Dalang

1312 Kata
Keesokan harinya di belakang sekolah, Jonathan dengan sergap menarik kerah Roni dan mendorongnya ke pojok dinding “Ngaku lo!? Job apa yang baru lo selesein kemarin?!!!” serunya dengan mata melotot. “Take esay, man...apa masalah lo??” Roni mengangkat kedua tangannya. “Gue tanya?!JOB APA YANG BARU LO SELESAIN!?” Kecamnya lebih menarik kerah baju Roni keatas. “Apa urusan lo, man... kita nggak ada masalah. Enggak mungkin lo mau nonjok gue...” ucap Roni tenang. Jroot!! Tanpa basa-basi ia ngelayanginhantaman keras ke muka Roni “GUE TANYA?? JOB APA YANG BARU LO SELESAIN!!??” Bentaknya sudah mulai tak terkontrol. “s****n lo Jon, lo nonjok gue!!” Roni balas memukulnya tetapi ditepis olehnya dengan sergap, kemudian ia memberinya pukulan lagi ke perut Roni. “Lo lupa siapa gue!! Lo pikir gue bisa lo kalahin, gitu!!” Ia menarik kerah baju Roni lagi dengan kuat “Sekarang, lo ngaku! APA LO YANG NARUK BARANG ITU KE TASNYA JESICA!!? HAH??!!” Teriaknya di depan muka Roni yang terlihat sudah ketakutan. “Lo mau gue hajar sampai lo masuk rumah sakit!! Hah!!?” Ancamnyanggak main-main “JAWABB!!” bentaknya memukul tembok disamping kepala Roni "JAWABB!!" berniat mau ngelayangin gumpalan jarinya ke muka Roni. “Gue disuruh!" ceplos Roni ketakutan"Gue disuruh! Gue cuma disuruh!!” Roni pun akhirnya mengaku, dan ia terdiam dengerin keterangan temannya ini.Sejenak ia diam lalu memukul tembok di depannya. “Lo itu temen apaan sih, Ron! Lo gila apa!?” nggak nyangka dugaannya itu benar kalau Roni lah yang naruk barang terlarang itu di dalam tas Jesica. “Gue butuh duwit saat itu...” sahut Roni “Ikut gue. Kalau enggak lo bakal mampus disini” Ia bawa Roni ke ruang kepala sekolah untuk mengatakan sejujurnya. Dengan disaksikan beberapa guru, Roni pun berkata yang sebenarnya bahwa obat terlarang itu bukan milik Jesica. “Radit yang menyuruh saya...karena saya butuh uang pak...” ucap Roni tak bisa berkutik lagi. Jonathan lebih shock lagi, karena Radit yang dibalik ini semua. Jadi ini, maksud lo deketin Jesica selama ini. Batinnya tambah emosi tak karuan. “Saya akan panggil Radit.” Jonathan terdengar penuh amarah. “Kamu disini saja, Jon.” Ujar pak Leo menahannya lalubeliau pergi keluar memanggil Radit. ****** Radit pun disidak di ruangan kepala sekolah bersama Roni, tetapi Radit masih menyangkal dengan tuduhan yang diberikan padanya. Hal tersebut membuat Jonathan naik darah dan ingin sekalinonjok muka Radit, begitu pula Radit yang seketika bangkit dari duduknya dan siap berkelahi tetapi para guru yang berada disitu menahan masing-masing siswanya itu. “Jadi itu cara lo balas dendam sama Jesica!! s****n lo!! Tetap nggak ngaku kesalahan lo!!” teriaknyapengen banget nonjok wajah Radit tapi ia tertahan. “Jonathan!! Bapak minta kamu keluar. Bapak tidak mau ada perkelahian disini!” bentak kepala sekolah, lalu dengan patuh ia keluar ruangan dengan tatapan penuh dendam kearah Radit. Begitu kesalnya, ia meninju dinding di depan ruangan kepala sekolah, rasanya dia ingin sekali menghajar Radit habis-habisan. Ternyata ini yang lo rencanain. s****n! Cukup lama menunggu diluar dengan tak sabar, dari ujung lorong sekolah ia melihat Jesica bersama kakek datang, matanya sempat terbelalak lalu ia bergegas hampiri mereka “Jes, lo akan baik-baik aja.” Serunya meraih tangan Jesica yang tersenyum manis padanya meski matanya masih terlihat sendu. ****** Hari ini Jesica sudah bisa kembali ke sekolah, dan teman-temannya nyambut kedatangannya, sekarang semua sudah tahu bahwa bukan dirinyalah yang melakukan hal tercela itu. Sekarang Radit harus berurusan dengan kepolisian dan pasti dikeluarkan dari sekolah termasuk Roni. Ini bisa jadi pelajaran buat mereka dan diri kita semua. Sekarang Jonathan lebih sering bersama Jesica, ia nggak peduli dengan teman-temannya itu. Namun Amel yang tahu akan hal ini sangat marah dan kesal dengan Miss Trouble Maker. Dia nggak habis pikir, berani-beraninya cewek pembuat onar itu deketin Jonathan. “Iiihh, kenapa lo semua nggak pernah laporin gue kalau ternyata mereka udah nggak musuhan lagi, hah??!” bentak Amel menggobrak meja kantin. “Gue juga enggak tahu kalau ternyata mereka udah nggak musuhan lagi??” ujar Devi ketakutan. "Kita semua tahu setelah kejadian itu..." tambah Sari. Amel melipat kedua tangan dengerin penjelasan temen-temennya. "Soalnya yang bantu ngebongkar kasus itu sampai Radit dikeluarin disini ya si Jonathan sendiri." jelas Devi. "What?!" kejut Amel setengah mati. Jadi selama ini Jesica nusuk gue dari belakang. "Dan lebih parahnya lagi, terakhir gue contact sama Radit. Dia bilang ada hubungan khusus diantara mereka. Sampai-sampai Jonathan sudah membawa cewek trouble maker itu kerumahnya." Amel semakin panas dan naik pitam. Enggak nyangka mereka diam-diam jalin hubungan. “Gue nggak bakalan kasih kesempatan dia rebut gebetan gue!” kecamnya.Amel dan teman-temannyaberencana buat kasih pelajaran si Miss Trouble Maker itu, ia nggak terima cewek trouble maker itu berani nantang. “Kita harus nglakuin sesuatu buat kasih pelajaran tuh anak tengil!” seru Devi. “Iya, kalau itu sih gue tau! Tapi apa!??” tanya Amel. “Apa ya? Gue juga belum tau! Lo kan tau, Jesitu kayak apa orangnya kalau pas lagi marah! Ngalahin seisi gunung merapi, tau nggak?!” SambarSari ikut kesal. “Terus apaan dong!!?? Gue udah muak banget sama tuh anak!” Amel tambah kesal. “Gue juga! Pusing gue! Lo semua tau kan pas dikurung di gudang aja dia bisa keluar, padahal Jon yang rencanain. Apalagi kita! Puas nggak tapi ditipuk dia iya!” cerocos Devi kasih gambaran. Namun omongannya malahbuat Amel mengingat sesuatu. “Eh,guys! Lo inget nggak pas dia dikurung di gudang? Dia kalau nggak salah teriak takut sama gelap???!!” seru Amel srumingah sambil menyentik jari. “Oh ya! Gue baru inget!!” seru teman-temannya. “Gue punya ide!” sahut Amel bisikin rencananya. ****** Jonathan berangkat bareng ke sekolah dengan Jesica pagi ini, jadi mang Jaja nggak repot-repot nganter ke sekolah. Anggap-anggap bonuslah. “Makasih ya.” Serunya turun dari motor. Lalu mereka masuk bersama. Amel yang baru nongol terus mendapati mereka begitu akur malah tambah bikin cemburu.“s****n, ternyata anak itu nggak nyerah juga. Lo lihat aja nanti.” mengepal tangan. Jesica mengikuti pelajaran dengan tenang hari ini, ujiannya berjalan lancar. Ia pikir hari ini nggak mau banyak tingkah, daripada nggak bisa ikut ujian malah berabe urusannya, rugi sendiri. Finaly, selesai juga. Ia bangkit dari bangku menuju meja guru, dengan senyum manis berkata "udah selesai,bu." dengan ramah pula guru itu tersenyum sembari anggukin kepala. Kemudian barulah ia nglangkahin kaki menuju pintu keluar. “Eh, Jes!" Sambar seorang siswa lain dari luar kelas yang bikin dirinya jantungan ngelus d**a. "Ih, lo ini ngagetin aja." sahutnya. “Lo entar pulang sekolah suruh nunggu pak Leo dulu di dekat gudang belakang.” Ujarnya “Masa sih?" nggak percaya, tapi cewek didepannya ini malah mangguk-mangguk. Ngeri juga kalau nggak datang dipanggil pak Leo. Guru itu kan kayak bunglon. Kadang bisa berubah baik, kadang berubah garang. Ada apa ya? pikirnya. "Emang kenapa? Lagian kan, entar kita pulang jam empat, masa gue harus nunggu dia dulu sih? Di deket gudang lagi??” cewek itu hanya angkat bahu lalu pergi. “Siapa aja yang dipanggil?” cegah Jesica menarik lengan cewek itu. “Ada banyak, tapi ini khusus cewek doang kata pak Leo tadi.” Sahutnya. “Emang ada apa sih?” tanya Jesica lagi. “Gue juga nggak tau, sorry. Udah dulu gue cabut.” langsung pergi sementara ia masih mikir. “Ada apa ya…?” penasaran. Ia tetap berdiri didepan pintu sembari satu tangan bertolak pinggang, satunya lagi ngelus-ngelus dagu. “Jes, kantin yuk!” sambar Jonathan tiba-tiba muncul dari belakang bubarin pikirannya. Ia hanya melirik cowok trouble maker itu dengan muka datar. “Woi, Jes!!?” seru Jonathan lagi dengan nada lebih kenceng. “Ih, apaaan sih!?? Lo ini ganggu gue aja!” sewotnya. “Lo itu yang apaan…ngapain lo nglamun ditengah jalan kayak gini…??” ujar Jonathan bikin dirinya tersadar. Eh, iya bener. “Kantin yuk!” menarik lengan Jonathan. “Yah…elo…emang gue dari tadi ajak lo ke kantin.” Serunya tapi Jesica malah ngulurin lidahnya. ****** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN