Mereka masih terdiam saat sudah duduk di sofa empuk mahal, berhadapan dengan sebuah televisi berukuran super besar dan rak-rak berisi buku-buku yang menjulang tinggi di sekeliling mereka. Alex masih belum membuka suara sampai seorang pelayan datang membawakan kopi dan teh hangat untuk mereka. Joshua yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Vanilla benar-benar menikmati keadaan ini. Joshua tidak bisa melupakan seincipun gambaran Vanilla dari benaknya. Berhari-hari ia mencoba melupakan Vanilla dengan berkeliaran dari bar satu ke bar lainnya dan menenggak bergelas-gelas alkohol, tapi tidak juga mengubah perasaannya pada gadis itu. Alex mulai membuka pembicaraan. Mula-mula ia kembali berterimakasih atas kedatangan Vanilla dan kedua meminta maaf karena tidak memberitahu bahwa Vanilla yan

