Dua Puluh Delapan

1577 Kata
Siang ini Nazeela sudah dengan pakaiannya yang rapi dan dandanan yang cantik demi mengunjungi rumah calon mertuanya. Oh maaf, maksudnya untuk mengunjungi rumah keluarga Joe karena Ela mengajaknya datang ke rumah sebab sudah lama.wanita itu tidak berkunjung. Tadinya Nazeela ingin memanfaatkan hari libur ini dengan beristirahat dan bermalas-malasan, lalu sorenya ia pergi ke rumah orang tuanya, tapi sayangnya rencananya malah berubah ketika Ela menelponnya dan mengajaknya ke rumah mereka. Antara sungkan untuk menolak atau memang Nazeela bersemangat untuk datang ke rumah keluarga Joe. Ia bahkan langsung menyanggupi undangan Ela tanpa berpikir panjang karena dirinya ingin lebih akrab lagi dengan calon keluarganya kelak. Oh maafkan rasa percaya diri Nazeela yang seperti ini. Ia memang sering berlebihan menganggap dirinya akan menjadi bagian dari keluarga Joe. Malas untuk membawa mobilnya sendiri, Nazeela memilih pergi dengan bus. Sekitar 30 menit di perjalanan, ia akhirnya tiba di depan rumah Joe dan mendapati Loy sedang mengangkat telpon di depan rumah sambil duduk di kursi teras. Nazeela mengurungkan niatnya untuk mendekati rumah itu sambil menunggu Loy selesai bertelponan. Takut jika ia mencuri dengar telpon penting seorang artis, maka Nazeela memilih mundur beberapa langkah sampai dilihatnya Loy menutup telpon dan menyadari kehadirannya. Seperti baru daja kepergok menguping pembicaraan, Nazeela tersenyum canggung dan mendekati Loy dengan cukup malu, takut jika pria itu menganggapnya tidak sopan, padahal ia sama sekali tidak mendengarkan apapun selain nada kemarahan dari pria itu kepada seseorang di telponnya. "Hai Loy." sapa Nazeela dengan kikuk dan wajahnya menunjukkan ketakutan atas tatapan Loy yang cukup tajam dan mampu mengintimidasi. Bukan pertama kalinya Nazeela mendapat tatapan itu, tapi ia selalu canggung setiap bertemu dengan Loy. "Sejak kapan kau di situ?" tanya Loy seperti kurang bersahabat. Apa karena ia berpikir bahwa Nazeela mencuri dengar pembicaraannya? "Barusan. Aku langsung menjauh ketika melihatmu bertelponan, jadi aku sama sekali tidak menguping pembicaraanmu." Loy menggelengkan kepalanya, "Masuklah, di luar panas." ujarnya sambil memerhatikan terik matahari dengan sedikit nada memerintah kepada Nazeela. Tanpa banyak bicara, wanita itu langsung masuk demi menurut perintah Loy. Berlama-lama berhadapan dengan pria itu hanya akan membuat suasana di sekitarnya menjadi agak ngeri. "Zee." begitu tiba, Nazeela langsung mendapat sambutan sebuah pelukan dari Ela. Hal itu selalu membuatnya merasa hangat karena memang keluarga Joe begitu perhatian dan sering membuatnya merasa iri. Entah karena ia anak satu-satunya, ia merasa keluarganya kurang hangat. Tidak ada orang tua sebagai tempat pulang dan berpelukan karena mereka sama-sama sibuk. Tidak ada kakak atau abang untuk tempat mengeluh dan tidak ada adik sebagai tempatnya berbagi. "Bibi, aku merindukanmu." ujar Nazeela dengan nada manja layaknya seorang anak kepada ibunya. Ela menepuk lengan wanita itu dan menatapnya sambil menyipit, "Tapi kau tidak datang untuk menemui Bibi. Memangnya segitu sibuknya? Joe masih belum punya kekasih, jadi masih ada kesempatan kan?" tanya Ela sambil mengedipkan matanya. "Ahh Bibi, jangan begitu. Aku akan tetap datang sekalipun nantinya tidak menjadi orang spesial bagi Joe." Ela terkekeh geli sambil mengusap bahu Nazeela, "Tenang saja, lagipula Bibi punya 2 anak lelaki. Kalau tidak jadi dengan yang satu itu, siapa tahu saja anak bungsu Bibi bersedia." goda Ela tak tanggung-tangung sambil menyodorkan 2 putranya. Secara kebetulan Loy bergabung dengan mereka sambil mendengarkan ucapan Ela, tapi ia berusaha mengabaikannya dengan mendekati meja makan dan mengambil segelas air minum. Ia bersandar pada meja makan sambil memutar tubuhnya, minum sambil memperhatikan ibunya yang sangat akrab dengan Nazeela. "Bibi, jangan mengatakan seperti itu, aku merasa tidak enak pada Loy." ujar Nazeela dengan malu sambil melirik Loy, lalu segera menundukkan pandangan saat mendapatkan mata tajam Loy. Ia sudah seperti orang yang berhutang pada pria itu dan sampai saat ini belum membayarnya. "Tidak apa-apa. Loy bukan tipe orang yang mudah terganggu dengan ucapan seperti itu. Dia itu tipe yang santai-santai saja dan sangat mudah beradaptasi. Nazeela mengangkat alisnya sambil berpikir ulang mengenai ucapan Ela, tapi ia langsung menggelengkan kepala begitu menyadari tidak pernah menerima keramahan pria itu. Tatapannya saja menunjukkan tanda tidak bersahabat. "Oh, hai Zee. Kau sudah tiba?" Kay langsung datang dan menepuk bahu Nazeela seperti menunjukkan bukti keakraban. Ia baru saja tiba dari supermarket setelah membeli beberapa kebutuhan untuk membuat makanan dan kue. Memang Kay ini hobi sekali makan dan rela meluangkan waktunya untuk membeli kebutuhan memasak jika Ela mau membuatkan makanan keinginannya. "Kau belanja dengan siapa?" tanya Nazeela sambil memperhatikan di sekitar Kay seolah berharap ada kemunculan Joe di tengah mereka. "Joe sedang bertemu dengan kakeknya, jadi dia tidak akan berada di rumah sampai nanti malam." jelas Ela. Nazeela membulatkan matanya, lalu menggelengkan kepalanya menatap Ela, "Aku tidak mencari Joe, Bibi." elaknya padahal ia sudah tertangkap basah. "Aku juga pernah muda, Zee. Tidak usah mengelak, kami juga tahu kalau kedatanganmu sepenuhnya untuk melihat Joe kan?" "Tidak, Bibi. Tolong jangan berkata seperti itu. Aku jadi merasa bersalah." aku Nazeela. Ela terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu merasa bersalah. Bibi tidak bermaksud seperti itu, hanya menggodamu saja." ujarnya, "Jadi, bagaimana gaun yang kau buat?" tanya Ela sambil mengajak duduk Nazeela karena sejak tadi mereka masih berdiri saja. Nazeela menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya, "Ini tidak semudah yang aku bayangkan. Pengajarku mengatakan bahwa aku harus memberikan kesan seolah aku punya ciri khas tersendiri untuk jahitan yang kubuat. Aku sudah pernah menunjukkan padanya dan dia langsung memberikan banyak komentar." "Tidak masalah. Bibi yakin kau bisa melakukannya. Tidak perlu dijadikan beban sepenuhnya. Yang paling utama adalah kesehatanmu." ujarnya. Nazeela tersenyum kecil dan merasa sangat tersentuh mendengar ucapan Ela yang memberikannya nasihat. Ia sering mendengar banyak sekali sisi positif orang tua Joe yang sangat Nazeela kagumi. Terkadang ia berpikir untuk menjadi orang tua seperti Ela dan Adkey. "Ah, Bibi, aku merasa tersentuh." ujar Nazeela dan langsung memeluk Ela lagi dengan tangisnya yang terurai. Ia memang cengeng dan mudah sekali tersentuh. Ela terkejut dan mendorong bahu Nazeela, "Apa-apaan ini? Kau menangis untuk apa? Astaga, anak kecil ini." ujarnya sambil mengusap kepala dan punggung Nazeela ketika wanita muda itu terus memaksa untuk memeluknya. "Ada apa ini?" tanya Adkey ketika ia keluar dari ruang kerjanya dan melihat adegan berpelukan. Sejak tadi ia berada di dalam karena ada rapat dengan pekerjanya untuk hotel ke-2 miliknya. Kay menggelengkan kepalanya, "Biasalah Yah, perasaan perempuan memang mudah tersentuh." "Loy, buatkan Ayah kopi." pesan Adkey sambil menatap putra bungsunya yang sedang fokus memperhatikan Nazeela dan ibunya yang sedang berpelukan. "Baik." angguk Loy. "Ayo memasak, Bu, Zee. Aku sudah berbelanja sejak tadi dan kita hanya melakukan drama terus." ejek Kay dengan sedikit tidak terima. "Astaga, Kay, kau ini memangnya tidak bisa memulai duluan? Lagi pula kau yang sangat ingin makan ini itu." desis Ela. *** "Mana seres dan keju yang kupesan, Kay? Lalu pelembutnya mana?" tanya Ela saat tak menemukan 3 bahan tersebut. "Memangnya tidak ada?" tanya Kay dengan berpura-pura bodoh. Ela menepuk jidat nya sendiri, "Memangnya sesulit itu menghafal? Tadi sudah kukatakan untuk menulis apa yang perlu dibeli, tapi kau mengatakan bahwa kau ahlinya menghafal." sindirnya pada putrinya itu. "Aku bisa membelikannya, Bibi." ujar Nazeela menawarkan diri. Lagi pula supermarket tidak begitu jauh dari rumah. "Pergilah bersama Loy, supaya cepat sampai." usul Ela dan membuat Nazeela seketika langsung melihat Loy yang bermain game di meja makan. Sepertinya pria itu tidak terlalu mendengarkan saran Ela, jadi sepertinya tidak perlu mengajaknya. Apalagi Loy sedang bermain game, Nazeela jadi semakin takut untuk mengganggunya karena biasanya pria yang main game dan diganggu akan langsung emosi. "Bibi, sepertinya aku bisa membeli sendi--" "Ayo kuantar." ajak Loy tiba-tiba berdiri dari kursinya dan membuat Nazeela terkejut. Wanita itu tidak punya pilihan selain mengikuti Loy yang sudah berjalan keluar terlebih dulu. Nazeela masuk ke samping kemudi sambil melirik Loy yang sedang memasang sabuk spengamannya. Wanita itu kemudian ikut memasang sabuk pengamannya dan membiarkan Loy melajukan mobil secara perlahan. "Ekhm." Nazeela berdeham untuk kesekian kalinya saat merasakan suasana diantara mereka agak dingin dan menyeramkan. Nazeela yakin bisa mendengarkan suara mahluk lain kalau mereka terus diam seperti itu. "Kau libur, Loy?" tanya Nazeela berusaha membuka percakapan. Perjalanan yang tadinya terasa dekat jika Nazeela pergi sendiri, kini terasa sangat jauh karena bersama Loy. Loy melirik Nazeela, lalu menjawab, "Iya." "Sampai kapan?" "Seminggu ini aku libur dan akan terus di rumah." ujar pria itu. "Ini libur terpanjangmu?" tanya Nazeela penasaran. Pasalnya selama ini ia tidak pernah tahu kalau Loy memiliki libur yang lama. Bahkan Kay pernah mengatakan bahwa Loy itu sangat sibuk. Ketenarannya membuat agensi yang menaunginya menjadi berusaha keras dalam promosi dan membesarkan nama Loy terus-menerus. "Iya. Perusahaan takut terjadi masalah kalau liburnya lebih lama." Nazeela mengangguk, "Benar juga. Lagipula kau kan artis, pasti tidak mudah bagimu terus menerus mendekam di rumah selama libur." ujarnya. "Tidak masalah. Aku hanya ingin punya waktu bersama keluarga." "Ya, keluargamu hangat dan penuh perhatian. Aku selalu ingin menjadi orang tua seperti Bibi karena aku yakin kalian pasti merasa senang dengan orang tua seperti itu." "Bagaimana caramu mewujudkan keinginan itu?" tanya Loy sambil melirik Nazeela. "Entahlah, yang pasti aku akan berusaha untuk itu." "Sudah sampai. Pergilah turun. Aku akan menunggu di sini." ujar Loy ketika mobilnya terparkir rapi di depan supermarket. "Kau tidak ingin masuk?" "Tidak." "Kenapa?" Tanya Nazeela. "Kalau ada sebuah kamera menyorot keberadaanku bersamamu, kau harus siap-siap kena dampaknya. Kau mau?" tanya Loy menantang kesiapan Nazeela terhadap ajakannya, "Mereka akan menduga kau kekasihku dan menyebarkan banyak gosip lainnya." "Oh tidak. Aku tidak ingin menjadi selebriti dadakan." "Zee." "Iya?" "Tolong belikan aku beberapa makanan instan. Aku sering merasa lapar tengah malam." ujar Loy. Nazeela menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Loy sendiri. Pria itu menatap langkah Nazeela sampai wanita itu menghilang dari pandangannya. "Cantik." puji Loy tanpa sadar sambil melirik kursi sebelahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN