Sepulang sekolah, Jesica merasa lelah banget karena kejadian tadi siang, jalan sempoyongan menuju pintu rumah. Meski secara nggak langsung Jonathan menolongnya, ia tetap saja merasa tak enak hati.Kenapa harus lo sih yang nolongin gue. Kenapa nggak yang lainnya aja. Kalau kayak gini kan lo jadi yang susah, lo harus nglawan geng lo sendiri. Pikirnya.
Setelah membuka pintu dan masuk rumahia dikejutkan oleh kedatangan sahabatnya yang sedang duduk di ruang tengah nonton tivi. “TARRIII!!!??” serunya berlari dan langsung memeluknya.
“JESIICAA!!!” balas Tari senang.
“Gue kangen banget sama lo!! Eh, lo kok bisa sampe sini??! Lo enggak sekolah??!!” tanyanya tanpa melepas pelukan.
“Aduh, lo kayak detektif aja! gue libur tiga hari, jadi gue sempetin kesini! Sekalian liburan gitu…” sahut Tari dengan jelas.
"Gue kangen banget!!! kangeennn bangeett!!" semakin erat meluk sampai Tari kesulitan napas. "Gila lo. Lepasin dulu nih pelukan lo. Gue bisa-bisa kehabisan napas tau." Jesica nyengir sembari melepas pelukannnya. "Tapi gue juga kangen banget sama lo." seru Tari malah ganti memeluk Jesica.
Lalu mereka hang out bareng seperti dulu. Sampai di sebuah toko buku yang terlihat berbeda dari toko buku yang biasanya, mereka memutuskan masuk kedalam dan melihat-lihat ada apa disana.
“Gue coba kesana dulu!” pamit Jesica berjalan pergi begitu saja sementara Tari fokus sama barisan buku-buku yang tertata rapi
Setelah dapetin buku yang cocok,Tari bermaksudmenarik tangan Jesica tanpa melihat, ia tarik begitu saja karena pandangannya tertuju pada buku yang baru saja ia ambil dari rak. “Eh,kayaknya ini bagus banget deh??!! Coba lo li…hat…” suara Tari yang langsung merendah saat ia menoleh kebelakang dan melihat tangan kekar yang ia tarik, ketika memandang kedepan ternyataseorang cowok keren, ganteng…prefect!
Mulutnya terkatup sangking terpesona. Matanya bengong sangking tersihir. Padahal cowok itu adalah Jonathan.
“Mbak!??” Jonathan lambai-lambain tangan didepan muka cewek itu.
“Eh, ya??!!” kejut Tari.
“Gue mau pergi, bisa lepas tangan gue.” Tunjuk Jonathan kearah tangannya yang masih dipegang Tari.
“Eh, sorry.” Tari salah tingkah segera melepaskan tangannya.
“Emh…mas?kenalin." ngulur tangan bermaksud ngajak jabat tangan "Tari.” lanjutnya tanpa berpikir panjang memperkenalkan diri.Jonathan naikin alismelihat cewek itu, lalu ia tersenyum sembari menerima uluran tangan tersebut dengan sopan.
“Gue Jon.”Suara serak-serak itu bikin hati Tari berbunga-bunga. Gue harus pake moment ini. Batinnya
“Boleh minta nomernya enggak??”Tari nglantur dengan PDnya. Jonathan hanya tersenyum ngeluarin hape disaku. Ya buat nambah koleksi nomor di hape. Pikirnya. Mereka berduapun bertukaran nomer.
Mereka sempat berbincang sebentar, sebelum Jesica nongol. Akhirnya cowok itu say goodbye lalu berjalan keluar. Tari hanya menatap kagum memandang kepergian cowok keren itu hingga nggak terlihat lagi."Bisa betah gue disini." gumamnya.
“Eh, ngapain lo? Kayak orang kasmaran aja senyum-senyum sendiri?” Jesica yang baru aja nongol membawa buku.
“Ganteng banget…” desisnya tanpa memperdulikan Jesica.
“Ganteng???" Bingung Jesica dengerin temennya ngomong nggak jelas "Tari!!!” nada suara tinggi bubarin lanturan Tari.
“Berkat lo nggak ada,gue bisa kenalan sama cowok keren!! Ganteng banget!!!” lantur Tari kesemsem sendiri sementara Jesica mengernyitkan kening sangking bingungnya“Aduhh…gue kayak kesihir lihat dia. Kalau lo lihat dia, pasti lo bakal klepek-klepek sama dia…gila, ganteng banget!!!” tambah Tari mabuk kepayang.
Setelah perkenalan antara Tari dan Jonathan, mereka berdua sering sekali telpon-telponan juga sms-smsan. Ia merasa liburannya sempurna banget. Selain ketemu sama sahabatnya, ia juga ketemu sama cowok yang paling keren banget.
Sampai keesokan harinya, Tari kesenengan karena Jonathan mau diajak ketemuan. “Gue bakal ketemuan sama cowok itu!!!” seru Tari kegirangan diatas kasur setelah menerima satu pesan.
“Apa??!! Beneran lo!!?” Yakin Jesica ikut berdiri diatas kasur.
“Iya! Soalnya gue tadi cerita kalo hari ini, hari terakhir gue disini, dan besok gue harus pulang. Jadi…dia mau ketemuan lagi sama gue!!!” Tari lonjak-lonjak.
“Waaahhh!!! Gue mau juga ketemu sama dia. Emang seganteng apa sih dia sampai buat lo nggak bisa tidur, nggak doyan makan.” Ikut jingkrak-jingkrak juga.
Sore inimereka udah janjian disebuah café.Berkali-kali Tari rapiin rambut dan molas-moles muka sama bedak.“Jes, gue udah kelihatan cantik enggak?” sudah hampir seribu kali Tari menanyakan penampilannya sementaraJesica menghela napas memutar bola mata seratus delapan puluh derajat sembari manggukin kepala yang kesekian kalinya juga.
“Cantik, Tari…” jawabnya datar.
“Beneran! Gue cantik nggak?!” Tari menggoyah pundaknya.
“Ya, Tari." meyakinkan. "Udahlah, dari tadi tanya itu melulu. Lo itu kelihatan cantik. Cantik banget. Sekarang gue mau ke toilet dulu.” lanjutnya lalu bangkit dari kursi dan mengangkat kaki menuju toilet. Siapa sih cowok itu ampe bikin temen gue jadi gila gini. Pikirnya berlalu pergi.
Beberapa saat kemudian Jonathan datang langsung menuju meja Tari. "Hai" sapanya. Mata Tari seketika terpaku menatap cowok yang berdiri dihadapannya dari ujung kaki sampai kepala. Ganteng banget banget bangeetttt. Melongo.
“Hai,lama nunggunya?” Jon bubarin kekaguman Tari pada dirinya, lalu iaambil kursi duduk disamping cewek itu.
“Hihihi, nggak juga…gue seneng lo mau datang nemui gue.” Tari kesemsem senyum malu-malu mau. Begitu akrabnya mereka ngobrol berduaan.
Disisi lain Jesica baru keluar dari toilet dan berniat kembali ke mejanya. Dari kejauhan ia tengok mejanya udah ada dua kepala. Bearti udah datang tuh cowok. Berjalan sambil celingukan penasaran karena ia nggak bisa liat muka cowok itu, ia hanya liat kepala belakang aja. “Hai..." niatnya menyapa, ketika melihat siapa cowok yang duduk disamping temennya, nada suaranya seketika menghilang dengan mata terbelalak lebar-lebar mengatupkan rahang. Begitu pula sebaliknya, Jonathan sama kagetnya ternyata cewek yang ia temui itu temennya Miss Trouble Maker. HAH!?
“Ngapain lo malah berdiri kaku gitu, ayo duduk." Menarik tangan Jesica memintanya duduk. Dengan keadaan shock ia pun duduk. Lalu ia disambar bisikan dari Tari yang menggugah shocknya. "Gimana, Jes? Benerkan apa yang gue bilang.” Bisik Tari "Gue perhatiin lo kayaknya juga terpesona sampe melongo gitu." Jesica melirik temennya. What? What? Gue? Terpesona?? Lo nggak tau aja kalo cowok didepan lo ini yang gue ceritain selama ini, dia Master Trouble Maker ittttuu, Tari. Batinnya teriak-teriak. "Awas ya ampe lo rebut, ini gebetan gue." suara pelan tapi terdengar menekan bikin dirinya terbelalak. Amit-amit dah. “Lo, enggak salah lihat, Ri?” balas bisiknya ke telinga Tari melirik Jonathan.
“Salah gimana?” balik berbisik melirik Jonathan lalu nyengir “Oh ya, kenalin." Nada suara Tari mengeras semangat ngenalin temennya. "Ini Jes, sahabat gue…dan Jes, ini Jon.” Mereka hanya saling memandang canggung, sedangkan Tari celingukan melihati dua temannya "Loh, ayo!" serunya ngagetin mereka berdua bingung maksud ucapan Tari barusan "Kok nggak salaman sih?!" tambahnya bikin mereka berdua nggak nyangka. Ohh. batin mereka yang langsung cengengesan berjabat tangan.
Jesica bener-bener nyesel harus penasaran sama gebetan sahabatnya ini. Ia hanya berpangku tangan sambil merhatiin sahabatnya yang sedang asyik ngrumpi sama cowok pembuat onar itu. Haduhhh, kok bisa sih lo gebetin cowok ini. batinnya menghela napas dalam-dalam.
bisa-bisanya dia nyoba ngerayu temen gue! Dasar Master Trouble Maker, awas lo ya sampe berani ngegait temen gue!dongkolnya dalam hati.
Tanpa permisi ia tarik lengan Tari lalu berbisik ditelinga dan berkata “Eh,Tar. Lo tuh belum tau jelas siapa tuh cowok, kok lo bisa sih kepincut ma tuh orang? Dia tuh...” belum kelar ngomong, Tari udah menyelah dan ganti berbisik.
“Lo enggak perlu kawatir, gue yakin dia belahan jiwa gue…” yakinnya. Mendengar jawaban temannya yang seperti itu, Jesica hanya bisa geleng-geleng kepala dan pasrah aja sama temennya. Kayak gini nih kalau udah mabuk cinta. Temen sendiri nggak didengerin.
Jonathan seolah-olah nggak anggap Jesica ada, bahkan nggak sedikitpun cowok itu meliriknya, malah terus-terusan ngegombalin Tari. Bener-bener bikin muntah. Kenapa sih lo nggak sadar-sadar, Tar. Wake up, wake up. Open your eyes. Dia itu cowok trouble maker yang gue ceritaiiinn selama ini sekarang malah elo kepincut sama dia. Menghela napas memandang senyuman Tari yang tersipu-sipu malu sampe mukanya memerah. Tapi kayaknya Tari seneng banget. Masa gue tega hapus senyum sahabat gue. Perang batinnya dalam delima sambil melahap makanan diatas meja. "Hai..." suara dingin yang nggak asing ditelinga Jesica bikin matanya terbelalak. Gue kenal suara ini. batinnya sembari mendongak ke sumber suara. Dion???
"Diiioonnn" kejutnya setengah mati seketika bangkit dari duduk dan menubruk memeluk cowok itu sampai buat tubuh Dion tergoyah karena mendadak menerima pelukan dari Jesica.
Jonathan yang awalnya nggak anggap Jesica ada, sekarang ia malah tertegun kaget mendapati cewek trouble maker itu meluk cowok yang barusan datang dan bertanya-tanya siapa cowok itu? apa mungkin cowoknya?
Disisi lain sebenarnya Dion terkejut juga Jesica langsung main meluk gini. Bearti tandanya cewek ini seneng banget dia datang. Senyum manis pun keluar dari bibir. Ternyata nggak sia-sia ia datang nemuin Jesica. "Gue seneng banget lo nemuin gue." girang Jesica "lo kok nggak ngomong sih kalau lo bakal kesini?" Jesica melirik Tari lalu menatap tajam cowok itu "pasti yang nyuruh lo diam-diam gini si Tari." tebaknya malah bikin Dion tersenyum "Ah, lo ini datang diam-diam." omelnya menyilahkan duduk lalu kenalan sama Jonathan.
Sekarang impas, Jesica yang ganti anggap cowok trouble maker itu hilang, malah Jonathan sesekali melirik dirinya dan Dion asyik bercengkrama.
"Lo berdua pacaran?" nggak ada angin nggak ada hujan, nggak ada sebab nggak ada akibat pertanyaan itu terlontar dari mulut Jonathan begitu mudah tanpa permisi bikin dirinya dan Dion mati kutu, diam seketika melihat Jonathan. "Lo berdua pacaran?"
Ketika menjawab pertanyaan itu, mereka berdua nggak kompak banget. Bibir Dion mau bilang enggak eh malah bibir Jesica bilang iya, Dion langsung terbelalak denger jawaban cewek trouble maker ini. Terus saat bibir Jesica jawab enggak eh malah bibir Dion jawab iya. Bener-bener bikin mereka berdua salting.
Setelah puas ngobrol sambil menikmati hidangan yang disediakan, mereka berniat pulang. Rasanya berat banget Tari pisah sama Jonathan, tapi apa boleh buat. Besok harus balik. Ia tengok jam tangan yang melingkari pergelangannya. Jam delapan, masih ada waktu sih. Melirik Jesica yang masih ngrumpi sama Dion. Pasti Jesica nggak kasih ijin keluar sama cowok yang baru gue kenal. Pikirnya.
Didepan mobil Dion, tiba-tiba Jonathan datang ngendarai motor lalu berhenti tepat dihadapan Tari. "Yuk." ajaknya bikin Tari melongo kemudian melirik Jesica sambil berpikir apa maksud cowok ini "Ayo, gue anter lo pulang.” tambahnya buat muka Tari memecah bahagia.
“Maksud lo? Lo mau...” Tari meyakinkan diri.
“Maksud gue…lo pulang sama gue, biar temen lo pulang sama Dion” Ujar Jonathan melirik Jesica yang kaget itu.
“Anter gue pulang??? serius lo?!" pegang lengan Jonathan.
“Iya, lo enggak keberatan kan gue anter lo pulang???” ujar Jonathan sesekali melirik Jesica yang terlihat berharap temannya itu menolak mentah-mentah.
“Gue mau" tandas Tari begitu semangat. What?! Tariii, kenapa lo mau sih??? Hellooww, Iam here. Lo lupa sama temen lo ini. kesalnya dalam hati. "tapi…” melihat kearah Jesica.
“Oh, dia kan bisa pulang sama Dion?” sahut Jonathan "lo nggak apa-apa kan anter temennya Tari pulang." Dion tersenyum "Gue kesini emang mau nemuin Jesica kok, nyantae aja bro" jawabnya nggak kalah cool sama Jonathan.
Jesica benar-benar gregetan, namun ia nggak mungkin maparin siapa cowok yang ajak Tari ini, ngeliat temennya srumingah gitu bikin dirinya nggak sampai hati hancurin kebahagiaan temennya ini. Huft.
“Nggak apa-apa kok, betul kata dia. Gue bisa pulang sama Dion. Lagian ini malem terakhir lo disini, buat seneng-seneng aja dulu. Lo puas-puasin, ok!” berlapang d**a pasrah dengan keputusannya.
“Ok, kalo gitu, kita keliling dulu aja!” seru cowok trouble maker itu bikin mimik Tari tambah srumingah sementara Jesica tambah menganga nggak nyangka temennya ini bener-bener udah kepincut Master Trouble Maker.
******
Jesica yang dari tadi udah sampai rumah duluan begitu kawatir mencemaskan temennya yang belum pulang-pulang. Jam yang melingkar dipergelangan tangan sudah nunjukin pukul sepuluh. Iacuma bisa mondar-mandir didepan pintu rumah.
“Sampai ada apa-apa sama Tari enggak bakalan gue kasih ampun tuh orang!” kesalnya mengepal kedua telapak tangan.
Beberapa menit kemudian ada mobil datang, ia celingukan penasaran mobil siapa tuh. Dion. Melangkah mendekati mobil tesebut sementara Dion baru aja keluar dari mobil. "Dion, ada apa?"
"Kok lo mondar-mandir depan rumah?" malah balik tanya sebelum menjawab pertanyaan Jesica.
"Oh, gue lagi nunggu Tari. Lo sendiri?" Dion baru ingat tujuannya balik kerumah Jesica, ia pun buka pintu mobil ambil sesuatu "Dompet lo. Ketinggalan" mimik muka Jesica sedikit malu soalnya ngrepot-ngrepotin udah balikin dompet miliknya.
"Ya ampun Dion thanks banget. Jadi ngrepotin elo. sorry ya..." menerima dompetnya. Dion tersenyum "Nggak kok. Lagian gue masih deket dari sini."
Tiba-tiba Dion malah rebut dompet yang sudah dipegang Jesica. Eits. Untung saja Jesica cukup gesit untuk mengeles. "Enak aja mau ambil dompet gue" dekap dompet itu rapat-rapat sambil tertawa sementara Dion tetap berusaha ngrebut dari belakang cewek pembuat onar itu seolah-olah dirinya sedang mendekap Jesica.
Sesaat kemudian terdengar suara motor Jonathan datang, mereka berdua terhenti dengan posisi tetap saling rebutan sembari melihat siapa yang baru datang.
Jonathan membuka helm cukup tercengang mendapati Jesica dan Dion bercanda mesra seperti itu sementara Tari turun dari motor. Ketika mereka berdua sadar posisi mereka deket banget, mereka langsung ambil jarak dengan mimik muka salting.
"Loh? kalian baru nyampe juga" sela Tari bubarin suasana.
“Tar, lo enggak apa-apa kan? Lo diapain sama tuh anak?” sambar Jesica ngalihin pembicaraan.
“Iiih, lo tuh apa-apaan sih Jes! Gue nggak apa-apa kale. Malahan gue seneng banget!!" tandas Tari memandang Jonatahan "Makasih banyak ya Jon, lo udah buat gue jadi cewek yang paling bahagia malam ini.” Tambahnya.
“Gue harap lo bisa terima semuanya…” sahut Jonathan lembut.
Jesica cuman melongo melihat tatapan mereka berdua dan mendengar perkataannya, dia nggak mengerti apa yang mereka katakan. “Kalian ini ngomongin apa sih?” tanyanya penasaran.
“Lo mau tau aja!” goda Tari.
“Ah, Ello enggak asyik!” serunya melirik Jonathan.
“Yang penting gue seneng banget malam ini berkat dia. Dan besok gue bisa lega banget pas balik pulang.” Seru Tari yang membuat dirinya bingung.
“Heh, lo kasih apaan sih sampai-sampai temen gue kayak gini?!” sambarnya menuduh Jonathan.
Tari mencubit lengan Jesica sampai dirinya ngernyit kesakitan tanpa suara menoleh ke temennya sambil ngelus bekas cubitan. "Sorry banget, kadang-kadang Jesica orangnya sedikit posesif." senyum canggung sambil jelasin Jonathan yang cuman angkat kedua bahu.
"Dia memang begitu." Dion mengusap-usap rambut Jesica "Tar, lo serius nggak bareng gue sekarang?" tawarnya.
"Nggak, gue masih pengen disini." senyum manis mengarah buat Jesica yang juga membalas senyuman tersebut.
"Oke, kalau gitu. Gue cabut dulu."
"Hati-hati." ucap Jesica manis.
Tanpa disangka, Dion yang berdiri tepat disebelah kanan Jesica tiba-tiba mencium pipi kanannya. Cup.
Mata Jesica terbelalak lebar-lebar, sementara yang lain tak kalah tercengang. What is going on??? What happen now?? What happening? sementara Dion tersenyum manis banget setelah mencium pipinya. Dan ia hanya terbelalak menatap cowok yang baru aja menyium pipinya didepan temen dan cowok pembuat onar itu. What?! Jonatahan!!
"Bye, Miss Trouble Maker." suara lembut Dion bikin Jesica nggak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa menatap Dion masuk kedalam mobil dan berlalu pergi.
Tari yang masih nggak percaya apa yang barusan aja ia lihat berusaha bangkit dari kecengangan.
Jonathan teringat saat dirinya mencium pipi Jesica dan air muka yang muncul dari Jesica mirip banget sama pas Dion nyium pipi cewek pembuat onar ini barusan. Sama.
******