Sabrina mengganti bajunya sambil merutuki Hans yang baru saja tiba di apartemennya dan langsung menyuruhnya ganti baju supaya mereka bisa menghabiskan waktu ke luar. Padahal Sabrina sudah berencana untuk bersantai di atas tempat tidurnya sembari menonton serial drama dan menghabiskan berbagai camilan yang ada di lemari pendingin.
Kemarin ia sudah menghubungi Hans dan menanyakan, apakah pria itu memiliki tujuan untuk malam ini, tapi Hans malah tak menjawab pesannya. Karena Sabrina yang selalu memahami kesibukan Hans, jadi ia sama sekali tak memaksakan bahwa pria itu harus cepat membalas pesannya karena terkadangpun mereka bisa tidak saling membalas pesan ketika sangat sibuk.
Tidak ingin menghabiskan banyak waktu dengan merias wajahnya, Sabrina segera mengambil tas kecilnya dan memasukkan beberapa lembar uang serta ponsel dan lipstick. Ia segera keluar setelah 20 menit di kamar dan menemui Hans yang sedang menonton televisi.
Hans tersenyum kecil memperhatikan penampilan kekasihnya. Tubuh Sabrina yang agak ramping membuat pakaian yang sedang ia gunakan menjadi sangat luar biasa di mata Hans. Gadis itu menggunakan croptopbraa dan dilapisi sebuah cardigan tipis, sementara di bawahnya menggunakan celana bahan yang agak longgar.
Sabrina baru saja selesai menggunakan flatshoes-nya dan langsung menatap Hans dengan tajam, “Ayo, lebih cepat lebih baik.” Ujarnya sambil berkacak pinggang.
Hans mematikan televisi, lalu menghampiri Sabrina dan merangkul pinggang wanita itu hingga tangannya bisa menyentuh perut Sabrina dan membuat gadis itu tersentak terkejut. “Kau cantik sekali, jauh lebih cantik dari biasanya.” Puji Hans.
Sabrina mengangguk sambil menutup pintu apartemennya, “Aku tahu kalau aku selalu cantik.” Ujarnya dengan penuh percaya diri. “Memangnya kita mau ke mana?” tanya Sabrina.
“Bukan tempat yang spesial, hanya ingin keluar berdua denganmu. Kita sudah jarang menyempatkan waktu berdua seperti ini karena sama-sama sibuk.”
“Ya, kita sama-sama sibuk sampai lupa saling mengabari atau membalas pesan satu sama lain.” Sindir Sabrina.
Hans mengecup bibir Sabrina sejenak, lalu menoel hidung gadis itu dengan gemas, “Kalau itu salahku, maka aku minta maaf.”
Sabrina memasang seatbeltnya saat Hans akan memijak pedal gas mobil. Hans sesekali menoleh atau bahkan melirik Sabrina, bahkan sampai meraih tangan gadis itu dan membawanya pada genggamannya untuk ia kecup. Sabrina segera menarik tangannya dan menegur Hans, “Perhatikan caramu mengemudi Hans. Aku masih belum siap mati muda.”
“Aku juga belum, Sa. Aku bahkan belum menikahimu dan melihatmu hamil, lalu melahirkan anak-anak kita yang tampan dan cantik.”
“Kita bisa membuat anak seperti yang kau mau bahkan tanpa menikah. Hal itu sudah biasa kan?”
“Tidak, aku tidak ingin seperti itu. Aku ini bukan pria pemain, jadi tidak butuh alasan bagiku untuk menjadikanmu istriku.”
“Baiklah, aku terharu.” Kekeh Sabrina.
“Oh ya, Sa, aku pernah melihatmu bertemu dengan Joe.” Ujar Hans sambil melirik Sabrina.
Gadis itu terpaku untuk sesaat begitu mendengar nama Joe disebutkan diantara mereka berdua. Ia menoleh untuk menatap Hans dan tanpa sadar mata mereka bertemu hanya untuk sepersekian detik, “Ah itu, “
“Apa kalian dulunya akrab?”
Sabrina menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Tidak, kami tidak sedekat itu.”
“Tapi dari yang aku lihat tanpa sengaja, kalian sepertinya cukup akrab.” Ujar Hans mengingat-ingat saat ia tanpa sengaja melihat Sabrina sedang berbincang dengan Joe saat di supermarket, tapi karena saat itu posisinya Hans sedang terburu-buru, ia akhirnya tidak menegur keduanya sama sekali.
“Tidak, mungkin dia berusaha akrab karena dia adalah teman satu sekolahku dulu dan kini adalah temanmu.” Ujar Sabrina mencari alasan yang tepat untuk keakraban yang Joe berusaha ciptakan dengannya dan membuat Hans sampai melihatnya sendiri.
“Ya, bisa jadi juga.” Angguk Hans karena memang alasan itu cukup masuk akal.
“Ngomong-ngomong, di mana kau melihat kami bertemu?” tanya Sabrina penasaran.
“Di supermarket, tapi saat itu aku hanya membeli minum dan buru-buru kembali karena rekan kerjaku menunggu.” Ujar Hans menjelaskan.
Sabrina mengangguk mengerti dan sedikit lega karena merasa kalau Hans mungkin tidak melihat adegan saat ia dan Joe berdebat dan sibuk mengambil barang, memasukkan ke troli dan mengembalikan barang dari troli lagi. Setidaknya di waktu Hans terburu-buru, pria itu pasti tidak banyak memperhatikan interaksi berlebihan antara Sabrina dengan Joe.
“Kau tahu kan Sa, aku adalah tipe pria pencemburu, jadi jangan sampai aku meninju wajah Joe hanya karena pertemuan tak sengaja kalian.” Ujar Hans memberi peringatan yang cukup tegas.
Sabrina mengangguk, lalu menarik tangan kanan Hans untuk ia genggam, lalu mengecupnya dengan mesra sambil melihat ekspresi pria itu, “Aku ini tipe wanita yang setia, Hans. Kau pasti tahu itu kan?”
Hans tersenyum salah tingkah, “Aku tahu, hanya saja aku merasa perlu waspada karena Joe itu bukan pria yang buruk, apalagi wajahnya juga tampan.”
Sabrina tertawa garing, “Kau ini sedang cemburu atau mempromosikan temanmu?” tanyanya geli sendiri. Bagaimana bisa yang cemburu pada Joe tapi masih sempat mengatakan keunggulan Joe di depannya.
Sabrina tidak munafik, wajah Hans memang tampan, tapi dibandingkan itu, Joe memang memiliki ketampanan yang berbeda dari pria Inggris pada umumnya. Dan satu yang membuat Sabrina dan mungkin gadis lainnya juga akan terpikat pada Joe, yaitu mata teduh pria itu yang berwarna biru laut yang menenangkan dan pandai membuat orang lain salah tingkah ketika ditatapnya.
Dan yah, Joe tidak memiliki perilaku tercela atau sifat menyebalkan selain karena sering mengikuti Sabrina dan bersikap sok akrab layaknya teman dekat. Sejak Sabrina berada di sekolah menengah yang sama dengan Joe, ia tidak pernah mendengar Joe membuat keributan berlebih atau membuli siapapun, padahal di sekolah mereka saat itu ada beberapa kejahatan bullying.
Bahkan Sabrina sendiri sudah pernah merasakan kebaikan hati Joe di sekolah menengah, ia tidak melupakannya sampai sekarang tapi baginya itu hanya masa lalu dan tidak mengubah apapun di masa depan. Ia tidak ingin terpaku pada masa lalu yang tidak ingin ia kenang.
***
Di sisi lain, Nazeela dan Joe sedang menikmati waktunya berkeliling taman di Ibukota yang baru saja buka sebulan yang lalu dan kini sedang ramai karena banyak orang berswafoto. Nazeela tidak ingin melewatkan pemandangan malam yang begitu indah karena banyaknya lampu yang di pasang di sekitar jalanan yang mereka lalui.
Sesekali wanita itu mengangkat ponselnya dan berfoto sendiri, lalu ketika melihat Joe yang sibuk melihat-lihat, ia tertarik mengabadikan momen itu. Tak jarang juga ia memanggil Joe secara tiba-tiba dan membuat pria itu menoleh padanya, lalu akhirnya ia berswafoto meski Joe terkadang protes kepadanya karena menurut Joe wajahnya pasti tidak menunjukkan ekspresi yang bagus, tapi Nazeela kekeuh ingin menyimpan foto seperti itu karena menurutnya itu lucu.
Bagi Nazeela, suatu kenangan itu bagus tidaknya bukan dilihat dari fotonya mereka yang bagus juga, tapi pengabadian momen yang tidak disengaja, maka di situlah kenangan menyenangkan itu bisa diingat dengan mudah. Joe tidak hobi berfoto dan sangat sulit diajak berfoto, jadi Nazeela harus mati-matian membuat pria itu bisa meninggalkan jejak di ponselnya dengan sebuah foto.
“Zee, kau tidak lelah berfoto terus sejak tadi?” tanya Joe sambil melirik wanita di sampingnya itu.
Nazeela menunjukkan deretan giginya ketika nyengir di hadapan Joe, “Joe, hanya berfoto, bukan mengangkat patung gajah yang ada di tengah taman.”
“Iya, aku mengerti, hanya saja sejak tadi kau tidak berhenti menyengir pada kameramu dan terus berfoto.”
Nazeela mematikan ponselnya dan menatap Joe, “Oh jadi kau cemburu karena aku hanya tersenyum pada kamera saja. Kau juga ingin kusenyumi kan. Baiklah, aku akan tersenyum padamu saja.” Ujarnya dan setelah itu Joe bergidik ngeri karena cengiran Nazeela yang ditunjukkan padanya.
Joe mendorong tubuh Nazeela agar sedikit menjauh, “Zee, jujur saja itu menyeramkan untuk dilihat.” Akunya tanpa basa-basi.
Nazeela menepuk lengan Joe dengan kesal, “Tidak perlu mengatakan senyumku seburuk itu, padahal kau sendiri yang ingin disenyumi kan.” Desisnya tak terima.
“Sudahlah Zee. Ayo kita makan. Aku lapar.” Ajak Joe.
“Kita membeli makan, lalu kembali duduk di dekat danau ini.” Tunjuk Nazeela pada tempat yang sedang mereka duduki.
Joe menghela nafas pelan, “Dilarang makan di sini.” Ujar Joe.
“Kita dilarang membuang sampah sembarangan di sini Joe, bukan dilarang makan di sini. Di mana kau menemukan peraturan seperti itu? Aku ingin melihatnya.” Sindir Nazeela.
Joe mendorong dahu Nazeela dengan jari telunjuknya saat wajah wanita itu mendekat, “Baiklah, aku hanya mengarang. Kau menang dan selalu begitu.”
Nazeela tersenyum, “Lagipula kita perlu menikmati udara segar dan pemandangan seperti ini untuk menghilangkan stress Joe. Udara dan ketenangan seperti ini membuat pikiran kita juga tenang, jadi kita bisa menenangkan hati kita juga.” Jelas Nazeela dengan penuh penghayatan dan sangat puitis.
Joe mengangguk dan segera menarik tangan Nazeela agar gadis itu segera pergi mengikutinya karena memang perut Joe sudah lapar sejak tadi, hanya saja ia menahannya karena keinginan Nazeela untuk terus berswafoto sangat tinggi. Kini setelah wanita itu mengangguki ajaknnya untuk makan, malah dibuka dengan kalimat puitis yang tidak ingin Joe dengar sama sekali.
Ketika mereka sedang melintasi jalanan taman, keduanya tanpa sengaja bertemu dengan Hans dan Sabrina yang juga berada di sana. Sabrina langsung membuang pandangannya ketika melihat Joe tersenyum melihat keberadaannya, tapi melirik sinis ketika melihat tangan Sabrina bertautan dengan tangan Hans, padahal tangan Joe sendiri sedang menggenggam tangan Nazeela.
Sabrina tanpa sengaja melihat itu dan Joe bisa merasakannya hingga tanpa sadar, ia langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Nazeela dan membuat Nazeela sadar dengan tindakan Joe barusan. Sepertinya hanya Hans saja yang tidak mengerti situasi itu karena ia terlalu abai.
“Hai Joe, Zee.” Ujarnya.
Nazeela menatap Joe dan menunggu reaksi pria itu untuk membalas sapaan dari Hans, tapi yang ia lihat hanyalah mata Joe yang tertuju sepenuhnya pada Sabrina. Nazeela bahkan sampai melihat penampilannya sendiri untuk membandingkan dirinya dengan Sabrina dan memang ia merasa badan Sabrina sebagus itu dan semenarik itu untuk dipandang sampai mata Joe saja lupa cara berkedip.
“Hai Hans, kami ingin makan karena terlalu lapar. Kami pergi dulu ya. Lain kali kita akan berbincang.” Ujar Nazeela dan segera menarik tangan Joe tanpa peduli dengan penolakan pria itu karena Joe berusaha melepaskan tangannya. Nazeela melepaskan tangan Joe dan menghentakkan kakinya ke jalan, lalu berjalan cepat keluar dari taman.
Joe mengejar langkah Nazeela dengan bingung dan menarik tangan gadis itu, “Kau ini kenapa?” tanyanya.
Nazeela melepaskan genggaman tangan Joe dan menatapnya tajam, “Pria brengssek yang sok naif. Menolak ajakan tidurku, tapi matamu seperti sedang menelanjangi gadis lain hanya karena ia lebih kurus. Dadaanya saja tidak sebesar milikku.” Ejeknya lalu pergi begitu saja sangking kesalnya pada Joe.
Dan parahnya Joe tidak mengerti apa yang Nazeela maksud karena pria itu justru mengernyit kebingungan sendiri memahami ucapan Nazeela.