Shasa langsung tersenyum lebar kala mendengar suara pria yang sangat dicintainya sejak embrio itu. Siapalagi kalau bukan Melviano Azekiel—sang daddy.
“Daddy, kangen,” rengek Shasa manja.
“Daddy juga kangen, Sha. Kamu masih tidur, ya?”
“Hm … kepala Shasa pusing. Sepertinya Shasa mengalami jetlag.”
Terdengar suara kekehan dari seberang telepon yang membuat Shasa ikutan tersenyum. Kini ia mulai merenggangkan otot-ototnya karena terasa sangat pegal luar biasa.
Saat matanya menatap lurus ke arah tembok. Shasa langsung terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas.
“AAAAAA. Jam dua belas apa ini?” teriak Shasa heboh.
“Halo, Sha? Kamu gapapa?”
Shasa tidak memedulikan pertanyaan Melviano. Perempuan itu lebih sibuk belingsatan ke sana ke mari kalang kabut sendiri.
Bahkan ia sudah membuka pintu kamarnya untuk mencari Darrel. Shasa mengetuk bahkan menggedor pintu kamar Darrel dengan sangat tidak sabaran.
Tok! Tok! Tok!
“Darrel … Darrel.”
Tidak ada jawaban membuat Shasa langsung menekan knop pintu kamar Darrel. Saat berhasil dibuka, matanya langsung berpendar luas untuk melihat suasana kamar yang kosong.
“Darrellllllll!”
Shasa langsung menangis tersendu-sendu. Kakinya langsung melangkah ke setiap sudut apartemen untuk mencari keberadaan Darrel. Namun, lagi-lagi tidak ada pria itu. Semua ruangan yang sudah ia telusuri kosong.
Ia bahkan melupakan masih tersambung dengan daddy-nya. Buru-buru Shasa langsung menempelkan benda pipih itu ke daun telinga. Menangis tersendu-sendu.
“Hai, little baby. Kamu kenapa, hm? Darrel tidak ada, ya? Dia pasti bekerja sayang.”
Shasa masih saja menangis kala suara Melviano terus menenangkan dengan lembut. Shasa hanya merasa takut tinggal sendirian di apartemen ini—lebih tepatnya tidak suka sepi seperti ini.
“Darrel enggak ada, Dad.”
“Dia pasti bekerja sayang. Nanti malam atau sore juga pulang. Kamu sebaiknya tenangkan diri dulu. Kalau sudah tenang kamu makan, dan mandi biar segar, ya.”
“Shasa takut, Dad. Tahu sendiri kalau sepi begini suka ketakutan. Kalau di rumah itu banyak orang. Di sini Darrel enggak punya ART.”
Melviano lagi-lagi terkekeh geli mendengar aduan sang anak. “Di luar negeri, kan, memang begitu sayang.”
“Tapi, Shasa enggak bisa masak.”
“Tidak usah masak. Kamu beli saja makanan di restoran. Darrel sudah memberitahukan belum restoran terdekat apartemen kalian?”
Shasa diam. Kalau ia ngadu sikap dan kelakuan Darrel kepadanya, yang ada pria itu akan terkena masalah nantinya. Bukan hanya dari daddy-nya saja, melainkan dari uncle Damian juga yang akan lebih mengamuk.
“Kasih tahu kok, Dad. Ini gara-gara Shasa bangunnya terlalu siang jadi begini deh.”
“Tidak apa-apa sayang. Wajar saja habis perjalanan jauh.”
“Emm … Dad, udah dulu, ya, Shasa mau mandi biar seger.”
“Yaudah kamu mandi dulu, dan jangan lupa makan. Kalau ada apa-apa langsung telepon Daddy. Pokoknya Daddy bakalan siap menerima telepon kamu 24 jam.”
“Thanks a lot, Dad.”
Nit.
Shasa mengembuskan napas lega kala sambungan teleponnya dengan Melviano sudah terputus. Shasa langsung berjalan menuju ke dapur kala tenggorokannya merasa sangat kering.
Saat melewati meja makan, matanya menangkap sebuah kertas dan tudung saji yang tertutup. Semalam Shasa tidak melihat ada tudung saji itu, namun kenapa hari ini ada tudung saji.
Merasa penasaran membuat Shasa langsung membuka tudung saji itu. Matanya membola sempurna kala melihat dua buah sandwich yang tersaji di sana. Bahkan, di samping sandwich ada segelas s**u dan segelas jus jeruk.
Shasa yang memang haus pun langsung menenggak s**u hingga tandas. Meski sudah dingin, akan tetapi bagi Shasa rasanya masih enak diminum.
Buru-buru Shasa membaca kertas yang memang tergeletak di sana. Shasa tersenyum tipis saat Darrel mengatakan jika semua menu di meja ini untuk dirinya makan.
‘Jangan lupa mandi terlebih dulu sebelum makan. Aku tidak suka perempuan jorok. Ini semua makanan untukmu. Jangan cari aku karena sedang sibuk bekerja. Kau sebaiknya istirahat saja sampai aku kembali.’
Shasa mendecak kala di bawah tulisan itu ada inisial ‘DB’. Meski sangat ketus kepadanya, akan tetapi sikap Darrel penuh perhatian yang membuat Shasa mesam-mesem sendiri.
“Ih … kok jadi mikirin manusia kanebo itu, sih,” ujar Shasa mulai menepis pikiran anehnya.
Tidak memedulikan suruhan Darrel untuk mandi terlebih dahulu sebelum makan membuat Shasa terus menghabiskan sandwich dan jus jeruknya hingga habis tak tersisa.
Setelah habis, Shasa membiarkan saja piring kotor itu di meja makan. Ia lebih memilih berjalan menuju sofa yang terdapat televisi. Shasa langsung menyalakan tv dan kembali ke dapur untuk mencari-cari camilan sebagai teman nonton nantinya, Shasa tersenyum kala melihat camilan berada di kabinet dapur.
Saat menemukan camilan, ia tersenyum senang. Shasa akan menghabiskan waktu dengan menonton acara tv sambil memakan camilan milik Darrel. Ia bahkan benar-benar tidak memedulikan soal tubuhnya yang belum mandi. Pakaiannya bahkan masih mengenakan piyama semalam.
Enam jam kemudian.
Seharian bekerja membuat sesosok Darrel merasakan lelah luar biasa. Ia yang biasa akan pergi bersama teman-temannya ke kelab malam pun malam ini menolak karena pikirannya ke distract oleh Shasa.
Merasa ada perempuan itu di apartemennya membuat Darrel menjadi kurang menikmati hidup. Dan, ada satu lagi yang membuat Darrel tidak bisa berbuat seenaknya kepada perempuan itu. Daddy-nya yang selalu membela dan mengancamnya membuat Darrel harus bersikap dan bertindak hati-hati.
Kini saat mengendarai mobilnya pun Darrel berdecih sebal kala melihat ponselnya berdering dan menampilkan nama Xander di sana. Dengan rasa malas, Darrel akhirnya mengangkat telepon itu.
“Ya.”
“Hahaha, bagaimana brother menjadi babysitter dadakan?” ledek Xander tertawa renyah.
“s**t! Awas saja kau, Xan.”
“Haha, kau tahu Daddy dan Mommy sangat suka dengan Clarisa anaknya Uncle Melvin. Mereka berdua bilang kehadiran Clarisa akan menjadi warna dalam hidupmu yang monoton.”
“Double s**t! Bisa-bisanya Daddy dan Mommy berkata seperti itu.”
Xander Blaxton—adik dari Darrel Blaxton—kini tertawa begitu renyah mendengar sang kakak yang selalu mengumpat. Bisa dibayangkan oleh Xander bagaimana ekspresi sang kakak dihadirkan sesosok perempuan yang tinggal bersama—terlebih Xander sangat mengetahui tabiat sang kakak yang sangat membenci dengan hal-hal yang rumit dan ribet seperti perempuan.
“Sudahlah kau nikmati saja. Aku melihat Clarisa itu sangat cantik.”
“Cih, kau tahu dari mana?”
“Aku langsung mencari tahu sosial media dia saat mendengar akan dititipkan denganmu.” Xander lagi-lagi terkekeh begitu renyah. “Kau bisa menghangatkan ranjang setiap malam, bukan?” imbuh Xander meledek.
“Sial kau! Awas saja kau jika bertemu. Akan aku hajar sudah menertawakan kakakmu ini.”
“Hahaha, jika aku jadi kau. Sudah aku manfaatkan perempuan itu untuk menghangatkan ranjang setiap saat. Kita pria dewasa yang normal, babe.”
“s**t! Berhenti berkata seperti itu, Xan. Aku sangat jijik mendengarnya.”
Xander hanya bisa tertawa begitu renyah kala mendengar protesan dari sang kakak. Darrel sangat tidak suka dipanggil oleh Xander dengan panggilan ‘babe’ bahkan sangat marah jika adiknya memanggil seperti itu.
“Sudahlah aku matikan. Aku sedang fokus menyetir.”
“Pasti kau langsung pulang ke apartemen, iyakan?” ledek Xander kembali.
“s**t! Diam saja kau.”
Nit.
Darrel benar-benar emosi jika adiknya sudah menelepon. Padahal Darrel sudah tahu jika emosinya akan meningkat kalau Xander sudah meneleponnya. Akan tetapi ia tetap saja kena jebak adiknya. Benar-benar sialan.
Mengingat jarak kantor dan apartemen tidak terlalu jauh membuat Darrel sudah sampai. Pria itu bahkan tadi mampir sebentar ke restoran untuk membeli makanan untuk Shasa, dibanding harus berbelanja di supermarket yang akan memakan waktu lama, dan belum tentu perempuan itu akan menyukai masakannya.
Mengingat Shasa pernah menghina spageti buatannya membuat Darrel sedikit malas memasak untuk dia. Tadi pagi sebetulnya ia malas membuatkan menu sarapan untuk Shasa, akan tetapi hati kecilnya merasa kasihan jika perempuan itu kelaparan.
Kini Darrel sudah tiba di depan unitnya. Ia langsung memencet kode password pintu apartemennya dan langsung terbuka.
Ceklek.
Telinga Darrel langsung menangkap suara berisik dari saluran televisi yang menyala. Matanya melotot begitu sempurna kala melihat lantai apartemennya kotor dengan banyak sisa camilan yang bertebaran ke mana-mana.
Kini pandangannya bahkan beralih ke arah Shasa yang sedang tertidur begitu pulas di atas sofa dengan piyama yang sangat kotor dengan remah-remah camilan di atasnya.
Merasa jijik dengan semua itu membuat Darrel langsung berjalan menuju ke arah ruang servis. Ia mengambil sapu dan menyapu tubuh Shasa—baju piyama—yang terdapat remah-remah camilan.
“Astaga, Darrel!” pekik Shasa kaget melihat tubuhnya disapu oleh Darrel. “Apa-apaan, sih, ini,” dumel Shasa langsung menyingkirkan sapu itu yang masih berada di atas perutnya.
“Kau pasti belum mandi, kan? Buktinya kau masih pakai piyama, dan kenapa kau mengotori lantai apartemenku!” teriak Darrel kesal.
“Gampang disapu, Darrel.”
“Kalau begitu ini saja sekalian disapu.”
“AKU BUKAN KOTORAN!” teriak Shasa tidak terima dengan perilaku Darrel terhadapnya yang selalu menatapnya jijik.