarin lo udah berhasil ngrebut rasa simpati gue sama lo!! Lo udah berhasil buat gue luluh sama lo!! Lo udah berhasil! Puas lo!!!" nunjuk-nunjuk muka Jonathan "Lebih lagi gue nggak terima, gue dianggap rebut pacar orang!!" nada suara meninggi dan menekan "Padahal apa!!?? Siapa lo!!?? Siapa gue??! Dan bahkan kita nggak pernah menjalin hubungan apapun!! Lo tau, pacar lo, Amel. Dia caci maki gue mentah-mentah gara-gara lo!! Cuman gara-gara lo!!Gara-gara cowok yang nggak punya malu kayak lo!!! Cowok yang nggak punya perasaan kayak lo!! Buat gue ini hinaan terbesar dari hidup gue, kalo seandainya gue enggak mandang pacar lo, udah gue habisin tuh pacar lo." Jonathan semakin shock ketika nama Amel diseret-seret dalam masalah mereka. Bearti dalang dari semua ini si Amel. "Bilang sama pacar lo yang sok cantik itu, jangan sampai dia seenaknya maki-maki orang, kalo nggak gue bakal cakar-cakar wajah dia!!! Dan bilang, gue nggak minat rebut pacar orang!!!!” Jelasnya sejelas mungkin. Jonathan ambil napas dalam-dalam, ia tenangin diri sejenak dengan kedua tangan bertolak pinggang “Jadi…Amel yang bilang ini semua sama lo??” tanyanya memperjelas. “Kenapa lo tanya gue!!? Seharusnya lo yang tanya sama pacar lo sendiri!! Kalo lo udah tau semuanya, jangan sok berlagak kayak orang b**o’ deh!!” sahut Jesica galak. “Jes" pegang bahu Jesica "gue nggak pernah jadian sama Amel!!?” jelasnya. Jesica menepis tangannya nggak peduli sama omongan cowok trouble maker lagi, “Udah, Jon." mapangin telapak tangan kehadapan cowok trouble maker itu "gue mau pulang. Gue udah capek ngurusin ini semua. Udah cukup jelas semuanya. Ok.” tambahnya terdengar lemas beranjak pergi. “Jes, tunggu!” Jonathan menahan tangannya. “Gue akui, gue emang pernah taruhan, tapi nggak untuk kali ini.” Ucapnya meyakinkan Jesica yang tertunduk bersandar dipohon. “Jes, lo harus percaya sama gue, sekali lo tampar gue, sekali itu juga gue taruhan sama mereka. Setelah itu, gue nggak pernah lakuin itu lagi. Apalagi bikin lo kecewa kayak gini.” Jelas Jonathan sepenuh hati. Jesica mendongak menatap Jonathan dan berkata “Lo benar-benar licik tau nggak, gue tau lo bakal katakan ini sama gue, karena Amel udah jelasin semuanya. Demi kelancaran taruhan lo, lo mau berbuat apa aja. entah gue nggak tau sebenarnya apa yang lo taruhin sama mereka. Gue udah nggak percaya sama lo.” tekan Jesica. “Amel lagi, Amel lagi!?? Gue nggak pernah pacarin dia??!!! Jadian aja gue belum pernah!! Gue nggak ngerti napa dia berbuat kayak gini!!??” Jonathan mulai muak mendengar nama Amel yang selalu ada disetiap ucapan Jesica. “Apa lo bilang?? Lo nggak tau maksud dia??!! Dia cemburu sama lo!!" tuding Jesica "dia pikir lo terlalu dekat sama gue, Cuma gara-gara taruhan itu. Lo pikir gue ini apaan!!! Lo pikir gue barang yang bisa dibawa kesana kemari??!! Lo pikir gue terus bisa dibuat taruhan, gitu?!! Lo bener-bener keterlaluan!!" memukul-mukul d**a Jonathan yang berdiri kokoh dihadapannya "Gue beri selamat buat lo atas keberhasilan lo menjadi Master dari terMaster Trouble Maker yang pernah ada!!” serunya yang tak kuasa menahan air mata. “Gue harus bilang apa lagi kalo lo nggak percaya sama gue??? Gue…” ucap Jonathan terhenti. “Cukup, Jon. Udah! thanks, dengan waktu yang singkat ini, lo udah buat gue merasa nyaman, setidaknya lo masih mau berpura-pura jaga gue dan lindungi gue, sesaat itu, cuma sesaat…” suara Jesica terdengar sumbang, “Satu hal yang gue sadari meski gue juga seorang Trouble Maker...gue masih punya rasa, gue masih punya perasaan.” Tambahnya tak sanggup melihat wajah Jonathan, ia terus merundukkan kepalanya. Sedangkan Jonathan tak tau harus mengatakan apa lagi yang bisa meyakinkan Jesica. Karena ia udah terlalu percaya denganomongan Amel yang jelas-jelas nggak benar. Bahkan sekalipun ia nggak pernah ajak Amel kencan. “Gue harap lo nggak deketin gue lagi, semuanya udah berakhir." nundukin kepala dengan nada menurun dan suara tetap sumbang "Besok gue akan bilang sama temen-temen lo semua, kalo lo udah menang taruhan. Lo berhasil mengambil simpati gue, lo berhasil bohongi gue, dan lo berhasil..." Jesica nggak sanggup melanjutkan ucapannya tapi harus ia katakan "lo berhasil merebut hati gue” lanjutnya. Entah harus bahagia atau sedih dengerin pernyataan Jesica barusan. Jesica ternyata mulai menaruk hati ke Jonathan. Jesica langkahin kaki berniat pergi, ketika ia berjalan melintasi Jonathan, seketika cowok itu menarik tangannya hingga jatuh dalam pelukan Jonathan. Dia peluk erat-erat penuh kehangatan tanpa sepatah katapun. Mata Jesica terbelalak dan sontak terkejut, sampai tubuhnya seakan lumpuh, tangannya terasa gemetar, darahnya mengalir begitu deras, dan dekupan jantung yang tak beraturan. Oh, inikah rasanya dipeluk seseorang yang gue sayangi?? Tapi kenapa semua ini hanya sandiwara. Hatiku nggak bisa menolak pelukan hangatmu, Jon. Tapi, pikiranku harus menolaknya. Kamu telah permainin perasaanku disaat aku mulai jatuh cinta sama elo. Ucapnya dalam hati yang terluka. Beberapa saat kemudian, Jonathan pelan-pelan melepaspelekunnya itu dan mau berkata tapi belum sempat ngeluarin suara tiba-tiba ia menerima sesuatu PLAAAAKKK!!!!! layangan tamparan keras tepat mengenai pipi Jonathan “Lo pikir gue apaan?!!" Jonathan memegang bekas tamparan cewek dihadapannya ini. "lo sama aja kayak temen-temen lo yang lain!! Lo pikir gue bisa maafin lo sesudah lo melakukan ini!! Lo pikir gue cewek murahan seperti yang dibilang temen-temen elo!!!” lanjutnya membentak-bentak kemudian merogoh tas-nya mengambil sesuatu. Diambilah amplop coklat yang kemudian ia rogoh dalamnya lalu ngeluarin isinya kemudian melemparnya didepan muka Jonathan. Dia melihat kebawah dengan lembaran-lembaran foto yang tercecer ditanah dan terlihat salah satu foto yang terbuka. Ia ambil satu foto tersebut, bola matanya mengecil saat mengetahui foto mesranya bersama Amel. Ini kan kejadian pas Amel dikejar preman tempo hari?? pikirnya. “Sekarang lo sadar apa yang lo lakuin…" Jonathan tersadar "gue nggak nyangka lo seperti ini…tapi gue baru sadar lo seorang Master Trouble Maker, apa yang nggak dilakukan oleh seorang Master Trouble Maker seperti lo…gue lupa satu hal itu…” ucapnya menahan sesak di d**a. Jonathan mengambil foto-foto itu dari tanah dengan shock-nya, ia sama sekali tidak bisa mengatakan apapun saat dia mengetahui foto-foto ini. “Jes in……” ucap Jon terhenti. “Cukup Jon, semuanya udah jelas…gue udah tau semuanya, foto-foto ini semua…bukan rekayasa…semua sudah cukup.” Ucapnya lemas "Gue mohon, biarin gue pergi dari sini." Berlalu pergi ninggalin Jonathan bersama foto-foto tersebut. "Jesicaa!!" panggilnya yang kemudian meninggalkan Jon sendirian. Untung aja ada satu taksi kosong lewat, segera Jesica berteriak manggil “Taksi!!” Setelah masuk ke mobil derai air matanya menghiasi rasa sakit hatinya, ia tak kuasa membendung air mata lagi. Foto-foto itu tercecer dijok depan samping Jonathan menyetir. Diperjalanan pulang ia terus aja teriak kesal dan memukul-mukul setir didepannya dan sesekali melihat foto-foto disampingnya. Ternyata selama ini Amel yang lakuin ini semua. Ternyata lo yang mau hancurin hubungan gue sama Jesica. Kesalnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN