Ketertarikan Penuh Obsesi

962 Kata
Kediaman Halston berdiri kokoh di atas tanah luas yang seolah terpisah dari dunia luar. Dinding-dindingnya tinggi, jendelanya besar namun tertutup tirai gelap, membuat cahaya siang pun enggan masuk ke dalam. Rumah itu megah—namun tidak hangat. Tidak pernah. Di lantai atas, sebuah ruangan kerja dengan d******i warna hitam dan abu-abu, menjadi saksi bisu ketegangan yang menebal di udara. Maxim Dark Halston duduk di kursi kulit hitamnya, satu kaki disilangkan, punggungnya bersandar santai—namun rahangnya mengeras. Di tangannya, segelas minuman keras berwarna amber hampir kosong. Ia meneguknya perlahan, seolah alkohol itu bukan untuk mabuk, melainkan untuk menenangkan sesuatu yang terus bergejolak di dalam dadanya. Di seberangnya berdiri Alexander Halston. Ayah dan anak itu saling berhadapan, tidak ada kehangatan, tidak ada hormat. Yang ada hanya dua pria dengan ego besar— luka lama yang belum pernah sembuh, dan mungkin tidak akan pernah sembuh. “Kau mengincar gadis itu?” tanya Alexander akhirnya. Nada suaranya rendah, tajam, dan penuh peringatan. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk menunjukkan kekuasaan. Seluruh hidup Maxim adalah bukti bahwa suara itu cukup untuk membuat siapa pun gemetar. Namun tidak dengan Maxim. “Tidak,” jawab Maxim cepat. Tak! Ia meletakkan gelasnya di atas meja dengan suara keras, lalu berdiri. Tubuhnya menjulang, matanya gelap dan dingin saat menatap Alexander lurus-lurus. “Bukan mengincar,” lanjutnya. “Tapi milik yang seharusnya.” Alexander mengepalkan rahangnya. “Cukup, Max! Kau keterlaluan, berapa korban lagi yang akan kau tindas?” Maxim terkekeh pelan, tawa tanpa humor. “Keterlaluan?” Ia mendekat satu langkah. “Kalimat itu seharusnya tertuju padamu, Dad.” Alexander terdiam. “Kau selalu mengajarkanku bahwa perasaan itu omong kosong belaka,” lanjut Maxim, suaranya semakin dingin namun terkontrol. “Bahwa tahta tertinggi di dunia ini adalah kendali, karena perasaan adalah kelemahan dan kendali adalah kekuatan.” Alexander memejamkan mata. Bukan marah, bukan kecewa, melainkan sadar. Sadar bahwa setiap kata Maxim adalah pantulan dirinya sendiri. “Sampai kapan?” tanya Alexander lirih, nyaris seperti gumaman. Maxim menyeringai. “Kau yakin bertanya seperti itu, Dad?” Ia tertawa pendek. “Tentu saja sampai aku puas,” Ia mencondongkan tubuhnya, tatapannya tajam seperti pisau. “Dan aku tidak pernah mendapatkan kepuasan itu,” Suasana ruangan berubah semakin berat. “Kau tidak pernah memperhatikan keluarga,” lanjut Maxim dengan nada meninggi. “Sampai Mommy mati, kau hanya mementingkan bisnis... bisnis dengan wanita simpananmu yang menjijikkan itu!” Alexander membuka mata, napasnya memburu. “Dan sekarang kau mencoba menceramahi ku?” Maxim menunjuk dadanya sendiri. “Mencoba menghentikan tindakanku—yang selama ini kau bangun sendiri?!” “Kau kekanak-kanakan,” balas Alexander dingin. Maxim tertawa keras. “Aku tidak kekanak-kanakan, aku realistis.” Ia melangkah mundur satu langkah, merapikan jasnya. “Aku hanya meniru, bahkan… lebih dari meniru apa yang kau lakukan,” “Jika aku mau, wanita simpanan dan anak haram kalian sudah tinggal nama.” BRAK!! Alex menggebrak meja dengan kuat. “Dia adikmu!” “Tidak, selama itu tidak terlahir dari Mommy,” “Jangan pernah menyebut hal yang tidak masuk akal, jika masih menyangkut wanita menjijikkan itu,” “Bisa saja aku melakukan hal yang tidak kau inginkan, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya,” “Karena... kalian adalah hal-hal yang tidak ada gunanya dalam hidupku, SEDIKIT PUN,” Ia menatap Alexander dengan tatapan merendahkan. “Jadi jangan pernah mencoba memberiku nasihat, itu sama saja seperti mengukir di atas air yang deras.” Getaran ponsel di atas meja memecah ketegangan. Maxim melirik layar—lalu tersenyum lebar. Pesan masuk dari Dax Louis. ‘Putriku menyetujui permintaanmu.’ Maxim tertawa, kali ini tulus dan juga berbahaya. Ia memutar layar ponsel, memperlihatkannya pada Alex. “See?” ucapnya puas. “Aku bahkan tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan sesuatu yang kuinginkan.” Alexander mengepalkan tangannya. “Ini terakhir kalinya.” Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, senyum Maxim perlahan menghilang—berganti dengan ekspresi dingin penuh kebencian. “Melarangku?” gumamnya. “Lebih baik kau mati saja dan membusuk di tanah.” Ia duduk kembali di kursinya. “Aku membencimu,” lanjutnya pelan. “Tapi sayangnya, darahmu mengalir di dalam tubuhku,” Ia mendengus. “Dan itulah yang paling kubenci.” Di sudut ruangan, seorang pria berdiri tenang sejak tadi. Rowan Calter. Asisten pribadi Maxim. Pria itu tidak pernah ikut campur, tidak pernah bereaksi—kecuali jika diperintah. “Rowan,” panggil Maxim tanpa menoleh. “Ya, Tuan.” “Berikan aku informasi tentang gadis itu.” Rowan melangkah mendekat dan menyerahkan sebuah tablet. “Sesuai perintah Anda sejak semalam.” Maxim menerima tablet itu dan mulai membaca. Valeria Greta Louis. Nama itu terpampang jelas di layar. Maxim menyipitkan matanya, membaca setiap detail dengan teliti. Riwayat pendidikan, kepribadian, lingkar sosial—yang semua nyaris kosong. “Dia punya saudara kembar?” gumam Maxim. “Ya, Tuan,” jawab Rowan. “Vinica Grace Louis, meninggal akibat kecelakaan tunggal setahun lalu.” Maxim berhenti membaca sejenak. Menarik. “Kabarnya,” lanjut Rowan, “Nona Valeria adalah pribadi yang sangat tertutup, tidak banyak bicara, tidak memiliki teman dekat dan—” Rowan berhenti sejenak. “—sangat penurut, ia tidak pernah menolak permintaan orang tuanya.” Maxim tersenyum. “Pantas saja,” ucapnya pelan. “Aku langsung mendapatkan jawaban, bahwa dia menyetujui permintaanku.” Ia meletakkan tablet di meja dan berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap halaman gelap. Pantulan wajahnya di kaca tampak tajam, dingin—dan puas. “Tenang saja, Valeria,” gumamnya. “Bersamaku… hidupmu akan berwarna, atau mungkin sebaliknya?” Ia tertawa. Tawa rendah, dalam, dan penuh janji yang terdengar lebih seperti ancaman. Dan di saat yang sama—jauh dari kediaman Halston—seorang gadis dengan hati sunyi tidak menyadari bahwa namanya baru saja menjadi pusat obsesi seorang pria yang tidak pernah mengenal batas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN