Vanilla menatap tangan Joshua yang menariknya hingga mendekati mobilnya yang terparkir di depan rumahnya. Ia masih menatap pria itu dengan bingung saat pria itu membuka pintu penumpang depan.
“Apa yang kamu lakukan?” lirih Vanilla. Ia merasakan Joshua menggengam kedua tangannya dengan erat.
“Ayo coba.” kata pria itu. Joshua ingin gadis itu lepas dari semua traumanya pelan-pelan.
Vanilla menggeleng. Ia tidak pernah lagi duduk di kursi depan sejak kecelakaan itu. Ia tidak akan sanggup. Ada banyak ketakutan yang ia tahu akan menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Ia tidak pernah ingin mengambil resiko sehingga tidak pernah ingin mencobanya.
Vanilla meremas jari-jarinya, ia mulai gelisah. Hatinya tidak tenang hanya karena melihat kursi itu. Ia menelan ludah dan mundur satu langkah. Ia tidak akan bisa.
“Ayolah Vanilla, aku janji tidak akan menjalankan mobilnya.” Joshua merangkul bahu gadis itu dan berusaha meyakinkan.
Vanilla mendongak dan melihat pria itu mengulas senyum tipis. Vanilla tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ia mungkin sudah gila karena berpikir untuk menuruti pria itu. Ia masih terdiam ragu dan menatap kursi itu. Ia menatap bagian dalam mobil itu lekat-lekat lalu sebelah tangannya memegang pintu dan ia maju dua langkah. Ia berpikir, bagaimana jika Joshua benar. Bagaimana jika ia mencobanya dan ia berhasil. Bagaimana jika dengan hal itu, ia bisa kembali duduk di depan. Vanilla mendapatkan semacam dorongan untuk mencoba hal itu.
Ia menekan semua memori buruknya yang telah ia simpan rapat-rapat. Ia berusaha agar memori itu tidak keluar dari tempat ia menyimpannya. Dengan kekuatan penuh, Vanilla melangkah dan melesak ke kursi.
Joshua menghela napas lalu memutar dan duduk di belakang kemudi.
“Kamu hanya perlu tenang dan membiasakan diri di sana.” Joshua menatap Vanilla yang wajahnya mulai memucat.
Vanilla mencoba memerhatikan interior mobil Joshua yang selalu luput dari perhatiannya. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari kaca di depannya. Ia melihat ke segala sisi, ke manapaun agar tidak melihat ke depan. Duduk di sini saja sudah membuatnya gelisah luar biasa. Ia mungkin tidak akan sanggup melihat jalanan di depannya.
“Kamu bisa, Vanilla.” Joshua mengatakan itu saat tatapan Vanilla sampai padanya.
Vanilla memilin jari-jarinya yang mulai berkeringat. Kakinya sudah bergerak gelisah. Dorongan untuk keluar dari sana sangat kuat. Namun ia tidak tahu kenapa ia tidak melakukannya. Ia tidak mengerti kenapa ia menuruti pria itu.
Vanilla akhirnya mengadah. Ia menatap jalanan kosong di depannya, dengan pencahayaan yang berasal dari lampu jalanan. Bibir Vanilla bergetar. Ia gagal menyimpan baik-baik memorinya. Tidak butuh waktu lama untuk semua memori buruknya keluar dan terproyeksi seperti benar-benar terjadi di depannya. Jantungnya berdetak lebih depat dengan deru napas yang terus memburu.
Joshua bisa melihat ekspresi Vanilla yang mulai berubah pucat. Dahi gadis itu berkeringat. Joshua menahan sebelah tangan Vanilla saat gadis itu hendak membuka pintu. Ia ingin gadis itu tetap ditempatnya.
“Kamu bisa, Vanilla.” gumam Joshua. Joshua sama sekali tidak tahu kalau ia sedang menyiksa gadis itu.
Vanilla menoleh dan menatap Joshua baik-baik, bersamaan dengan memori kecelakaan yang mulai menyeruak di otak kecilnya. Vanilla akhirnya kembali ke posisi semula. Tapi gadis itu menunduk. Ia mencoba menekan semua kenangan buruk belasan tahun lalu. Joshua masih menggenggam tangannya, mencoba mentransfer kekuatan untuk gadis itu.
“Coba lihat ke depan.” lirih Joshua. Joshua terpaksa menyentuh dagu Vanilla dan mengarahkan padangannya ke depan.
Tidak butuk waktu lama. Bayangan mobil yang melaju kencang ke arahnya terpatri ke di otaknya. Ia seperti mendengar gaung tabrakan, lalu suara tabrakan beruntun di belakangnya. Ia mendengar orang-orang berteriak. Wajah kedua orangtuanya dan darah di mana-mana juga terbayang olehnya. Vanilla tidak sanggup, ia berteriak dan menunduk mencium lututnya.
Joshua menelan ludah saat mendengar gadis itu berteriak. Ia cepat-cepat keluar dari mobilnya lalu membantu Vanilla keluar. Gadis itu jatuh terduduk dan terisak. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba mengusir kenangan buruk yang sudah terlanjur terproyeksi di depan matanya. Ia tidak sanggup. Ia tidak sanggup mengingat kejadian itu.
“Tenanglah.” Joshua memeluk gadis itu dan mengusap punggungnya. Ia tidak pernah tahu separah apa trauma gadis itu. Dan saat melihat apa yang terjadi barusan, ia sadar bahwa yang dibutuhkan gadis itu memang seorang profesional.
“Maafkan aku.” Joshua mengecup pucuk kepala Vanilla yang masih terisak. Gadis itu memeluknya kuat-kuat. Memberitahunya betapa gadis itu ketakutan.
***
Kejadian itu membawa pengaruh besar untuk Vanilla. Bayang-bayang kecelakaan itu terus menerus hadir dalam pikirannya tanpa bisa ia cegah dan membuat kepalanya sakit. Kenangan itu terus menghantam pikirannya, tanpa ampun dan terasa begitu nyata. Gadis itu berteriak histeris lalu menangis sejadi-jadinya.
Joshua langsung membawa gadis itu ke kamarnya. Ia lalu keluar dan kembali dengan segelas air di tangannya.
“Minumlah.” Joshua menyerahkan gelas di tangannya pada Vanilla yang masih terduduk di ranjang. Tapi gadis itu masih terdiam. Pandangannya kosong. Joshua mendekatkan mulut gelas pada bibir Vanilla dan membiarkan gadis itu menyesap air dengan pelan.
“Maaf karena membuatmu seperti ini.” Laki-laki itu membaringkan Vanilla di ranjangnya dan gadis itu sama sekali tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Matanya memerah. Dalam pandangan Joshua, gadis itu benar-benar menyedihkan dan Joshua benar-benar menyesal membuat Vanilla seperti itu.
Pria itu menarik kursi ke dekat ranjang dan duduk di sana. Ia mengusap kepala gadis itu yang matanya masih menyalang tajam dan menatap langit-langit kamarnya. Sebelah tangannya mengambil tangan gadis itu dan mengecupnya pelan.
Ia masih menggenggam tangan Vanilla saat gadis itu perlahan menutup matanya. Gadis itu pasti kelelahan. Setelah memastikan napas gadis itu teratur dan gadis itu pulas, Joshua mengecup kening gadis itu lalu beranjak pergi.
Ia masuk ke dalam mobilnya dan melihat ke kursi di sebelahnya. Tempat di mana ia membawa Vanilla pada kenangan pahit belasan tahun lalu. Ia memukul setirnya kuat-kuat. Ia seharusnya tidak melakukan itu. Ia seharusnya langsung membawa gadis itu menemui psikiater. Ia seharusnya tidak bertindak terlalu jauh.
***
Pagi-pagi sekali, Joshua sudah sampai di kantornya. Ada beberapa hal yang perlu ia kerjakan pagi itu, juga meeting penting yang harus ia hadiri.
Jam menunjukkan pukul sepuluh saat Joshua kembali ke ruangannya. Ia melesak di kursinya dan menatap layar laptopnya. Fokusnya teralihkan saat ponselnya berdering. Ia melihat nama Lauren di layarnya. Ia menghela napas kasar lalu mengabaikannya. Ia sedang tidak ingin berdebat hari ini karena ada banyak hal yang perlu ia kerjakan. Berbicara dengan wanita itu akan merusak moodnya seharian ini. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai sangat membenci wanita itu.
Ia ingat saat pertama kali mereka dikenalkan. Ayah Lauren adalah sahabat ayahnya. Karena suntikan dana yang diberikan ayah Lauren demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, perjodohan itu akhirnya ditetapkan. Saat itu Joshua tidak bisa melakukan apapun. Sampai akhirnya ia berhasil mengembalikan semua dana pinjaman itu. Ia pikir perjodohan itu akan dibatalkan, tapi ternyata orangtua keduanya sudah berpikir bahwa ia dan Lauren memang jodoh yang sempurna untuk satu sama lain. Joshua tidak pernah memikirkan itu sampai ia bertemu dengan Vanilla. Gadis yang membuatnya sadar bahwa ia ingin hidup bersamanya, bukan bersama Lauren. Gadis sederhana yang membuatnya yakin bahwa ia punya tujuan hidup dan ia tahu apa yang harus ia lakukan agar dirinya bahagia.
Selama ini, Joshua telah mengabdikan dirinya untuk pekerjaannya. Ia telah mengikuti ke mana hidup membawanya. Ia telah kehilangan banyak masa dalam hidupnya. Sejak lama, ia hanya tahu bahwa ia perlu mempertahankan kinerjanya. Tapi kini, Vanilla ada di depannya. Ia tidak pernah merasa berambisi selain agar bisa terus dekat dengan gadis itu. Ia tahu tidak akan mudah, tapi yang jelas ia tidak akan menyerah.
Tak lama setelah panggilan itu mati, gawainya kembali berdering. Kini wajah ibunya terlihat dilayarnya. Setelah menimang sebentar, ia akhirnya mengangkat panggilan itu.
Suara ibunya menyapa di ujung sambungan.
“Mama dan Lauren akan ke kantormu. Ayo makan siang bersama.” ajak wanita itu, yang langsung membuat Joshua menghela napas kasar.
“Aku sedang sibuk, Ma.” jawabnya.
“Sebentar saja.”
“Aku ada meeting jam satu. Aku tidak bisa makan siang diluar.” kata Joshua lagi. Ia tidak berbohong. Ia hanya berdoa semoga hal itu cukup membuat ibunya dan Lauren membatalkan kedatangannya.
“Kalau begitu kami hanya akan mampir sebentar.”
Sesaat setelah sambungan itu terputus, Joshua menghela napas kasar. Ia menaruh benda pipih itu di tempat semula. Ia tidak siap menghadapi keduanya. Lauren dan ibunya adalah partner yang sangat cocok dan akan saling membantu satu sama lain. Lauren tahu jika ia tidak mungkin membantah ibunya dan bahkan jika mereka berdua berdebat, ibunya mungkin akan lebih membela Lauren dibanding dirinya.
Lauren dan ibunya sampai lebih cepat dari dugaannya. Saat mereka berdua masuk, Joshua masih fokus pada dokumen-dokumen di depannya. Sampai keduanya duduk di depannya, ia baru menengadah sambil menghela napas. Joshua sudah terlalu lelah untuk berbasa-basi.
“Mama hanya ingin bertanya mengenai… rencana pertunangan kalian.” kata Camelia sambil menatap Joshua yang sudah memasang ekspresi malas.
Pertunangan lagi… Joshua sudah muak mendengar hal itu akhir-akhir ini. Ia melirik Lauren yang tersenyum puas. Wanita itu pasti sengaja melibatkan ibunya kali ini karena tidak bisa mendapatkan jawaban darinya kemarin-kemarin.
Joshua menaruh pena di tangannya lalu menatap ibunya baik-baik. Ia tahu bagaimana ibunya. Ibunya lahir dari keluarga terpandang yang sangat mementingkan latar belakang, terutama jodoh untuknya. Hal itu sudah turun menurun demi menjaga martabat keluaraga.
Ibunya tahu bahwa Lauren berasal dari keluarga yang sepadan dengan keluarga mereka sehingga wanita itu adalah jodoh yang terbaik baginya. Tapi sungguh, Joshua tidak ingin terikat aturan yang seperti itu. Ia ingin memilih jodohnya sendiri. Ia ingin bersama dengan gadis yang ia cintai dan itu bukan Lauren.
“Bisakan kita membicarakan ini di rumah?” tanya Joshua, “aku punya banyak pekerjaan saat ini.” ia melirik tumpukan dokumen di atas mejanya.
“Mama cuma mau kepastian darimu.” kata Camelia. Lauren duduk di sebelahnya dan menatap Joshua dengan tatapan kemenangan.
Joshua menghela napas kasar lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “aku akan bertunangan dengan wanita pilihanku.” kata Joshua, “aku pikir Lauren akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.” Joshua tidak tahan lagi. Ia pikir ia perlu mengatakan apa isi hatinya. Ia perlu membuat ibunya mengerti meski ia tahu akan sulit. Ibunya sudah terlanjur menyukai Lauren dan berpikir bahwa wanita itu adalah satu-satunya yang terbaik untuknya.
“Joshua!” tegur Camelia. “kamu mau mencari yang seperti apa lagi?” ia memandang anaknya dengan tatapan tidak percaya. Selama ini, ia pikir Joshua hanya belum siap karena terus menerus mengulur rencana pertunangan itu. Ia tidak mengerti setelah selama ini diam, pria itu kini malah menolak rencana itu.
“Lauren sudah yang terbaik.” kata wanita itu lagi.
Joshua menelan ludah, “Ma, mencari pasangan perlu melibatkan banyak hal. Tidak hanya sekadar cantik dan latar belakang saja.” Joshua mencoba menjaga nada suaranya agar ibunya tidak tersinggung.
“Apa lagi? Apalagi yang kamu cari? Apa yang kamu cari dan tidak ada pada Lauren?” Camelia melirik Lauren yang dimatanya sudah sangat sempurna.
“Cinta, Ma. Aku tidak bisa bertunangan bahkan menikah dengan Lauren kalau aku saja tidak cinta.” Joshua mengatakannya dengan nada frustrasi, berharap ibunya mengerti. Hal sederhana yang seharusnya ibunya tahu harus ada dalam pasangan yang akan menikah.
Camelia menggeleng, “semuanya bisa dibangun, Joshua, termasuk perasaan cinta. Kamu hanya belum mengenal Lauren dengan baik. Seperti yang sering mama bilang. Kalian perlu menghabiskan banyak waktu berdua agar perasaan itu tumbuh.”
Joshua melonggarkan dasinya. Ia menatap ibunya yang tampak tak ingin mengalah ataupun sedikit saja memikirkan kata-katanya.
“Bagaimana kalau perasaan itu tak juga tumbuh? Bagimana kalau aku dan Lauren justru tidak bahagia?” Joshua tidak ingin mengalah. Kali ini ia melihat ibunya terdiam. Wanita itu kehabisan kata-kata.
“Kita akan menunggu papa kamu pulang, lalu kembali membicarakan ini.”
Camelia berdiri lalu keluar dari ruangan itu. Lauren masih berdiri dan menatap Joshua dengan tatapan puas. “kamu tidak akan bisa menghindar, Joshua.” ia memutar dan berdiri di samping pria itu. Sebelah tangannya menyentuh bahu pria itu lalu turun ke dadanya yang bidang. “bilang saja kalau kamu perlu waktu. Aku bisa menunggu dan membicarakannya pada keluargamu.”
Joshua mencekal tangan Lauren dan menatapnya tajam.
***
“Tante tidak berpikir Joshua mempunyai perempuan lain?” Lauren bertanya saat mereka berada di dalam mobil. Mereka berdua dalam perjalanan menuju salon langganan mereka.
“Tidak mungkin. Joshua sudah terlalu sibuk bekerja sejak dulu. Baginya, berpacaran itu sangat merepotkan. Dia tidak suka hubungan yang seperti itu.” jelas Camelia. Ia sangat mengerti bagaimana anaknya.
Lauren mengangguk pelan. Lihat, bukankah pria itu begitu lihai menyembunyikan hubungannya dengan wanita itu hingga ibunya saja tidak tahu.
“Bagaimana kalau memang Joshua mempunyai perempuan lain?” wanita itu bertanya lagi. Kali ini membuat Camelia menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
“Tidak usah takut. Tidak ada perempuan yang lebih pantas mendampingi Joshua selain kamu, Lauren.” Camelia mengusap lengan Laren. Mencoba memberitahu bahwa meski Joshua mempunyai perempuan lain, Lauren tetap yang terbaik.